Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sofa Nurdiyanti

Jadilah Bintang yang selalu bersinar meski gelap mengitari. Hamasah:)

Menghitung Cinta

REP | 13 October 2011 | 23:57 Dibaca: 84   Komentar: 2   0

Menghitung cinta, ya itulah yang kulakukan setiap paginya di SD tempatku mengajar sekarang. Sebut saja, SD tempatku mengajar adalah Rumah Kasih Sayang (RKS). Sesuai dengan namanya, SD tempat aku mengajar sekarang benar-benar penuh kasih sayang, penuh cinta yang bertebaran—ahay, tentu saja sekarang aku tak bermaksud membual kawan hehehe—aku hanya bermaksud mengatakan yang sebenarnya. Kenapa aku mengatakan setiap paginya menghitung cinta? Ya, baca dulu kisahku kawan:).

SD tempat aku mengajar sekarang sebenarnya adalah sebuah madrasah ibtidaiyah, sekolah yang berlandaskan nilai-nilai islam. Tapi tidak hanya murid yang beragama islam saja yang diterima, di RKS adapula murid yang beragama Kristen dan Budha. Kenapa bisa begitu? Ya, entahlah. Setidaknya orang tua mereka secara sadar telah mendaftarkan mereka pada sekolah kami. Dan tidak ada alas an bagi kami untuk menolak mereka, karena setiap anak yang mempunyai keinginan belajar akan diterima dengan tulus di sini.

RKS merupakan bagian dari sekolah yayasan yang juga terdiri dari TK, SMP, dan SMA. Semua sekolah terletak jadi satu dengan sebuah masjid berada di tengah-tengah kompleks sekolah. Gambaran RKS sederhana saja, tidak terdiri dari bangunan mewah, namun juga tidak terlampau menyedihkan dengan gambaran sekolah yang hampir roboh seperti sekolah rusak lainnya. Sederhana saja. Tak ada kata lain. Hanya ada 7 ruangan yang terdiri dari lima kelas, kantor guru, dan perpustakaan. Satu kelas lokasinya harus berbagi dengan perpustakaan, ruang komputer—dengan empat komputer yang digunakan secara bergantian untuk satu sekolah—dan ruang kelas dua. Sebuah lapangan luas terhampar di sepanjang jajaran kelas. Lapangan sekolah ditumbuhi semak liar dan beberapa pohon kecil. Tak pernah digunakan sebagai upacara. Sebagai gantinya, setiap pagi akan ada apel bersama yang diikuti oleh seluruh warga sekolah.

Apel pagi setiap pagi? Yang benar? Iya, kawan. Tidaklah repot bagi kami untuk menyelenggarakan apel pagi karena jumlah murid kami terlampau sedikit untuk ukuran sekolah normal. Cukup 52 murid saja yang terdaftar dalam administrasi sekolah. Namun yang hadir setiap pagi tak sampai dua pertiga dari jumlah tersebut. Ada sepuluh guru yang mengajar di RKS, tapi hampir-hampir kami selalu kekurangan guru. Penyebabnya? Ya, karena tidak semua guru mengajar secara penuh. Ada beberapa guru yang hanya mengajar untuk mata pelajaran tertentu—yang tentu saja hanya datang pada saat jam pelajarannya saja, selebihnya mereka telah berpindah mengajar di sekolah lain. Misalnya, guru bahasa arab, guru olahraga—yang lebih sering tidak hadir daripada mengajar, dan guru agama. Dan jika ada guru yang sakit atau berhalangan hadir, maka kami akan menggabungkan dua kelas menjadi satu. Ini bisa terjadi, karena toh jumlah murid kami hanya segelintir.

Menghitung cinta yang datang itu kami—guru-guru—lakukan saat apel pagi. Saat bel dibunyikan, seperti biasanya guru akan menyuruh anak-anak segera berbaris. Anak-anak akan selalu ribut, malas berbaris karena masih antri membeli pentol. Penjual pentol dan penjual makanan lainnya dengan ikhlas dan penuh senyum akan melayani permintaan anak-anak meskipun bel sudah berbunyi. Siapa pula yang hendak menolak rejeki? Ya, meskipun dengan segan mereka akan berkata, “Ayo cepat baris anak-anak,” seakan-akan ikut mendisiplinkan barisan anak-anak yang berjubel di depan mereka untuk kembali bersekolah.

Dengan gerak ragu-ragu, enggan, mereka akhirnya patuh dan berbaris. Menurut meski mulut penuh dengan makanan dan tas tetap tergendong di pundak meski kelas telah dibuka. Mereka berbaris di depan ruang guru memanjang ke belakang hingga ruang kelas enam. Barisan anak-anak paling kecil—biasanya diurutkan sesuai dengan tingkat kelas—akan berbaris di depan, mengikuti di belakang mereka barisan anak yang lebih besar. Barisan anak-anak yang paling besar biasanya paling susah ditertibkan. Tampaknya mereka tidak berhasrat mengikuti acara baris-berbaris yang bagi mereka tak sepatutnya dilakukan oleh mereka lagi saat besar. Apapun alasan yang membuat berat kaki mereka untuk berbaris, begitu guru-guru senior menghampiri dan berkata tegas untuk berbaris, mereka kan menurut.

“Siap grak!!” ujar salah seorang anak yang ditunjuk sebagai pemimpin apel pagi. Kemudian barisan anak-anak tersebut dengan gerakan yang kompak akan menimbulkan bunyi, grak keras yang selalu menimbulkan tawa di antara mereka. Barisan mereka tampak tak teratur, terkesan awut-awutan, dan lagi-lagi guru akan berjalan hingga ke baris paling belakang untuk merapikannya.

“Lancang depan, grak!” lagi-lagi, pemimpin akan memberi aba-aba baru hingga menimbulkan bunyi gaduh di barisan anak-anak yang ada di depannya. Saling sikut, berebut tempat, dan pasti ada anak yang akan mengadu marah karena merasa di dorong oleh temannya. Apapun tingkah mereka, kan kusabarkan diriku di pagi itu dan berkata di dalam hati: mereka masih anak-anak, ayo tersenyum dan bariskan mereka lagi. Aba-aba selanjutnya setelah latihan berbaris singkat adalah berhitung.

“Berhitung mulai,” perintahnya lagi, “dari sini,” ia menunjuk ke salah seorang anak kecil di depannya untuk mulai berhitung. Lalu kan terdengar sahutan, “1…2…3…4…” dan seterusnya hingga hitungan kembali ke depan lagi. Teriakan hitungan kan diteriakkan dengan lantang dan penuh semangat. Teriakan mereka begitu keras seakan-akan ada lomba mengeraskan volume suara di pagi hari. Jika sudah begitu, guru-guru akan marah karena pasti ada hitungan yang terlewat, entah satu-dua anak karena mereka terlampau cepat berhitung.

Dan hitungan akan dimulai lagi dari awal. Namun yang terjadi selalu sama, jumlah hitungan itu jarang mencapai kuota dua pertiga dari jumlah murid keseluruhan. Ada banyak alasan mengapa hitungan itu tak pernah utuh. Ada alasan, namun jarang yang mau mengerti mengenai alasan di balik jumlah hitungan tersebut. Meski ada nada marah yang terlontar dari guru, ada peringatan tegas dari kepala sekolah, anak-anak akan tetap tersenyum, tertawa, dan saling berbisik ceria. Mereka tahu, mereka tak kan pernah di marahi benar-benar, karena semua guru terlampau menyayangi mereka. Anak-anak pun akan bersikap serius lagi, berbaris lagi seakan takut, dan patuh pada guru dengan sikap diam yang dibuat-buat. Ah tingkah mereka, hem….

Selanjutnya anak-anak akan memulai doa pagi bersama. Lagi-lagi mereka berdoa dengan suara keras, dan bersemangat. Sehabis berdoa jika ada pengumuman penting, maka kepala sekolah dengan wajah penuh kesabaran akan memberitahukan berita penting tersebut. Tegas, berwibawa, namun dekat dengan semua anak. Itulah gambaran kepala sekolah yang dicintai anak-anak. Bijaksana bukan karena usia melainkan karena cintanya pada dunia pendidikan. Jika ditilik dari usia maka kepala sekolah baru berumur 40 tahunan. Masih muda dan bersemangat, sama seperti gambaran anak-anak RKS.

Jika mengetahui jumlah anak yang datang akan ada berbagai persepsi yang muncul. Dan setelah hitungan terakhir diteriakan, kami—para guru—akan mengetahui berapa jumlah anak penuh cinta yang datang pada kami di hari itu. Berapa banyak anak penuh semangat yang datang dan mengharapkan pelajaran penuh cinta dari kami. Ya, kami menghitung cinta setiap pagi dan berusaha sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan hati tiap anak dengan berbagai karakteristik istimewa mereka. Ada guru yang tetap tersenyum, ada yang selalu mengeluh karena muridnya hanya sedikit, ada guru yang diam saja, ada guru yang menyiratkan keprihatinan yang tak bisa disembunyikan, dan lain sebagainya.

Dengan jumlah murid yang datang antara 20-30 anak tiap hari, bisa dipastikan jumlah anak yang duduk di dalam kelas setiap hari. Ada satu kelas yang berisi 4 anak, 5 anak, 3 anak, atau lebih dari itu. Yang jelas semuanya sama, sedikit. Bahkan jumlah siswa secara admisnistrasi di RKS sebenarnya menjadi jumlah murid satu kelas di sekolah tempatku magang di Sukabumi dulu. Namun di sini, hanya menjadi jumlah murid yang tercatat secara administrasi di satu sekolah. Miris, bila aku mengingatnya.

Tak ada yang kurang sebenarnya jika dilihat dari RKS, meskipun sarana dan prasarananya kurang memadai. Bangunan ada, guru-guru ada, namun jumlah muridnya saja yang sedikit. RKS terkenal sebagai sekolah yang banyak dihuni oleh anak-anak jalanan. Dengan kesan sekolah anak-anak jalanan maka citra sekolah pun menurun di mata masyarakat sekitar. Mereka menilai jika anak-anak disekolahkan dengan anak-anak jalanan, maka anak mereka pun akan tertular menjadi anak nakal dan sulit diatur.

Dampaknya sudah bisa dipastikan, tak banyak orang tua yang sudi menyekolahkan anak-anaknya di RKS. Mereka lebih memilih menyekolahkan anak-anak ke sekolah lain dengan alasan menyelamatkan moral anak-anak mereka. Ya, pikiran orang tua pada umumnya demi anak. Tapi jika kita mau menimbang dalam hati, apakah tindakan ini bisa dibenarkan sepenuhnya? Bukannya aku hendak menggugat kasih sayang orang tua terhadap anak-anak mereka—dengan tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka di RKS dengan alasan takut anak berubah nakal—tapi hendak berbagi pemikiran dan suara hati yang berkembang selama ini saja hehehe….

Siapakah yang bisa memilih takdir kehidupannya di dunia ini? Tentu tidak ada seorang manusia pun yang memiliki kekuatan untuk memilih takdirnya sendiri bukan? Dilahirkan di manakah ia? Di keluarga pejabat, kaya, bangsawan, miskin tapi tetap punya keluarga utuh, atau menjadi anak jalanan yang dipandang sebelah mata oleh orang lain? Tentu semua anak ingin punya kehidupan yang baik dan bahagia. Merasa aman, dilindungi, dan tercukupi kebutuhannya. Dan jika bisa, tak akan ada yang mau menjadi anak jalanan seperti murid-muridku ini. Tak perlu sibuk berpikir hari ini makan apa dan harus merelakan waktu bermain mereka berkurang karena sibuk bekerja membantu orang tua.

Stereotip anak jalanan yang nakal, sulit di atur, tak punya disiplin, dan membawa pengaruh buruk bagi anak ‘biasa’ lainnya sudah melekat erat di benak masyarakat. Jika dipikir kembali, bagaimana mereka bisa menjadi anak baik-baik seperti harapan masyarakat pada umumnya jika waktu mereka habis di jalanan untuk mengamen, bekerja di pasar hingga dini hari, atau menjadi buruh mencuci di saat jam sekolah? Mereka tidak mempunyai waktu yang cukup.

Dan jika pun ada, orang tua mereka tidak akan sempat memberikan ceramah, pelajaran disiplin, sopan-santun seperti yang sering dilakukan orang tua pada umumnya. Orang tua mereka hanya punya sedikit waktu untuk melihat apakah mereka sudah makan atau belum dan memberi hukuman jika perilaku yang ditampakkan salah. Dihukum dan diharapkan mengerti bahwa itu tak boleh dilakukan lagi. Sederhana saja. Menghukum untuk mendidik. Dan bahasa yang mereka pun sama, keras. Seperti kerasnya kehidupan yang mereka jalani.

Namun sejatinya, di lubuk hati terdalam mereka masih ada tempat untuk kasih sayang. Mau menurut, bermanja-manja, atau bahkan sekedar membuat ulah untuk mencari perhatian. Semua yang mereka lakukan karena masih membutuhkan kasih sayang. Bukan tatapan meremehkan, pandangan menyudutkan, hardikan menyuruh mereka menjauh pergi jika terlihat oleh orang lain. Bukan! Bukan itu. Dan tampaknya hanya segelintir orang yang mampu ‘membaca’ dan bersabar bersahabat dengan jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih sayang ini.

Dan aku melihat kepala sekolah serta satu-dua orang guru yang tampaknya masih peduli dengan mereka di RKS ini. Kepala sekolah begitu memperhatikan keadaan masing-masing anak. Beliau akan mengajari langsung anak-anak yang sudah besar namun masih sulit membaca, menggendong anak jalanan yang menangis karena tidak mau sekolah, memberikan buku pada mereka, menengok ke rumah-rumah semi permanen mereka di pinggir sungai, dan berusaha mencukupi kebutuhan masing-masing anak agar mau sekolah.

“Sudah menjadi tugas kita agar mereka mau sekolah, tidak berkeliaran di jalanan, dan melakukan tindakan negatif yang merugikan mereka serta orang lain. Paling tidak masih ada harapan masa depan mereka berubah cerah jika bersekolah,” demikian ucap kepala sekolah suatu siang ketika berbincang dengan salah seorang guru.

Hem…. Betapa mulia harapan beliau kepada anak-anak itu. Padahal sekolah bukanlah termasuk sekolah kaya dengan dana berlimpah. Sekolah sangat memprihatinkan jika ditilik dari segi keuangan, begitu yang kudengar dari salah seorang guru. Oleh karena itu kepala sekolah tak pernah putus asa mencari bantuan agar anak-anak jalanan itu bisa bersekolah dan tercukupi kebutuhannya. Juga ada seorang guru yang begitu memedulikan keadaan mereka. Tak henti-hentinya menguatkan hati anak-anak, menyuruh mereka belajar, dan membantu setiap kesulitan yang mereka atau orang tua mereka hadapi. Semuanya dilakukan dengan penuh kasih sayang karena cinta yang melekat pada setiap anak, tanpa membedakan mereka berasal darimana.

Mendidik dari hati, berusaha merubah sikap-sikap negatif yang masih tampak pada diri anak-anak jalanan itulah yang mereka lakukan. Bukannya menjauh atau menolak kehadiran mereka di sekolah. Ya, meskipun dampaknya sekolah menjadi kekurangan murid karena dianggap tak berkualitas. Tapi tampaknya kepala sekolah tidak memedulikan hal itu. Harapan yang beliau sematkan pada anak-anak itu sangat besar, perubahan sikap dan masa depan mereka. Beliau berharap dengan membuat anak-anak jalanan itu berprestasi maka masyarakat tidak akan memandang remeh mereka lagi.

Ada banyak kemampuan yang mereka punyai berkat kondisi yang kurang beruntung tersebut. Misalnya, ada anak yang jago berlari karena sering berlari karena di kejar pamong praja saat mengamen. Memilukan. Tapi ini sungguh terjadi. Dan hal inilah yang sedang diupayakan oleh pihak sekolah. Mencoba mengenali talenta masing-masing anak agar dapat dijadikan bekal bagi masa depan mereka. Hal inilah yang ada di beliau, dan tak ada niat sedikit pun untuk menolak kehadiran mereka. Justru beliau sering bercengkrama, mengunjungi orang tua mereka agar merelakan anak-anaknya bersekolah dulu baru membantu bekerja sehabis pulang sekolah.

Semangat kepala sekolah dan guru-guru yang ada di RKS inilah yang menyemangatiku di tiap paginya. Meski kuakui aku belum setabah mereka saat mengajar setiap hari. Tapi aku terus mencoba, mencari cara terbaik mengajar anak-anak ‘istimewa’ ini agar mereka bisa tetap tersenyum penuh semangat di masa depan seperti saat apel pagi. Meski sering mengeluh, jengkel, dan putus asa aku terus menyemangati diri. Masih ada cara dan harapan untuk mendidik mereka. Aku tak mau kalah sabar dengan kepala sekolah dan guru-guru lainnya. Mereka hanya anak-anak yang butuh kasih sayang, jadi mengapa harus menyerah hari ini? Begitu motivasiku setiap pagi. Jika merasa kesulitan, maka guru-guru lain akan dengan sabar memberikan cara-cara terbaik mereka dalam mengajar untuk ditularkan padaku. Mereka terbuka dan menguatkan. Inilah yang menggembirakanku.

Inilah hitungan cinta bernafaskan ibadah yang mengharap ridho Allah yang terjadi di Rumah Kasih Sayang setiap paginya. Dan tampaknya hitungan ini tak akan pernah berakhir, dan terus akan bertambah setiap tahunnya di sekolahku. Karena bagaimana mungkin seorang guru akan menolak kehadiran jiwa-jiwa penuh kasih yang mengharapkan setetes ilmu di tiap harinya. Bagaimana denganmu kawan? Berapa banyak cinta yang datang padamu hari ini? Hamasah!!

13 Oktober 2011

17: 30

Note: Hamasah untuk hitungan cintaku setiap paginya:).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 10 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring Bareng …

Kompasiana | 7 jam lalu

Menjadikan Negeri Sejuta Penulis Tewat Tagar …

Benny Rhamdani | 7 jam lalu

Perkenalkan, Namaku Angin… …

Ani Istiqlalia | 7 jam lalu

Berkurban Itu untuk Siapa …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Surat Pembaca: Over Charge Speedy Telkom di …

Ayu Septyani | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: