Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

William Wiguna

Founder Care Plus Indonesia®, a behavior team work building network, Founder Salon Perilaku®, a class selengkapnya

Mengapa Pimpinan Sulit Menilai Bawahan?

OPINI | 14 October 2011 | 08:35 Dibaca: 170   Komentar: 0   0

http://bestcharacters.blogspot.com/2011/10/mengapa-pimpinan-sulit-menilai-bawahan.html

Di salah satu sesion program Passion of Teamwork, salah satu topik yang muncul adalah demikian. Seorang karyawan selama ini merasa yang paling berhak menilai prestasi adalah atasan ybs.

Kami selalu mencoba menunjukkan realitas yang sebenarnya, bahwa amat sangat sulit seorang atasan menilai bawahannya dengan obyektif bila tidak dibantu dari ybs untuk unjuk prestasi. Salah satu contoh biasanya kami meminta salah seorang Supervisor atau bahkan Owner untuk dibuat “role play” yang didengarkan oleh para peserta.

Pertanyaannya adalah sbb: “Apabila Anda bekerja keras setiap hari dan pulang jam 20-21 saat tiba di rumah Anda selalu menyaksikan pembantu rumah Anda selalu sedang santai, nonton TV atau Video sambil baca2 majalah yang semuanya milik Anda, apakah yang Anda rasakan?”. Sebagian besar dari para “majikan” lansung mengatakan bahwa adanya perasaan kesal, marah dan/atau sebal”. Kemudian kami tanyakan “ Mengapa dan bagaimana kemungkinan pembantu tsb bisa dinaikkan gajinya atau ditambah kerjaan?”. Selaras dengan pernyataan mereka tadi, bahwa kemungkinan kenaikan gaji tidak maksimal atau ditambah kerjaan. Kami ingatkan kembali, mereka bisa saja sudah santai karena sudah bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaan, mengapa kita bisa menjadi demikian “subyektif” dan menghakimi dengan perasaan tersebut.

Demikianlah kondisi seorang “atasan” yang melihat hanya satu anak buahnya, apalagi bila seorang atasan memiliki anak buah yang banyak, sangat subyektif sekali bukan kalau tidak mau disebut “sangat sulit menilai bawahan”? Kemudian kami mencoba menejelaskan kondisi yang bisa saja mirip terjadi, yaitu ada kalanya seorang karyawan sedang apes, saat santai dan main game, kepergok oleh atasannya cukup sering. Apakah nasib sang karyawan akan bisa mirip dengan kondisi sang pembantu tadi? Hasil kerja keras setahun bisa saja dirusak oleh apesnya kejadian tadi.

Sekarang bayangkan bila sang pembantu pada jam-jam tertentu melaporkan bahwa ybs sudah menyelesaikan tugas-tugas dan hal-hal terkait, lalu sang pembantu melanjutkan dengan bertanya “bolehkah saya menonton atau membaca atau santai/beristirahat”? Semua majikan pasti menyetujui tindakan tersebut. Masalahnya adakah pembantu diajarkan cara tersebut? Mungkin bila para TKI kita diajarkan Passion of Teamwork mereka akan bisa unjuk prestasi juga di depan para majikan dan bukannya ditambah-tambah kerjaannya hanya karena lagi “apesnya” sang pembantu.

Bagi Anda sendiri silahkan menilai, manakah sebenarnya yang layak secara obyektif menilai diri Anda, 100% oleh Atasan (yang belum tentu melihat Anda bekerja) atau seluruh Team 360 derajat? Apa yang dinilai, tentunya prestasi dari diri Anda seutuhnya yang sangat mungkin lebih baik daripada hanya “copy”-an JOB DESCRIPTION. Bisa juga Anda mengevaluasi, team kita lebih terlatih mana: unjuk rasa atau unjuk prestasi?

Cerita lain yang lebih menggambarkan Program Passion of Teamwork (BKPI with Free Lifetime Counceling Guarantee) bisa di klik di: http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=33 dan http://www.careplusindonesia.com/article.php?idarticle=37

Salam Karakter,

Ir. William Wiguna, CPHR., CBA., CPI.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 11 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 14 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 14 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: