Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ana Rukhul Hanifah

diamku bukan karena ku tak mampu, tapi.....

Sifat Tentatif dalam Keilmuan

OPINI | 14 October 2011 | 00:05 Dibaca: 1437   Komentar: 8   1

Dalam perkembangan struktur kognitif, kita mengenal adanya pembaharuan, penghalusan dan penajaman struktur kogitif yang diperoleh dari asimilasi dan akomodasi dari konstruks struktur pengbetahuan yang telah dipelajari sebelumnya dengan kontruks struktur pengetahuan yang baru didapatnya. Dalam kondisi demikian tanpa disadari, asimilasi dan akomodasi yang berlang secara berkelanjutan mampu merombak dan menyusun ulang secara sistematis pengetahuan – pengetahuan yang dapat kita terima. Setiap ada masukan pengetahuan baru, struktur kognitif kita akan merespon dengan melakukan asimilasi dan akomodasi, begitu seterusnya.

Tak hanya struktur kognitif saja yang mampu me-refresh sistem organisasi pengetahuan dalam otak kita, teoripun sangatlah memungkinkan untuk diperbaharui, atau bahkan ditinggalkan, apabila terdapat teori baru yang mampu menggeser isi teori tertentu yang sebelumnya lebih dulu lahir karena teori lain dinilai lebih rasional, objektif dan lebih konsisten dalam menanggapi suatu masalah tertentu yang mungkin tidak dapat ditemukan dalam teori yang telah tergagas sebelum teori lain muncul.

Gugur atau kurang relevannya suatu teori karena ada teori lain yang dirasa lebih objektif, metodik, sistematis, universal dan konsisten saya maknai sebagai sifat tentatif yang wajar dalam pembentukan ilmu pengetahuan. Sehingga kebenaran dalam suatu teori adalah kebenaran yang relatif, bukan kebenaran yang mutlak.

Lihatlah saja teori koneksionisme yang digawangi oleh beberapa tokoh besar yang masing-masing mengembangkan penelitian-penelitian untuk memperkuat teori yang mereka temukan. Wilhelm Wundt, tokoh psikologi ilmiah barkebangsaan jerman yang membahas teori belajar koneksionisme, yang mengkonsentrasikan kepada pengalaman sadar manusia, sensasi, pikiran, perasaan manusia, citra memori, citra sensasi, intensitas stimulus yang dibarengi sensasi aklan menimbulkan perasaan, dan Wundt juga menganalisis perubahan kesadaran pada manusia.

Ivan P. Pavlov, tokoh asal Rusia yang dijuluki sebagai Bapak Pengkondisian, mengkonsentrasikan penelitian-penelitiannya pada stimulus tak terkondisi dan respon tak terkondisi, yang mempengaruhi belajar. Ia juga terkenal dengan konsep Eksitasi dan Inhibisi dalam teorinya, dimana Eksitasi mendorong membuat respon atau membangkitkan respon. Inhibisi menekan atau mencegah suatu respon muncul. Jika Eksitasi berkata: kalau kamu ragu-ragu, majulah! Lakukan apa saja yang diinginkan, maka Inhibisi akan mengatakan: kalau kamu ragu-ragu, lebih baik dan lebih aman jika kamu tidak melakukan apa-apa.

Berbagai peneliti dari berbagai negara mempelajari teori lama dan mampu memperlihatkan kekurangan, teori sebelumnya yang mungkin kurang konsisten, kurang jelas dan hanya memfokuskan satu aspek saja dan mengabaikan aspek lain. Dapat kita pelajari ada beberapa peneliti yang dianggap kurang konsisten dalam mempertahankan argumennya dan penelitiannya pun dinilai masih mengambang, jadi disini kehadiran peneliti maupun teori baru akan menggeser teori lama, karena ilmu pengetahuan bersifat tentatif. Kebenaran belum tentu mutlak tapi kebenarannya relatif, hal itu membuka peluang peneliti baru megungkap dan memperbaharui penelitian sebelumnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 November 2014 | 23:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


HIGHLIGHT

Rebutan Selfie Dengan Ahok Di Kompasianival …

Maulana Zam | 8 jam lalu

M.Ridwan Kartu Mati, Merugikan Timnas …

Manly Villa | 8 jam lalu

Muslimat HTI Harus Berterima Kasih Kepada …

Aluska | 9 jam lalu

Mengenal Macam Gangguan Parafilia …

Alif Fiadi Fuazhim | 9 jam lalu

Seperti Ini, Saya Sudah Abnormal …

Imroatul Khoyroh | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: