Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ana Rukhul Hanifah

diamku bukan karena ku tak mampu, tapi.....

Curiosity Mampu Geserkan Teori

OPINI | 21 October 2011 | 01:19 Dibaca: 87   Komentar: 2   0

Tiap-tiap teori memiliki kelebihan dan kekurangan, kekurangan yang dimiliki oleh suatu teori menyebabkan terjadinya pembaharuan atau modifikasi yang arahnya lebih baik atau bersifat progress, karena walau bagaimanapun teori yang paling mendekati sempurna sangat diperlukan sebagai landasan terbentuknya ilmu pengetahuan, perbaikan dan modifikasi tersebut sampai akhirnya menimbulkan pergeseran teori.

Walaupun pada kenyataannya tidak bisa hanya mengacu pada teori tertentu saja, tapi juga memadu padankan dari berbagai teori yang relevan, diambil sisi lebihnya dan menutup kekurangan yang ada peda suatu teori dengan teori lain, yang memiliki lingkup garapan yang sejenis. Jika kita amati, maka kita akan mengetahui bahwa pergeseran teori memiliki tujuan untuk menyempurnakan teori yang sebelumnya, dengan mencari solusi lain dan memecahkan masalah yang belum ditemukan titik terangnya pada teori-teori sebelumnya.

Selain karena adanya kekurangan dan kelebihan dalam suatu teori, pergeseran teori juga dilatarbelakangi adanya sikap ilmiah pada diri peneliti untuk mengkritisi teori yang ada, meneliti fakta, dan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Hal tersebut juga didukung dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung terwujudnya penelitian yang lebih mutakhir.

Dalam teori-teori pembelajaran didapati adanya pergeseran-pergeseran teori yaitu dari teori koneksionisme ke kognitifisme, dari teori kognitifisme bergeser menjadi teori kontruktifisme dan pada akhirnya dari teori kontruktifisme tersebut untuk sementara diakhiri dengan teori humanisme.

Dengan teori awal konneksionisme yang menyoroti pada aspek behaviour atau perilaku belajar, atau teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan yang ditimbulkan atau yang dimunculkan, mampu bergeser hingga munculnya teori humanisme yang dalam gagasannya, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia, dimana memanusiakan manusia di sini berarti mempunyai tujuan untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, secara optimal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 4 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 6 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 7 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 8 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: