Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ana Rukhul Hanifah

diamku bukan karena ku tak mampu, tapi.....

Curiosity Mampu Geserkan Teori

OPINI | 21 October 2011 | 01:19 Dibaca: 94   Komentar: 2   0

Tiap-tiap teori memiliki kelebihan dan kekurangan, kekurangan yang dimiliki oleh suatu teori menyebabkan terjadinya pembaharuan atau modifikasi yang arahnya lebih baik atau bersifat progress, karena walau bagaimanapun teori yang paling mendekati sempurna sangat diperlukan sebagai landasan terbentuknya ilmu pengetahuan, perbaikan dan modifikasi tersebut sampai akhirnya menimbulkan pergeseran teori.

Walaupun pada kenyataannya tidak bisa hanya mengacu pada teori tertentu saja, tapi juga memadu padankan dari berbagai teori yang relevan, diambil sisi lebihnya dan menutup kekurangan yang ada peda suatu teori dengan teori lain, yang memiliki lingkup garapan yang sejenis. Jika kita amati, maka kita akan mengetahui bahwa pergeseran teori memiliki tujuan untuk menyempurnakan teori yang sebelumnya, dengan mencari solusi lain dan memecahkan masalah yang belum ditemukan titik terangnya pada teori-teori sebelumnya.

Selain karena adanya kekurangan dan kelebihan dalam suatu teori, pergeseran teori juga dilatarbelakangi adanya sikap ilmiah pada diri peneliti untuk mengkritisi teori yang ada, meneliti fakta, dan faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian. Hal tersebut juga didukung dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung terwujudnya penelitian yang lebih mutakhir.

Dalam teori-teori pembelajaran didapati adanya pergeseran-pergeseran teori yaitu dari teori koneksionisme ke kognitifisme, dari teori kognitifisme bergeser menjadi teori kontruktifisme dan pada akhirnya dari teori kontruktifisme tersebut untuk sementara diakhiri dengan teori humanisme.

Dengan teori awal konneksionisme yang menyoroti pada aspek behaviour atau perilaku belajar, atau teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan yang ditimbulkan atau yang dimunculkan, mampu bergeser hingga munculnya teori humanisme yang dalam gagasannya, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia, dimana memanusiakan manusia di sini berarti mempunyai tujuan untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, secara optimal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 5 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Dipertanyakan Molornya Pembangunan Dermaga …

Mahaji Noesa | 8 jam lalu

Malunya Tuh Disini (Tepok Jidat) …

Atin Inayatin | 8 jam lalu

Abdi Negara dan Gaya Hidup Sederhana …

Dhita Mona | 8 jam lalu

Kau, Aku, Angin …

Wahyu Saptorini Ber... | 8 jam lalu

Wisata Alam Sejarah Klasik Goa Selomangleng …

Siwi Sang | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: