Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fitri.y Yeye

Wanita biasa yang sangat sederhana. Penulis Novel Satu Cinta Dua Agama

Mengajarkan Anak Melakukan Tugas Keseharian dalam Keluarga tanpa Iming-iming

OPINI | 21 October 2011 | 13:54 Dibaca: 595   Komentar: 46   2

wollipop.com
wolipop.com

Beberapa hari ini saya merasa kurang sehat. Namanya ibu rumah tangga yang tanpa asisten, sekali sakit semua aktivitas rumah tangga jadi berantakan. Untungnya saya mempunyai suami yang sangat cekatan, meskipun sangat lelah sepulang kerja. Sampai di rumah beliau dengan sabar mau mengurusi anak-anak hingga malam mereka tertidur.

Ada hal menarik yang menjadi pelajaran berharga buat saya. Selama saya terbaring lemah di tempat tidur, tiba-tiba saya menyaksikan ke dua buah hati saya begitu mandiri. Saat saya ingin minum dedek yang baru berusia 2,5 tahun cepat mengambilkan air minum untuk saya. Apalagi si kakak yang sudah 5 tahun, saat adeknya minta susu, dia bisa membantu membuatkan. Tentu saja dengan takaran yang sudah saya tentukan.

Sungguh sakit itu tidak menyenangkan, apalagi bagi seorang ibu seperti saya. Meskipun sakit pekerjaan rumah masih saja menjadi beban pikiran jika belum terselesaikan. Rumah berantakan, piring kotor belum di cuci, belum lagi makan anak-anak yang belum tersedia. Terlebih lagi saya tidak bisa mengawasi mereka bermain. Semua mainan mereka dikeluarkan dan membuat rumah seperti kapal pecah. Jika tidak sabar menambah stress.

Lalu saya iseng coba-coba memanggil kakak. Memintanya untuk membantu menyapu rumah, awalnya dia menjawab tidak bisa.. Lalu saya katakan “pasti bisa kak! Coba dulu sebisanya kakak aja!” Dan si kakakpun mengambil sapu dan mulai menyapu serta mengumpulkan mainannya yang berserakan.

Tak berapa lama setelah setelah kakak menyapu temannya datang untuk bermain. Saya mendengar kakak bicara dengan temannya, dia baru saja menyapu rumah karena bundanya sakit. Saya tersenyum sendiri dengan cerita kakak pada sahabatnya. Terdengar sangat bangga dia telah berhasil melakukannya.

Saat itu saya berpikir penting ternyata memberikan tugas dan tanggung jawab berupa pekerjaan sehari-hari kepada anak. Tentu saja dengan sebisanya saja dulu dan tidak didikte harus begini dan begitu. Selama ini saya jarang meminta kakak membantu saya melakukan pekerjaan rumah, biasanya saya akan meminta tolong untuk membelikan sesuatu ke warung. Untuk pekerjaan rumah saya lebih suka melakukannya sendiri.

Mengajarkan anak melakukan tugas rumahan tentu saja tidak mudah. Apalagi diusia mereka yang masih anak-anak. Biasanya mereka akan melakukan sesuatu jika diiming-imingi dengan hadiah. Atau dijanjikan Sesuatu bahkan langsung diberikan upah berupa uang. Saya banyak menyaksikan orang tua yang memberi upah terhadap anaknya ketika disuruh melakukan pekerjaan keseharian. Alasan orang tua adalah karena anaknya tidak mau disuruh jika tidak diberi upah. Apakah ini sebuah cara yang tepat dalam mendidik kemandirian sang anak?

Menurut saya, pekerjaan rumah adalah tugas semua anggota keluarga. Memberikan tanggung jawab pada anak melakukan salah satu yang bisa mereka lakukan adalah sebuah bentuk kontribusi anak terhadap kelancaran dalam keluarga. Sepertinya tidak perlu mengiming-imingi mereka dengan memberinya uang. Karena cara seperti ini seolah mengajarkan kepada mereka, jika mereka tidak butuh uang maka mereka tidak perlu membantu melakukan tugas rumah.Mengjarkan pekerjaan rumah tangga pada anak juga merupakan salah satu cara mengajarkan kepada meraka untuk mau bekerja sama.

Sementara kita tahu bahwa pekerjaan keseharian di rumah, seperti menyapu, mencuci piring, mengepel dan membersihkan kamar tidur sendiri. Itu adalah pekerjaan ringan yang sejak kecil harus dibiasakan kepada mereka. Pekerjaan-pekerjaan seperti itu bisa dijadikan salah satu cara untuk mengajarkan kemandirian kepada anak-anak.

Karena seperti yang saya lihat pada anak saya, dia begitu bangga setelah bisa menyelesaikan menyapu rumah, pekerjaan yang biasa saya lakukan dan saya minta dia untuk melakukannya. Di sini saya menyimpulkan saat sang anak diberikan tanggung jawab dan dia mampu melaksanakannya dengan baik, itu akan menjadi sebuah kebanggaan untuk mereka. Dia merasa ikut berperan meringankan pekerjaan rumah tentu saja ini akan mengangkat kepercayaan diri serta keyakinannya dan dia merasa lebih berharga karena keberadaannya dilibatkan dalam keluarga. Meskipun usianya masih sangat belia Tetapi dia senang saat dia mempunyai peran dan tanggung jawab dalam keluarga.

Jika anak-anak sudah terbiasa melakukan pekerjaan sehari-hari sendiri. Saat besar nanti dia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Dan tentu saja orang tua tidak akan kesulitan untuk mengarahkan mereka untuk mengajarkan mereka bertanggung jawab terhadap hal-hal lain yang lebih besar. Karena itu,mari kita ajarkan anak-anak untuk mau melaksanakan tugas keseharian. Dengan cara yang bijak tentunya. Tidak dengan nada memerintah, sehingga merekapun mau melakukannya dengan senang hati.

Tulisan juga terinspirasi dari kompas.com.

Selamat malam, semoga bermanfaat

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 5 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 12 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: