Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ridho

Sabar & memaafkan adalah sifat yang sangat mulia..::))

Memudahkan Urusan Orang Lain

OPINI | 25 October 2011 | 07:06 Dibaca: 121   Komentar: 0   0

Artikel:
Memudahkan Urusan Orang Lain
                                                                                          
Ini adalah salah satu kalimat
paling popular diantara kita;”Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?”
Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi
guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk
melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita
temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang
lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan;
pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?
 
Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya
belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan
menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
 
1.      Mulailah dengan tujuan yang tepat dalam
bekerja.Apa tujuan Anda bekerja?.
Uang? Bagus. Namun berhati-hati dengan efek sampingnya. Misalnya, meminta
imbalan yang tidak seharusnya Anda terima. Terimalah hanya uang yang memang
sudah menjadi hak Anda. Uang sering menjadi ukuran ‘seberapa bersedianya kita memudahkan
urusan orang lain”. Maka bekerja dengan tujuan uang, bisa menjadikan kita orang
yang benar atau salah. Bagaimana kalau kita mengganti tujuan bekerja itu dari
sekedar uang, menjadi ‘ibadah’? Dengan niat itu Anda sudah pasti mendapatkan
uang yang menjadi hak Anda sepenuhnya. Tidak akan dikurangi. Dan dengan niat
ibadah itu, kita bisa memposisikan diri untuk melayani. Maka bagi orang yang
niatnya bekerja adalah ibadah, sangat mudah untuk memudahkan urusan orang lain.
Karena dalam ibadah, kinerja kita tercermin dari kemudahan yang dirasakan oleh
orang-orang yang kita layani. Jika didalam hati kita masih ada bisikan untuk ‘melambat-lambatkan’
yang bisa cepat, mungkin niat bekerja kita belum tepat. Jika dalam bekerja kita
‘mengabaikan kepentingan orang lain’, mungkin niat kita masih salah. Jika kita hanya
mau memudahkan urusan orang lain jika dan hanya jika mereka memberi ‘imbalan’
tambahan diluar hak kita; maka boleh jadi; tujuan kita dalam bekerja belum
diubah menjadi ‘ibadah’.
 
2.      Bangunlah reputasi yang baik untuk diri sendiri. Mari kita
coba perhatikan semua orang atau semua departemen di kantor kita. Ada
departemen yang mudah untuk diajak bekerja sama. Ada juga departemen yang semua
orang juga tahu betapa sulitnya untuk bekerjasama dengan mereka.Kita juga bisa melihat hal
itu di tingkat individu. Ada orang-orang yang kita semua kenal dia sebagai
pribadi yang senang sekali menolong orang lain. Ada yang dikenal sebagai orang
usil. Ada yang pemarah. Rajin. Malas. Dan ada pula orang-orang yang dikenal
sebagai orang yang paling gemar menyusahkan orang lain. Kata ‘dikenal’ yang
saya sebut berulang-ulang itu mengindikasikan reputasi. Sebab reputasi merujuk
kepada “bagaimana kualitas pribadi seseorang ‘dikenal’ oleh orang lain”. Selalu
bersedia memudahkan urusan orang lain adalah salah satu kualitas yang mutlak
harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin memiliki reputasi yang baik. Mengapa?
Karena reputasi kita dinilai oleh orang lain, bukan kita sendiri yang mengklaimnya.
Apakah Anda ingin memiliki reputasi pribadi yang baik? Jika ya, maka mulailah
dengan membiasakan diri untuk memudahkan urusan orang lain.
 
3.      Tetaplah menegakkan prosedur dan kedisiplinan. Kadang-kadang
kita suka menjerumuskan diri kedalam sudut pandang negatif. “Kalau kita
memudahkan urusan orang lain berarti kita melanggar prosedur,” kita bilang. Kita
berpikir begitu, mungkin karena kita belum bisa keluar dari kebiasaan buruk
untuk melanggar prosedur. Padahal, memudahkan urusan orang lain tidak selalu
harus melanggar prosedur. Justru untuk memudahkan urusan orang lain, kita harus
menegakkan prosedur; baik yang tertulis maupun yang sudah menjadi norma umum.
Misalnya, first come, first serve. Yang pertama datang, itulah yang dilayani.
Atau mengacu kepada KPI. Misalnya, dokumen di meja kita harus segera keluar
paling lambat dalam 1 hari. Semua permintaan disposisi dari departemen lain
harus sudah selesai selambat-lambat dalam 3 hari. Justru dengan mengikuti
prosedur itu kita bisa memudahkan urusan orang lain, karena prosedur dibuat
untuk memudahkan urusan semua orang.  Jika
ada orang yang menegur Anda karena menegakkan prosedur, Anda tidak akan pernah
dipersalahkan.
 
4.      Gunakan judgement profesional dan buatlah pengecualian. Prosedur
di perusahaan tidak selalu bisa mengakomodasi situasi khusus. Orang-orang yang
tugasnya berhubungan dengan pihak luar tahu benar tentang hal ini. Sayangnya,
seringkali tidak dimengerti oleh orang-orang supporting function. Makanya, orang
yang berhubungan dengan pihak luar sering tergencet diantara kewajiban untuk
melayani pihak luar dengan kengototan membabi buta orang dalam. Jika Anda yang
orang dalam itu, maka saya ingin mengajak untuk belajar menggunakan judgment
profesional Anda. Kita bukanlah robot yang bekerja sesuai dengan ‘setelan’
program. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk menilai dan
mengambil keputusan. Perhatikanlah jika teman Anda didepartemen lain meminta
pengecualian pada kondisi khusus. Janganlah bersembunyi dibalik kata ‘prosedur’.
Justru kengototan kita bisa merusak reputasi perusahaan. “Maaf Bung,
prosedurnya 14 hari kerja,” misalnya. Gunakan kemampuan berpikir dan
pengambilan keputusan Anda, maka Anda akan tahu bahwa; menyelesaikannya dengan lebih
cepat menjaga reputasi perusahaan dimata pihak luar yang menjadi mitra bisnis atau
pelanggan Anda. Lagipula, logika umum mengatakan bahwa dalam hal melayani
berlaku hukum;”lebih cepat, lebih baik’. Maka gunakanlah judgment profesional
Anda.
 
5.      Balaslah keburukan dengan kebaikan. Ada juga orang yang menyulitkan
orang lain karena mereka merasa kesal kepada orang itu. Misalnya, “orangnya
jutek, ngapain saya mudahin!” Lho, yang jutek salah satu atau keduanya ya? Ada
juga yang bilang;”Dia kebiasaannya mau cepat melulu, biar kita lambatin aja
sekalian…” Ada lho orang yang berprinsip demikian. Mereka hanya memikirkan
untuk ‘membalas’ orang yang tidak ‘cocok’ dengannya tanpa mempertimbangkan
dampaknya bagi orang-orang lain yang tidak kelihatan. Ketika kita membuat susah
satu orang dikantor, mungkin efeknya terbawa ke rumah. Disana mungkin ada istri
yang sedang hamil. Atau anaknya yang demam. Balita yang membutuhkan susu. Atau,
mungkin ada anak yatim yang menantikan sesuatu. Kita tidak pernah tahu. Maka perlakuan
buruk kita kepada orang yang tidak kita sukai itu telah salah sasaran. Dan kita
jadi berdosa kepada mereka. “Tapi, saya tidak suka dengan cara orang itu
menyuruh-nyuruh saya. Bos saya juga nggak gitu-gitu amat!” Apakah Anda pernah
mendengar kalimat itu? Sounds familiar, ya. Hey, ingatlah bahwa kita hidup
bukan untuk saling berbalas keburukan. Anda adalah orang baik. Maka janganlah
ikut terseret untuk meninggalkan sikap dan perilaku baik. Bahkan jika orang
lain melakukan keburukan kepada Anda. Balaslah keburukan mereka dengan
kebaikan. Mengapa? Karena Anda adalah orang baik.
 
Memang tidak mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Khususnya memudahkan mereka
yang menurut penilaian kita sering menyulitkan kita. Sulit juga untuk memudahkan urusan orang yang suka meminta kita cepat-cepat. Tetapi, bukankah nilai diri kita meningkat semakin tinggi justru ketika kita bisa membuat mudah urusan mereka? Jika hati Anda masih terganjal oleh kedongkolan atas perilaku
mereka yang hendak Anda mudahkan urusannya itu, barangkali nasihat dari guru
kehidupan saya bisa menjadi bahan renungan. Beliau mengatakan;”Siapa saja yang selama
hidupnya gemar memudahkan urusan orang lain, Maka Allah akan memudahkan segala
urusannya di dunia dan diakhirat.” Oh, siapakah gerangan yang bisa memudahkan
urusan kita secara sempurna selain Dia Yang Maha Kuasa? Maukah Anda dimudahkan
urusannya oleh Tuhan? Jika demikian, belajarlah untuk memudahkan urusan orang
lain.  
 

Catatan Kaki:
Keikhlasanseseorang dalam melayani tercermin dari usahanya untuk memudahkan urusan orang-orang yang dilayaninya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menyelamatkan 500 Generasi Muda dari Dampak …

Thamrin Dahlan | | 19 September 2014 | 20:47

Dangdut Koplo Pengusir Jenuh, Siapa Mau? …

Gunawan Setyono | | 20 September 2014 | 08:45

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | | 19 September 2014 | 14:10

Saya, Istri dan Kompasiana …

Tubagus Encep | | 20 September 2014 | 08:00

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 2 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 3 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 3 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 11 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Agar Tak Lagi Impor LPG …

Agung Wredho | 7 jam lalu

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | 8 jam lalu

Inilah yang Khas di Jalan Juanda Bogor …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Sate Khas Semarang yang ada Di Jakarta …

Kornelius Ginting | 8 jam lalu

Browser Chrome Tidak Cocok Untuk Membuka …

Ruslan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: