Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ekamara Ananami Putra

Mahasiswa JPP Fisipol UGM/Sekjend BEM KM UGM 2014

Menjadi Ilmuwan yang Baik

REP | 27 October 2011 | 09:23 Dibaca: 1439   Komentar: 0   0

Abad 21 ini ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) berkembang dengan pesatnya, dimana hampir tiap hari orang menemukan teori-teori baru dari ilmuwan-ilmuwan yang baru pula. Tentu teori ini bukanlah teori yang didapatkan begitu saja, tetapi merupakan teori yang dihasilkan dari penelitian ilmiah yang dilakukan calon ilmuwan dalam kurun waktu tertentu. Walaupun tidak semua teori baru yang dihasilkan dapat diaplikasikan langsung di dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi biasanya dijadikan bandingan dengan teori-teori sebelumnya.

Banyaknya ilmuwan-ilmuwan baru yang ditelurkan oleh iptek, maka banyak pula persepsi masyrakat terhadap ilmuwan-ilmuwan tersebut. Ada sebagian masyarakat yang mengapresiasi ilmuwan-ilmuwan tersebut dengan menerima teori barunya, tetapi ada juga yang tidak mau menerima teori-teori baru.

Oleh karena itu, penulis menganggap ada beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan, agar teorinya nanti menjadi suatu adi karya dan tidak ditolak mentah-mentah oleh masyarakat, tetapi setidaknya dapat diterima dan dibandingkan dahulu oleh masyarakat dengan teori sebelumnya.

Hal-hal penting tersebut sebagai berikut :

v Beriman, seorang calon ilmuwan yang beraliran kanan, dalam arti bukan soerang komunis atau atheis karena dua aliran kiri ini tidak bertuhan. Dalam melakukan penelitian perlu memilki dan disertai dengan iman yang kuat, keimanan yang kuat disini perlu dimiliki terutama jika calon ilmuwan tersebut meneliti tentang gejala-gejala alam dan hubungannya dengan diri manusia. Keimanan disini akan memberikan pencerahan bagi peneliti untuk dapat memisahkan mana yang mutlak menjadi kuasa Tuhan, dan mana yang dapat dinalar serta dikelola oleh manusia. Sehingga diakhir rangkaian penelitiannya, peneliti tidak mengambil kesimpulan bahwa manusia adalah pusat segalanya, manusia memiliki semua kekuatan untuk mengatur alam ini dan melupakan ada Yang Maha Kuasa sesungguhnya, sehingga berubah haluan ke paham atheisme.

v Rasional, seorang peneliti dalam melakukan penelitian harus bersifat rasional, artinya peneliti tersebut harus mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, apa yang ia dapatkan dari meneliti haruslah diolah dengan baik sehingga yang dihasilkan dapat diapahami oleh masyarakat. Jangan sampai penelitian yang dihasilkan menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat, sehingga secara logis masyarakat dapat menerima dan memahaminya.

v Objektif, dalam melakukan penelitian seseorang tidak boleh menunjukkan rasa simpatik pada objek yang diteliti, artinya dia merasa tidak berada dalam objek tersebut, sehingga hasi penelitian lebih objektif, pun dalam menyampaikan penelitiannya harus objektif dengan tidak memasukkan pendapat-pendapat pribadi peneliti yang sifatnya subjektif. Selain itu ilmuwan tidak boleh merasa pamrih terhadap objek yang diteliti (disinterstedness).

v Tekun, banyak peneliti terutama peneliti ilmu alam yang ketika dalam proses penelitian mengalami kegagalan langsung merasa drop begitu saja, sehingga malas untuk kembali melakukan penelitian. Sifat tekun dan pantang menyerah ini perlu karena merupakan penunjang keberhasilan seorang peneliti. Ambil contoh Thomas Alfa Edison yang terus mengulang penelitiannya samapi 1000 kali dan akhirnya menemukan bola lampu.

v Inovatif, seorang ilmuwan tidak boleh merasa puas begitu saja terhadap teori yang dihasilkannya, seorang ilmuwan setidaknya dapat mengahasilkan sesuatu yang baru tiap saat, dengan melakukan riset dan berbagai aktivitas untuk menghasilkan penemuan yang baru dan lebih relevan dengan perkembangan zaman

v Demokratis,dalam artian bersikap terbuka apa hasil dari penelitiannya. Seorang ilmuwan harus terbuka menyampaikan isi penelitiannya, sehingga semua orang dapat mengetahuinya. Demokratis disini juga berarti, bahwa ketika teorinya dikemukakan lalu ada orang atau ilmuwan lain yang mengkritiknya, maka sebagai ilmuwan yang baik harus dapat menerima kritikan itu untuk perbaikan hasil penelitian atau teorinya, serta mau mengakui kesalahannya jika terdapat titik-titik kesalahan dalam teorinya.

v Kritis, peneliti atau calon ilmuwan bahkan seorang ilmuwan juga perlu memiliki sikap kritis. Kritis terhadap teori-teori lama maupun baru. Selain menjadi objek kritikan sebagai penemu teori, ilmuwan juga harus kritis dalam menanggapi teori-teori yang ada tetapi juga merasa pasti bahwa pendapat terdahulu tersebut telah mencapai suatu kepastian, sehingga diperlukan kejelian dalam melihat teori-teori tersebut. Pun dalam melakukan penelitian, seorang peneliti harus kritis, bahwa semua yang ada didepannya tidak semuanya baik dan diperlukan sebagai bahan penelitiannya, sehingga peneliti dengan kekritisannya ini bersikap selektif pula.

v Percaya diri, saat penelitian selesai dilakukan dan teorinya ditemukan dan disampaikan pada khalayak, maka seorang ilmuwan harus memiliki sikap convident (pecaya diri). Dalam penyampaian teorinya ilmuwan tidak boleh merasa takut dengan kritikan yang akan diterimanya, jangan ketika dikritik malahan menjadi inkonsisten terhadap apa yang dihasilkannya, walaupun memang harus mengakui jika terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penelitiannya, tetapi setidaknya seorang ilmuwan dapat menyampaikan argumen yang kuat untuk meyakinkan orang lain bahwa teori yang dihasilkannya mencapai suatu kepastian.

v Etis, seorang ilmuwan juga dituntut memiliki sikap etis yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu, sikap etis ini juga menjadi batasan bagi ilmuwan terutama ilmuwan-ilmuwan spesialisasi, dengan taat terhadap batasan etik tersebut diharapkan akan menghilangkan kegelisahan dan ketakutan manusia terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.

v Peka, sebagai seorang peneliti sekaligus ilmuwan yang peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan demi kebahagiaan umat manusia. Maka seorang ilmuwan harus peka terhadap kondisi yang ada disekitarnya, seorang ilmuwan dituntut memeliki rasa sensitif terhadap perkembangan dan kemajuan iptek. Dengan sikap demikian, maka ilmuwan merasa terpanggil naluri ilmiahnya untuk melakukan penelitian-penelitian baru lagi dengan harapan mendapatkan teori-teori baru pula, dimana temuan baru ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang semakin besar mengikuti pola perkembangan zaman

Penulis beranggapan bahwa 10 poin di ataslah yang perlu dimiliki oleh seorang peneliti sebagai calon ilmuwan dan atau ilmuwan, sehingga dapat dianggap sebagai ilmuwan yang baik. Dan akhirnya penulis menyebut 10 poin tersebut sebagai Dasa Sila Ilmiah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Ogah Ditinggal Relawan …

Nurul | | 23 August 2014 | 17:17

Badan Pegal di Raja Ampat, Sentuh Saja …

Dhanang Dhave | | 23 August 2014 | 12:10

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | | 23 August 2014 | 11:37

“Pah, Sekarang Mamah Lebih Melek Politik …

Djoel | | 23 August 2014 | 18:00

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Pilpres: Beda Prabowo & Megawati …

Mania Telo | 6 jam lalu

Sikap Partai Demokrat Pasca Keputusan MK …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Gebrakan Trio Jokowi-AHOK-Abraham Samad = …

Den Bhaghoese | 9 jam lalu

Kerusuhan 21 Agustus 2014 | Jangan Cuma …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Hasil Dari Ahok dan KPK Obrak-abrik UJI KIR …

Thomson Cyrus | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: