Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Novi Effendi

Alumni sma 5 padang, berusaha hidup di jalan dakwah. Silahkan berkunjung ke blog saya http://www.novieffendi.com/ selengkapnya

Menjadi Tak Bernilai Gara-Gara Riya

OPINI | 27 October 2011 | 19:26 Dibaca: 1351   Komentar: 4   0

Riya’ adalah penyakit yang tidak boleh disepelekan. Dia mudah menjangkiti siapa dan kapan saja. Dia adalah perusak amal ibadah. Jika penyakit riya’ sudah menjalar dan mengakar maka obatnya harus mujarab. Penyakit ini sangat halus sehingga perlu usaha lebih untuk menangkalnya demi meraih kebahagiaan nan abadi.

Definisi Riya’

Riya’ kepada manusia adalah mengerjakan sesuatu agar manusia melihatnya. Ali al-Jurhani Rahimahullah berkata: “riya’ adalah meninggalkan ikhlash dalam beramal karena mencari perhatian selain Allah Azza wa Jalla”.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata “Riya’ adalah seseorang beribadah kepada Rabbnya tetapi dia membaguskan ibadahnya karena ingin dilihat orang lain hingga yang melihat berkata “Duhai alangkah alimnya orang ini’, alangkah bagusnya ibadah dia dan semisalnya. Jadi dia menghendaki pujian manusia ketika beribadah kepada Allah, dia tidak menghendaki pendekatan kepada manusia dengan ibadah karena jelas ini syirik besar. Riya’ yang ringan adalah syirik kecil dan riya’ yang banyak adalah syirik besar.

Hukum Riya’

Riya’ termasuk dosa besar karena begitu banyak ancaman dan bahaya yang menegaskan keharamannya. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memasukkan riya’ kedalam dosa besar dan menyebutkan dalil-dalilnya dari al-qur’an, hadits dan atsar salaf (lihat al-kabaair hlm. 276 tahqiq Masyhur Hasan Salman)

Ibnu Hajar al- Haitami mengatakan ” keharaman riya’ telah ditegaskan dalam al-qur’an, hadits dan kesepakatan umat. Haramnya riya’ sebagai syirik kecil karena pelecehannya terhadap hak Allah. oleh karena itu riya’ termasuk dosa besar yang membinasakan. Didalam riya’ juga terdapat penipuan terhadap manusia, karena dia menampakkan seolah-olah orang yang iklash dan taat kepada Allah padahal bukan” (az-zawajir 2/44)

Bentuk-Bentuk Riya’

Riya’ dalam agama dan badan. misalnya dengan menampakkan wajah yang pucat dan kurus agar orang menyangkanya ahli ijtihad dan ibadah atau orang yang selalu memikirkan agama dan akhirat.
Riya’ dalam pakaian dan penampilan, misalnya membiarkan bekas tanda sujud di wajahnya, rambut acak-acakan, kusut agar orang menilai bahwa dia adalah pengikut sunnah serta ahli ibadah.
Riya’ dalam perkataan, misalnya sesorang yang selalu menggerak-gerakkan bibirnya didepan manusia agar dikira selau berdzikir atau dibuat-buat baca alqur’an supaya dikira khusyuk.
Riya’ dalam perbuatan seperti memnajangkan shalat, rukuk atau sujud karena merasa dilihat manusia
Riya’ kepada teman semisal memaksakan diri sering berkunjung (sowan) kerumah ustadz biar dikatakan rajin sowan kepada ustadz.

Riya’ yang membatalkan amalan

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “ketahuilah bahwasanya amalan yang ditujukan kepada selain Allah bermacam-macam, adakalanya murni karena riya’. Tidaklah yang ia niatkan kecuali mencari perhatian orang demi meraih tujuan-tujuan duniawi, sebagaimana halnya orang-orang munafik didalam sholat mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ

Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia [QS.An-Nisa'(4): 142]

Riya’ yang murni hampir selalu menghantui seorang mukmin dalam ibadah wajibnya serta pada amalan yang nyata dan terlihat manfaatnya Tentunya sesoarang muslim tidak ragu lagi bahwa amalan yang murni didasari dengan riya’ tidak bernilai dan sia-sia dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Pelakunya berhak mendapatkan murka dan balasan dari Allah Azaa wa Jalla.

Jika suatu amalan terkotori oleh riya’ dari asal niatnya maka batallah amalan tersebut. Namun bila asala amalannya karena Allah kemudian perasaaan riya’ muncul ditengah-tengah amalannya, apabila dia berusaha menolaknya maka hal itu tidak membahayakan, tetapi bila ia malah senang dengan riya’ maka ulama berselisih akan hukumnya. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir ath-Thobari menguatkan pendapat bahwa amalanya tidak terhapus, dia akan dibalas sesuai dengan niatnya yang pertama tadi. pendapat ini diriwayatkan dari hasan al-Basri dan selainnya.

Bila seorang beramal ikhlas karena Allah, kemudian Allah memberikan rasa cinta dan pujian manusia hingga manusia memujinya dan diapun senang akan karunia dan rahmat-Nya kemudian bergembira maka hal tersebut tidak membahayakan dan sah-sah saja. Dasarnya adalaha hadits Abu dzar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya nabi shallallahu a’laihi wasallam pernah ditanya tentang seorang yang beramal karena Allah kemudian manusia memujinya. Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “itu adalah berita gembira seorang mukmin yang didahulukan” (HR. Muslim 2642, jami’ul Ulum wal Hikam: 1/79-84)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan “Ibadah yang terkotori dengan ria ada tiga keadaan:
1. Dorongan dalam ibadahnya dari asalnya hanya untuk riya’ kepada manusia. maka jelas ini syirik
2. Asal niatnya ikhlas karena Allah kemudian muncul riya’ ditengah-tengah ibadah.apabila ibadah itu tidak ada sangkut pautnya antara awal dan akhirnya maka ibadah yg tidak terkotori riya’ tersebut sah dan diterima sedang ibadah yang terkotori riya tertolak. Akan tetapi apabila ibadah itu saling berhubungan antara awal hingga akhir maka ada dua keadaan

Dia berusah menolak riya’ tersebut dan tidak senang maka ibadahnya sah dan tidak ada pengaruhnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya Allah memaafakan umatku dari persaan yang muncul pada dirinya selam dia belum berbuat atau berbicara.”(HR. Bukhari: 4968 dan Muslim: 127).
Dia tidak berusaha menolak riya’ yang muncul bahkan senang dan meras nyaman, maka batal seluruh ibadah yang ia kerjakan karena antara akhir dan awal ibadah tersebut saling berhubungan.

3. Bila riya’ muncul setelah selesai ibadah maka tidak ada pengaruhnya sedikitpun kecuali dalam hal sedekah maka tidak boleh kita menyebut-nyebut pemberian tersebut dan menyakiti hati orang yang diberi. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(al-Baqarah: 264).

Malapetaka dan Bahaya Riya’

1. Kehancuran umat.
Alah menolong umat ini karena keikhlasn orang-orang yang lemah. Jika ikhlash sudah terangkat maka kehancuran bagi umat ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah Alah menolong imat ini melainkan karena orang-orang lemah, karena doa, shalat dan keikhlasan mereka”. (An-Nasai 3178, dishahihkan oleh syaikh albani rahimahullah dalam shahih targhib wa tarhib: 1/6 ash-shohihah 2/443)

2. Dosa besar yang diancam neraka.
Orang yang riya’ apabila belum bertaubat dari perbuatannya maka Allah akan mengancam dengan siksa neraka. Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ.الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ.الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,(QS.Al-Ma’un: 4-6)
Ingatlah kisah tiga orang yang berjihad,bersedekah dan pandai alqur’an. mereka tidaklah mengerjakan amalannya kecuali karena agar dikatakan pemberani, dermawan dan orang alim. akhirnya Allah mencampakkan merka kedalam neraka. (HR. Muslim: 1905)

3. Mewariskan kehinaan.
Allah tidaklah menghendaki dari orang-orang yang bermaksiat kecuali kehinaan! Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang sum’ah kepada manusia dengan amalannya maka Allah akan beberkan sum’ahnya di hadapan seluruh manusia. Allah akan menghinakan dan merendahkannya (Shahih at- Targhib wa Tarhib: 1/16)

4. Aibnya akan terbongkar pada hari kiamat.
Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu a’anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba didunia ini mengerjakan sum’ah dan riya’ melainkan Allah akan membeberkan aib riya’ dan sum’ahnya dihadapan seluruh manusia pada hari kiamat. (HR. al-Hakim 4/127,ath-Thabarani 2803,dishahihkan oleh syaikh Albani rahimahullah dalm shahih Targhib 28, ash-Shahihah 934)

5. Lebih berbahaya dari fitnah dajjal.
“Maukah kalian aku kabari suatu perkara yang sangat kutakutkan dari fitnah dajjjal?”merka menjawab: “tentu wahai rasulullah!” Rasulullah bersabda: “perkara itu ialah syirik yang sangat halus. yaitu bila seseorang sholat kemudian dia membaguskan shaatnya karena ada perhatian orang yang melihatnya!!”(HR Ibnu Majah: 4204, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam al-Misykah 5333)

6. Menghapus amalan sholeh (lihat QS al-Baqarah 264 diatas)
7. Menyesal pada hari kiamat

Kiat Agar Selamat Dari Riya’

1. Sadarilah hanya Allah yang Maha Agung, untuk apa kiata besusah payah mencari pujian manusia sementara hal itu tidak ada gunanya dihadapan Allah bahkan amalan kita bisa terhapus..!!apakah kita akan mencari ridho manusia dengan membuat murka Allah.
2. Ingat adzab Allah sangat pedih, dengan merenungi ancaman Allah terhadap orang yang berbuat riya’ berupa adzab dan siksa insya Allah akan membuat kita sadar untuk memperbaiki ibadah iklas karena Allah dan meninggalkan riya’
3. Iklas dalam beramal akan berbuah surga. janganlah tertipu oleh sanjungan manusia atau dunia yang semu hingga terjatuh dalam penyakit riya’.(lihat QS.al-Insan: 9-12)
4. Dunia kehidupan sementara,

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.al Kahfi: 45)

Amalan shalih dan ikhlas akan bermanfaat ketika kita telah meninggal dunia

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS. al Kahfi 110)
5. Awas su’ul khotimah. mawas dirilah dengan akhir kehidupan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ’seluruh hamba akan dibangkitkan dalam keadaan saat dia meninggal dunia’(HR Muslim: 2878)
.
6. Berteman dengan orang yang ikhlas dan bertaqwa.
karena pengaruh teman sangatlah kuat teman yang baik adalah teman yang bisa mengajak pada kebaikan dan mendorong dalam hal ketaatan.

7. Berdoa
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita melalui sabdanya, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).HR. Ahmad (4/403). Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jami’3/233

Bukan Termasuk Riya’

1. Mendapat pujian bukan karena keinginannya.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Al Imam an Nawawi rahimahullah membuat suatu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, “Perkara yang dianggap manusia sebagai riya’ namun bukan termasuk riya’ “. Beliau membawakan hadist dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?: Beliau menjawab, “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin “ (H.R. Muslim 2642).

2. Mengerjakan Ibadah ketika bersama orang yang shalih
Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya’. Ibnu Qudamah mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”

Syaikh Salim al- Hilali Hafizhohullah mengomentari: “Apabila semangatnya dalam ibadah karena ingin menghilangkan halangan dan rasa malasnya maka ini terpuji, akan tetapi bila semangat itu muncul karena agar jangan dikatakan malas dalam ibadah maka itu tercela dan kehancuran baginya.(ar-riya’ hal55-56).

3. Menyembunyikan dosa
Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”(HR. Bukhari 5721 dan Muslim 2990)

barangsiapa yang mengira bahwa menyembunyikan dosa adalah riya’ dan menceritakan dosa termasuk ikhlas maka sungguh ia telah keliru dan terjatuh dalam tipuan syaithan(setan)

4. Memakai baju dan sandal yang bagus
Hal ini tidak termasuk riya’ karena termasuk keindahan yang disukai oleh Allah. berdasarkan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarrah (semut kecil).” Lantas ada seseorang yang berkata,“Sesungguhnya ada orang yang suka berpenampilan indah (bagus) ketika berpakaian atau ketika menggunakan alas kaki.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksud sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(HR. Muslim 91)

5. Menampakkan syi’ar islam
Sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti haji, umroh, shalat jama’ah dan shalat jum’at. Seorang hamba tidak berarti riya’ ketika menampakkan ibadah tersebut, karena di antara keawajiban yang ada harus ditampakkan dan diketahui manusia yang lain. Karena hal tersebut merupakan bentuk penampakan syiar-syiar islam.

Oleh: Ustadz Abdillah Syahrul Fatwa a-Salim
Artikel: Majalah alfurqon edisi 07 th ke-8 1430H/2009 dengan ringkasan dan sedikit tambahan
artikel Novi Effendi Blog

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 5 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 5 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 5 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 6 jam lalu

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: