
"Politisi muda yang selalu berharap adanya perbaikan hidup bangsa dan negara yang lebih baik dan benar melalui tulisan-tulisan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang disegani dan negara yang dihormati"
Dibaca: 128
Komentar: 0
Nihil
SAYA baru saja meninggalkan Nagoya Jepang dengan sejumlah kenangan. Salah satunya yang menginspirasi saya membuat tulisan ini adalah kejujuran seorang pelayan restoran.
Siang tadi, saya mengunjungi di sebuah food court yang terletak Nagoya Train Station, tepatnya di Takashimaya Basement. Di food court ini, ada banyak menu kuliner yang dihidangkan. Umumnya adalah masakan hasil laut, seperti tuna, udang, kakap dan cumi. Karena terlalu banyak pilihan yang asing bagi saya, maka saya memilih cumi bakar saja. Untuk semangkuk nasi dan minuman, saya beli di counter lain.
Seporsi cumi bakar yang aromanya nikmat ini seharga 400 yen, atau sekitar Rp 45 ribu. Saya bayar dengan selembar uang 100 yen. Di sini, membeli makan harus membayar terlebih dahulu. Setelah menerima sepiring cumi bakar, saya langsung ngeloyor ke meja makan, dan lupa meminta uang kembalian. Kebetulan, siang itu pengunjung cukup banyak dan antri di masing-masing counter.
Ketika duduk di deretan meja, saya baru teringat uang kembalian yang belum saya terima dari pelayan. Saya pikir, karena ratusan pengunjung yang memenuhi food court ini, tak mungkin saya berhasil melakukan complain ke pelayan tadi. Saya akui saya teledor, jadi ya langsung merelakan uang kembalian cumi bakar sebesar 600 yen atau sekitar Rp 70 ribu itu.
Waktu pun berlalu hingga usai santap siang. Usai saya menikmati seteguk terakhir teh hangat ala Jepang, seseorang menghampiri saya sambil membawa uang dan selembar kertas. Rupanya, orang itu adalah pelayan yang memberika cumi bakar tadi. Michiko-san, sang pelayan itu, menyerahkan uang kembalian milik saya sekaligus bon pembelian yang belum saya terima.
Usai menyerahkan uang 600 yen, Michiko tersenyum sambil memberikan hormat dengan cara membungkuk di hadapan saya. Saya pun bersikap membungkuk, meski agak risih dalam kondisi duduk. Saya jadi ingat sehari sebelumnya, sikap hormat yang diperagakan warga Jepang lainnya kepada saya, warga asing di Jepang. (Baca tulisan saya sebelumnya: Memahami Makna Hormat ala Jepang)
Sikap pelayan di restoran Jepang ini, menarik perhatian saya, hingga tiba di Tanah Air. Sangat jarang, kita bisa temui ada orang yang mengembalikan barang yang bukan milikinya kepada sang pemilik barang tersebut. Kejujuran ini tampaknya melekat pada tradisi Jepang, yang telah lama diwarisi oleh leluhur mereka.
Sehari sebelumnya, saat berlangsung Konferensi Internasional Japan Credit Bureau (JCB) di Ishikawa Jepang, 24-25 Oktober 2011, tas souvenir milik saya berisi brosur-brosur dan dokumen kegiatan JCB, sempat tertinggal. Tas itu tak terlalu penting, karena saya menggunakan tas ransel lain yang berisi passport, visa dan dompet. Saya pun sudah merelakan tas tersebut.
Ternyata saya beruntung. Saat menuruni tangga dari lantai 7 ke lantai 6, seorang petugas keamanan gedung menyapa saya dari belakan dengan nada ramah. Ia menyerahkan tas tersebut sambil memberi hormat. Awalnya saya malu karena keteledoran ini. Tapi saya jadi bangga karena merasa dihargai oleh warga di Jepang sebagai pemilik sah barang tersebut.
Bagi saya, sikap kejujuran ini sungguh luar biasa. Korupsi merupakan salah satu penyakit sosial yang merusak budaya kejujuran. Semoga kisah kecil ini bisa dibagikan kepada siapa saja agar selalu menjauhkan diri dari sikap curang. Minimal, marilah kita mulai dari lingkungan keluarga.
Salam Kompasiana!
Jackson Kumaat on :
Kompasiana | Facebook | Twitter | Blog | Posterous | Company | Politics