Artikel

Edukasi

Jack Soetopo

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Pensiunan Tk Becak, berasal dari Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang kini tinggal di Denpasar, Bali. email jacksoetopo@gmail.com, jack.soetopo@facebook.com or Please dial (571) 306-1588 or tinggalkan Pesan................... discoveramericaindonesia.blogspot.com jacksoetopo.newsvine.com ” What we think determines who we are. Who we are determines what we do. The actions of men or women are the best interprerter of their thoughts.” Our Thought determine our destiny. Our destiny determines our legacy.By John Locke. SOMALIA .....Heaven and Hell Meet

Mengapa Kita Sibuk dengan Komodo, Anak Jadi Gembel Tutup Mata?


OPINI | 31 October 2011 | 10:24 Dibaca: 1520   Komentar: 206   10 dari 18 Kompasianer menilai aktual

1320030885600111132Mogadishu, 31 Oktober 2011

Saya pribadi ingin menanyakan kepada para pembaca, Mengapa Kita Sibuk Dengan Komodo, dan Anak2 Menjadi Gembel serta Buta Huruf?

Aneh sekali bangsa Indonesia kita ini. Bahkan JL dan Mantan Dirut PLN yg ditunjuk jadi Menteri, di agung2kan seperti Para Dewa, padahal mereka berasal dari daerah yang memalukan,1320030921401022026

Faktanya menurut BPS,

Jawa Timur dan di Sulawesi Selatan, Anak2 di bawah umur 15 tahun, 1 dari 10 mereka itu BUTA HURUF.

Kemana Amarah, dan Pujian yang pantas di berikan?

Dimana Keprihatinan Bangsa Indonesia, terutama warga penulis Kompasiana yang begitu getolnya memuji tokoh 2 ini.

Menurut saya Memalukan sekali, saya secara pribadi Marah Serta Kecewa, dengan Para Tokoh yang di puji2 di mana2 ini. Sungguh disayangkan tidak ada Gerakan Pebasmian Kemiskinan dan Child Labor, serta Gerakan Buta Huruf. Seandainya Setan bisa Berbuat Baik tentunya saya pribadi akan meminta bantuannya. Sedemikian kecewa saya pribadi terhadap para pencium2 bokong yang memuja2 para tokoh yang belum menyelesaikan tugas mereka sebagai pemimpin di negeri ini.

PLN, suatu perusahaan yang memalukan di DUNIA, masa PLN tidak bisa memberikan Penerangan yang Jelas kepada warga di Pulau Enggano, Di Kota2 dan desa2 di Pulau Jawa, dan seluruh Indonesia, Jangakan di Kota besar seperti Medan, tidak ada angin tidak ada hujan, lampu bisa padam.

Padahal, Generator memakai LNG, itu harganya Murah, dengan dana yang sudah dianggarkan. Saya pribadi bisa membelinya sendiri untuk membuat satu kota di Bengkulu, atau di Lampung. Jikan anda tidak percaya silahkan ke site alibaba.com dan mencari Generator LNG 5 MW keatas, berapa harga dan sekalian pemasangannya.

Mengapa kita selalu mengkhawatirkan hal2 yang tidak penting, padahal sudah jelas2 kita semua adalah orang tua, dan dewasa, bagi yang tidak menikah, tentunya mengetahui bahwa

13200312931551579494

ANAK2 itu WAJIB SEKOLAH,
ANAK2 ITU WAJIB BELAJAR MENULIS DAN MEMBACA,
ANAK2 ITU TIDAK BOLEH BEKERJA SEPERTI ORANG DEWASA.

Di mana CRY OUT, dan Protes terhadap Kenyataan Yang ada Di Indonesia?

Memangnya Kita dan Para Pemimpin termasuk Mantan Dirut PLN, dan JK itu Sudah BUTA dan TULI?

Banyak dari rekan2 di Kompasiana, menasehatkan saya supaya tone down seruan2 saya, karena tidak sopan, terlalu vulgar, terlalu tidak sopan,.

Dan saya secara pribadi tidak perduli karena saya merasa harus create the urgency, kemunafikan dan sopan santun tidak akan membantu anak2 yang menjadi gembel, jadi kuli, jadi pelacur, tidur di kolong jembatan, di atas jembatan penyeberangan.

Jika saya bisa JUAL Semua KOMODO untuk Memberikan Uangnya untuk ANAK-ANAK INDONESIA YANG JADI GEMBEL, KULI, PELACUR DAN BUTA HURUF.

SAYA AKAN BANGUN SATU PULAU KHUSUS BUAT MEREKA, ATAU SAYA PINDAHKAN KE SULAWESI UTARA DIMANA BISA DI AJAR MENJADI ANAK-ANAK DAN HIDUP SEBAGAI ANAK ANAK YANG BERHAK MENDAPAT PENDIDIKAN DAN MENIKMATI MASA KANAK KANAK MEREKA DENGAN DAMAI.

Kalau Memang Kita Semua sudah TULI dan BUTA, termasuk Presiden dan Istrinya Yang kenyang dengan Kemewahan Duniawi, berarti dalam waktu 25 tahun yang akan kita kehilangan 1 generasi.

132029191925484889http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=5

Apakah ini yang kita inginkan?

Setiap hari saya melihat dengan mata kepala saya, betapa anak2 harus di kuburkan. Jadi membicarakn mengenai sekolah dan belajar membaca suatu yang sangat MEWAH di Somalia. Mereka KELAPARAN, karena banyak Pemimpin mereka hanya sibuk Mencari Kenafsuan Manusia saja.
Tentunya anda para pembaca, mengetahui NAFSU MANUSIA itu apa.

Indonesia BANGUN LAH… Jangan terbuai dengan memuja2 mereka yang belum menyelesaikan tugas dan kewajiban mereka sebagai pemimpin.

Jangan nanti 25 tahun yang akan datang, anda semua baru sadar dan saat itu sudah terlambat.

Jack Soetopo

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: