Artikel

Bayu Sapta Hari

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Self publishing activist, writer, and editor. Pemilik akun twitter @bysph. hasil karyanya http://nulisbuku.com/books/view/transformasi-lorentz http://nulisbuku.com/books/view/teknologi-dan-pilihan-hidup

Mengenal Gaya Belajar dan Manfaatnya dalam Pembelajaran


REP | 04 November 2011 | 13:18 Dibaca: 475   Komentar: 0   Nihil

efektivitas belajar seseorang berkaitan erat dengan gaya belajarnya

efektivitas belajar seseorang berkaitan erat dengan gaya belajarnya

Setiap orang memiliki cara-cara tertentu dalam menyerap informasi dari luar ke dalam memorinya. Proses ini amat berkaitan dengan gaya belajar orang tersebut. Manusia diberi anugerah oleh yang Maha Kuasa berbagai panca indera untuk mengenal dan berinteraksi dengan dunia luar. Di antara panca indera itu, manusia memiliki mata dan telinga yang biasa digunakan untuk menyerap informasi. Kemudian informasi ini akan dikirim dan diolah oleh otak menjadi sebuah pemahaman.

Sebagian orang mudah menyerap informasi dengan mendengarkan. Mereka belajar dengan menggunakan pendengaran ini. ada juga yang lebih mudah paham melalui visualisasi. Mereka belajar dengan mudah apabila hal-hal itu bisa ditampilkan secara visual. Yang lainnya ada juga yang lebih mudah memahami sesuatu dengan melakukan atau mempraktikkannya. Ini sedikit menggambarkan adanya berbagai gaya belajar yang berbeda satu sama lain. Tiap orang bisa memahami lebih baik dengan menyesuaikan atau memanfaatkan gaya belajarnya masing-masing.

Dalam hal ini, salah satu tugas guru atau pengajar adalah bagaimana mengenali gaya belajar siswa yang berbeda ini dan memanfaatkannya di dalam pembelajaran untuk menhasilkan pembelajaran yang bermakna. Ini berarti pengajar perlu memiliki variasi dalam pengajarannya yang bisa mengakomodasi gaya belajar siswa. Kombinasi dari variasi pembelajaran ini diharapkan dapat lebih memudahkan siswa untuk memahami pelajaran.

Bagaimana Orang Belajar?

Tiap orang dilingkupi oleh berbagai informasi yang mengelilinginya. Apa-apa yang dilihatnya, dibaca, didengarnya, ataupun yang telah dilakukannya sendiri akan membentuk pola pikir dan pemahamannya. Ada yang dengan mudah menerima dan menyerap semua informasi ini dan mengolahnya di dalam otaknya. Saat seseorang dapat menyerap informasi dan mengolahnya menjadi pengetahuan, bisa dikatakan orang itu telah belajar. Ketika seseorang telah berusaha memahami dan mencapai satu pemahaman tertentu, orang itu dianggap sudah melakukan proses belajar. Tentu saja ini adalah pengertian belajar yang sangat umum.

Istilah belajar yang lebih khusus adalah belajar yang dilakukan di sekolah, di kelas atau institusi pendidikan yang dilakukan saat terjadi proses belajar mengajar. Ini tentu saja tidak salah namun pengertian ini terlalu sempit dan mengandung pengertian yang khusus.

Proses belajar bisa dilakukan sambil bermain

Proses belajar bisa dilakukan sambil bermain

Dengan pengertian yang umum, tiap orang pada dasarnya selalu mengalami proses belajar di setiap waktu kehidupannya. Ketika dua orang sedang mengobrol, tiap orang itu sedang belajar dan memahami setiap ucapan dari lawan bicaranya. Ketika orang sedang duduk di halte, dia mengamati keadaan sekitar dan mendengar tiap suara atau ucapan yang didengarnya. Saat duduk itu dia sedang belajar dengan berusaha memahami keadaan sekitarnya. Ketika sedang membaca atau menonton televisi, pada dasarnya orang itu sedang berusaha memahami informasi yang dia baca atau lihat. Jadi, secara tidak sadar pada dasarnya belajar adalah adalah aktivitas yang selalu dilakukan oleh tiap orang sehari-hari.

Dari kenyataan ini, bagaimana kita memahami tiap informasi secara efektif, yang berarti juga belajar dengan efektif, tentu saja amat berguna. Telah disebutkan di atas bahwa tiap orang memiliki kemampuan untuk menyerap informasi dan mengolah informasi itu menjadi pemahaman atau pengetahuan. Namun cara tiap orang menyerap informasi itu tentu saja berbeda-beda.

Perbedaan cara tiap orang menyerap informasi ini, mendapat banyak perhatian dari pakar pendidikan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa gaya belajar tiap orang mempengaruhi tiap orang untuk belajar secara efektif. Ini tentu saja tidak terlalu mengejutkan karena memang cara seseorang belajar berkaitan erat dengan gaya belajar orang tersebut.

Menurut istilah yang disepakati oleh para pakar pendidikan, pada prinsipnya gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari proses menyerap informasi, yang dilanjutkan dengan proses mengolah dan mengelola informasi ini di otak. Jadi, setidaknya ada dua faktor: pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah; dan kedua, bagaimana cara kita mengatur dan mengolah informasi itu. faktor pertama sering disebut faktor modal dan faktor kedua disebut dominasi otak.

Tiap orang akan belajar melalui kecenderungan modal yang sesuai dengannya. Faktor modal inilah yang biasanya membedakan antara satu orang dengan yang lainnya. Faktor modal ini berhubungan dengan eksternal dan pengalaman masing-masing individu yang tentu saja berbeda. Adapun faktor dominasi otak berkaitan dengan proses internal di tiap individu. Faktor modal akan menghasilkan gaya belajar, sedangkan faktor dominasi otak menghasilkan gaya berpikir seseorang. Jadi kita perjelas lagi, gaya belajar berkaitan dengan proses menyerap informasi, sedangkan gaya berpikir terkait dengan proses mengolah informasi.

Terkait dengan faktor modal atau modalitas, setidaknya gaya belajar bisa dibedakan menjadi tiga macam, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Orang dengan modalitas visual cenderung untuk menyerap informasi lebih mudah dari apa yang mereka lihat. orang dengan modalitas auditorial lebih cenderung untuk mendengar dalam rangka untuk menyerap informasi secara mudah. Adapun, orang dengan modalitas kinestetik cenderung belajar melalui sentuhan dan gerakan. Ketiganya sangat erat kaitannya dengan panca indera manusia karena memang melalui panca indera inilah informasi masuk ke dalam pikiran atau otak manusia.

Lebih jauh tentang tiga modalitas belajar

seorang pengajar pasti amat memahami bagaimana perilaku peserta atau siswa saat sedang berada dalam aktivitas belajar mengajar. Ada siswa yang bisa dan mau memperhatikan dengan seksama apa-apa yang disampaikan guru. Ada pula siswa yang sibuk mencoret-coret kertas atau bukunya saat guru sedang menerangkan. Dan, ada juga siswa yang memperhatikan tapi tangannya tidak berhenti untuk membuat sesuatu (misalnya kapal-kapalan) atau tangannya asyik mempermainkan pensil atau pulpennya. Tingkah laku siswa ini bisa dijadikan sebagai tanda-tanda untuk mengenali gaya belajarnya.

Siswa yang tahan untuk terus mendengarkan ceramah atau uraian (penjelasan) yang panjang lebar biasanya memiliki modalitas auditorial. Mereka akan mendengarkan setiap detail dari penjelasan yang disampaikan pemahaman dari proses mendengar ini akan mampu dituliskan kembali di akhir ceramah dengan tepat. Kemampuan mendengar dari orang-orang dengan modalitas auditorial memang amat baik dan mereka merasa lebih mudah memahami jika penjelasan itu didengarkan dengan saksama. Kata-kata yang biasa diucapkan oleh pembelajar auditori seperti: “ini kedengarannya baik buatku” atau “coba kamu kasih tau cara menggunakan alat ini”. mereka juga biasanya tidak suka kebisingan saat belajar karena akan sangat mengganggu konsentrasinya.

Jika ada yang meminta penjelasan kepada anda dengan kata-kata: “coba kamu tunjukkan cara menggunakan alat ini”, ini salah satu tanda bahwa orang itu memiliki kecenderungan belajar secara visual. Mereka akan lebih mudah memahami apabila ditunjukkan caranya atau dijelaskan dengan disertai gambar atau diagram. Saat guru menerangkan, para pembelajar visual akan memperhatikan tiap tulisan atau gambar-gambar yang diberikan oleh guru. Mereka juga senang mencoret-coret atau menulis di kertasnya konsep-konsep yang menjadi perhatian utamanya. Melalui gambar-gambar inilah mereka berusaha memahami penjelasan yang dimaksud. saat guru menerangkan mereka juga lebih memperhatikan buku atau sibuk menulis. Ini bukan berarti mereka tidak memperhatikan tetapi itulah cara mereka belajar melalui segala sesuatu yang bersifat visual dan nyata yang bisa dilihat.

Adapun, para pembelajar kinestetik biasanya lebih fokus dalam memperhatikan gerak. Saat guru menjelaskan, mereka akan memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh guru. Atau, bisa juga dengan mereka mencoba mempraktikkan apa yang disampaikan oleh guru atau pembicara. Mereka ini tidak pernah tenang saat duduk dan selalu ingin bergerak. Mereka akan terlihat sibuk mempermainkan atau menggerak-gerakkan alat tulisnya atau berusaha membuat sesuatu yang lain. Siswa yang biasa membuat kapal-kapalan saat guru menerangkan bisa digolongkan ke dalam golongan ini.

Sekarang, coba kita bayangkan jika sebuah alat sedang dicoba dipelajari oleh tiga orang dengan gaya belajar berbeda. Seorang pembelajar visual akan berusaha membaca manual dari alat tersebut dan membacanya atau melalui petunjuk gambar. Seorang dengan gaya belajar auditorial akan berusaha dan meminta orang lain untuk menjelaskan caranya. Adapun, seorang pembelajar kinestetik akan mulai menyentuh dan berusaha mencoba langsung alat tersebut.

Seseorang bisa saja akan belajar dengan ketiga cara belajar secara bersamaan tapi orang itu akan sadar bahwa dirinya akan merasa nyaman dengan salah satu cara tertentu yang sesuai dengannya. Meskipun seseorang akan belajar dengan berbagai cara yang ada, tetapi ada satu cara belajar yang akan lebih banyak digunakan dibandingkan dengan cara belajar yang lain. Ini merupakan gejala dan pertanda bahwa seseorang memiliki dengan satu gaya belajar yang lebih dominan dan sesuai.

Dengan adanya kecenderungan gaya belajar ini, guru dituntut untuk memiliki variasi dalam mengajar. Ketika menjelaskan sesuatu hal bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan membuat gambar, menunjukkan suara yang khas dari hal itu, dan menunjukkan ciri khas hal itu melalui gerakan yang konkret. Sebagai contoh, ketika menjelaskan tentang gajah, guru mengatakan bahwa gajah memiliki belalai yang panjang dan telinga yang lebar (visual) disertai dengan suara gajah itu (auditorial) dan gerakannya lamban karena badannya besar dengan mempraktikkan gerakan gajah yang lamban (kinestetik).

Dengan memperhatikan dan memahami gaya belajar siswa, guru memiliki cara yang efektif untuk memberikan pelajaran dengan mudah dan bermakna. Variasi dalam memberikan penjelasan atau aktivitas yang sesuai dengan gaya belajar siswa membuat proses pembelajaran bisa lebih bermakna. Siswa pun lebih mudah dalam menangkap pelajaran yang sedang berlangsung karena apa-apa yang diberikan sesuai dengan cara mereka menyerap informasi.

Bagaimana kita mengolah informasi?

pemahaman terhadap pembelajaran atau proses belajar juga dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang. Disinilah faktor dominasi otak memainkan peranan. Faktor dominasi otak amat dipengaruhi oleh suatu konsep dalam psikologi dan pendidikan bahwa otak manusia bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri biasanya bersifat sekuensial atau berurutan, sedangkan otak kanan biasanya bersifat acak.

Orang dengan dominasi otak kiri biasanya berpikir secara sekuensial atau berurutan. Mereka biasa hidup teratur dan sistematis. Merencanakan sesuatu dengan perhitungan yang matang juga salah satu cirinya. Mereka juga menyukai segala sesuatu yang sudah terpola dengan rapi. Tidak begitu terganggu dengan rutinitas yang ada dan tidak keberatan melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang.

Kebalikannya, orang dengan dominasi otak kanan cenderung berpikir secara acak. Mereka tidak suka melakukan sesuatu dengan teratur dan sistematis. Suka berpikir secara melompat-lompat. Namun, biasanya mereka justru dapat menemukan kreasi-kreasi yang unik. Daya imajinasi dan kreativitas amat ditunjang oleh cara kerja otak kanan ini. orang dengan dominasi otak kanan juga suka berpikir atau berbuat di luar kebiasaan orang. Orang-orang yang bekerja dalam bidang kreatif cenderung berpikir dengan dominasi otak kanan,

Tentu saja, sebagaimana halnya cara belajar, cara berpikir juga tidak mutlak hanya diproses dalam satu cara tertentu. Otak kiri dan otak kanan menjalankan fungsi masing-masing. Otak kiri mengarahkan orang untuk bisa hidup secara teratur, terstruktur, dan sistematis. Adapun otak kanan berperan dalam proses kreatif seseorang, yang memungkinkan orang dapat menemukan cara-cara baru yang berbeda. Dua cara pikir ini secara seimbang mengarahkan manusia untuk terus beradaptasi dan menemukan cara-cara yang lebih baik.

Guru juga bisa memanfaatkan cara berpikir siswa ini untuk membantu proses belajar yang lebih baik. Guru bisa memahami mengapa siswa bertingkah dan berperilaku seperti yang ditunjukkannya tidak lain dipengaruhi oleh cara berpikir siswa tersebut. Pendekatan yang sesuai akan mampu memberikan saling pengertian yang pada akhirnya amat membantu proses belajar mengajar seperti yang diinginkan.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: