Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Nur Haris Ali

Haris sapaannya. Pernah meraih penghargaan dari Wakil Rektor III UII sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama UII selengkapnya

Hewan Kurban Patungan, Yang Qurban Siapa?

OPINI | 05 November 2011 | 07:12 Dibaca: 1869   Komentar: 1   0

Saya tidak bermaksud menyepelekan atau meng(k)erdilkan niatan bagus sahabat-sahabat saya dan para donator yang telah menyumbangkan sebagian harta kekayaannya. Tapi, saya hanya ingin bertanya, bila hewan qurbannya adalah hasil dana patungan, maka siapakah orang yang berqurban “itu”?

***

Selama empat hari ke depan, tanggal 6, 7, 8, dan 9 November 2011, umat Muslim di Indonesia-dan di belahan dunia yang sama waktunya-akan merayakan hari besar yang biasa disebut dengan Hari Raya Idul ‘Adha. Hari Raya Idul ‘Adha juga bisa disebut dengan Hari Raya Qurban, karena dalam hari-hari itu-empat hari yang saya sebutkan-ditandai dengan adanya penyembelihan hewan qurban, baik itu hewan onta, sapi, ataupun kambing.

Dalam tulisan ini, saya tak akan bercerita tentang makna dari Hari Raya Qurban atau sejarah mengapa disebut Hari Raya Qurban. Tapi, yang ingin saya bicarakan di sini adalah tentang hukum-sekali lagi hukum-hewan qurban patungan dan siapa pemilik hewan qurban patungan itu sendiri.

Begini ceritanya….

Banyak sahabat-sahabat kampus saya yang menjadi panitia kurban, tahun ini. Baik itu mereka ikut gabung dengan lembaga dakwah fakultas (LDF), ikut gabung dengan pengurus ta’mir masjid, ataupun ikut gabung dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memang merencanakan untuk mengadakan penyembelihan hewan qurban. Kegiatannya sangat positif: pergi ke daerah-daerah yang (dianggap) membutuhkan dan merayakan-tepatnya menyembelih hewan qurban-takbiran di sana. Maka sudah lumprah, sebelum hari H Idul ‘Adha pun, sahabat-sahabat super saya itu pada sibuk rame-rame mengumpulkan dana dari pada donator-donatur, buat patungan membeli hewan qurban. Ada yang kambing, juga ada yang sapi.

Dari sinilah, pertanyaan saya muncul: hewan qurban patungan, siapakah orang yang qurban “itu”? Adakah dalil yang bisa memberikan penjelasan terkait hukum hewan qurban patungan itu? Tanda tanya besar dalam benak saya.

Sekedar berbagi di sini, sedangkal pengalaman dan pengetahuan saya yang pernah mencicipi kitab-kitab fiqh klasik, tak satupun ada penjelasan yang saya temukan bahwa qurban hewan kambing itu boleh untuk orang banyak (patungan). Satu-satunya hewan qurban yang boleh untuk orang banyak itu adalah sapi. Oiya, satu lagi, dan onta. Bila hewan qurbannya itu adalah sapi ataupun onta, maka ia boleh digunakan untuk orang banyak. Maksudnya adalah hukum-sekali lagi hukum-hukum hewan qurban sapi atau onta itu adalah milik orang tujuh. Cukup tujuh. Sementara kambing, menurut penjelasan yang pernah saya dapat dari kitab-kitab klasik itu, hanya bisa digunakan untuk satu orang saja.

Kawanku, yang membaca note ini, ingat lho ya, yang saya bahas di sini hukum hewannya. Bukan mau disedekahkan atau dibagikan kemana hewan itu. Kalau mau dibagikan kemana hewannya itu, mah, ya…itu boleh-boleh saja mau dibagikan kemana saja. Untuk orang banyak, monggo…itu tidak apa-apa. Makanya, dalam tulisan ini, masih tetap satu pertanyaannya: hewan kurban patungan, yang qurban siapa?

Mungkin Bisa Jadi Solusi

Sekarang, saya ingin berbicara secara logika saja, berhubung, kejadiannya sudah terjadi dan mungkin, uang-uang yang dikumpulkan dari para donator sudah dipatungkan dan dibelikan kambing (atau mungkin sapi?) untuk berqurban, merayakan takbiran Idul ‘Adha tahun ini.

Pertama, diniatkan saja bahwa kambing-bila memang bukan sapi-yang sudah dibelikan, yang nantinya untuk qurban, itu untuk satu orang. Biar niatan berqurbannya kena. Untuk para donator yang lain? Ya…pihak panitia bisa memberitahukan terkait hukum fiqh ini kepada mereka. Cobalah berkata baik-baik. Niatkan sebagai shodaqoh untuk si “A” agar ia ber-qurban. Dengan begitu, saya kira, antara donator dan si qurban sama-sama mendapat pahala. Pahala untuk si qurban adalah ia berqurban satu hewan kambing dan pahala untuk para donator adalah ‘amal shodaqoh, ‘amal jariyah, karena telah menyumbangkan sebagian hartanya kepada si qurban agar bisa ber-qurban.

Kedua, berjalan saja seperti yang telah direncanakan, namun yang harus kita sadari bersama adalah hukum daripada hewan yang telah diqurbankan tadi adalah bukanlah hewan qurban. Karena mengacu pada hukum fiqh, bahwa hukum hewan qurban kambing satu hanya bisa untuk satu orang saja dan hukum hewan qurban sapi satu atau onta satu, hanya bisa untuk tujuh orang saja. Masalah nanti mau dibagikan ke siapa-siapa daging hewan itu, monggo….antara solusi pertama dan kedua, keduanya bisa dibagikan ke siapa saja. Yang penting merata dan tak menimbulkan kecemburuan sosial.

Atas nama pribadi, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Qurban. Semoga manfaah, barokah, dan mohon koreksinya bila saya salah! [Haris]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: