Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kurnia Putri

Menghitung adalah keahlian saya. Menghapal adalah kebiasaan saya. Membaca adalah hobi saya. Menulis adalah hidup saya. selengkapnya

Filosofi Guru

OPINI | 07 November 2011 | 08:56 Dibaca: 182   Komentar: 5   2

Untuk menerima ilmu, yang perlu kita lakukan adalah merendahkan hati. Bagaimana gelas bisa menerima air dari teko jika posisinya lebih tinggi daripada tekonya? Nah, filosofi murid ini pasti semua sudah pernah mendengarnya. Lalu apa yang kita lakukan untuk memberi ilmu? Apa kita perlu menjadi lebih tinggi dari murid supaya bisa menuangkan air dari teko? Secara ilmu, tentu saja seorang guru harus menguasai lebih banyak dan lebih tinggi daripada muridnya. Tapi jika itu disama-artikan dengan meninggikan hati, tentu bukan begitu maksudnya. Seorang guru saya mengajarkan saya bagaimana menjadi seorang guru.
“Niechan, saya menjadi gurumu bukan karena saya lebih pintar darimu. Saya hanya lebih dahulu mengetahui. Bukan berarti lebih banyak mengetahui.”
Itu adalah kata-kata Sensei saya. Beliau adalah guru les bahasa Jepang saya. Mengingat gayanya yang cuek dan “semau gue”, saya tidak yakin bahwa kata-kata sedramatis itu bisa diucapkan olehnya. Beliau pasti baru saja membacanya dari sebuah buku, atau mungkin mengutipnya dari seseorang lain. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, kata-kata beliau tersebut membuat saya sangat terharu. Sensei saya adalah orang yang sederhana, mudah ditebak, suka melucu, nggak neko-neko dan apa adanya. Maka entah kata-kata itu terinspirasi dari buku manapun, jika Sensei sudah mengatakannya berarti itulah yang dipikirkannya. Dan dengan benar-benar memaksudkan kata-katanya seperti itu, terenyuhlah saya pada kerendahan hatinya.
Saya percaya, Tuhan menciptakan manusia dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Pun tidak ada manusia yang tidak memiliki kelebihan. Dan Sensei saya itu adalah tipe manusia yang mensyukuri kekurangannya selagi meningkatkan kelebihannya, dan tidak sombong pada kelebihannya.
Ketika mengetahui bahwa selain menjadi mahasiswa saya juga seorang guru les privat murid SMU untuk pelajaran Kimia, Sensei memuji saya.
“Nilai sains saya sejak dulu jelek banget. Sampai sekarang aja saya sering salah kalau menghitung uang kembalian belanja,” kata Sensei sambil tertawa geli.
Saat itulah, saya yang selalu merasa bahwa Sensei saya pintar sekali sehingga menguasai lima bahasa (bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Indonesia dan Jawa tentunya) ternyata tidak sesempurna itu. Beliau ternyata tidak menguasai perhitungan yang mudah. Sungguh bertolak belakang dengan saya. Saya cukup cepat menyelesaikan perhitungan tanpa kalkulator. Selalu mendapat nilai baik dalam pelajaran sains, terutama kimia dan biologi. Tapi selalu sulit mempelajari bahasa. Jangankan mempelajari bahasa Inggris atau bahasa Jepang, nilai bahasa Indonesia saya selama sekolahpun selalu menyedihkan jika disandingkan dengan nilai pelajaran-pelajaran sains saya.
Saya kemudian menyimpulkan bahwa Tuhan menciptakan kelebihan pada otak kiri saya dan memberikan kelebihan pada otak kanan Sensei. Itulah mengapa sebagai gurupun kita tidak boleh sombong dan memandang rendah murid. Karena dia mungkin murid kita dalam satu hal, tapi bisa menjadi guru kita dalam hal lain.
Hal serupa terjadi pada saya dan murid saya. Saya mengajar Kimia untuk seorang murid sekolah internasional. Bramantyo namanya. Orangtuanya adalah orang Indonesia, Jawa tulen. Tapi sampai berusia enam tahun, anak itu lahir dan besar di Amerika Serikat selagi sang ibu menyelesaikan program doktoralnya disana. Lebih sering dititipkan di daycare ketimbang bersama sang ibu yang sibuk riset menyebabkan Bram lebih mengenal bahasal Inggris dibanding bahasa ibunya. Ketika pulang ke Indonesia, dia mengalami kesulitan bahasa sehingga sang ibu menyekolahkannya di sekolah internasional. Sampai sekarang, Bram lebih fasih berbicara bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Sial bagi saya karena bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Sial baginya, karena mendapat guru seperti saya. Tapi mengapa pula saya harus menyerah hanya karena satu kekurangan saya? Saya menerima pekerjaan itu. Mencoba bukan sesuatu yang buruk. Dan saya katakan pada sang ibu tentang keterbatasan active-English saya. Sang ibu memahami dan mengatakan “Bram paham bahasa Indonesia kok. Dia hanya sulit membalas dalam bahasa Indonesia.” Tepat berkebalikan dengan saya! Saya paham jika seseorang mengajak saya bicara dalam bahasa Inggris. Tapi karena jarang berlatih, saya seringkali terbata jika berbicara dalam bahasa Inggris.
Akhirnya yang terjadi pada kami adalah saya mengajari Bram dengan separuh bahasa Inggris - separuh bahasa Indonesia. Dan dia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dalam bahasa Inggris. Baik baginya karena bersama saya dia makin terbiasa berbahasa Indonesia. Baik bagi saya karena bersamanya saya makin terbiasa berbahasa Inggris. Malu awalnya harus bercakap dalam bahasa Inggris dengan seseorang yang lebih pandai berbahasa daripada saya. Tapi Bram cukup memahami saya. Dan selagi saya sering mengkoreksi hitungan stoikiometrinya, dia juga seringkali mengkoreksi ucapan saya yang keliru. Saya sering tertawa sendiri setelahnya, sebenarnya diantara kami siapa yang menjadi guru bagi siapa?

Hukum sebab-akibat selalu terjadi dalam segala sisi kehidupan. Jika kau ingin dicintai, maka kau harus mencintai lebih dahulu. Begitu juga dalam mengajar. Dalam proses belajar-mengajar, bukan murid yang harus memahami perkataan kita. Gurulah yang harus memahami murid terlebih dahulu. Itulah filosofi kedua yang diajarkan Sensei.
Mengajar Bram sama artinya seperti main layangan. Kalau dia sedang menarik, kau harus sedikit mengulurnya. Kalau dia terlalu terulur, kau harus buru-buru menariknya. Bram, seperti umumnya remaja, kecerdasannya sangat dipengaruhi oleh suasana hati. Kalau mood-nya sedang buruk, menghitung reaksi netralisasi saja sulitnya setengah mati. Tak perlu lagi menghapal senyawa-senyawa hidrokarbon, hapalan tentang berapa bobot atom hidrogen saja dia lupa. Kalau sudah begini, saya bingung sendiri bagaimana harus mengajarnya.
Sebenarnya, teorinya mudah saja. Bagaimana caranya agar tidak takut? Jangan takut! Jadi bagaimana supaya seorang murid jadi mood belajar? Tentu saja, buat suasana belajar jadi menyenangkan! Dan mempraktekan teori akan selalu menjadi bagian tersulitnya. Bagaimana membuat suasana belajar jadi menyenangkan kalau sang murid sudah pasang tampang jutek begitu?
Belakangan saya ketahui bahwa Bram ini sebenarnya sangat mirip dengan saya. Jenis manusia audio-learner. Artinya, Bram akan lebih cepat menerima pelajaran dengan cara mendengarnya. Satu hal lain yang saya perhatikan dari seorang audio-learner adalah kami selalu membutuhkan suara di sekitar kami. Kami adalah orang-orang yang suka mendengarkan musik. Menjadi entah bagaimana lebih cerdas jika belajar sambil mendengarkan musik. Dan sementara orang-orang menyepi untuk memperoleh ketenangan untuk belajar, kami lebih senang belajar di keramaian. Sejak mengetahui fakta itu, kami mulai belajar sambil mendengarkan musik. Bram menyukai musik jazz. Dan meski saya lebih menyukai musik yang menghentak-hentak, saya mengalah dan mengijinkannya memutar musik jazz kesukaannya.
Mood bukanlah satu-satunya masalah Bram. Konsentrasi adalah masalah terbesarnya. Ada saat-saat dimana saya heran, mengapa meski Bram sedang dalam keadaan senang, tapi dia tidak fokus pada topik yang sedang saya ajarkan. Setiap kali saya membahas stoikiometri, Bram langsung mengalihkan pembicaraan. Biasanya dia tiba-tiba curhat tentang hal-hal yang dialami di sekolahnya, atau kisah cinta ala abege-nya. Awalnya, saya selalu menanggapi dengan simpatik. Lama kelamaan Bram seperti memanfaatkan kelemahan hati saya dan selalu mengalihkan topik stoikiometri saya menjadi sesi curhat. Akhirnya saya tahu juga alasannya.
Kata orang, kerjakanlah apa yang kau sukai. Atau cobalah untuk menyukai apa yang kau kerjakan. Jika tidak bisa keduanya, maka apa lagi yang bisa kau kerjakan? Hal tersebut terjadi pada kasus Bram. Bagaimana kau bisa tahan mengerjakan sesuatu yang tidak kau sukai? Suatu kali, saya memanfaatkan sesi curcol-nya Bram untuk mengorek rahasia darinya. Dan akhirnya saya tahu bahwa dia memang tidak menyukai pelajaran-pelajaran sains. Kimia dan fisika adalah salah satu yang dibencinya. Dan stoikiometri adalah salah satu yang paling dibencinya dari kimia.
Menyakitkan saat mendengar seseorang tidak menyukaimu. Sama menyakitkannya bagi seorang guru saat mengetahui bahwa muridnya tidak menyukai pelajarannya.
“So, what are you interested in, Bram?” tanya saya akhirnya.
“English Literate,” dia menjawab.
“Why did you choose these subject? Chemistry and Physics?”
“Ibu and Bapak want me to be a doctor, just like them.”
Hooo, sou desuka. Mengertilah saya sekarang. Menyukai sastra, tapi diharapkan menjadi dokter. Lima kali seminggu harus les basic math, advance math, physics, chemistry dan biology. Tiap Sabtu masih harus les piano. Kehidupan macam apapula itu? Keterpaksaan macam apa yang harus dijalaninya setiap hari?
Tapi dapat dipahami juga mengapa orangtua Bram sangat berharap dari Bram. Siapa pula yang bisa diharapkan lagi? Bram adalah anak tunggal mereka. Mungkin bagi mereka, kehidupan penulis tidaklah menjanjikan masa depan cemerlang. Itu mengapa mereka menginginkan anak tunggal mereka mengikuti jejak mereka sebagai dokter.
Jadi apa yang bisa saya lakukan? Menyuruh Bram mengejar impiannya sendiri? Atau memenuhi keinginan orangtuanya? Saya memutuskan untuk mendukung Bram untuk menuruti orangtuanya. Sejauh yang saya lihat, tidak ada yang salah dengan keinginan orangtua Bram. Maka mengapa pula harus mengorbankan kebahagiaan orangtua demi kebahagiaan sendiri jika sebenarnya kita bisa memenuhi keinginan orangtua sambil memuaskan diri sendiri.
“You like to write something? Kinda short-story?” saya bertanya, menelisik.
“No. I write poem.”
“Really?”
Bram tersenyum dan menunjukkan salah satu puisinya kepada saya. Ditulis dalam bahasa Inggris, dengan rima yang indah dan diksi yang menarik. Caranya menceritakan gadis yang disukainya dengan perumpamaan empat musim, sungguh bagus. Dan saya langsung jatuh cinta pada puisi-puisinya.
“I also like to write,” kata saya.
Bram menaikkan alisnya. Tampak tidak yakin bahwa orang seaneh saya bisa menulis sesuatu. Atau mungkin tidak yakin tulisan saya bisa lebih bagus daripada puisi-puisinya. Dan memang benar tulisan saya tidak sebagus puisinya, tapi saya pantang menyerah. Saya ambil selembar kertas, lalu saya tuliskan kata-kata yang baru saja terlintas di pikiran.
Hey kamu! Iya kamu!
Yang sering lupa reaksi netralisasi
Atau bagaimana menghitung reaksi reduksi-oksidasi
Bagaimana nanti kalau kita sudah mulai belajar asilasi?

“Sorry, I don’t write in English,” kata saya sambil menyerahkan puisi asal-asalan itu. Bram membacanya dan dia tertawa. Sejak itu jika Bram mulai bĂȘte, kami akan saling membuat pantun atau puisi singkat. Lebih sering adalah pantun-pantun sindiran seperti diatas. Tapi sering juga saya menulis tema lain seperti ini:
It is me, Winter.

I’m not Summer who embrace you with warmth.

Neither Spring who pour you colourful cherry-blossom.

I’m just Autumn, who turns you into who you are.
“Do not feel that you are forced to fulfill your parents dream,” kata saya pada Bram suatu kali, “They both give you everything to ensure that you will gain the best future. Make them happy. And make yourself satisfied. Keep writing on your poem, while calculating your reaction. I did the same.”
Bram tersenyum. Entah tersenyum karena nasehat saya, atau sedang menertawakan bahasa Inggris saya lagi.

Suatu ketika saya pernah ngobrol dengan ibunya Bram. Beliau menanyakan perkembangan Bram. Saya mengatakan bahwa sepertinya Bram cukup oke dalam menghapal, tapi sering terjebak oleh soal-soal hitungan. Ibunya Bram mengatakan bahwa nilai Bram fluktuatif, kadang sangat baik dan kadang juga buruk. Tidak ada pola tertentu pada hasil tes itu. Kadang Bram mendapat nilai baik dalam stoikiometri, kadang justru mendapat nilai buruk dalam soal kimia organik.
Tidak menemukan pola yang teratur pada nilai-nilanya, saya minta ijin untuk meminjam hasil-hasil tes Bram selama ini. Saya mempelajari kesalahan-kesalahan yang dibuat Bram. Setelahnya saya membuat soal sejenis untuknya, dan meminta Bram mengerjakan soal itu. Barulah saat itu saya tahu bahwa masalah Bram memang pada konsentrasi. Bram bukannya bodoh. Dia hanya tidak mampu berkonsentasi dalam waktu lama, dan seiring waktu ketelitiannya menurun.
“If you are given 1 hour to do the test, in what time you usually finish it?” tanya saya.
“30 minutes is enough for me,” jawabnya cuek.
“And what did you do in the rest of time?”
“Nothing. I just wanna do it as soon as possible.”
“You didn’t recheck your answer?”
Bram mengangkat bahunya sambil nyengir tak berdosa.
Itu masalahnya! Bram bukan bodoh. Dia hanya tidak bisa berkonsentrasi. Dan dia tidak teliti. Seringkali dia melewatkan informasi-informasi penting dalam soal. Jika saya mengkoreksi jawabannya, dia cuma nyengir sambil berkata: “Why did’t I see that clue?”
Aaarrrggghhh, geregetan! Saya geregetan!
Anak ini selalu santai menghadapi ujian, dan malah saya yang stress setiap kali dia akan ujian. Saya selalu khawatir dia melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak seharusnya dilakukan hanya karena dia tidak teliti.
Kehabisan ide, saya menerapkan filosofi-mengajar ketiga yang diajarkan Sensei. Filosofi ketiga tersebut adalah bahwa Tuhan selalu mendengar impianmu, dan seluruh alam raya akan bersatu padu mewujudkannya asalkan kita konsisten memimpikannya dan mengusahakannya. Menyebutnya sekali membuat kita menyadari sesuatu. Menyebutnya berkali-kali membuatnya tertanam di pikiran kita. Menyebutnya terus-menerus akan menerakannya di alam bawah sadar. Dan bagaimana mungkin kita tidak mengusahakan sesuatu yang terpatri kuat di hati dan pikiran kita?
Itu jugalah yang saya lakukan terhadap Bram. Prinsipnya adalah pengulangan. Jika orang cerdas bisa memahami pelajaran hanya dengan sekali mempelajarinya, bukan berarti yang tidak cerdas tidak bisa. Kita hanya perlu mempelajarinya lagi dan lagi dan lagi.
Saya membuatkan catatan-catatan ringkas untuknya. Diagram-diagram dan rangkuman dari pelajaran-pelajarannya, agar dia mudah memahaminya. Saya mengulangnya berkali-kali. Menanyainya terus-menerus, memastikan dia hapal dan mengerti. Menghapal saja tidak cukup, mengerti adalah keharusan. Dan saya juga terus-terusan mencekokinya dengan kata-kata: “Mengerjakan cepat itu baik. Mengerjakan dengan tepat, itu lebih baik. Do it fast, and ensure that you’ve done it correctly. Re-check you answer! RE-CHECK!”
Bram biasanya hanya nyengir-nyengir geli menghadapi kegalakan saya. Dia menganggap wajah galak saya itu lucu.
“I give you chocolate if you get a good score!” kata saya mengiming-imingi.
“Do you think I’m a little girl? I don’t want chocolate,” katanya mencemooh.
“So?”
“Harry Potter and Deathly Hallows part 2. Lunch. Your treat.”
Ahahaha, dasar anak pintar!
“Deal!” kata saya sambil tertawa. “Give me score of 90. I give you my word.”
Bram nyengir.
Ketika akhirnya dia mendapat nilai 97 pada subjek Chemistry untuk ujian kenaikan kelasnya, saya mentraktirnya nonton dan makan. Saya hadiahkah sebuah buku kumpulan puisi untuk Bram, dan saya selipkan surat pendek untuknya.
Hei kamu! Iya, kamu!
Yang ujian kimianya bernilai nyaris sempurna
Ingat yg aku bilang di awal jumpa?
Kau tidak bodoh, tidak juga lama
Kamu cuma perlu teliti membaca
Karena kamu sudah pintar luar biasa
Lagi-lagi dia tertawa membacanya. Entah kenapa. Saya abaikan saja tawa mengejeknya itu. Saya tahu dia sedang mengira yang saya lakukan itu konyol.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, bersama Bram saya harus pandai menarik ulur. Memaksanya belajar tidak akan efektif. Membiarkannya bermain semaunya, juga suatu keria-siaan. Maka kemampuan berkompromi adalah hal yang harus saya miliki saat menghadapi dia. Dan saya masih harus banyak belajar soal itu.
Dalam hidup, kita menerima dan memberi. Sensei telah mengajari saya bagaimana menjadi seorang guru. Saya meneruskannya kepada Bram, bagaimana seharusnya dia belajar. Dan Bram juga mengajari saya banyak hal, bahkan mungkin lebih banyak daripada yang saya berikan. Bram mengajari saya untuk mengenal karakter, mempelajari sifat dan keinginan manusia, bersabar, berkompromi dan berstrategi. Jadi sebenarnya, kita adalah guru bagi sesama kita. Tinggal kitalah yang memilih, apakah kita ingin jadi guru yang baik atau guru yang mencontohkan keburukan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 6 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 7 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 9 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Batuk Efektif …

Kaminah Minah | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 8 jam lalu

Komunitas, Wiramuda dan Pemuda Muhammadiyah …

Kang Nanang | 8 jam lalu

Tanya Jawab ala Toni Blank …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Kesan dan Pesan Selama Belajar Sosiologi …

Yolanda 16 | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: