Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Maman Imanulhaq

Penulis Buku Fatwa dan Canda Gus Dur (kompas), Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka.Sebuah pesantren selengkapnya

Hakikat Qurban

OPINI | 07 November 2011 | 16:11 Dibaca: 1644   Komentar: 3   2

Hakikat Idul Adha adalah kembali kepada pemahaman nilai qurban yang berpangkal dan konsep keimanan dan kemanusiaan, dua pilar terpenting peradaban manusia. Kata “qurban” mengandung tiga makna yang sarat dengan pelajaran moral (i‘tibar) yang bisa membekali manusia untuk memperjuangkan nilai-nilai Ilahiah serta kemanusiaan, terutama bagi bangsa yang saat ini tercabik-cabik akibat krisis multidimensi.

Makna Pertama

Pertama, qurban bermakna taqarrub, yakni mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan antara hamba dan pencipta (khalik)-nya tidak mungkin terjadi jika sang hamba berjiwa kotor, berhati keras, dan berpikiran jahat. Untuk itu, ketika takbir Idul Adha datang menyapa relung batin manusia, maka kesadaran nurani yang selama ini tertutup nafsu, ambisi, dan kepentingan pribadi harus tergugah.

Allah Maha Dekat yang kedekatannya melebihi urat nadi manusia hanya bisa didekati dengan keseriusan berzikir dan keinginan kuat membenahi sikap keberagamaan yang selama ini telah ternodai oleh kesombongan, ketakaburan, dan kepongahan.

Zikir kepada Allah (dzikrullâh) adalah upaya untuk menyucikan hati, menenteramkan hati, dan mengkhusukkan kalbu sehingga seseorang mampu berendah hati serta berintrospeksi terhadap kesalahan dan kekeliruan sendiri tanpa harus mencari kesalahan orang lain.

Kecenderungan manusia untuk melakukan kemungkaran dan kezaliman bisa diminimalisir, bahkan ditepis dengan zikir. Dengan zikir, hati yang selama ini gelap dan tersesat akan kembali disinari nur Ilahi sehingga prasangka, dendam, dan amarah akan melembut menjadi cinta kasih.

Ketika bangsa diterpa musibah dan bencana silih berganti, hati yang gelap pun bertanya, “Di manakah pertolongan Allah?” Pertanyaan ini muncul dari keraguan dan prasangka terhadap Allah. Selama ini, orang yang mengharap pertolongan Allah justru sering berbuat aniaya terhadap dirinya dan orang lain (zalim).

Manusia yang hatinya gelap juga gemar menghujat ajaran kelompok lain yang dirasa berbeda, tetapi perilaku serta ajaran yang dihujat justru tumbuh subur dalam aliran darah yang menghujat. Orang seperti itu sering mengutuk, mencaci, dan menghina orang lain, tetapi diam-diam (sadar atau tidak) ia ternyata menggantikan kemungkaran dan kebiadaban orang yang dikutuknya.

Jiwa yang kosong dari dzikrullâh acapkali senang dalam suasana perpecahan, bukan kebersamaan. Ia tenggelam dalam belenggu perang saudara, bukan penyembuhan luka bangsa. Perpecahan dan perang saudara tentu saja mengakibatkan kesengsaraan batin, selain juga merupakan tabungan dosa yang menjadi tirai penutup kedekatan seseorang kepada Allah.

Makna Kedua

Kedua, qurban merupakan konsep pengurbanan yang dilandasi keikhlasan dalam menjalankan pengabdian, tugas, dan perjuangan tanpa mengharapkan balasan dan pujian serta keuntungan materi yang menjadikan nilai kesalehan menjadi sia-sia.

Keikhlasan dan ketulusan jiwa akan memunculkan ketegaran dan keistiqamahan, meskipun seseorang diasingkan, dikucilkan, dan ditinggalkan oleh masyarakat yang telah terpedaya hawa nafsu. Lebih dari itu, rasa ikhlas yang sejati akan membuat hidup seseorang selalu merasa memeroleh kemenangan dalam kekalahan, kenyang dalam kelaparan, cukup dalam kekurangan, aman dalam ketakutan, dan selalu optimis meskipun derita datang mendera.

Kehancuran bangsa dan negara ini diakibatkan oleh tipisnya rasa pengurbanan warga negara—khususnya para pemimpin dan elit politik—untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran. Yang mereka pikirkan adalah: “Apa yang dapat diperoleh dari negara ini, bukan apa yang dapat diberikan kepada bangsa dan negara.”

Di alam “pembangunan”, para penguasa (elit politik dan elit ekonomi) justru mengorbankan rakyat kebanyakan, khususnya kaum lapis bawah. Para penguasa itu bersimpang jalan dengan semangat “qurban”. Mereka berwatak serakah dan materialistik.

Tujuan pendek dan kesenangan sesaat yang acapkali menipu dan mengelabui akan sirna oleh keikhlasan yang muncul dari pribadi yang selalu mengharap Cahaya Allah. Kita sebaiknya bercermin dari ketulusan (keikhlasan) dan keberanian para Nabi dan Rasul untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Suatu pengabdian dan perjuangan yang tulus akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt.

Sosok yang ikhlas dan siap berkurban biasanya akan tegar mengalami penderitaan dan cobaan. Ia juga tabah dalam hujatan dan caci maki. Ibarat lilin, ia membiarkan dirinya terbakar agar memancarkan cahaya yang mampu menerangi saudara, tetangga, masyarakat, dan generasi yang akan datang.

Keikhlasan akan menjauhkan seseorang dari sikap zalim. Orang yang zalim mencoba meraih kesuksesan di atas penderitaan, kepedihan, dan kesusahan orang lain. Orang yang zalim akan selalu berkhianat dan menjadikan orang lain sebagai tumbal untuk mengeruk keuntungan. Kesuksesan umat untuk keluar dari bencana dan tragedi kemanusiaan tergantung pada keikhlasan, ketulusan, dan pengabdian mereka demi mengharap ridha Allah semata.

Makna Ketiga

Ketiga, qurban yang disimbolkan dengan menyembelih hewan merupakan suatu teladan dari Nabi Ibrahim saat diperintah oleh Allah untuk mengurbankan Ismail, putra terkasihnya.

Teladan agung tersebut seharusnya mampu menyentuh kesadaran intelektual dan imajinasi seorang hamba. Tindakan Nabi Ibrahim merupakan simbol kemenangan seorang manusia atas nafsu hewaniah, ego kecil, romantisme kepentingan pribadi, dan sentimentalitas cinta kasih lokal.

Manusia sebenarnya telah mengenal konsep “qurban” sejak dahulu; bahkan sejak masa Habil dan Kabil, dua putra Nabi Adam yang diperintahkan “berkurban” untuk menguji ketulusan mereka berdua di hadapan Allah. Dari kisah Habil dan Kabil bisa diambil pelajaran bahwa Allah menerima “qurban” yang dipersembahkan seseorang bukan dari bentuk lahiriah sesuatu yang dikurbankan, melainkan dari ketulusan jiwa yang berkurban.

Semangat berkurban yang dicontohkan Nabi Ibrahim bukanlah perbuatan untuk mengurbankan manusia lainnya demi tujuan dan keuntungan sesaat yang keji sebagaimana dilakukan para penguasa lalim sepanjang sejarah, melainkan suatu sikap untuk menyerahkan sesuatu yang dititipkan oleh Allah.

Ketika Allah telah dinomorsatukan dalam kehidupan, maka demi mempertahankan aqidah yang mengharuskan kejujuran, keadilan, dan ketulusan, apapun siap dikurbankan, entah materi, pangkat, jabatan, nama baik, dan nyawa sekalipun.

Hal itu telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim yang mengajarkan kepasrahan dan kerelaan demi mengesakan Allah. Dalam kehidupan modern, peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim sering terlupakan. Padahal, dari sana bisa ditarik pelajaran berharga bahwa Allah sangat mengasihi umat manusia karena manusia tidak boleh dikurbankan dan diganti dengan hewan.

Dengan semangat Idul Qurban, manusia harus mampu “menyembelih” watak buruk dan sifat kebinatangan yang ada dalam dirinya; seperti rakus, serakah, zalim, menindas, dan tidak mengenal hukum dan norma.[]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 5 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 5 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 9 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawanlah Jemu, Mulailah Membaca! …

Junius Fernando | 7 jam lalu

Di Balik Sukses Qatar Juarai AFC U-19 …

Handy Fernandy | 7 jam lalu

Manajemen Negara Itu Beda dari Manajemen …

Mahi Baswati | 8 jam lalu

Pers Realese, Senam Sehat Ceria ‘Aisyiyah …

Sapardiyono | 8 jam lalu

[Cerpen] Perempuan Alpha #2 …

Lizz | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: