Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

M. Arief B. Sanse

"Sejenak Menapak Riuhnya Dunia Maya" ~ peternak puyuh ~ pedagang dan penghobi tanaman hias dan selengkapnya

Cerita tentang Pahlawan dan Kebencian pada Penjajahan

OPINI | 10 November 2011 | 16:48 Dibaca: 1636   Komentar: 6   1

Cerita tentang pahlawan rata-rata biasa didapat pada waktu sekolah dulu. Bagaimana kisah perjuangan Tjut Nya’ Dhien, Teuku Umar, Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan berderet-deret tokoh pahlawan sampai pada Bung Karno, Bung Tomo hingga pahlawan revolusi 1965.
Dari antara cerita perjuangan para pahlawan itu, bagi saya, yang paling membekas adalah perlawanan fisik melawan Belanda. Digambarkan bagaimana kejamnya Belanda menjajah sejak VOC sampai sekitar mempertahankan kemerdekaan. Juga tentang bagaimana penjajahan yang seumur jagung oleh Jepang, cukup nyantol di kepala kecil. Walaupun dulu pertamanya masih bingung dengan istilah seumur jagung.

Dari berbagai cerita pahlawan yang kemudian dominan sebagai perlawanan meraih kemerdekaan, lepas dari penjajahan Belanda. Tentu diantara tujuannya adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air, rasa kebangsaan, dan juga diharapkan meniru tauladan para pahlawan rela berkorban untuk negara. Mungkin begitu yang ada dalam tujuan garis besar kurikulum pelajaran tersebut. Saya tidak paham istilahnya. Para guru yang paham.

Di sisi lain, cerita-cerita kepahlawanan utamanya perjuangan fisik, seolah menyiratkan kebencian pada penjajah baik Belanda, Jepang, dll. Padahal bisa jadi yang dimaksud adalah kebencian pada penjajahan itu. Seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Kemudian tadi sore kebetulan saya mendengar perbincangan yang membahas sekitar masalah cerita kepahlawanan itu, antara anak kelas 5 SD dengan pamannya.

Setelah berbincang tentang pahlawan-pahlawan, si anak kelas 5 SD itu bertanya: “Berarti orang-orang Belanda jahat ya?”

Agak bingung sejenak, si paman akhirnya menjawab juga: “Ya tidak jahat.”

Anak kelas 5 SD tadi nanya lagi: “Kok tidak jahat? Kan sudah menjajah dan jadi lawannya pahlawan-pahlawan?”

Si Paman menerangkan lagi: “Oh, itu orang-orang Belanda jaman dulu. Kalau sekarang tidak jahat. Orang-orang Belanda sekarang kan cucu-cucunya yang dulu menjajah. Mereka baik-baik. Tidak tahu apa-apa.”

Sepertinya si anak kelas 5 SD sudah cukup puas dengan penjelasan pamannya.

Menyimak perbincangan tersebut, rasanya sudah tidak relevan untuk menekankan pada pelaku penjajahan. Tapi pada keburukan penjajahan itu sendiri yang tidak berperikemanusian dan tidak berperikeadilan.
Selain yang utama juga adalah penekanan pada nasionalisme, cinta tanah air, bangsa dan negara.

Biarpun setelah agak besar, lantas penanaman patriotisme seolah tercerabut seakar-akarnya. Manakala berhadapan dengan kenyataan bagaimana morat maritnya kehidupan perpolitikan sampai pada maraknya korupsi, seolah menjadi alat pencabut nasionalisme yang tertanam sejak sekolah dulu. Entah apa yang menyebabkan. Namun rasanya cerita para pahlawan menjadi kabur seperti lolosnya penilep-penilep uang rakyat dengan segala kepalsuannya.

Cerita kepahlawanan dan kebencian pada segala bentuk penjajahan, menjadi kalah dengan tekanan ekonomi yang kian menghimpit. Bersanding dengan pemberitaan milyaran uang seperti tidak ada harganya dalam kasus-kasus korupsi. Hingga akhirnya di sekitar saya saja, pada masa-masa Pemilu banyak yang berpendapat “kalau mau jadi pejabat ya harus bayar rakyat.”
Tidak lagi melihat calon legislatif yang akan dipilih dengan rasa kecintaan pada tanah air, tetapi melihat besarnya uang yang diterima.
Sampai ada yang berpendapat, mungkin karena sudah berkali-kali mengalami, setiap menjelang Pemilu kok uang seperti barang langka.

Kembali mengenai cerita tentang para pahlawan baik perjuangan fisik maupun lewat diplomasi. Melihat perkembangan jaman. Seyogyanya penekanan pelajaran lebih pada teladan kegigihan para pahlawan diterapkan demi untuk kemajuan bangsa dan negara.

Diimbangi juga dengan perbaikan kondisi sosial, politik, ekonomi negeri ini. Dimana pemegang-pemegang kekuasaan negeri ini tidak lebih mementingkan diri sendiri. Tetapi juga mempersiapkan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Apabila terbukti ada yang begitu, tentu akan menjadi pahlawan bagi rakyat Indonesia di masa depan, yang mana telah berani melawan penjajahan oleh bangsanya sendiri.

Tags: haripahlawan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 15 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 16 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 19 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 20 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Ditemukan: Pusat Tidur Dalam …

Andreas Prasadja | 15 jam lalu

Museum Louvre untuk First-Timers …

Putri Ariza | 15 jam lalu

Cinta dalam Botol …

Gunawan Wibisono | 15 jam lalu

Wisata Bahari dengan Hotel Terapung …

Akhmad Sujadi | 15 jam lalu

Jurus Jitu Agar Tidak Terjadi Migrasi dari …

Thamrin Dahlan | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: