Artikel

Edukasi

Afriandi Prasetya

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

suami dari seorang istri yang menakjubkan, dan ayah dari seorang anak yang tampan dan dua orang anak yang cantik http://pondokecil.wordpress.com http://tbws.wordpress.com

Kewajiban Menuntut Ilmu


OPINI | 21 November 2011 | 21:15 Dibaca: 789   Komentar: 2   Nihil

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi]

Masalah warisan bisa jadi berabe, apalagi kalau yang diwariskan adalah harta kekayaan, bisa-bisa saudara sedarah berkelahi sampai berbunuh-bunuhan. Padahal harta dan kekayaan yang sifatnya materi hanya habis pakai selama hidup dan tidak dibawa mati. Kalaupun ada sebagian orang yang dikubur bersamaan dengan harta kekayaannya maka harta itu tidak bermanfaat sama sekali bagi dirinya, apalagi bagi ahli waris yang ditinggalkannya. Bisa-bisa menimbulkan kebiasaan baru: maling kuburan. :)

Di akhir zaman seperti sekarang ini, di mana terlalu banyak fitnah kehidupan, manusia lebih membutuhkan ilmu yang mampu menjaganya. Ilmu yang dimaksud bukanlah ilmu kanuragan atau ilmu duniawi, melainkan ilmu yang mencakup kehidupan secara holistik: ilmu syar’i. Yaitu ilmu tentang Kitab Allah dan Petunjuk Nabi-Nya. Inilah ilmu yang mendapat sanjungan, pujian dan berbagai keutamaan lainnya.

Para nabi adalah orang-orang terbaik yang dipilih langsung oleh Allah, Tuhan pencipta alam semesta, untuk memberi bimbingan kepada manusia dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan zamannya. Mereka mewariskan ilmu yang bermanfaat bagi manusia tidak hanya untuk hidup di dunia melainkan untuk bekal di akhirat. Orang-orang yang mempelajari ilmunya para nabi sesungguhnya telah mengambil bagian warisan yang banyak. Karena ilmu tersebut bersifat abadi, sedangkan harta dapat sirna. Para pemilik ilmu tidak akan lelah dalam menjaga ilmu, karena tempatnya di dalam hati dan ilmu akan menjaga diri si pemilik, tidak seperti harta yang disimpan di dalam peti. orang yang bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu syar’i akan dimudahkan jalan menuju ke surganya Allah.

Maka kewajiban menuntut ilmu harus dibarengi dengan niat yang ikhlas. Yaitu semata-mata menjalankan perintah Allah, menghadiri majelis ilmu untuk menghilangkan kebodohan pada diri dan sekitarnya, untuk membela agama Allah dan dalam rangka meneladani dan mengikuti Rasulullah.

http://www.ziddu.com/download/17426940/Makalah02_PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni.pdf.html

http://www.ziddu.com/download/17426739/PV_UshulutTsalatsah_UstAbdullahSyaroni_03.mp3.html

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: