
Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain.... tinggal di kota kecil Takengon
Dibaca: 281
Komentar: 18
4 dari 6 Kompasianer menilai inspiratif
Anak-anak transmigran di Jagong Jeget yang sedang pulang sekolah.
Dia biasa dipanggil Bu Nur oleh siswanya, seorang guru yang kini telah berusia 45 tahun. Pertama sekali bekerja sebagai guru pada tahun 1991 ditempatkan di sebuah SMP kawasan transmigrasi Jagong Jeget Aceh Tengah, daerah terpencil di tengah hutan belantara. Sebagai seorang wanita yang telah menghabiskan setengah hidupnya di ibukota propinsi, Banda Aceh, mendengar nama Jagong Jeget terasa begitu menyeramkan.
Dia bahkan pernah ingin mengembalikan surat keputusan (SK) penempatannya di SMP Jagong Jeget itu karena jalan menuju ke sana sangat parah. Jaraknya dari ibukota kabupaten tidak terlalu jauh, hanya 50 Km, tetapi waktu tempuh ke sana bisa mencapai 12 jam. Hal ini disebabkan badan jalan menuju ke lokasi itu seperti kubangan, berlumpur dan sering longsor sehingga bus yang mengangkut penumpang selalu mogok di tengah genangan lumpur, sementara di kiri kanan jalan masih hutan perawan.
Niatnya untuk mengembalikan SK penempatan akhirnya diurungkan setelah melihat mata bocah-bocah kecil di SMP itu yang sangat mengharapkan kehadirannya di sana. Kata Bu Nur kepada Kompasiana, siswa di SMP itu sangat patuh, jarang sekali berkelahi. Semua perintah guru diikuti mereka tanpa pernah membantah, meskipun daya serap mereka pada waktu itu masih sangat lemah. Satu hal yang paling saya suka dari mereka, waktu kita minta mengerjakan PR, mereka semua menjawab “iya buuuuu.” Benar, besoknya semua sudah menyiapkan PRnya meskipun salah.
Mengingat kondisi jalan menuju lokasi itu sangat parah, Bu Nur terpaksa menetap di kawasan transmigrasi itu dengan menempati rumah guru SD yang kebetulan kosong. Kondisinya yang sedang hamil muda terasa sangat riskan, tetapi keramahan bocah-bocah SMP yang lugu itu membuat dia tidak tega meninggalkan mereka. Setiap sore, siswa SMP itu datang ke rumah Bu Nur untuk menemani ibu guru muda yang tinggal sendiri di tengah hutan belantara itu. Bahkan tidak jarang mereka menginap di rumah guru bidang studi PPKN itu. Hebatnya, setiap berkunjung ke rumah Bu Nur, mereka membawa oleh-oleh sayuran dan buah-buahan dari kebunnya. Kepedulian bocah-bocah itu yang membuatnya makin tidak bisa melupakan SMP Jagong Jeget itu sampai hari ini.
Di masa itu, lanjut Bu Nur, kawasan Jagong Jeget terkenal seram, apalagi di daerah itu tidak ada listrik sama sekali. Habis magrib, susana jadi sepi, tidak ada lagi aktivitas orang. Hanya suara jangkrik yang terdengar dan menemani kita sampai pagi. Pernah suatu malam Bu Nur mendengar orang bermain rebana (kasidahan) yang terdengar sangat dekat dengan kediamannya. Waktu itu, jam telah menunjukkan pukul 00.45 WIB. Tetapi karena ada keramaian, Bu Nur bangun dan mencoba mencari sumber keramaian itu.
Dengan berbekal lampu teplok, dia keluar sendiri di tengah gelap gulita. Dia heran, suara pukulan rebana terdengar jelas tetapi orangnya tidak kelihatan. Esoknya dia bertanya kepada penjaga sekolah tentang bunyi kasidahan itu. Penjaga sekolah SMP Jagong Jeget itu mengatakan peristiwa biasa, “orang halus” katanya. Penjaga sekolah itu tidak menambah komentar lanjutannya. Sejak itu, jika terdengar suara kasidahan ditengah malam, Bu Nur tidak pernah lagi mencoba mencari sumber suara tersebut. “Itu orang halus atau orang bunian” katanya.
Kawasan Jagong Jeget yang subur, kini para transmigran telah menjadi petani sukses yang kaya raya.
Hal paling mengesankan, cerita Bu Nur, guru yang bertugas di sana hanya 6 orang ditambah 1 kepala sekolah, sementara muridnya lebih dari 200 orang. Keterbatasan guru itu menyebabkan seorang guru, kadang-kadang terpaksa harus mengajar bidang studi yang tidak dikuasainya sama sekali. Pernah Bu Nur yang bidang studinya PPKN terpaksa harus mengajar matematika. Menyedihkan memang, tetapi itulah kondisi saat itu. Guru-guru jarang mau bertugas ke daerah yang terpencil, mereka lebih memilih kawasan perkotaan dengan berbagai cara dan upaya.
Kini, Bu Nur yang telah berpangkat IV/a sudah lama pindah mengajar pada sebuah SMP di Kota Takengon. Walaupun mengajar di perkotaan yang dekat dengan tempat tinggalnya, tetapi kerinduannya kepada bocah-bocah lugu di kawasan transmigrasi Jagong Jeget tidak pernah terlupakan. Dalam pandangannya, siswa SMP Jagong Jeget itu patuh-patuh dan rajin belajar, mereka bikin kita seperti ibunya. Kalau siswa SMP di perkotaan banyak yang nakal dan cenderung malas belajar, seringnya mereka melawan guru. “Setiap liburan, saya sempatkan untuk berkunjung ke Jagong Jeget. Itu tempat paling berkesan dalam hidup saya,” kata Bu Nur yang bernama lengkap Nur’aina.