Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Meluruskan Kesalahpahaman Tentang Qadla Dan Qadar Allah

REP | 01 December 2011 | 02:20 Dibaca: 982   Komentar: 0   0

Definisi Qadla Dan Qadar

Iman kepada Qadla dan Qadar adalah termasuk pokok-pokok iman yang enam (Ushûl al-Îmân as-Sittah) yang wajib kita percayai sepenuhnya. Belakangan ini telah timbul beberapa orang atau beberapa kelompok yang mengingkari Qadla dan Qadar dan berusaha mengaburkannya, baik melalui tulisan-tulisan, maupun di bangku-bangku kuliah. Tentang kewajiban iman kepada Qadla dan Qadar, dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

الإيْمَانُ أنْ تُؤْمِنَ باِللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ (رواه مسلم)

“Iman ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau percaya kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang buruk”. (HR. Muslim).

Al-Qadlâ maknanya al-Khalq, artinya penciptaan, dan al-Qadar maknanya at-Tadbîr, artinya ketentuan. Secara istilah al-Qadar artinya ketentuan Allah atas segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan (al-’Ilm) dan kehendak-Nya (al-Masyî-ah) yang Azali (tidak bermula), di mana sesuatu tersebut kemudian terjadi pada waktu yang telah ditentukan dan dikehendaki oleh-Nya terhadap kejadiannya.

Penggunaan kata “al-Qadar” terbagi kepada dua bagian:

Pertama; Kata al-Qadar bisa bermaksud bagi sifat “Taqdîr” Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang ia kehendakinya. al-Qadar dalam pengertian sifat “Taqdîr” Allah ini tidak boleh kita sifati dengan keburukan dan kejelekan, karena sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu bukan suatu keburukan atau kejelekan, tetapi sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya adalah sifat yang baik dan sempurna, sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifat Allah tersebut tidak boleh dikatakan buruk, kurang, atau sifat-sifat jelek lainnya.

Kedua; Kata al-Qadar dapat bermaksud bagi segala sesuatu yang terjadi pada makhluk, atau disebut dengan al-Maqdûr. Al-Qadar dalam pengertian al-Maqdûr ini ialah mencakup segala apapun yang terjadi pada seluruh makhluk ini; dari keburukan dan kebaikan, kesalehan dan kejahatan, keimanan dan kekufuran, ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain. Dalam makna yang kedua inilah yang dimaksud oleh hadits Jibril di atas, “Wa Tu-mina Bi al-Qadar; Khayrih Wa Syarrih”. Al-Qadar dalam hadits ini adalah dalam pengertian al-Maqdûr.

Pemisahan makna antara sifat Taqdîr Allah dengan al-Maqdûr adalah sebuah keharusan. Hal ini karena sesuatu yang disifati dengan baik dan buruk, atau baik dan jahat, adalah hanya sesuatu yang ada pada makhluk saja. Artinya, siapa yang melakukan kebaikan maka perbuatannya tersebut disebut “baik”, dan siapa yang melakukan keburukan maka perbuatannya tersebut disebut “buruk”, dengan demikian penyebutan kata “baik” dan “buruk” seperti ini hanya berlaku pada makhluk saja. Adapun sifat Taqdîr Allah, yaitu sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya, maka sifat-Nya ini tidak boleh dikatakan buruk. Sifat Taqdîr Allah ini, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan sempurna, tidak boleh dikatakan buruk atau jahat. Dengan demikian, bila seorang hamba melakukan keburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari hamba itu sendiri. Adapun Taqdîr Allah terhadap keburukan yang terjadi pada hamba itu bukan berarti bahwa Allah menyukai dan memerintahkan hamba itu kepada keburukan tersebut. Demikian pula, ketika kita katakan; Allah yang menciptakan kejahatan, bukan berarti bahwa Allah itu jahat. Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allah meliputi segala perbuatan hamba, terhadap yang baik maupun yang buruk.

Segala perbuatan yang terjadi pada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaan Allah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akan keluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena apa bila pada makhluk ini ada sesuatu yang terjadi yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allah, maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya, karena dengan demikian berarti kehendak Allah dikalahkan.oleh kehendak makhluk-Nya. Tentu, ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)

“Apa yang dikehendaki oleh Allah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian segala apapun yang dikehendaki oleh Allah terhadap kejadiannya maka semua itu pasti terjadi. Karena bila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka hal itu menunjukkan akan kelemahan, padahal sifat lemah itu mustahil bagi Allah. Bukankah Allah maha kuasa?! Maka di antara bukti kekuasaannya adalah bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Oleh karena itu, dari sudut pandang syara’ dan akal, terjadinya segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya adalah perkara yang wajib adanya. Dalam hal ini Allah berfirman:

وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أمْرِه (يوسف: 21)

“Allah maha mengalahkan (menang) di atas segala urusann-Nya”. (Artinya, segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi, tidak ada siapapun yang menghalangi-Nya”. (QS. Yusuf: 21).

Allah menghendaki orang-orang mukmin dengan ikhtiar mereka untuk beriman kepada-Nya, maka mereka menjadi orang-orang yang beriman. Dan Allah menghendaki orang-orang kafir dengan ikhtiar mereka untuk kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi orang-orang yang kafir. Seandainya Allah berkehendak semua makhluk-Nya beriman kepada-Nya, maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لأَمَنَ مَن فِي اْلأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا (يونس: 99)

“Dan seandainya Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang ada di bumi ini akan beriman”. (QS. Yunus: 99).

Tetapi Allah tidak menghendaki semuanya beriman kepada-Nya. Namun demikian Allah memerintah mereka semua untuk beriman kepada-Nya. Maka di sini harus dipahami, bahwa “kehendak Allah” dan “perintah Allah” adalah dua hal berbeda. Tidak segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh-Nya, dan tidak segala sesuatu yang diperintah oleh Allah adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya.

Perkataan sebagian orang “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekali perbuatan kita yang tidak dikehendaki oleh Allah (ia bermaksud kemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah perkataan yang salah, karena Allah tidak memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat atau kekufuran. Benar, kejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah dengan kehendak Allah, tetapi Allah tidak memerintah kepadanya. Dengan demikian perkataan yang benar ialah; “Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya dan dengan Ilmu-Nya. Kebaikan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dengan Ilmu-Nya, serta kebaikan ini juga dengan perintah-Nya, Mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. Sementara keburukan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, tapi tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan Mahabbah-Nya, dan tidak dengan keridlaan-Nya”. Artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan tidak disukai dan tidak diridlai oleh Allah. Dengan kata lain, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, akan tetapi tidak semuanya dengan perintah Allah.

Di antara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allah berbeda dengan kehendak-Nya adalah apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim. Beliau diberi wahyu lewat mimpi untuk menyembelih putranya; Nabi Isma’il. Hal ini merupakan perintah dari Allah atas Nabi Ibrahim. Kemudian saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, bahkan telah meletakan pisau yang sangat tajam dan menggerak-gerakannya di atas leher Nabi Isma’il, namun Allah tidak berkehendak terjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut. Kemudian Allah mengganti Nabi Isma’il dengan seekor domba yang bawa oleh Malaikat Jibril dari surga. Peristiwa ini menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara “perintah Allah” dan “kehendak-Nya”.

Contoh lainnya, Allah memerintah kepada seluruh hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah berkehendak tidak semua hamba tersebut beribadah kepada-Nya. Karenanya, ada sebagian mereka yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang-orang beriman, dan ada sebagian lainnya yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang-orang kafir. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنّ وَالإنْسَ إلاّ لِيَعْبُدُوْن (الذاريات: 56)

“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan manusia dan jin melainkan Aku “perintahkan” mereka untuk menyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56).

Makna firman Allah “Illâ Li-Ya’budûn” dalam ayat ini artinya “Illâ Li-Âmurahum Bi ‘Ibâdatî”, artinya bahwa Allah menciptakan manusia dan jin tidak lain ialah untuk Dia perintah mereka agar beribadah kepada-Nya. Makna ayat ini bukan “Aku (Allah) ciptakan manusia dan jin melainkan aku berkehendak pada mereka untuk menyembah-Ku”. Karena jika diartikan bahwa Allah berkehendak dari seluruh manusia dan jin untuk beriman atau beribadah kepada-Nya, maka berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak orang-orang kafir, karena pada kenyataannya tidak semua hamba beriman dan beribadah kepada Allah, tapi ada di antara mereka yang kafir dan menyembah selain Allah. Tentunya mustahil jika kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak makhluk-makhluk-Nya sendiri.

Ketentuan Allah Tidak Berubah

Di atas telah dijelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa bila Allah menghendaki sesuatu akan terjadi pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu itu akan menimpanya, sekalipun orang tersebut bersedekah, berdoa, bersilaturrahim, dan berbuat baik kepada sanak kerabatnya; kepada ibunya, dan saudara-saudaranya, atau lainnya. Artinya, apa yang telah ditentukan oleh Allah tidak dapat dirubah oleh amalan-amalan kebaikan bentuk apapun.

Adapun hadits Rasulullah yang berbunyi:

لاَ  يَرُدُّ  القَضَاءَ  شَىءٌ  إلاّ  الدُّعَاءُ  (رواه الترمذي)

“Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla kecuali doa” (HR. at-Tirmidzi).

yang dimaksud dengan Qadla di dalam hadits ini adalah Qadlâ Mu’allaq. Di sini harus kita ketahui bahwa Qadla terbagi kepada dua bagian: Qadlâ Mubrab dan Qadlâ Mu’allaq.

Pertama: Qadlâ Mubram, ialah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah. Ketentuan ini hanya ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain Allah sendiri, seperti ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqâwah), dan mati dalam keadaan beriman (as-Sa’âdah), ketentuan dalam dua hal ini tidak berubah. Seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan beriman maka itulah yang akan terjadi baginya, tidak akan pernah berubah. Sebaliknya, seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan kufur maka pasti itulah pula yang akan terjadi pada dirinya, tidak ada siapapun, dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allah berfirman:

يُضِلّ  مَنْ  يَشَاءُ  وَيَهْدِيْ  مَنْ  يَشَاء  (النحل: 93)

“Allah menyesatkan terhadap orang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. (QS. an-Nahl: 93).

Kedua: Qadlâ Mu’allaq, yaitu ketentuan Allah yang berada pada lambaran-lembaran para Malaikat, yang telah mereka kutip dari al-Lauh al-Mahfuzh, seperti si fulan apa bila ia berdoa maka ia akan berumur seratus tahun, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan mendapatkan kesehatan, dan seterusnya. Namun, misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atau tidak mau bersillaturrahim, maka umurnya hanya enam puluh tahun, ia tidak akan mendapatkan rizki yang luas, dan tidak akan mendapatkan kesehatan. Inilah yang dimaksud dengan Qadlâ Mu’allaq atau Qadar Mu’allaq, yaitu ketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaran-lembaran para Malaikat.

Dari uraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdîr) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya, karena mustahil sifat Allah bergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Nya, dan Allah maha mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh.

Namun demikian doa adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ  الدَّاعِ  إِذَا  دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)

“Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 186).

Artinya bahwa seorang yang berdoa tidak akan sia-sia belaka. Ia pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga kebaikan; dosa-dosanya yang diampuni, permintaannya yang dikabulkan, atau mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan kebaikan yang sangat berharga baginya. Dengan demikian maka tidak mutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan. Yang pasti, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalah sebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka. Dalam keadaan apapun, seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salah satu dari kebaikan yang telah kita sebutkan di atas. (Lebih luas lihat al-Adzkâr an-Nawawiyyah, hlm. 353)

(Masalah): Aqidah Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun demikian ada beberapa faham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapa ayat yang sering disalahpahami oleh mereka, di antaranya, mereka mengutip firman Allah:

بِيَدِكَ الْخَيْرُ (ءال عمران: 26)

“Dengan kekuasaan-Mu segala  kebaikan”. (QS. Ali ‘Imran: 26).

Mereka berkata: “Dalam ayat ini Allah hanya menyebutkan kata “al-Khayr” (kebaikan) saja, tidak menyebutkan asy-Syarr (keburukan). Dengan demikian maka Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapun keburukan bukan ciptaan-Nya”.

(Jawab): Kata “asy-Syarr” (keburukan) tidak disandingkan dengan kata al-Khayr (kabaikan) dalam ayat di atas bukan berarti bahwa Allah bukan pencipta keburukan. Ungkapan semacam ini dalam istilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) dinamakan dengan al-Iktifâ’; yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui padanan katanya. Contoh semacam ini di dalam al-Qur’an firman Allah:

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ (النحل: 81)

“Dia (Allah) menjadikan bagi kalian pakaian-pakaian yang memelihara kalian dari dari panas”. (QS. an-Nahl: 81).

Yang dimaksud ayat ini adalah pakaian yang memelihara kalian dari panas, dan juga dari dingin. Artinya, tidak khusus memelihara dari panas saja. Demikian pula dengan pemahaman firman Allah: “Bi-Yadika al-Khayr” (QS. Ali ‘Imran: 26) di atas bukan berarti Allah khusus menciptakan kebaikan saja, tapi yang yang dimaksud adalah menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan.

Kemudian dari pada itu, dalam ayat lain dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلّ شَىء (الفرقان: 2)

“Dan Dia Allah yang telah menciptakan segala sesuatu”. (QS. al-Furqan: 2).

Kata “Syai’”, yang secara hafiyah bermakna “sesuatu” dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allah. Mencakup segala benda dan semua sifat benda, termasuk segala perbuatan manusia, juga termasuk segala kebaikan dan segala keburukan. Artinya, segala apapun selain Allah adalah ciptaan Allah. Dalam ayat lain firman Allah:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ (ءال عمران: 26)

“Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (QS. Ali ‘Imran: 26).

Dari makna firman Allah di atas: “Engkau (Ya Allah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, kita dapat pahami bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan. Allah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir seperti Fir’aun, dan Allah pula yang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin seperti Dzul Qarnain.

Adapun firman Allah:

مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ (النساء: 79)

ayat ini bukan berarti bahwa kebaikan ciptaan Allah, sementara keburukan sebagai ciptaan manusia. Pemaknaan seperti ini adalah pemaknaan yang rusak dan merupakan kekufuran. Makna yang benar ialah, sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama, bahwa kata “Hasanah” dalam ayat di atas artinya nikmat, sedangkan kata “Sayyi-ah” artinya musibah atau bala (bencana). Dengan demikian makna ayat di atas ialah: “Segala apapun dari nikmat yang kamu peroleh adalah berasal dari Allah, dan segala apapun dari musibah dan bencana yang menimpamu adalah balasan dari kesalahanmu”. Artinya, amalan buruk yang dilakukan oleh seorang manusia akan dibalas oleh Allah dengan musibah dan bala.

Allah Pencipta Segala Sebab Dan Akibat

Dalam hukum kausalitas ini ada sesuatu yang dinamakan “sebab” dan ada yang dinamakan “akibat”. Misalnya, obat sebagai sebab bagi akibat sembuh, api sebagai sebab bagi akibat kebakaran, makan sebagai sebab bagi akibat kenyang, dan lain-lain. Aqidah Ahlussunnah menetapkan bahwa sebab-sebab dan akibat-akibat tersebut tidak berlaku dengan sendirinya. Artinya, setiap sebab sama sekali tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Tapi keduanya, baik sebab maupun akibat, adalah ciptaan Allah dan dengan ketentuan Allah. Dengan demikian, obat dapat menyembuhkan sakit karena kehendak Allah, api dapat membakar karena kehendak Allah, dan demikian seterusnya. Segala akibat jika tidak dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya maka itu semua tidak akan pernah terjadi.

Dalam sebuah hadits Shahih, Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ خَلَقَ الدّوَاءَ وَخَلَقَ الدّاءَ فَإذَا أصِيْبَ دَوَاء الدّاء بَرِأ بإذْنِ اللهِ (رواه ابن حبان)

“Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala obat dan yang menciptakan segala penyakit. Apa bila obat mengenai penyakit maka sembuhlah ia dengan izin Allah”. (HR. Ibn Hibban).

Sabda Rasulullah dalam hadits ini: “… maka sembuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa obat tidak dapat memberikan kesembuhan dengan sendirinya. Fenomena ini nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita melihat banyak orang dengan berbagai macam penyakit, ketika berobat mereka mempergunakan obat yang sama, padahal jelas penyakit mereka bermacam-macam, dan ternyata sebagian orang tersebut ada yang sembuh, namun sebagian lainnya tidak sembuh. Tentunya apa bila obat bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya maka pastilah setiap orang yang mempergunakan obat tersebut akan sembuh, namun kenyataan tidak demikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah: “… maka akan sembuh dengan izin Allah”.

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa adanya obat adalah dengan kehendak Allah, demikian pula adanya kesembuhan sebagai akibat dari obat tersebut juga dengan kehendak dan ketentuan Allah, obat tidak dengan sendirinya menciptakan kesembuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya, kita wajib berkeyakinan bahwa sebab tidak menciptakan akibat, akan tetapi Allah yang menciptakan segala sebab dan segala akibat.

Firqah-Firqah Dalam Masalah Qadla Dan Qadar

Dalam masalah Qadla dan Qadar umat Islam terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama disebut dengan golongan Jabriyyah, kedua disebut dengan golongan Qadariyyah, dan ketiga adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Golongan pertama dan golongan ke dua adalah golongan sesat, dan hanya golongan ke tiga yang selamat. Kelompok pertama, yaitu golongan Jabriyyah, berkeyakinan bahwa para hamba itu dipaksa (Majbûr) dalam segala perbuatannya, mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba sama sekali tidak memiliki usaha atau ikhtiar (al-Kasab) dalam perbuatannya tersebut. Bagi kaum Jabriyyah, manusia laksana sehelai bulu atau kapas yang terbang ditiup angin, ia mengarah ke manapun angin tersebut membawanya. Keyakinan sesat kaum Jabriyyah ini bertentangan dengan firman Allah:

وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: 29)

“Dan kalian tidaklah berkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. at-Takwir: 29).

Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa manusia diberi kehendak (al-Masyî-ah) oleh Allah, hanya saja kehendak hamba tersebut dibawah kehendak Allah. Pemahaman ayat ini berbeda dengan keyakinan kaum Jabriyyah yang sama sekali menafikan Masyi’ah dari hamba. Bahkan dalam ayat lain secara tegas dinyatakan bahwa manusia memiliki usaha dan ikhtiar (al-Kasb), yaitu dalam firman Allah:

لَهَا مَاكَسَبَتْ  وَعَلَيْهَا  مَااكْتَسَبَتْ  (البقرة: 286)

“Bagi setiap jiwa -balasan kebaikan- dari segala apa yang telah ia usahakan - dari amal baik-, dan atas setiap jiwa -balasan keburukan- dari segala apa yang ia usahakan -dari amal buruk-”. (QS. al-Baqarah: 286).

Kebalikan dari golongan Jabriyyah adalah golongan Qadariyyah. Kaum ini memiliki keyakinan bahwa manusia memiliki sifat Qadar (menentukan) dalam melakukan segala amal perbuatannya tanpa adanya kehendak dari Allah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi manusia sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatannya tersebut. Terhadap golongan Qadariyyah yang berkeyakinan seperti ini kita tidak boleh ragu sedikitpun untuk mengkafirkannya, mereka bukan orang-orang Islam. Karenanya, para ulama kita sepakat mengkafirkan kaum Qadariyyah yang berkeyakinan semacam ini. Kaum Qadariyyah yang berkeyakinan seperti itu telah menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah, di samping itu mereka juga telah menjadikan Allah lemah (’Âjiz), karena dalam keyakinan mereka Allah tidak menciptakan segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Padahal di dalam al-Qur’an Allah berfirman:

قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ (الرعد: 16)

“Katakan (Wahai Muhammad), Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu”. (QS. ar-Ra’ad: 16).

Mustahil Allah tidak kuasa atau lemah untuk menciptakan segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala benda, dari mulai benda paling kecil bentuknya, yaitu adz-Dzarrah, hingga benda yang paling besar, yaitu arsy, termasuk tubuh manusia yang notabene sebagai benda juga ciptaan Allah. Artinya, bila Allah sebagai Pencipta segala benda tersebut, maka demikian pula Allah sebagai Pencipta bagi segala sifat dan segala perbuatan dari benda-benda tersebut. Sangat tidak logis jika dikatakan adanya suatu benda yang diciptakan oleh Allah, tapi kemudian benda itu sendiri yang menciptakan sifat-sifat dan segala perbuatannya. Karena itu Imam al-Bukhari telah menuliskan satu kitab berjudul “Khalq Af’âl al-’Ibâd”, berisi penjelasan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia itu sendiri.

Dengan demikian menjadi sangat jelas bagi kita kesesatan dan kekufuran kaum Qadariyyah, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Mereka telah menjadikan Allah setara dengan makhluk-makhluk-Nya sendiri; sama-sama menciptakan. Mereka tidak hanya menetapkan adanya satu sekutu bagi Allah tapi mereka menetapkan banyak sekutu bagi-Nya, karena dalam keyakinan mereka bahwa setiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya masing-masing, sebagimana Allah adalah Pencipta bagi tubuh-tubuh semua manusia tersebut. Na’ûdzu Billâh.

Golongan ke tiga, yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah, adalah golongan yang selamat. Keyakinan golongan ini adalah keyakinan yang telah dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa, antar genarasi ke genarasi. Dan inilah  keyakinan yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Mereka menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah. Hanya Allah yang menciptakan semua makhluk, dari mulai dzat atau benda yang paling kecil hingga benda yang paling besar, dan Allah pula yang menciptakan segala sifat dan segala perbuatan dari benda-benda tersebut.

Perbuatan manusia terbagi kepada dua bagian; Pertama, Af’âl Ikhtiyâriyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi dengan inisiatif, usaha, kesadaran, dan dengan ikhtiar dari manusia itu sendiri, seperti makan, minum, berjalan, dan lain-lain. Kedua; Af’âl Idlthirâriyyah, yaitu segala perbuatan manusia yang terjadi di luar usaha, dan di luar ikhtiar manusia itu sendiri, seperti detak jantung, aliran darah dalam tubuh, dan lain sebagainya. Dalam keyakinan Ahlussunnah; seluruh perbuatan manusia, baik Af’âl Ikhtiyâriyyah, maupun Af’âl Idlthirâriyyah adalah ciptaan Allah.

Kesesatan Faham Mu’tazilah Yang Menetapkan Bahwa Manusia Sebagai Pencipta Bagi Perbuatannya

Ulama Ahlussunnah telah menetapkan bahwa kaum Mu’tazilah yang berkeyakinan manusia menciptakan perbuatannya sendiri telah keluar dari Islam. Karena dengan demikian mereka telah menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Pengertian “menciptakan” dalam hal ini ialah: “Mengadakan dari tidak ada menjadi ada” (al-Ibrâz Min al-’Adam Ilâ al-Wujûd). Keyakinan Mu’tazilah semacam ini menyalahi banyak teks-teks syari’at, baik ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah. Dalam al-Qur’an di antaranya firman Allah:

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ (فاطر: 3)

“Adakah pencipta selain Allah?!” (QS. Fathir: 3).

Ayat ini bukan untuk menanyakan atau menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Tapi “pertanyaan” dalam ayat ini di sini disebut dengan Istifhâm Inkâri; artinya untuk mengingkari adanya pencipta kepada selain Allah dan untuk menetapkan bahwa yang menciptakan itu hanya Allah saja. Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ (الرعد: 16)

“Katakan (wahai Muhammad), Allah adalah Pencipta segala sesuatu” (QS. ar-Ra’d: 16).

“Segala sesuatu” yang dimaksud dalam ayat ini mencakup secara mutlak segala apapun selain Allah, termasuk dalam hal ini tubuh manusia dan segala sifat yang ada padanya, dan juga termasuk segala perbuatannya. Jika tubuh manusia kita yakini sebagai ciptaan Allah, maka demikian pula sifat-sifat yang ada pada tubuh tersebut; seperti gerak, diam, melihat, mendengar, makan, minum, berjalan dan lain sebagainya, sudah tentu itu semua juga harus kita yakini sebagai ciptaan Allah. Selain dua ayat ini masih banyak ayat lainnya menyebutkan dengan sangat jelas bahwa Allah Pencipta segala sesuatu.

Kaum Mu’tazilah atau kaum Qadariyyah yang kita sebutkan di atas adalah kaum yang digambarkan oleh Rasulullah dalam haditsnya sebagai kaum Majusi dari umatnya ini. Dalam sebuah hadits masyhur Rasulullah bersabda:

القَدَرِيّةُ مَجُوْسُ هذِهِ الأمّةِ (رواه أبو داود)

“Kaum Qadariyyah adalah kaum Majusi-nya umat ini” (HR. Abu Dawud).

Kaum Mu’tazilah adalah kaum yang ditentang keras oleh sahabat Abdullah ibn Umar, dan para sahabat terkemuka lainnya, juga oleh para ulama pasca sahabat. Sahabat Abdullah ibn Abbas berkata: “Perkataan kaum Qadariyyah adalah kekufuran”. Sahabat Ali ibn Abi Thalib suatu ketika berkata kepada seorang yang berfaham Qadariyyah: “Jika engkau kembali kepada keyakinan tersebut maka akan saya penggal kepalamu!”. Demikian pula al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib sangat kuat menentang faham Qadariyyah ini. Lalu Abdullah ibn al-Mubarak, salah seorang imam mujtahid, telah memerangi faham Tsaur ibn Yazid dan Amr ibn Ubaid; yang keduanya adalah pemuka Mu’tazilah. Bahkan cucu Ali ibn Abi Thalib, yaitu al-Hasan ibn Muhammad ibn al-Hanafiyyah, telah menulis beberapa risalah sebagai bantahan terhadap kaum Mu’tazilah tersebut. Demikian pula Imam al-Hasan al-Bashri, al-Khalîfah ar-Râsyid Imam al-Mujtahid Umar ibn Abd al-Aziz, dan Imam Malik ibn Anas telah mengkafirkan kaum Qadariyyah. Bahkan telah diriwayatkan oleh Abu Bakar ibn al-’Arabi dan Badruddin az-Zarkasyi dalam Syarh Jama’ al-Jawâmi’ bahwa suatu ketika Imam Malik ditanya tentang hukum pernikahan seorang yang berfaham Mu’tazilah, lalu Imam Malik menjawab dengan ayat al-Qur’an:

وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرُُ مِّن مُّشْرِكٍ (البقرة: 221)

“Seorang hamba sahaya yang mukmin benar-benar lebih baik dari pada seorang yang musyrik”. (QS. al-Baqarah: 221).

Demikian pula Imam Abu Manshur al-Maturidi telah mengkafirkan kaum Qadariyyah. Hal yang sama juga dikemukan oleh Imam Abu Manshur Abd al-Qahir al-Baghdadi (w 429 H); salah seorang imam terkemuka di kalangan ulama Asy’ariyyah, guru dari al-Hâfizh al-Bayhaqi, dalam Kitâb Ushûl ad-Dîn, hlm. 337, hlm. 341, hlm. 342, dan hlm. 343, menuliskan: “Seluruh para sahabat kami telah sepakat di atas mengkafirkan Mu’tazilah”. Pernyataan beliau “Seluruh para sahabat kami” yang dimaksud adalah para ulama terkemuka dari kaum Asy’ariyyah Syafi’iyyah, karena Abu Manshur al-Baghdadi adalah seorang imam terkemuka di kalangan Ahlussunnah madzhab asy-Syafi’i. Beliau sangat dikenal di antara para ulama ahli teologi, ahli fiqih, maupun ahli sejarah, terlebih di antara para ulama yang menulis tentang firqah-firqah dalam Islam beliau adalah rujukannya, karena beliau yang telah menulis kitab fenomenal tentang firqah-firqah dalam Islam yang berjudul al-Farq Bayn al-Firaq.

Kemudian al-Hâfizh Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam kitab Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, j. 2, hlm. 135, menuliskan: “Para ulama yang berada di seberang sungai Jaihun (ulama Maturidiyyah Hanafiyyah yang berada di Bilâd Mâ Warâ’ an-Nahr) tidak pernah berhenti mengkafirkan kaum Mu’tazilah (yang berkeyakinan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri)”.

Di antara ulama lainnya yang telah mangkafirkan faham Mu’tazilah yang mengatakan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri adalah; Syaikh al-Islâm Imam al-Bulqini dan Imam al-Mutawalli dalam kitab al-Ghunyah; keduanya adalah ulama terkemuka pada tingkatan Ash-hâb al-Wujûh dalam madzhab asy-Syafi’i, satu level di bawah tingkatan Mujtahid Mutlaq. Di antara ulama lainnya; Imam Abu al-Hasan Syist ibn Ibrahim al-Maliki, Imam ibn at-Tilimsani al-Maliki dalam kitab Syarh Luma’ al-Adillah, dan masih banyak lagi (Lebih luas tentang bantahan terhadap kaum Qadariyyah baca Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ‘Alâ Man Khâlaf al-Qur’ân karya al-Hâfizh al-Habasyi, j. 1, hlm. 31-63).

(Masalah): Ada beberapa ungkapan sebagian ulama, terutama yang datang dari pendapat para ulama Muta-akhirîn, yang mengatakan bahwa kaum Mu’tazilah tidak dikafirkan, seperti dalam pendapat Imam an-Nawawi.

(Jawab): Yang dimaksud oleh Imam an-Nawawi adalah bahwa mereka tidak dikafirkan secara mutlak. Artinya, dari kesesatan-kesesatan mereka jika tidak sampai kepada batas kekufuran maka mereka tidak dikafirkan. Adapun mereka yang berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri maka hal ini telah disepakati kekufurannya oleh para ulama. Benar, ada sebagian orang yang mengambil sebagian faham-faham Mu’tazilah, namun demikian mereka tidak mutlak mengambil seluruh faham-faham Mu’tazilah, seperti di antaranya Bisyr al-Marisi, Khalifah al-Ma’mun dari dinasti Bani Abbasiyyah dan lainnya. Dalam hal ini Bisyr hanya sejalan dengan faham Mu’tazilah dalam mengatakan al-Qur’an makhluk, namun demikian ia mengkafirkan kaum Mu’tazilah yang berpendapat bahwa manusia yang menciptakan perbuatan-perbuatannya sendiri. Dengan demikian tidak setiap orang yang bergabung dalam faham Mutazilah dihukumi sama sebagai orang-orang yang telah keluar dari Islam, tetapi demikian semua mereka adalah orang-orang yang sesat walupun mereka bertingkat dalam kesasatannya tersebut.

(Masalah): Jika seseorang berkata: Dalam hadits Rasulullah mengatakan: “Kaum Qadariyyah adalah kaum Majusi-nya umat ini” (HR. Abu Dawud). Bukankah itu artinya bahwa Rasulullah masih mengakui kaum Qadariyyah tersebut sebagai bagian dari umatnya. Artinya, bukankah dengan demikian kaum Qadariyyah tersebut masih sebagai bagian dari umat Islam ini?!

(Jawab): Yang dimaksud bahwa kaum Qadariyyah sebagai bagian dari umat ini adalah dalam pengertian Ummat ad-Da’wah; artinya sebagai umat yang menjadi objek dakwah Rasulullah. Karena Ummat ad-Da’wah itu mencakup seluruh manusia baik mereka yang kafir maupun yang mu’min. Pemahaman kata “Umat-ku” dalam penggunaan bahasa dapat mencakup mereka menjadi pengikut, dapat pula dalam pengertian yang menjadi objek dakwah; baik mereka yang menerima dakwah tersebut atau yang tidak menerima.

Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitab at-Tabshirah al-Baghdâdiyyah menuliskan sebagai berikut:

“Ketahuilah bahwa mengkafirkan setiap pemuka dari para pemimpin kaum Mu’tazilah adalah perkara wajib, karena berbagai alasan berikut; Washil ibn ‘Atha’ telah menjadi kafir dalam masalah Qadar, ia menetapkan adannya pencipta kepada selain Allah; yaitu bahwa setiap hamba adalah pencipta bagi segala perbuatannya. Dia pula yang mengkreasi pendapat bahwa seorang yang fasik bukan seorang mukmin dan bukan pula seorang kafir; tetapi di tengah-tengah antara keduannya (al-Manzilah Bayn al-Manzilatayn), yang oleh karena ini ia kemudian di usir oleh al-Hasan al-Bashri dari majelisnya.

Adapun pemuka Mu’tazilah yang bernama Abu al-Hudzail ia menjadi kafir karena pendapatnya bahwa kekusaan Allah menjadi punah, hingga Allah setelah itu tidak memiliki kekuasaan atas suatu apapun. Sementara pimpinan mereka yang bernama an-Nazhzham berpendapat bahwa segala sesuatu itu tersusun dari bagian-bagian yang tidak berpenghabisan (artinya bahwa rincian segala sesuatu itu tanpa penghabisan), yang dengan pendapatnya ini ia mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui perkara-perkara yang sangat rinci atau bagian-bagian terkecil dari alam ini. An-Nazhzham ini juga berpendapat bahwa manusia itu hanya ruh saja, (tidak ada fisiknya), dan bahwa seorang manusia tidak melihat manusia kepada manusia yang lainnya kecuali bahwa itu adalah yang ada dibaliknya.

Pemuka mereka yang bernama Ma’mar berkayakinan bahwa Allah tidak menciptakan warna, rasa, bau, panas, dingin, basah, kering, hidup, mati, sehat, sakit, kemampuan, kelemahan, pahit, lezat, dan berbagai sifat-sifat benda lainnya. Menurutnya bahwa sifat-sifat benda semacam itu adalah ciptaan benda-benda itu sendiri pada dirinya masing-masing.

Pimpinan mereka yang bernama Bisyr ibn al-Mu’tamir berkeyakinan bahwa manusia dapat menciptakan sifat-sifat seperti warna, rasa, bau, melihat, mendengar, dan berbagai kemampuan lainnya dengan jalan turun-temurun.

Kemudian pemuka mereka bernama al-Jahizh berkeyakinan bahwa manusia tidak memiliki perbuatan kecuali kehendak saja, dan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, dengan demikian siapa yang tidak mampu mengenal Allah maka ia bukan seorang yang mukallaf dan tidak akan mendapatkan siksa. Al-Jahizh juga berkeyakinan bahwa Allah tidak memasukan seorangpun ke dalam neraka, akan tetapi neraka itu sendiri yang menarik orang-orang yang akan menjadi penghuninya, dan neraka itu sendiri yang secara tabi’atnya akan menggenggam mereka selamanya.

Pimpinan mereka yang bernama Tsumamah berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan terjadi dengan dengan sendirinya, dan bahwa kaum Dahriyyah (kaum yang berkeyakinan bahwa setelah kematian tidak ada kehidupan) dan orang-orang kafir di akhirat kelak akan menjadi tanah tanpa sedikitpun disiksa. Tsumamah juga mengharamkan menyandra dan hukum perbudakan (dalam peperangan melawan orang kafir), juga berkeyakinan bahwa segala perbuatan yang terjadi secara turun-temurun tidak ada yang membuatnya.

Kaum Mu’tazilah di Baghdad berkeyakinan bahwa Allah tidak melihat dan tidak mendengar sesuatu apapun kecuali dalam pengertian objeknya saja (artinya, menurut mereka sebuah objek sebagai perwakilan Allah yang dapat melihat, tetapi Allah sendiri tidak melihat). Pemuka mereka bernama al-Jubba’i berkeyakinan bahwa Allah menta’ati setiap apa yang diinginkan oleh para hamba-Nya. Sementara anak al-Jubba’i, yaitu Abu Hasyim berkeyakinan bahwa seorang hamba dapat terkena siksa dan balasan yang buruk bukan karena perbuatan dosa, juga bekeyakinan bahwa Allah memiliki keadaan-keadaan; yang keadaan-keadaan tersebut antara ada dan tidak ada, antara diketahui dan tidak diketahui.

Kekufuran kaum Mu’tazilah ini sangat banyak; tidak ada yang tahu jumlahnya secara pasti kecuali Allah. Sahabat kami (ulama Asy’ariyyah Syafi’iyyah) dalam menilai kaum Mu’tazilah ini berbeda pendapat; ada yang mengatakan bahwa mereka persis seperti kaum Majusi sesuai dengan sabda Rasulullah: “Kaum Qadariyyah adalah Majusi-nya umat ini”, ada pula yang berpendapat bahwa hukum mereka sebagai mana hukum terhadap orang-orang murtad”. (Dikutip oleh beliau dalam Kitâb Ushûliddîn, hlm. 337).

Faedah Penting: Kesimpulan Dan Kaedah Pokok

Satu:

Imam al-Hâfizh Abu Bakr al-Bayhaqi dalam Kitâb al-Qadar dan Imam Ibn Jarir ath-Thabari dalam Kitâb Tahdzîb al-Âtsâr meriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أُمّتِي لَيْسَ لَهُمَا نَصِيْبٌ فِي الإسْلاَمِ القَدَرِيّةُ وَالْمُرْجِئَة (رواه البيهقي)

“Ada dua kelompok dari umatku yang tidak memiliki bagian dalam Islam; al-Qadariyyah dan al-Murji’ah”. (HR. al-Bayhaqi dan lainnya)

Kaum Mu’tazilah dalam hal ini adalah sebagai kaum Qadariyyah, karena dalam keyakinan mereka bahwa manusia yang menciptakan segala perbuatannya, dengan demikian sama saja mereka menjadikan Allah setara dengan para hambanya karena menetapkan adanya sekutu dalam penciptaan kepada-Nya. Dalam hadits di atas disebutkan bahwa kaum Qadariyyah disebut sebagai umat Majusi karena dalam hal ini terdapat titik kesamaan antara keduanya. Kaum Majusi menetapkan adannya dua pencipta; pencipta kebaikan; yaitu cahaya, dan penciptan keburukan; yaitu kegelapan, sementara kaum Qadariyyah menetapkan manusia sebagai pencipta bagi segala perbuatannya. Bahkan dalam hal ini kaum Qadariyyah lebih buruk, karena tidak hanya menetapkan dua pencipta, tetapi menetapkan banyak sekali pencipta sebagai sekutu bagi Allah.

Hadits riwayat al-Bayhaqi dan Ibn Jarir di atas merupakan dalil bahwa dua golongan tersebut; Qadariyyah dan Murji’ah adalah golongan yang bukan bagian dari Islam. Tentang kelompok Mut’tazilah; mereka terdiri dari dua puluh golongan, beberapa di antaranya ada yang telah mencapai batas kekufuran seperti mereka yang berkeyakinan bahwa manusia sebagai pencipta bagi segala perbuatannya, dan ada pula di antara yang mereka yang hanya sesat saja seperti mereka yang berpendapat bahwa Allah di akhirat kelak tidak bisa dilihat sebagaimana di dunia ini tidak dapat dilihat, atau pendapat mereka yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar jika mati sebelum bertaubat maka ia bukan sebagai mukmin juga bukan seorang yang kafir; namun begitu kelak ia akan dikekalkan di dalam neraka tidak akan pernah dikeluarkan, atau pendapat mereka yang mengatakan bahwa sebagian orang-orang mukmin pelaku maksiat kelak tidak akan mendapatkan syafa’at dari para Nabi, para ulama, atau  dari para syuhada. Dengan demikian, seorang yang berkeyakinan sejalan dengan faham Mu’tazilah dalam beberapa perkara terakhir disebutkan ini maka ia tidak dikafirkan, dengan catatan:

  1. Ia tidak sependapat dengan faham Mu’tazilah (Qadariyyah) yang menetapkan bahwa manusia adalah pencipta bagi perbuatan-perbuatannya sendiri.
  2. Selama ia tidak sependapat dengan faham Mu’tazilah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berkehendak bagi seluruh manusia untuk beriman dan ta’at kepada-Nya hanya saja sebagian dari mereka ada yang kafir dan berbuat maksiat kepada-Nya tanpa dikehendaki oleh-Nya. Artinya, menurut faham Mu’tazilah ini setiap kekufuran dan segala kemasiatan bukan dengan ciptaan Allah dan bukan dengan kehendak-Nya, tetapi terjadi dengan ciptaan manusia dan dengan kehendak manusia itu sendiri.
  3. Selama ia tidak sependapat dengan faham Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Allah tidak memiliki sifat-sifat; seperti sifat ‘Ilm, Qudrah, Hayât, Baqâ’, Sama’, Bashar, dan sifat Kalâm.

Adapun kaum Murji’ah adalah golongan yang mengatakan bahwa seorang hamba yang mukmin, sekalipun ia berbuat berbagai dosa besar dan meninggal tanpa taubat dalam keadaan membawa dosa-dosanya tersebut maka kelak ia tidak akan disiksa sedikitpun. Kaum Murji’ah ini berkata: “Sebagaimana setiap kebaikan tidak akan memberikan manfaat dan tidak ada pengaruhnya jika dilakukan dalam keadaan kufur, maka demikian pula dengan setiap dosa, ia tidak akan berpengaruh dan tidak akan membahayakan terhadap diri seorang mukmin”. Mereka mensejajarkan sama persis antara pemahaman ungkapan pertama dengan pemahaman ungkapan ke dua. Ungkapan pertama: “Setiap kebaikan tidak akan memberikan manfaat jika dilakukan dalam keadaan kufur”, adalah ungkapan benar, karena seorang yang kafir sekalipun banyak melakukan kebaikan maka sedikitpun ia tidak akan mengambil manfaat dari kebaikan-kebaikannya tersebut. Adapun ungkapan mereka yang kedua: “Setiap dosa tidak akan berpengaruh dan tidak akan membahayakan terhadap diri seorang mukmin”, adalah perkataan kufur dan sesat, karena seorang mukmin apa bila melakukan kemaksiatan-kemaksiatan maka hal itu akan membahayakannya, artinya tidak mutlak setiap orang mukmin pelaku dosa itu akan selamat di akhirat kelak.

Dua:

Imam al-Hâfizh Abu Bakr al-Bayhaqi meriwayatkan dari Amîr al-Mu’minîn Ali ibn Abi Thalib, bahwa ia (Ali ibn Abi Thalib) berkata: “Sesungguhnya setiap orang dari kalian tidak akan memiliki keimanan yang murni di dalam hatinya hingga ia berkeyakinan dengan sepenuhnya tanpa ragu sedikitpun bahwa sesuatu yang menimpanya bukan sesuatu yang salah atas dirinya, dan ia beriman serta mempercayai sepenuhnya bahwa segala sesuatu yangterjadi dengan ketentuan Allah”.

Perkataan Imam Ali ibn Abi Thalib ini memberikan pemahaman bahwa keimanan seseorang tidak sempurna hingga berkeyakinan sepenuhnya tanpa ragu sedikitpun bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, baik segala perkara yang terkait dengan urusan rizki, musibah, dan lain sebagainya. Juga tidak dibenarkan bagi seseorang untuk beriman hanya kepada sebagian ketentuan Allah saja, tetapi ia wajib beriman bahwa segala apa yang terjadi pada alam ini; dari kebaikan dan keburukan, kesesatan dan petunjuk, kesulitan dan kemudahan, perkara yang manis dan perkara yang pahit, semua itu terjadi dengan penciptaan dari Allah dan dengan kehendak-Nya. Seandainya Allah tidak menciptakan dan tidak berkehendak maka sedikitpun dari semua yang terjadi itu tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah terjadi.

Tiga:

Imam al-Hâfizh Abu Bakr al-Bayhaqi meriwayatkan pula dari Amîr al-Mu’minîn Umar ibn al-Khaththab, bahwa ketika beliau (Umar) berada di al-Jabiyah (suatu wilayah di daratan Syam), beliau berdiri berkhutbah. Setelah mengucapkan pujian kepada Allah, beliau berkata: “Man Yahdillâh Fa-lâ Mudlilla-lah, Wa Man Yudl-lil Fa-lâ Hâdiya-lah” (Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada siapapun yang akan menyesatkannya, dan barangsiapa telah disesatkan oleh Allah maka tidak ada siapapun  yang akan memberikan petunjuk kepadanya). Pada saat itu ada seorang kafir non Arab dari Ahli Dzimmah, tiba-tiba ia berkata dengan bahasanya sendiri: “Sesungguhnya Allah tidak menyesatkan seorangpun”. Lalu Umar berkata kepada penterjemah: “Apa yang ia katakan?”, penterjemah menjawab: “Ia berkata bahwa Allah tidak menyesatkan seorangpun”, maka Umar menghardiknya: “Ucapanmu batil wahai musuh Allah, seandainya engkau bukan Ahli Dzimmah maka aku akan penggal lehermu, sesungguhnya Allah yang telah menjadikan dirimu sesat, dan Dia akan memasukan dirimu ke dalam neraka jika Dia berkehendak”.

Perkataan sahabat Umar di atas sangat jelas memberikan petunjuk kepada kita bahwa ucapan orang dari Ahli Dzimmah tersebut adalah sesat dan kufur, karena dalam keyakinan orang tersebut bahwa Allah tidak menciptakan dan tidak berkehendak bagi seorangpun dari para hamba-Nya untuk menjadi sesat, maka mereka yang sesat adalah dengan penciptaan dan dengan kehendak mereka sendiri. Kemudian yang dimaksud dari pernyataan sahabat Umar terhadap orang kafir tersebut: “Dia Allah akan memasukan  dirimu ke dalam neraka jika Dia berkehendak”, artinya, bahwa jika Allah berkehendak bagi orang tersebut untuk mati dalam keadaan kufurnya maka pastilah ia akan di masukan ke dalam neraka. Dalam pemahamannya ini, sahabat Umar telah mengambil dasar dari firman Allah:

وَمَن يَهْدِ اللهُ فَمَالَهُ مِن مُّضِلٍّ (الزمر: 37)

“Dan barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada baginya siapapun yang akan menyesatkan” (QS. Az-Zumar: 37).

Dan juga dari ayat lainnya dalam firman Allah:

مَن يُضْلِلِ اللهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ  (الأعراف: 186)

“Barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada siapapun yang akan memberikan petunjuk baginya” (QS. Al-A’raf: 186).

Empat:

Kisah Hikmah

Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang Majusi berbincang-bincang dengan seorang yang berfaham Qadariyyah. Orang berfaham Qadariyyah ini berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan manusia itu sendiri, bukan ciptaan Allah. Ia mengaku sebagai orang Islam, walau pada hakekatnya dia adalah seorang yang kafir.

Orang Qadariyyah berkata kepada orang Majusi: “Wahai orang Majusi, masuk Islam-lah engkau!”.

Orang Majusi ini tahu bahwa Tuhan orang-orang Islam adalah Allah, maka ia menjawab: “Allah tidak berkehendak bagi saya untuk masuk Islam…!”.

Orang Qadariyyah berkata: “Tidak demikian. Sesungguhnya Allah berkehendak supaya engkau masuk Islam. Namun engkau sendiri tetap berkehendak dalam kekufuranmu…!”.

Tiba-tiba orang Majusi tersebut berkata: “Jika demikian, maka berarti kehendakku mengalahkan kehendak Tuhanmu. Karena buktinya sampai saat ini aku tidak berkehendak keluar dari agamaku…!”.

Orang Qadariyyah itu terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa menundukkan orang Majusi tersebut karena kesesatannya sendiri, pertama; orang Qadariyyah ini sesat karena ia berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan manusia sendiri, kedua; Orang Qadariyyah tersebut sesat karena ia tidak membedakan secara definitif antara kehendak Allah (Masyî’ah Allâh) dengan perintah Allah (Amr Allâh).

Dari uraian di atas menjadi jelas bagi kita bahwa apapun yang terjadi di alam ini tidak lepas dari Qadla dan Qadar Allah. Artinya bahwa semuanya terjadi dengan penciptaan dari Allah dan dengan ketentuan Allah. Segala apa yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi maka pasti terjadi, dan segala apa yang tidak Dia kehendaki kejadiannya maka tidak akan pernah terjadi. Seandainya seluruh makhluk bersatu untuk merubah apa telah diciptakan dan ditentukan oleh Allah maka sedikitpun mereka tidak akan mampu melakukan itu. Bagi seorang yang beriman kepada al-Qur’an hendaklah ia berpegang teguh kepada firman Allah:

لاَيُسْئَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْئَلُونَ  (الأنبياء: 23)

“(Allah) tidak ditanya (tidak diminta tanggung jawab) terhadap apa yang Dia perbuat, dan (sebaliknya) merekalah (para makhluk) yang akan diminta pertanggungjawaban”. (QS. al-Anbiya: 23).

Kita dituntut untuk melaksanakan apa yang telah dibebankan di dalam syari’at. Bila kita melanggar maka kita sendiri yang akan mempertanggungjawabkannya, dan bila kita patuh maka kita sendiri pula yang akan menuai hasilnya. Dalam hal ini kita tidak boleh meminta “tanggungjawab” atau “protes” kepada Allah. Kita tidak boleh berkata: “Mengapa Allah menyiksa orang-orang berbuat maksiat dan menyiksa orang-orang kafir, padahal Allah sendiri yang berkehendak terhadap adanya kemaksiatan dan kekufuran pada diri mereka?”. Allah tidak ada yang meminta tanggung jawab dari-Nya. Dia berhak melakukan apapun terhadap makhluk-makhluk-Nya karena semuanya adalah milik Allah. Kita hendaklah bersyukur sedalamnya, bacalah “al-Hamdu Lillâh”, pujilah Allah seluas-luasnya, karena Allah telah memberikan karunia besar kepada kita bahwa kita telah dijadikan orang-orang yang beriman kepada-Nya. al-Hamdulillâh Rabb al-’Âlamin.

Faedah Penting Dari Imam al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dalam Membantah Kerancuan Faham Mu’tazilah

Imam al-Hâfizh al-Bayhaqi meriwayatkan dengan sanad-nya dari Imam al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib bahwa ia (al-Husain) berkata:

“Demi Allah, apa yang dikatakan oleh kaum Qadariyyah tidak sejalan dengan firman Allah, tidak sejalan dengan perkataan para Malaikat, tidak sejalan dengan perkataan para Nabi, tidak sejalan dengan perkataan penduduk surga, tidak sejalan dengan perkataan penduduk neraka, bahkan tidak sejalan dengan  perkataan saudara mereka sendiri; yaitu Iblis”. Lalu orang-orang berkata kepada al-Husain: “Wahai cucu Rasulullah, jelaskanlah apa yang engkau maksudkan!”. Kemudian al-Husain berkata: “Mereka tidak sejalan dengan firman Allah, karena Allah telah berfirman:

وَاللهُ يَدْعُوْ إلَى دَارِ السّلاَم وَيَهْدِي مَنْ يَشَاء (يونس)

“Allah memanggil kalian agar ke surga, dan Allah memberi petunjuk terhadap orang yang Dia kehendaki” (QS. Yunus: 25)

Penjelasan:

Pemahaman yang dimaksud oleh Imam al-Husain ialah bahwa kaum Mu’tazilah atau Qadariyyah telah menyalahi ayat ini. Karena dalam keyakinan mereka seorang hamba adalah pencipta bagi segala kebaikan yang ia perbuat. Dengan demikian, -menurut mereka- Allah memiliki kewajiban untuk memasukan hamba tersebut ke dalam surga. Karenanya, menurut Mu’tazilah, surga bukan karunia atau pemberian dari Allah semata, tapi tidak ubah sebagai hutang yang wajib dibayarkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Tentu ini menyesatkan. Yang benar ialah bahwa surga tersebut diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya mukmin adalah murni sebagai karunia dan pemberian dari-Nya. Karena pada hakekatnya Allah yang menciptakan semua hamba-hamba-Nya tersebut, Dia yang memberikan taufik kepada sebagian mereka untuk menjadi orang-orang yang beriman, Dia yang memberikan ilham kepada sebagian mereka untuk berbuat ketaatan dan kebaikan, Dia yang menciptakan akal hingga sebagian hamba-Nya dapat membedakan antara haq dan batil, Dia pula yang menciptakan keimanan dan kekuufuran, kebaikan dan keburukan, serta surga dan neraka, maka dengan demikian Dia tidak memiliki kewajiban atas siapapun untuk memasukannya ke surga. Sesungguhnya orang-orang yang dimasukan oleh Allah ke dalam surga-Nya adalah murni sebagai karunia dari-Nya, dan orang-orang yang di masukan ke dalam neraka-Nya adalah murni karena keadilan-Nya. Secara akal, dapat diterima bila Allah memasukan orang-orang saleh ke dalam neraka atau orang-orang durhaka ke dalam surga, karena semuanya miliki Allah semata. Allah sama sekali tidak zhalim bila berkehandak melakukan itu, hanya saja Allah berjanji bahwa yang akan Ia masukan ke dalam surga-Nya adalah orang-orang saleh, sementara orang-orang yang durhaka dimasukan ke dalam neraka-Nya, maka Allah tidak akan menyalahi janji-Nya tersebut.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ لَوْ عَذّبَ أهْلَ أرْضِهِ وَسَمَاوَاتِهِ لَعَذّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ وَلَوْ رَحِمَهُمْ كَانَتْ رَحْمَتُهُ خُيْرًا لَهُمْ مِنْ أعْمَالِهِمْ وَلَوْ أنْفَقْتَ مِثْلَ أحُدٍ ذَهَبًا فِي سَبِيْلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْكَ حَتّى تُؤْمِنَ بِالقَدَرِ وَتَعْلَمَ أنّ مَا أصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أخْطَأكَ لمَ ْيَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَلَوْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النّارَ (رواه ان حبان)

“Sesungguhnya jika Allah hendak menyiksa seluruh penduduk bumi dan penduduk langit (para Malaikat) maka Dia akan melakukan itu, dan Dia tidak zhalim atas mereka. Dan jika Allah hendak merahmati mereka semua maka sesungguhnya rahmat-Nya lebih utama segala amalan mereka. Jika engkau menginfakan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah maka hal itu tidak akan diterima Allah darimu hingga engkau beriman dengan qadar, dan engkau mengetahui (meyakini) bahwa apa yang menimpamu bukan sesuatu yang salah atas dirimu, dan apa yang salah atas dirimu bukan sesuatu yang menimpamu (artinya segala sesuatu, peristiwa sekecil apapun terjadi dengan kehendak Allah). Jika engkau mati dengan menyalahi keyakinan ini maka engkau akan masuk neraka” (HR. Ibn Hibban).

Dalam ayat al-Qur’an QS. Yunus: 25 yang dibacakan oleh Imam al-Husain di atas terdapat makna yang sangat jelas bahwa seorang hamba yang mendapatkan petunjuk adalah murni karena kehendak Allah dan dengan ciptaan-Nya, bukan ciptaan hamba itu sendiri. Selain QS Yunus: 25 di atas banyak ayat-ayat al-Qur’an lainnya yang berseberangan dengan faham Mu’tazilah, di antaranya firman Allah:

وَمَا تَشَاءُوْنَ إلاّ أنْ يَشَاءَ اللهُ رَبّ العَالَمِيْنَ (التكوير: 29

“Dan tidaklah kalian berkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah Tuhan semesta alam” (QS. at-Takwir: 29).

Kemudian Imam al-Husain melanjutkan:

“Adapun bahwa keyakinan Mu’tazilah menyalahi para Malaikat adalah karena para Malaikat berkata, (seperti yang difirmankan Allah):

قَالُوْا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إلاّ مَا عَلّمْتَنَا (البقرة: 32)

“Mereka (para Malaikat berkata): Maha Suci Engkau, -ya Allah- kami tidak memiliki ilmu apapun kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami” (QS. al-Baqarah: 32).

Penjelasan:

Dalam ayat ini terdapat pengakuan jelas dari para Malaikat bahwa ilmu yang ada pada diri mereka adalah murni pemberian dan penciptaan dari Allah. Dengan demikian artinya bahwa segala perbuatan manusia, baik yang zhahir maupun yang batin, termasuk segala apa yang terlintas dalam hati dan pikiran, semua itu terjadi dengan kehendak Allah dan dengan penciptaan dari-Nya. Ini berbeda dengan keyakinan Mu’tazilah yang mengatakan bahwa segala ilmu yang ada pada seorang manusia dan segala kemampuannya adalah ciptaan manusia itu sendiri.

Lalu Imam al-Husain berkata:

“Adapun bahwa mereka (kaum Mu’tazilah) menyalahi perkataan para Nabi; adalah karena sesungguhnya para Nabi tersebut berkata, (sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an):

وَمَا يَكُوْنُ لَنَا أنْ نَعُوْدَ فِيْهَا إلاّ أنْ يَشَاءَ اللهُ رَبّنَا (الأعراف:89)

“Tidaklah mungkin bagi kami masuk ke dalam agama kalian, kecuali jika Allah Tuhan kita berkehendak akan hal itu” (QS. al-A’raf: 89).

Penjelasan:

Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa sebagian para Nabi Allah, untuk melepaskan dan membebasan diri segala perbuatan orang-orang musyrik, mereka berkata di hadapan orang-orang musyrik tersebut bahwa tidak mungkin bagi para Nabi itu untuk mengikuti agama mereka. Artinya Allah telah menyelamatkan para Nabi tersebut dari segala macam bentuk kufur dan syirik. Seandainya Allah berkehendak pada azal bagi para Nabi tersebut untuk mengikuti orang-orang musyrik dan orang-orang kafir itu maka pastilah hal itu akan terjadi, namun Allah tidak menghendaki kejadian peristiwa itu. Oleh karenanya para Nabi tersebut berkata: “Kami tidak akan masuk dan mengikuti agama kalian…”.

Senada dengan ayat yang dikutip oleh Imam al-Husain di atas adalah firman Allah tentang Nabi Nuh yang berkata:

وَلاَ يَنْفَعُكُمْ نُصْحِيْ إنْ أرَدْتُ أنْ أنْصَحَ لَكُمْ إنْ كَانَ اللهُ يُرِيْدُ أنْ يُغْوِيَكُمْ (هود: 34)

“Dan tidaklah nasihatku akan memberikan manfa’at kepada kalian jika aku berkehendak memberikan nasihat kepada kalian sementara Allah berkehendak menyesatkan kalian” (QS. Hud: 34).

Dalam ayat ini Nabi Nuh telah menetapkan dengan sangat jelas bahwa Allah yang berkehendak atas segala kejadian dari setiap perbuatan hamba, baik segala perbuatan yang baik maupun segala perbuatan yang buruk.

Imam al-Husain melanjutkan:

“Adapun bahwa mereka (kaum Mu’tazilah) menyalahi perkataan penduduk surga; adalah karena sesungguhnya penduduk surga berkata: (seperti yang telah difirmankan Allah):

وَمَا كُنّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لاَ أنْ هَدَانَا اللهُ (الأعراف: 43)

“Dan tidaklah kami mendapatkan petunjuk kalau bukan karena Allah telah memberikan petunjuk kepada kami” (QS. Al-A’raf: 43).

Penjelasan:

Dalam ayat ini terdapat pengakuan penduduk surga bahwa segala perbuatan saleh yang telah mereka lakukan yang karenanya mereka mendapat balasan surga adalah terjadi dengan kehendak Allah. Artinya, bahwa Allah yang telah menciptakan dan menghendaki perbuatan baik dan saleh tersebut bagi mereka. Seandainya Allah tidak menghendaki kejadian amal saleh tersebut pada diri mereka tentu mereka semua tidak akan mendapatkan balasan surga. Pemahaman ini berbeda dengan faham Mu’tazilah yang mengatakan bahwa keimanan orang-orang mukmin dan kebaikan orang-orang saleh adalah dengan penciptaan mereka sendiri. Lalu dengan dasar keyakinan buruk ini kaum Mu’tazilah kemudian menetapkan adanya kewajiban atas Allah untuk membalas kabaikan orang-orang mukmin tersebut. A’ûdzu Billâh.

Kemudian  Imam al-Husain melanjutkan:

“Adapun bahwa mereka menyalahi perkatan penduduk neraka adalah karena sesungguhnya penduduk neraka berkata, (sebagaimana difirmankan Allah):

قَالُوْا رَبّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنّا قَوْمًا ضَالِّيْنَ (المؤمنون: 106)

“Mereka (penduduk neraka) berkata: Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat” (QS. Al-Mu’minun: 106).

Penjelasan:

Dalam ayat ini tersirat pengakuan dari para penduduk neraka bahwa Allah berkehendak dan menciptakan pada mereka akan kesesatan yang kerena kesesatan-kesesatan tersebut mereka mendapatkan balasan neraka.

Lalu Imam al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib berkata:

“Adapun bahwa mereka menyalahi perkataan saudara mereka sendiri yaitu Iblis, adalah karena Iblis berkata, (seperti yang difirmankan Allah):

قَالَ فَبِمَا أغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْم (الأعراف: 16)

“(Iblis berkata): Karena Engkau telah menjadikan saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus” (QS. al-A’raf: 16).

Penjelasan:

Dalam ayat ini terdapat pengakuan sangat jelas dari Iblis bahwa Allah yang telah menghendaki dan menciptakan kesesatan pada Iblis. Allah telah menentukan kesesatan tersebut bagi Iblis, dan Iblis memilih kesesatan tersebut dengan usaha atau ikhtiarnya, kemudian Iblis berjanji bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan seluruh turunan Nabi Adam dari jalan Allah yang lurus. Dari pemahaman ayat ini dapat kita simpulkan bahwa Iblis ternyata jauh lebih paham dari pada kaum Mu’tazilah, karena Iblis mengakui bahwa segala suatu apapun, termasuk perbuatan hamba, adalah terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaan dari Allah. Dengan demikian keyakinan yang benar adalah bahwa tidak ada suatu peristiwa sekecil apapun, baik yang sudah terjadi, atau yang sedang terjadi, atau yang akan terjadi, kecuali semua itu dengan kehendak dan dengan penciptaan dari Allah, para hamba dalam ini hanya berusaha semata terhadap apa yang ia ingikan.

Wa Allâh A’lam Bi ash-Shawâb.

Wa al-Hamdu Lillâh Rabb al-’Âlamîn

( Sumber berbagai artikel di internet )

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Harusnya Nominal Subsidi Tetap 1500 Perak, …

Dhita A | | 28 November 2014 | 13:34

Terpana Danau Duma …

Lukman Salendra | | 28 November 2014 | 12:25

Senangnya Terpilih Menjadi Host Moderator …

Edrida Pulungan | | 28 November 2014 | 13:43

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46



HIGHLIGHT

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | 8 jam lalu

Tata Bangunan Kota Banda Aceh …

Rahmat Syah | 8 jam lalu

Komando Nelayan, Sebuah Pemikiran untuk …

Wahyudi Sebatik | 8 jam lalu

Naiknya Harga BBM Memaksa Gerak Lebih Cepat …

Muthiah Alhasany | 8 jam lalu

Menembus Batas-batas Pikiran …

Wira Dharmapanti Pu... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: