
Dibaca: 243
Komentar: 142
1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
Bukan salah tulis, memang Dawkins. Richard Dawkins, seorang evolusionis dan ateis pengagum Darwin. Namun demikian ia berpendapat bahwa banyak penjelasan yang ditulis Darwin mengenai bagaimana dan pada tingkat apa evolusi terjadi, salah. Sebagai ilmuwan, saya kira Darwin tak akan marah terlalu lama kepada Dawkins kalau penjelasannya dibilang salah. Dawkins terhadap Darwin (dalam biologi) itu seperti Schrodinger terhadap Newton (dalam mekanika). Yang datang belakangan menunjukkan bahwa tori sebelumnya itu kurang tepat (dengan kata lain: salah). Namun tidak cuma mengatakan salah, tetapi juga memperbaiki, membetulkan, atau memperhalus teori tersebut. Ini kaidah sains.
Kalau Darwin hidupnya tertekan sampai hampir gila karena konfliknya dengan gereja (anak perempuannya dihukum berat sampai terluka karena percaya dinosaurus itu ada seperti kata bapaknya), Dawkins bisa hidup lebih nyaman karena zaman telah memungkinkan ia berdebat dengan bebas dengan siapa saja. Selain itu menjadi ateis di negaranya (Inggris) tidak melanggar hukum.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa teori evolusi menyatakan manusia itu keturunan monyet. Mungkin. Tetapi sebenarnya teori evolusi menyatakan bahwa monyet dan manusia itu memiliki leluhur yang sama. Leluhur yang sama itu bentuknya tak jelas apakah lebih menyerupai monyet atau manusia. Yang jelas, menurut kaum evolusionis, kita dan monyet itu jadinya sepupu.
Evolusionis (penganut paham evolusi) juga sering disebut reduksionis. Maksudnya, segala sesuatu itu dapat diuraikan menjadi bagian yang lebih kecil. Tubuh manusia (dan hewan pada umumnya) terdiri atas bagian-bagian tubuh (kepala, tangan, dada, perut, kaki). Lalu masing-masing bagian juga dapat diuraikan lagi. Misalnya kepala, terdiri atas mata, telinga, hidung, dan mulut. Lantas di bagian dalam kepala ada otak. Di dalam dada ada paru-paru dan jantung. Semua bagian-bagian tubuh itu, di bagian luar maupun di bagian dalam, biasanya kita sebut organ tubuh. Organ tubuh terdiri atas jaringan otot, dan jaringan otot terdiri atas sel-sel yang banyak jumlahnya. Banyak juga hewan (mahluk hidup) yang hanya terdiri atas beberapa sel, bahkan satu sel (bakteri). Reduksionis tidak berhenti sampai di sini. Sel dapat diuraikan lagi menjadi beberapa komponen. Dalam sel manusia terdapat kromosom, dan di dalam kromosom ada DNA. DNA adalah susunan gen, dan gen adalah susunan asam nukleat dengan urutan tertentu. Asam nukleat ini hanya terdiri atas lima unsur kimia yang sudah kita kenal sejak muda, saya kira di SMA (saya sendiri tidak lulus SMA), yaitu Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Karbon, dan Fosfor.
Air adalah senyawa hidrogen dan oksigen (Cobalah anda minta hidrogen oksida di rumah makan. Kening pelayannya akan berkerut. Padahal maksud anda: air).
Udara yang kita hirup adalah 80% nitrogen dan 20% oksigen.
Mari kita sebut mahluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan) sebagai organisme. Bila kita baca naskah Darwin, kemungkinan besar anda, seperti saya, akan menyimpulkan (sebagai akibat dari memahami, atau tidak memahami, apa yang dipaparkan Darwin, bukan masalah percaya atau tidak percaya) bahwa evolusi itu bekerja pada tingkat organisme individual. Sebelum revolusi industri di Inggris, ketika dinding kota masih berwarna putih, kupu-kupu kebanyakan berwarna putih, karena ia tersamarkan dan selamat dari sergapan pemangsa ketika sedang hinggap di tembok yang putih. Kupu-kupu putih berkembang biak, yang hitam hampir punah. Ketika kota dipenuhi asap batubara dan dinding-dinding menghitam, kupu-kupu putih menjadi mangsa empuk para pemangsa, sedangkan yang hitam lebih banyak yang selamat. Maka keadaan berbalik, hitam menjadi banyak, putih berkurang. Seleksi alam bekerja pada organisme. Organisme yang beruntung memiliki faktor-faktor pendukung untuk keselamatannya akan berkembang. Demikian pula organisme yang menemukan cara untuk berkelompok dan bekerja sama dalam perjuangan hidupnya akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang biak. Namun seberapa baikpun kerjasama kelompok, bila keadaan alam berubah dan tidak dapat ditanggulangi oleh organisme individual, organisme yang bersangkutan akan punah. Yang selamat adalah yang beruntung memiliki perubahan pada dirinya yang sesuai dengan keadaan baru. Seleksi alam.
Kalau organisme kita bagi menjadi spesies, sekarang ada satu spesies yang justru mempengaruhi alam untuk keuntungannya, sering sambil tidak menyadari bahwa dampak jangka panjangnya sebenarnya tidak baik. Nama spesies itu manusia. Manusia tidak hanya membangun fasilitas untuk kenyamanan hidupnya, tapi juga membuat senjata pemusnah yang dapat melenyapkan seluruh spesies di muka bumi dalam sekali serang (bom nuklir). Ironis.
Berang-berang membangun bendungan untuk kenyamanan dan keamanan hidup keluarganya. Tetapi skala berang-berang tidak besar, sehingga tidak merusak lingkungan secara besar-besaran, tetapi malah menumbuhkan ekosistem yang menguntungkan bagi sejumlah sepesies (hewan dan tumbuhan) air tawar.
Manusia membangun bendungan dengan skala besar, sehingga ekosistem di hulu maupun di hilir bendungan berubah sama sekali, dan kadang pada arah yang salah (memutus migrasi hewan dan ikan antara hulu dan hilir, menghentikan kiriman sedimen subur bagi pertanian di hilir).
Menurut Dawkins, evolusi itu tidak terjadi pada tingkat organisme, tetapi terjadi pada tingkat molekuler, yakni gen (bahasa Inggrisnya : gene /dZi;n/). Gen adalah pembawa sifat-sifat keturunan, yang kerjanya adalah menggandakan diri. Penggandaan ini bisa terjadi bila kondisi lingkungannya memenuhi syarat. Dalam hal ini, penggandaan terjadi pada organisme. Organisme baru terbentuk kalau sejumlah besar gen bekerja sama menumbuhkan organisme tersebut. Maka sejumlah gen secara tak sengaja membentuk DNA, lalu kromosom, lalu berkolaborasi dengan enzim tertentu membentuk protein, jaringan, tubuh, mahluk hidup. Ini adalah kebalikan reduksi atau analisis, yakni produksi atau sintesis. Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Karbon, dan Fosfor membentuk asam nukleat, menjadi gen, menjadi DNA, menjadi kromosom, menjadi sel, menjadi organ, menjadi organisme.
Unsur kimia adalah zat mati atau tak bernyawa. Sampai tingkat gen, bahkan DNA, tentu saja masih tak bernyawa. Ketika menjadi sel, ia bisa menjadi hewan bersel tunggal. Ketika menjadi organisme, hidup, kita menyebutnya bernyawa. Kalau organismenya bernama manusia, maka ia juga akan punya paham atau agama. Paham atau agama juga punya sejenis gen. Namun untuk membedakannya dengan gen dalam biologi, Dawkins mengambil istilah mem (bahasa Inggrisnya: meme /mi;m/). Mem adalah ide dasar atau ideologi atau iman untuk suatu paham atau agama. Seperti gen (dalam ranah biologi), mem (dalam ranah ide atau pikiran) kerjanya menggandakan diri.
Penggandaan gen adalah peristiwa kimia, prosesnya rumit, namun akan berlangsung bila kondisinya terpenuhi, dan berlangsung konsisten. Seperti kalau hidrogen ketemu oksigen dan ada panas yang cukup, jadilah air, bukan yang lain. Namun gen adalah zat yang kompleks, sehingga kadang penggandaannya mengandung kesalahan. Gen duplikatnya tidak persis sama, sehingga membawa kode yang berbeda pula dari yang sebelumnya. Perbedaan ini bisa memberikan keuntungan kepada organisme di mana gen tinggal, atau merugikan. Inilah mutasi, penyebab evolusi.
Gen tidak bernyawa, tidak berpikir, tidak punya moralitas. Yang ia miliki cuma instruksi untuk menggandakan diri dan memberi pengaruh kepada keadaan dan atau sifat organisme yang ia tinggali. Manusia memiliki sekitar 20000 gen, yang bekerja sendiri maupun bersama-sama untuk membentuk penampilan dan sifat-sifat tertentu pada manusia. Ada gen atau kombinasi gen tertentu yang menentukan warna kulit, kombinasi lainnya menyebabkan sifat kurang sabar, lainnya lagi membuat dahi lebar, dsb. Kalau ada 20000 gen, maka paling tidak ada 20000 hal yang ditentukan oleh setiap gen dalam tubuh kita. Lantas kombinasi setiap 2 gen akan memberikan pengaturan 199990000 hal dalam tubuh dan sifat kita. Kombinasi 3 gen akan memberikan angka pengaturan sebanyak lebih dari 1,3 triliun hal. Jadi 20000 gen sudah cukup untuk menghasilkan perbedaan yang tak terhitung banyaknya. Gen dan susunan gen yang berbeda memberikan manusia yang berbeda. Tetapi dari 20000 gen yang ada, tidak semuanya benar-benar menentukan penampilan atau sifat seseorang. Sepertinya banyak gen yang sekedar ada. Dan gen hanya terdiri atas atom-atom Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Karbon, dan Fosfor.
Yang mengganda atau mereplikasi adalah gen. Bukan organisme. Organisme adalah kendaraan bagi gen untuk bisa menggandakan diri. Manusia adalah kendaraan, atau pabrik pengganda gen. Seorang anak mewarisi separuh gen dari ayahnya, separuh lagi dari ibunya. Gen ayah dan ibu bnyak pula yang sama. Dengan pola berfikir seperti ini, maka keberadaan gen tampaknya abadi, sekalipun dalam bentuk replika. Replika yang identik, kecuali yang mengalami mutasi.
Gen memang ikut musnah bila kendaraannya, organisme di mana ia tinggal, musnah. Tetapi replikanya ada pada keturunan organisme tadi. Bila gen tidak bermutasi, maka organisme generasi berikutnya akan merupakan replika dari gen kedua orang tuanya. Bila ada gen yang bermutasi, maka keturunan ini tidak lagi sepenuhnya keturunan kedua orang tuanya. Pada suatu waktu dua jutaan tahun yang lalu, lahirlah mahluk dengan mutasi gen yang berkembang menjadi mahluk cerdas yang sekarang paling berpengaruh di muka bumi. Sepupunya terus seperti sebelumnya, berbeda sedikit satu sama lain.
Hidrogen, oksigen, nitrogen, karbon, dan fosfor semula dimasak di dalam bintang. Mereka bertemu, berkolaborasi membentuk asam. Asam -asam ini berkembang menjadi gen. Gen berkumpul menjadi DNA. DNA membentuk sel sebagai pelindung dan pabrik penggandaan.
Lebih jauh, DNA pada organisme yang kompleks seperti manusia dan hewan juga mengatur jadwal tumbuh, reproduksi, tua, dan akhirnya mati. Pada mahluk yang seksual, gen, melalui DNA, mengatur periode penyempitan diri menjadi telur atau sperma, periode pertumbuhan menjadi organisme dewasa, kemudian kembali menyempit menjadi telur dan sperma untuk generasi organisme berikutnya. Tetapi gen-nya tetap sama, kecuali yang mengalami mutasi.
Gen adalah komponen yang menentukan arah evolusi.
Referensi:
The Origin of Species - Charles Darwin
The Selfish Gene - Richard Dawkins