Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

George Soedarsono Esthu

Menembus Batas Keunggulan Pioneer, Problem Solver, Inspirator To Live, To Love, To Serve Mengolah Kata-Mengasah Nurani-Mencerdaskan Hati selengkapnya

Sastra Kontemporer

OPINI | 12 December 2011 | 15:12 Dibaca: 877   Komentar: 20   3

13236558861788305283

Bagaimana sebuah karya bisa disebut karya sastra? Karena karya sastra adalah termasuk dalam karya seni, maka sebuah karya akan disebut karya sastra kalau ia memenuhi persyaratan-persyaratan yang sepesifik yang harus dimilki sebuah karya seni.

Seni adalah kristalisasi dari nilai-nilai artistik yang sublim.” Victor Hugo dalam buku:
Seribu Tahun Teater.

Kata “seni” sendiri telah diberi makna banyak. Dalam mukadimahnya pada Drama “Cromwell”, Victor Hugo (1827) penyair dari Prancis itu, menulis: “Seni itu suatu tinjauan, suatu lensa. Semua yang terdapat di dunia dapat dan harus dicerminkan di dalamnya. Dengan tongkat wasiatnya, seni, membongkar kembali sejarah, seni memberikan bentuk yang serentak bersifat puitis dan alami, mengisinya dengan unsur-unsur kebenaran serta kejayaan yang melahirkan ilusi… ilusi yang membangkitkan semangat para penikmat”.

Seni yang mampu menembus waktu, mengarungi zaman, dan melintasi universalitas, ternyata merupakan seni yang “kontemporer” secara substantif, bukan pada bentuk. Artinya bahwa isi menjadi sangat penting sebagai tulang punggung (the spine) yang menegakkan keberadaan seni itu sendiri agar tetap terus berlanjut membawakan misinya yang luhur.

Jika kontemporer adalah ideologi yang berpegang pada kekinian, maka seni kontemporer mestinya adalah sebuah karya seni yang kontekstual, yang maknanya harus memiliki nilai sebagai upacara bersama. Artinya seni itu sendiri harus mampu menguraikan problematik masyarakat bersama dan mencari jalan keluar bersama-sama.

Pada komunitas Bajra Sandhi, pimpinan Ida Wayan Oka Granoka: proses kreatif kesenian ditujukan kepada - dalam bahasa tradisinya imen-imen pulina - seni sebagai persembahan. Gerakan spiritual dan gerakan budaya melalui seni ini, menjadi inspirasi banyak orang untuk menyadari bahwa seni pertunjukan sangat berkaitan dengan teks sastra, bahwa seni Bali sangat membutuhkan disiplin, kemauan besar dan kerja keras yang menjadikannya tidak sekadar estetis, tapi juga sebagai penghayatan hidup.

Jadi, seni sastra yang kontemporer mestinya adalah seni yang mentransendenkan cita-cita masyarakat kekinian melalui ikatan batin yang dijalinkan lewat kisah tokoh-tokohnya. Ia mesti menjadi alat ekspresi persoalan-persoalan dan harapan-harapan masyarakat. Kalau demikian halnya, maka tugas sastra kontemporer tak lain adalah: mengenali, menggali, merekonstruksi, menganalisis, mengartikulasikan, mengkritik, mengapresiasi, mengemas, dan memediakan apa yang tengah menjadi kegelisahan masyarakat modern untuk paling tidak dicarikan jalan tengah emas, via media aura, melalui penyingkapan. Masyarakat modern harus dibantu mengatasi disfungsi komunikasi agar dapat menyandarkan diri pada Realitas Indonesia.

Sebaliknya sektor alamiah yang kaya ide dan perspektif penting didorong mengorganisasi diri, sehingga menemukan kambali élan vital-nya. Intinya, kekuatan sektor modern [infrastruktur] mesti dipersambungkan dengan kekuatan sektor alamiah [ide dan perspektif]. Di sini, sastra kontemporer diharapkan mampu menjadi mak comblang, perantara, untuk mengolaborasikan modernitas dan naturalitas agar mencuatkan ragam dan perspektif baru, menemukan bentuk komunikasi yang rekonsiliatif dalam lapangan kesenian, melunakkan kontras dan mendekatkan sentimental unsur dual, yaitu modernitas dan naturalitas, agar menjadi sebuah karya sastra yang mampu mengembalikan kesadaran masyarakat modern ke dalam sarangnya.

Dalam seni tradisi seperti wayang kulit, tugas sang dalang adalah untuk selalu memperbaharui tafsir dan cara mentransformasikan lakon (sanggit) agar selain enak ditonton juga kaya akan “piwulang”. Menjaga kontekstualitas dengan persoalan-persoalan makro maupun mikro telah mentradisi dari zaman ke zaman. Sehingga pertunjukan wayang kulit bisa dijadikan contoh alat yang sangat ampuh untuk mentransformasikan masalah-masalah masyarakat kontemporer. Di sana, prolog, logos, dan epilog telah terbakukan secara tradisi, tetapi anehnya malah mudah mencair dan masuk ke dalam ruang kontemporer dengan sangat mudah.

“Wayang, mempunyai peranan besar dalam mewujudkan rekonstruksi kosmis, selain cerita dan permainan. Wayang merupakan ritus konstruksi prahistoris dari sebuah negara dan masyarakat. Pertunjukan wayang dianggap merupakan rekonstruksi perwahyuan rahasia-rahasia semesta terhadap masyarakat yang menyelenggarakan wayang. Dalam pertunjukan itu, masyarakat mengingat kembali arwah leluhur yang telah mengatasi penderitaan-penderitaan dan kemudian hidup dalam alam kelanggengan. Menurut Prof Hidding, pertunjukan wayang bertujuan untuk mengadakan hubungan dengan kuasa-kuasa yang menguasai kehidupan. Dalang mengantar masyarakat penanggap beserta segala makhluk untuk berhubungan dengan para roh, kehidupan gaib dan dalam pewahyuan rahasia semesta alam, manusia memasuki perenungan yang mendalam tentang kehidupan.

Dalang dalam pertunjukan itu mempunyai peranan penting. Ia adalah penyaji refleksi kehidupan masa lampau, masa kini dan petunjuk untuk masa depan bagi masyarakat. Refleksi itu disampaikan kepada masyarakat (penonton). Dalang juga membeberkan kritik, ramalan dan analisis kepada masyarakat lewat lakon-lakon yang dipegangnya. Masyarakat mendengarkan uraian Ki Dalang, bukan sebagai mendengarkan orang yang pandai berbicara, melainkan lebih sebagai mendengarkan pewahyuan dari alam gaib tentang kehidupan yang sudah, yang sedang dan yang akan dialami masyarakat.”)1

Dalam khazanah tari jawa, misalnya, ada tataran penguasaan teknis dari tahap penguasaan birasa, birama, ke biraga. Dalam konstruksi teori: birasa hanya bisa dicapai melalui penguasaan tradisi, birama dicapai melalui penguasaan modernitas (metode yang efektif dan efisien), dan biraga memadukan keduanya. Pada proses ini akan terjadi ketegangan. Persoalannya bagaimana kita bisa meluruhkan ketegangan itu?

Caranya adalah melalui spirit budaya (tradisi) itu sendiri. Sastra kontemporer harus terus-menerus berusaha menumbuhkan konvensi, transformasi, rekonsiliasi, dan inovasi, baik secara teknis maupun dalam hal pengembangan wawasan. Dan di atas kedua gabungan itu, “sang penulis harus tahu apa yang terbaik yang bisa dia berikan kepada masyarakat dan negerinya yang dia kenal betul.

Bakat, ilmu, dan wawasan yang telah dimiliki akan tetap menopangnya di dalam menjalankan intelektualitasnya sebagai sastrawan. Sehingga, sastra yang dibuat lewat kesadaran semacam ini akan terasa dekat dengan negeri dan masyarakat dimana seorang seniman berfungsi menjadi teman seperjalanan mereka. Fungsi ekonomi mengikuti dari belakang.

Jika proses Menjadi Indonesia diasumsikan sangat ditentukan oleh dinamika sektor modern, dan jika sektor modern merupakan arena hegemoni yang selalu terbuka sepanjang zaman, maka hegemoni dapat menjadi salah satu strategi pokok mendorong tumbuhnya “campur sari” Kebudayaan Indonesia. Kekayaan ide dan perspektif di sektor “natural” yang sebagian besar mungkin telah berantakan atau terkoyak-koyak, mestilah diusung memasuki arus utama wacana di sektor modern.

Hanya soalnya, dalam modernisasi, kesukaran mencapai momen sintesis ini menghasilkan berbagai macam pengalaman negatif, seperti: alienasi, hilangnya makna, impersonalisasi, disorientasi, dan seterusnya. Dan ini sebenarnya sangat layak sebagai bahan baku sebuah karya sastra yang mau dekat dengan masyarakat.

Sastra kontemporer harus mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari gelombang pasang-surut manusia modern yang mengalami erosi makna, agar sastra bisa mengambil fungsi dan peran sebagai cerminan yang membawa sikap jujur tentang suatu masyarakat.  Sastra kontemporer harus menjadi wakil yang bisa menguraikan kepentingan dan persoalan spiritual manusia modern sehingga memenuhi fungsi sosial dan fungsi budaya masyarakatnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pesona Pasar Legi Kotagede: Kerukunan …

Sulfiza Ariska | | 19 December 2014 | 17:43

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 5 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 6 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 7 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 8 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: