Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hento2008

Praktisi Ayur Hypnotherapy dan Neo Zen Reiki. Menulis adalah upaya untuk mengingatkan diri sendiri. Bila selengkapnya

Salah Kaprah Arti: Ora et Labora…..

OPINI | 15 December 2011 | 13:39 Dibaca: 6127   Komentar: 2   0

Ora et labora selama ini diterjemahkan sebagai bekerja dan berdoa. Kebanyakan orang mentermahkan bekerja diringi doa agar apa yang dilakukannya berhasil. Jika pekerjaan yan dilakukan bertujuan untuk mencari duit, doanya juga bagaimana pekerjaan berhasil sehingga menghasilkan uang banyak dari pekerjaan. Pemahaman ini adalah pemahaman mereka yang belum memahami arti dan tujuan hidup.

Sementara bagi para suci dan mereka yang sudah memahami tujuan kehidupan mengartikan secara berbeda. Mereka bekerja untuk dunia demi memenuhi kebutuhan hidup dalam batas kewajaran. Badan bekerja di dunia, pikirn selalu terikat tujuan kehidupan. Lepas dari keterikatan dan kenyamanan duniawi. Going London looking Tokyo. Badan di dunia, pikiran senantiasa tertuju ke karya berdasarkan Ilahi. Selaras dengan semesta.

Mereka sadar seutuhnya akan 3 (tiga) hal (Sai Anand Gita by Sai Das, www.booksindonesia.com):

  1. Segala kekayaan yang diperoleh saat badan meninggalkan dunia, tiada satupun yang dibawa ke kubur.
  2. Kerabat dan teman dekat hanya bisa menemani sampai lobang kubur.
  3. Amal perbuatan lah yang akan menemani sampai di kubur. Ini juga yang menjadikan sebagai apa dirinya di kehidupan masa depan.

Bekerja semaksimal mungkin demia kebaikan dunia. Tidak mudah sebagaimana dikatakan namun dengan keinginan kuat (will power). Untuk menimbulkan keinginan kuat mesti dilandasi dengan kesadaran bahwa tujuan kelahiran adalah melepaskan ego. Ego inilah yang mendorong kelahiran kembali ke bumi. Keinginan, itulah yang harus dikurangi.

Keinginan terhadap segala sesuatu yang berkaitan untuk memperkuat eksistensi di dunia lah yang mesti dikurangi. Sehingga saat badan mesti ditinggalkan, pikiran tidak terbebani oleh segala sesuatu bersifat duniawi. Pikiran yang terpenuhi oleh hal duniawi menjadikan materi atau kualitas pikiran berat ke arah duniawi. Ia tidak ringan untuk melanjutkan perjalanan ke arah kemuliaan.

Mengurangi keinginan yang bersifat duniawi adalah pertama. Sering sekali cara pertama ini sangat berat. Karena berupaya untuk melawan. Padahal melawan sesuatu sama saja memberikan energi. Misalnya, ketika seseorang dengan mata tertutup diminta tidak membayangkan monyet berbulu kuning. Semakin berupaya tidak memikirkan, semakin terbayang seekor monyet berbulu kuning. Gunakan cara ke duadapat dipastikan lebih mudah.

Dan yang ke dua adalah dengan cara mengalihkan pikiran. Jika selama ini kita memikirkan diri sendiri, mari kita berpikir bagaimana agar lingkungan bersih. Ini demi keuntungan orang banyak. Pikkrkan bahwa segala sesuatu sumberdaya alam adalah milik anak cucu kita, kita hanya sekedar meminjam. Kembali pada membayangkan monyet yang tidak berbulu. Bayangkan monyet warna merah. Dengan sendirinya, monyet berwarna kuning tidak ada.

Badan berada di dunia, pikiran ke arah ilahiah. Itulah makna ORA ET LABORA……

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 16 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: