Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fertina Rizcha

FERTINA RIZCHA PRATIWI

Apa Yang Anda Ketahui Tentang Otak, Bakat dan Keberbakatan?

OPINI | 16 December 2011 | 13:52 Dibaca: 311   Komentar: 0   0

Kita tentu mengetahui bahwa otak merupakan organ tubuh manusia yang paling kompleks. Otak terdiri dari dua bagian yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Belahan otak kanan merupakan belahan otak yang berfungsi dalam hal berkreativitas sedangkan belahan otak kiri berperan dalam kegiatan motorik yaitu berhubungan dengan logika, bahasa, analisa, rangkaian dan matematika. Sebelumnya perlu kita ketahui bagaimana otak kita bekerja dan belajar untuk dapat melakukan pembelajaran dengan baik. Tanpa kita sadari namun selalu kita rasakan bahwa pusat ingatan kita, memori yang kita pelajari sejak kita baru lahir, saat ini, hingga di akhir usia kita kelak, tersimpan rapi dan siap dipanggil oleh otak kita.

Sel syaraf otak akan banyak berfungsi jika semakin banyak cabang sel yang tumbuh. Lalu bagaimana cara menumbuhkan cabang sel pada otak?

Penelitian baru mengemukakan bahwa kita juga bisa menumbuhkan sel-sel otak baru, setidaknya pada satu bagian otak yang disebut hipokampus. Pertumbuhan neuronal didalam hipokampus mungkin saja merupakan akibat dari adanya latihan, baik aktivitas fisik maupun ketika berpartisipasi dalam aktivitas berpikir yang kompleks, dan atau mendapat stimulasi mental yang intens.

Terdapat tiga tingkatan otak, yaitu:

Pertama, Reptilian brain (batang otak) merupakan lapisan otak yang paling dalam, berfungsi untuk mengontrol pernapasan.

Kedua, Sistem limbic (otak mamalia), dijuluki otak paleomaminalia sebagai pengendali aneka emosi dan terletak di lapisan tengah.

Ketiga, Neo-cortex (otak berpikir) atau otak neomamalia yang berisi muatan intelegensi dan penalaran. Neo-cortek ini terletak pada lapisan terluar.

Pembelajaran secara fisik dapat mengubah otak. Pengalaman-pengalaman baru dapat memberikan rangsangan terhadap otak.

Pengalaman baru dengan otak. Ketika otak menerima stimulus, proses komunikasi dari sel ke sel lain aktif. Jika otak merasa stimuli yang diterimanya itu tidak penting, maka informasi tersebut akan mendapat prioritas rendah. Sebaliknya, jika otak merasa stimuli yang diterimanya itu penting untuk ditempatkan dalam long term memory, maka potensi memoripun terjadi dan kuat.

Keberbakatan berbeda dengan bakat.

Bakat dibawa seseorang sejak lahir. Pemahaman terhadap keberbakatan merujuk pada kemampuan intelektual tinggi serta kreativitas yang merupakan ekspresi tertinggi keberbakatan. Potensi alami hingga berbuah bakat berhubungan dengan kecerdasan intelektual anak, meskipun tak selamanya anak berbakat memiliki IQ diatas rata-rata. Hal ini disebabkan terdapat faktor emosi yang ikut berperan untuk mengembangkan bakat yang dia miliki. Bakat tidak terbatas hanya pada satu keahlian, namun dapat berupa kecerdasan ganda yang dilandasi paradigma bahwa setiap manusia terlahir membawa potensi genius. Potensi genius tersebut yaitu kekaguman, curiosity, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas yang dapat diperoleh tanpa pendidikan formal sehingga tak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang menonjol pada satu atau beberapa jenis kecerdasan.

Disimpulkan bahwa bakat merupakan pembawaan seseorang sejak lahir, sedangkan keberbakatan dapat dikembangkan. Sebagai contoh, jika kita ingin bisa dalam hal bermain musik, maka dengan latihan secara kontinyu kita dapat memainkan alat musik.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa sebagai pendidik harus mengoptimalkan pembelajaran yang disejajarkan dengan bagaimana otak belajar atau sering disebut pembelajaran berbasis otak. Pendidik dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah hendaknya mengetahui dan memahami bahwa pentingnya memanfaatkan kedua belah otak untuk belajar dengan cara menyeimbangkan kedua fungsi otak dalam proses pembelajaran, baik dengan menggunakan musik maupun dengan berolahraga. Selain itu, pendidik harus mampu mengenali dan memperhatikan anak-anak berbakat untuk mengembangkan serta mengoptimalkan bakat yang dimilki peserta didiknya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: