Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Nashir

Si Tukang Static Mech

Laki-laki Adalah “Milik” Orang Tuanya

OPINI | 18 December 2011 | 06:45 Dibaca: 2485   Komentar: 6   0

Bismillaah……..
Seorang wanita, apabila ia telah dinikahi oleh seorang pria, maka ia(wanita tersebut) telah menjadi ‘milik’ suaminya. Ia harus lebih mengutamakan untuk ta’at kepada suaminya daripada kepada orang tuanya selama itu dalam perkara kebaikan.
“Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain, tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” [HR. Tirmidzi no.1159, syaikh Al Bani mengkategorikan sebagai hadits hasan shahih]

Hal senada juga pernah dibahas oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyya dalam Majmu Fatawa,
“Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib daripada taat kepada orang tua”

Satu hadits dari Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam- dan penjelasan ulama kabir di atas tentulah sudah cukup menjelaskan kepada kita akan kedudukan seorang suami dibandingkan kedudukan orang tua (bagi seoarang wanita/istri). Lalu, bagaimanakah posisi seorang istri jika dibandingkan dengan orang tua (orang tua si suami-pent). Siapakah yang mesti didahulukan haknya?

Dalam suatu hadits Rasul,
Suatu saat seseorang datang kepada Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- dan kemudian meminta izin untuk berjihad. Kemudian Nabi bertanya kepada orang tersebut, “Apakah bapak-ibumu masih hidup?” Orang tersebut menjawab “ya.” Maka Nabi bersabda, “Hendaklah kamu berbakti kepada keduanya.” [Riwayat Bukhari dan Muslim]

Berjihad merupakan perkara yang besar dalam agama Islam. Namun dari hadits tersebut dapat kita ketahui bahwa berjihad harus mendapatkan izin dari orang tua (kecuali ketika musuh sudah ada di tengah2 kaum muslimin,-pent).Hal tersebut menunjukkan betapa besarnya hak orang tua terhadap anak laki-lakinya.
Bagi seorang laki-laki, apabila bukan termasuk perkara yang fardhu ‘ain, antara orang tua dan istri, maka sudah menjadi suatu keharusan baginya untuk mendahulukan bakti kepada orang tuanya.  Namun, dalam urusan nafkah atau pemenuhan kebutuhan hidup, keperluan istri dan anak-anak harus didahulukan, setelah itu barulah orang tua kalau kebutuhan itu adalah kebutuhan pokok dan bukan perkara yang sifatnya dhorurat.

-Wallahu A’lam-

http://muhammad-nashir.blogspot.com/2011/12/laki-laki-adalah-milik-orang-tua-nya.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: