Artikel

Teori Evolusi Dawkins 2


REP | 18 December 2011 | 12:28 Dibaca: 153   Komentar: 17   Nihil

Selagi saya sibuk dengan autocad mencoba memenuhi deadline, dari waktu ke waktu BB saya tulat-tulit terima email.  Biasanya email dari kolega dan milis, tetapi dua hari terakhir datang dari Kompasiana, komentar atas postingan saya terdahulu dengan judul yang serupa.

Sebenarnya tidak lagi tepat disebut komentar (beberapa memang genuinly sekedar komentar), tetapi lebih berupa debat. Bukan pula debat mengenai artikel postingan saya itu. Tetapi, katakanlah, debat filosofis mengenai benar atau salahnya teori evolusi. Dua orang pro evolusi, dua orang anti (belakangan cuma seorang dari kubu anti yang aktif).

Saya sebut debat filosofis, karena kedua pihak tidak memaparkan data atau rincian apa salahnya dan apa benarnya. Gak mungkinlah memaparkan detail teori berumur dua abad pada ruang komentar. Jadi, dari 120an klik pada postingan saya, sebanyak itu pula postingan komentar berbalas debat, dari tiga kompasianer saja.

Untuk menentukan siapa menang (bukan benar) dalam suatu perdebatan, perlu juri. Hasil dari debat adalah menang atau kalah, bukan benar atau salah.

Untuk menemukan benar atau salah antara dua pihak yang bertikai, yang diperlukan adalah dialog menemukan kebenaran, atau dialektika. Masing-masing pihak mengajukan hipotesa untuk diuji, bila hipotesa dapat bertahan maka ia dilanjutkan dengan hipotesa yang lebih baik, dan seterusnya. Hipotesa yang terpatahkan juga diperbaharui. Hipotesa yang bertahan atau “terbukti” kebenarannya (sekalipun untuk wilayah yang terbatas, khusus, tidak universal) sudah berubah menjadi teori. Ini adalah prinsip Socrates empat abad sebelum masehi.

Prinsip Socrates dapat dianggap sebagai metoda ilmiah, yakni mempertanyakan segala sesuatu sampai ketemu bukti kebenarannya. Metode ilmiah ini menyebabkan ia dihukum mati karena tidak membuat senang 500 orang juri yang mengadilinya. Juri menganggap Socrates murtad.

Saya sendiri berada pada kubu pro evolusi tanpa meninggalkan agama yang saya anut. Beberapa yang berdiskusi dengan saya menganggap ini pendirian banci, karena mereka menganggap pro evolusi artinya ateis, seperti Charles Darwin, Richard Dawkins, dan Stephen Hawking. Sudah pasti saya tak layak disandingkan dengan orang-orang pintar itu. Saya adalah seorang montir (listrik, elektronika, mesin) yang sekarang menjadi tukang gambar. Menjadi montir tangannya kotor dan pegal-pegal, sehingga saya usahakan meninggalkannya sejak beberapa tahun yang lalu. Istri dan anak-anak saya masih memperlakukan saya sebagai montir tukang reparasi (kompor, mesin cuci, kipas angin, komputer, gitar, keran air, sepatu, whatever), sekalipun akhir-akhir ini saya lebih banyak menggunakan metoda ganti aja dengan yang baru. Tak ada yang keberatan sepanjang biaya saya yang tanggung.

Saya adalah seorang konformis secara sosial (beragama termasuk dalam wilayah ini). Tetapi saya juga seorang peminat sains. Seorang peminat sains yang latar belakangnya adalah montir (kata kerennya trouble shooter) tidak mesti jadi ateis, sekalipun beberapa orang (ekstrimis) menyebut saya banci dalam keyakinan.

Menjadi montir (trouble shooter) itu artinya bekerja dengan logika sampai ekstrim. Kalau tidak, bagaimana bisa menemukan masalahnya? Question everything, take measurements, observe every possible thing.

Sains dan teknologi sudah sampai pada titik yang kerumitannya tak terjangkau lagi tanpa buku petunjuk dan pelatihan. Ambil saja contoh dalam elektronika. Ada selembar PC Board seperti foto terlampir.13241852921744061434 Tak seorangpun yang dapat memastikan apa kegunaan dan bagaimana bekerjanya PCB tersebut hanya dengan sekilas pandang,  kecuali yang membuatnya. Karena saya seorang teknisi elektronika, dalam beberapa jam saya mungkin dapat memahaminya bila setiap IC terbaca identitasnya, dan PCBnya bukan multilayer, sehingga bisa saya gambar skematiknya.

Saya tak lagi dapat ememperbaiki pesawat TV modern yang rusak, karena tak ada skematiknya. Dulu, dua puluh tahun yang lalu, rangkaian pesawat TV begitu sederhanyanya, saya akan tahu kerusakannya dalam beberapa menit hanya dengan melihat tanda-tanda pada PCB dan mengukurnya. TV jaman sekarang, sekalipun ada skematiknya, isinya adalah kotak-kotak hitam dengan kaki berjumlah puluhan pada setiap kotak, membuat teknisi pemalas seperti saya jadi hoream (bahasa sunda: malas, gentar, tidak berminat).

Teori evolusi? Saya memahami teori evolusi seperti saya memahami cara kerja AC dari blok diagram-nya. Saya memahami cara kerja kompresor, mengerti sedikit mengenai mengembun melepaskan panas dan menguap mengambil panas, tahu Joule Thomson effect, maka kalau blok diagram-nya tidak sesuai dengan yang saya pahami, akan saya pertanyakan. Tetapi kalau blok diagram itu adalah blok diagram dari AC yang sudah jalan, maka saya harus mempertanyakan pemahaman saya mengenai AC.

Stephen Hawking memberikan gambaran mengenai alam semesta kurang lebih begini: tak ada-apa-apa, ada big bang (terciptanya materi, anti materi, waktu), hidrogen, bintang-bintang, helium, novae, supernovae, hypernovae, unsur-unsur  akibat fusi (tabel periodik), tatasurya, bumi (unsur, senyawa, asam amino, protein, bakteri), empat setengah milyar tahun, biodiversity, debat mengenai teori evolusi.

Teori evolusi dicerca oleh agamawan karena dianggap mengancam keimanan. Agama juga sudah  berkembang selama ribuan tahun, penuh orang pintar. Hanya saja premisnya bertolak belakang dengan Sains. Agama menuntut keimanan  (dilarang mempertanyakan), sedangkan sains menuntut bukti.

Anda bisa mempelajari suatu agama seumur hidup tanpa menjadi penganut agama tersebut. Anda bisa jadi ahli tanpa menjadi penganut. Yang ribet adalah orang yang menjadi penganut tanpa pengetahuan yang memadai. Yang ini  bisa jadi ekstremis, sebab keimanan bisa menjadi jastifikasi untuk tindakan atau ucapan apapun.

Begitu juga dengan sains. Saya merasa paham dan menghargai teori big bang bukan karena saya salah seorang peneliti mengenai hal itu, tetapi sekedar mengetahuinya dari buku,  artikel,  atau film  dokumenter yang mempoluperkannya. Maka saya menghargai teori evolusi. Yang ini bisa jadi ekstremis juga, dan emosi bisa menjadi jastifikasi untuk tindakan dan ucapannya.

Sampai sekarang masih ada yang percaya bahwa matahari mengelilingi bumi dengan dasar ayat-ayat dalam Quran, dan takut berdosa bila mempercayai yang sebaliknya. Sebagian juga masih percaya bahwa bumi ini datar.

Sebagian menganggap teori relativitas Einstein salah, sementara ia menggunakan GPS untuk navigasi. Satelit Navigasi menggunakan koreksi waktu berdasarkan teori relativitas.

Zaman sudah jauh lebih rumit dibandingkan zaman Socrates. Persoalan tidak lagi dapat dipecahkan hanya dengan debat atau dialektika filsafat seperti  di zaman Socrates. (FYI, Socrates tidak meninggalkan dokumen tertulis untuk ajaran dan buah pikirannya. Plato, salah seorang muridnya, yang menulis. Moga-moga ia tidak berdusta).


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: