Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Afaz

Achmad Fauzi - Hipnoterapis dan Pemerhati pendidikan, perkembangan sumber daya manusia. Saat ini sedang mengembangkan selengkapnya

Jangan Lupa dengan Kata Terima Kasih

OPINI | 21 December 2011 | 09:18 Dibaca: 268   Komentar: 6   1

Seakan-akan aku ini spesialis di bidang skripsi. Selalu aku yang ditunjuk menjadi pendamping mahasiswa S1 yang ingin penelitian skripsi di Sekolah ini. Umumnya mereka menggunakan metode kuantitatif dan berakhirlah dengan skala psikologi. Termasuk yang satu ini. Cewek ini sebutlah Neneng mahasiswa semester 12 di sebuah Universitas swasta kota S.

Dari pertemuan pertama, aku tahu Neneng tidak sedemikian menguasai penelitiannya. Aku juga tahu mahasiswa dibiasakan menulis dengan bahasa formal sehingga besar kemungkinan mereka akan mengabaikan pemahaman bahasa anak-anak.

Aku tahu mahasiswa semester atas seperti dia pinginnya cepat tuntas. Tapi kukatakan padanya bahwa jika dia ingin cepat-cepat, dia salah menjadikan sekolah ini sebagai populasi penelitiannya. Karena saya sebagai pendamping yang ditunjuk Kepala sekolah  akan meninjau ulang pemahamannya tentang penelitian dan perangkat alat pengambilan datanyanya itu. Sehingga umumnya mahasiswa yang skripsi butuh berapa kali pertemuan sebelum akhirnya bisa mengambil data. Kupersilahkan dia untuk memilih antara mengikuti proses itu atau mencari sekolah lain. Kusarankan dia untuk mengikuti proses karena dia akan banyak belajar lagi lagipula jika dia mencari sekolah lain kukatakan bahasa yang dia gunakan dalam skalanya akan banyak tidak dipahami anak-anak. Mereka mungkin akan tetap mengisinya tapi tak memahami maksud pertanyaannya. Dengan demikian data yang  perolehan tidak valid. Yang saya  lakukan adalah membantu kamu menghasilkan karya yang lebih baik. Toh masih ada jeda dua bulan sebelum sidang.

Kami melakukan berapa kali pertemuan memperbaiki skripsinya terutama skala yang dibuat tanpa dasar yang kuat. Kami merunut dari dasar teori sampai kenapa dia membuat indikator dan operasionalnya. Hampir semua isi skalanya kita ubah karena tidak sesuai dengan indikator atau bahasa yang kurang dipahami anak-anak. Selalu ku katakan padanya untuk bertanya kepada dosen pembimbingnya apakah isi skalanya boleh diubah. Kata dosennya terserah dia. Ku luangkan waktu setidaknya satu jam-an tiap pertemuan untuk membantunya. Bagiku pribadi, aku menyukai proses ini karena ini prosesku merecall memoriku dengan dosen pembimbingku dulu.

Bagiku mahasiswi ini kurang matang karena ada sikap-sikap yang secara etika atau mungkin tata krama kurang baik. Ketika skala sudah jadi. Kubilang padanya untuk menunggu kapan skala itu bisa disebarkan karena itu berarti harus koordinasi waktu dengan kelas-kelas yang bersangkutan. Tapi dia sedemikian tidak sabarnya selalu sms kapan bisa dan itu hampir tiap hari. Itu sangat menjengkelkanku. Ketika kusampaikan kekesalanku bisa kulihat tanggapan seorang anak kecil dalam tubuh dewasa. Masyaallah. Akhirnya selesailah pengambilan data itu.

Waktu berlalu , kutahu masa sidang skripsi sudah berlalu. Kuingatkan dia untuk memberikan hasil skripsinya ke sekolah. Keluarlah satu sms yang menjengkelkan .. dia bertanya siapa namaku karena dia lupa . Astagfirullah aladzim, ternyata ada yang semodel ini. Akhirnya dia datang juga memberikan skripsinya itu, sebentar sekali dan menyampaikan dia sudah lulus lalu dia pamit tanpa mengucapkan kata Terimakasih satu kalipun karena telah dibantu. Mungkin dia lupa……Aku beristigfar berulang kali. Kukatakan kepada pada pimpinan untuk tidak menerima mahasiswa penelitian skripsi dari Universitas X lagi.

Mungkin peristiwa semacam ini dihadirkan Tuhan untuk memberi peringatan untuk diriku juga agar bisa mengambil pelajaran dari sosok neneng untuk tidak diteladani.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Produksi Murah Jualnya Mahalan …

Gaganawati | | 23 October 2014 | 16:43

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 4 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 7 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 7 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 7 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 7 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 8 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: