Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Afaz

Achmad Fauzi - Hipnoterapis dan Pemerhati pendidikan, perkembangan sumber daya manusia. Saat ini sedang mengembangkan selengkapnya

Jangan Lupa dengan Kata Terima Kasih

OPINI | 21 December 2011 | 09:18 Dibaca: 264   Komentar: 6   1

Seakan-akan aku ini spesialis di bidang skripsi. Selalu aku yang ditunjuk menjadi pendamping mahasiswa S1 yang ingin penelitian skripsi di Sekolah ini. Umumnya mereka menggunakan metode kuantitatif dan berakhirlah dengan skala psikologi. Termasuk yang satu ini. Cewek ini sebutlah Neneng mahasiswa semester 12 di sebuah Universitas swasta kota S.

Dari pertemuan pertama, aku tahu Neneng tidak sedemikian menguasai penelitiannya. Aku juga tahu mahasiswa dibiasakan menulis dengan bahasa formal sehingga besar kemungkinan mereka akan mengabaikan pemahaman bahasa anak-anak.

Aku tahu mahasiswa semester atas seperti dia pinginnya cepat tuntas. Tapi kukatakan padanya bahwa jika dia ingin cepat-cepat, dia salah menjadikan sekolah ini sebagai populasi penelitiannya. Karena saya sebagai pendamping yang ditunjuk Kepala sekolah  akan meninjau ulang pemahamannya tentang penelitian dan perangkat alat pengambilan datanyanya itu. Sehingga umumnya mahasiswa yang skripsi butuh berapa kali pertemuan sebelum akhirnya bisa mengambil data. Kupersilahkan dia untuk memilih antara mengikuti proses itu atau mencari sekolah lain. Kusarankan dia untuk mengikuti proses karena dia akan banyak belajar lagi lagipula jika dia mencari sekolah lain kukatakan bahasa yang dia gunakan dalam skalanya akan banyak tidak dipahami anak-anak. Mereka mungkin akan tetap mengisinya tapi tak memahami maksud pertanyaannya. Dengan demikian data yang  perolehan tidak valid. Yang saya  lakukan adalah membantu kamu menghasilkan karya yang lebih baik. Toh masih ada jeda dua bulan sebelum sidang.

Kami melakukan berapa kali pertemuan memperbaiki skripsinya terutama skala yang dibuat tanpa dasar yang kuat. Kami merunut dari dasar teori sampai kenapa dia membuat indikator dan operasionalnya. Hampir semua isi skalanya kita ubah karena tidak sesuai dengan indikator atau bahasa yang kurang dipahami anak-anak. Selalu ku katakan padanya untuk bertanya kepada dosen pembimbingnya apakah isi skalanya boleh diubah. Kata dosennya terserah dia. Ku luangkan waktu setidaknya satu jam-an tiap pertemuan untuk membantunya. Bagiku pribadi, aku menyukai proses ini karena ini prosesku merecall memoriku dengan dosen pembimbingku dulu.

Bagiku mahasiswi ini kurang matang karena ada sikap-sikap yang secara etika atau mungkin tata krama kurang baik. Ketika skala sudah jadi. Kubilang padanya untuk menunggu kapan skala itu bisa disebarkan karena itu berarti harus koordinasi waktu dengan kelas-kelas yang bersangkutan. Tapi dia sedemikian tidak sabarnya selalu sms kapan bisa dan itu hampir tiap hari. Itu sangat menjengkelkanku. Ketika kusampaikan kekesalanku bisa kulihat tanggapan seorang anak kecil dalam tubuh dewasa. Masyaallah. Akhirnya selesailah pengambilan data itu.

Waktu berlalu , kutahu masa sidang skripsi sudah berlalu. Kuingatkan dia untuk memberikan hasil skripsinya ke sekolah. Keluarlah satu sms yang menjengkelkan .. dia bertanya siapa namaku karena dia lupa . Astagfirullah aladzim, ternyata ada yang semodel ini. Akhirnya dia datang juga memberikan skripsinya itu, sebentar sekali dan menyampaikan dia sudah lulus lalu dia pamit tanpa mengucapkan kata Terimakasih satu kalipun karena telah dibantu. Mungkin dia lupa……Aku beristigfar berulang kali. Kukatakan kepada pada pimpinan untuk tidak menerima mahasiswa penelitian skripsi dari Universitas X lagi.

Mungkin peristiwa semacam ini dihadirkan Tuhan untuk memberi peringatan untuk diriku juga agar bisa mengambil pelajaran dari sosok neneng untuk tidak diteladani.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 6 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: