Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yanto

Dosen FKIP Universitas Jambi

Empat Dosa Orang Tua Terhadap Anak

OPINI | 29 December 2011 | 23:06 Dibaca: 3783   Komentar: 3   1

Kebanyakan kita mendidik anak seperti orang tua kita dulu mendidik kita. Ada yang berhasil, tapi tidak sedikit pula yang gagal. Hanya saja orang tua banyak yang mengulang kesalahan yang dibuat orang tuanya dulu dalam mendidik anak. Setidaknya terdapat empat kesalahan atau dosa orang tua terhadap anak yang seringkali kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Memberi Label Buruk

Dosa yang pertama adalah memberikan label buruk pada anak. Secara tidak sadar orang tua sering melontarkan kata-kata yang merendahkan anaknya. Ungkapan “kamu malas, kamu bodoh, kamu tidak bisa diharapkan” adalah hal yang biasa kita temukan dalam keseharian. Orang tua secara tidak langsung memberi cap anaknya dengan cap yang sangat buruk yang mereka sendiri tidak berharap seperti itu. Namun kita adalah apa yang kita dan orang lain labelkan pada diri kita. Jika anak sering mendengar kata-kata yang merendahkan, ia akan hidup dengan membawa rasa rendah diri. Jika ia sering diberi cap pemalas, cepat atau lambat dia akan percaya bahwa dirinya memang malas. Bahkan yang lebih parah dia seringkali membuktikan pada sekelilingnya bahwa dia memang anak yang malas. Meski suatu kali dia berperilaku rajin, dia sendiri akan menganggapnya sebuah hal yang kebetulan.

Bayangkan betapa malangnya anak yang tumbuh dengan pikiran negatif seperti ini. Ia akan membawa seumur hidupnya label buruk pada dirinya tersebut. Padahal yang dibutuhkan seorang anak adalah kata-kata yang menyemangati dan membesarkan hatinya. Bukan sebaliknya. Mestinya anak diperlihatkan sisi positif dirinya, bukan bagian negatifnya. Anak yang menurut kita malas, barangkali punya kelebihan fisik yang kuat atau tangkas berolahraga. Harusnya bagian positif itulah yang sering kita ingatkan setiap saat kepadanya. Jangan lupa, setiap anak itu cerdas dan cerdas jangan selalu diartikan harus selalu rangking satu di kelas.

Membandingkan

Ini dosa lain yang tidak kalah berbahayanya bagi perkembangan anak. Orangtua teramat sering membandingkan salah seorang anaknya dengan saudaranya yang lebih baik atau anak tetangga yang lebih berprestasi. Ada orang tua yang mengatakan “Lihat tuh kakakmu, selalu juara kelas. Kamu 10 besar pun tidak.” Atau “ Tuh contoh anak Om Anton, diterima di UI. Kamu? Kuliah di jurusan nggak jelas!.”

Kita bisa bayangkan anak yang selalu dibandingkan dengan saudaranya yang menurut kita lebih baik. Ia akan hidup dalam perasaan tidak diterima oleh orang tuanya sendiri. Jika anak merasa seperti itu, dimana lagi mereka bisa berharap akan diterima. Sebab, orang yang tidak bisa bahagia di tengah keluarganya sendiri, maka dia tidak akan pernah bisa bahagia dimanapun. Kalau pun dia mencoba mencari sumber kebahagiaan di tempat lain, maka tempat lain itu biasanya adalah tempat yang berbahaya baginya. Maka jangan heran jika anak mencari kebahagiaan dengan alkohol, narkoba, seks bebas dan lain-lain. Sebab ia tidak pernah memperolehnya di rumah sendiri.

Memaksakan Kehendak

Mungkin kita punya tetangga yang anaknya les tujuh hari seminggu. Senin-Kamis les matematika, Selasa-Jum’at les bahasa Inggris, Rabu-Sabtu les piano. Sorenya bikin PR. Malam belajar lagi. Begitulah setiap hari. Anak yang masih usia SD atau SMP memiliki kehidupan seperti orang dewasa yang berkarir. Ia seperti punya kehidupan sendiri. Layaknya miniatur orang dewasa. Bahkan waktu bermainnya telah dirampas oleh berbagai les yang sebenarnya belum tentu bermanfaat ketika ia besar nanti.

Lucunya, orangtua berkilah bahwa itu keinginan si anak. Padahal menurut ahli psikologi, anak yang belum berusia 9 tahun, sebenarnya belum memiliki keinginannya sendiri. Keinginan mereka adalah keinginan orang tua nya. Celakanya, orangtua seringkali menuangkan keinginannya pada anak tanpa ia sadari. Bahkan secara tidak sadar, keinginan orangtua yang tidak kesampaian dalam kehidupannya di masa lalu, di balaskan kepada anak. Ada orangtua yang gagal kuliah di kedokteran, maka berharap sangat anaknya ada yang jadi dokter. Maka si anakpun dipersiapkan dari kecil. Memasukkan ke berbagai les, memanjakan dengan fasilitas mewah serta menyekolahkan ke sekolah-sekolah elit. Jika si anak tidak mampu, maka orangtuapun menggunakan berbagai cara agar cita-citanya tadi tercapai.

Apalagi sistem pendidikan kita memungkinkan untuk itu. Lihatlah berapa banyaknya pilihan les yang ada. Sekolahpun biayanya selangit. Di universitas juga lebih parah lagi. Konon untuk masuk kedokteran di Universitas Airlangga calon mahasiswa dikenakan biaya 800 juta. Biasanya inilah yang diinginkan sebagian orangtua. Dengan uang, mereka bisa membuat anak seperti keinginannya.

Menyuruh yang Tidak Dilakukannya

Perintah orang tua kepada anak sering tidak bermakna karena tidak adanya keteladan. Ada bapak yang melarang anaknya yang masih SMP merokok. Padahal ia sendiri menghabiskan dua bungkus rokok setiap hari. Ada ibu yang menyuruh anaknya belajar dan rajin membaca, sementara si ibu sendiri nyaris tak pernah lepas dari sinetron kesayangannya. Atau ada orangtua yang ingin anaknya menjadi anak yang shaleh, rajin shalat dan selalu mendoakan ibu bapaknya. Si anakpun disekolahkan di sekolah Islam yang bagus dan mahal. Namun di rumah si anak tidak pernah melihat ayahnya shalat. Paling sekali seminggu, Jum’atan.

Kalau seperti ini, tentu anak tak akan pernah seperti yang kita inginkan. Bagi mereka sebuah contoh nyata jauh lebih berpengaruh dari seribu kata-kata perintah tanpa keteladanan. Para pemimpin yang berhasil dalam sejarah adalah mereka yang satunya kata dan perbuatan. Lidahnya adalah hatinya, ucapannya adalah perbuatannya. Orang tua yang berhasil dalam sejarah juga adalah orang tua yang mengutamakan keteladan dalam mendidik anak.

Jadi, mari kita didik anak dengan hati serta keteladanan. Di kehidupan yang penuh dengan kebohongan dan ketidakjujuran, keluarga menjadi tempat utama anak-anak akan menjadi pelopor kebaikan. Baik bagi orang tuanya, bangsanya dan juga agamanya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 7 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 12 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 14 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: