Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Busri Toha

Lebih baik berbuat sesuatu yang berharga sekecil apapun, dari pada tidak sama sekali.

Tradisi Bersalaman di Madura Mulai Pudar

HL | 04 January 2012 | 05:18 Dibaca: 745   Komentar: 14   1

132566280455389868

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Bersalaman kepada kedua orang tua bagi anak-anak sebelum berangkat ke sekolah mulai terlupakan atau ditinggalkan. Anak-anak tidak lagi membiasakan sungkem sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah melahirkannya.

Anak sepertinya, bukan lagi memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebelum pergi mencari ilmu. Padahal, kebiasaan sungkem kepada kedua orang tua merupakan warisan nenek moyang masyarakat Madura, Jawa Timur. Bersalaman merupakan simbol pengabdian bagi anak kepada orang yang telah merawat dan mengasuhnya.

Konon, tempo dulu anak di Madura ketika akan berangkat ke Sekolah atau keluar dari rumah untuk bepergian demi kepentingan tertentu, selalu sungkem kepada kedua orang tuanya. Bahkan, jika akan pergi jauh, juga sungkem atau berpamitan kepada guru yang telah mendidiknya.

Lebih ekstrim lagi, jauh hari sebelum bepergian, anak sebelum berangkat telah memberitahukan kepada kedua orang tuannya. Tujuannya, agar di doakan dan memperoleh ridha dari orang yang telah mengandungnya selam sembilan bulan.

Namun, kini semua itu sepertinya nyaris tiada tersisa. Anak bukan lagi bersalaman dan sungkem kepada kedua orang tau dan guru saat akan bepergian. Ia rupanya lebih suka melambaikan tangan dengan dibarengi kata-kata “da mama, dan da papa”.

Lebih dari itu, dengan penuh senyum bangga sambil mengangkat tangan kanannya dan dikecupkan pada bibirnya sebagai tanda “kiss by”. Bukan lagi mengucapkan ” Assalamualaikum”. Itulah kenyataan yang terjadi pada anak didik kita saat ini. Anak lebih meniru kebiasaan yang ada dalam iklan dan film di televisi.

Memang, kebiasaan tersebut bukanlah tindakan yang salah dari seorang anak. Sama sekali tidak keliru. Tapi, kebiasaan ini telah menghilangkan kebiasaan lama yang tentu saja lebih terhormat. Kebiasaan orang-orang terdahulu, secara lambat laut ditinggalkan dan lebih mengutamakan kebiasaan baru, yang belum tentu lebih baik. Mengapa…?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Awul-awul”, Bursa Pakaian Bekas Murah …

Hendra Wardhana | | 18 December 2014 | 07:56

Aksi dan Reaksi dari Larangan Becak hingga …

Susy Haryawan | | 18 December 2014 | 06:59

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Mata Merah, Semerah Darah? Jangan Panik …

Patricia Constance | | 17 December 2014 | 23:35

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | 9 jam lalu

Sadisnya Politik Busuk Pilpres di Indonesia …

Mawalu | 11 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 12 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: