Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Busri Toha

Lebih baik berbuat sesuatu yang berharga sekecil apapun, dari pada tidak sama sekali.

Tradisi Bersalaman di Madura Mulai Pudar

HL | 04 January 2012 | 05:18 Dibaca: 661   Komentar: 14   1

132566280455389868

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Bersalaman kepada kedua orang tua bagi anak-anak sebelum berangkat ke sekolah mulai terlupakan atau ditinggalkan. Anak-anak tidak lagi membiasakan sungkem sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang telah melahirkannya.

Anak sepertinya, bukan lagi memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebelum pergi mencari ilmu. Padahal, kebiasaan sungkem kepada kedua orang tua merupakan warisan nenek moyang masyarakat Madura, Jawa Timur. Bersalaman merupakan simbol pengabdian bagi anak kepada orang yang telah merawat dan mengasuhnya.

Konon, tempo dulu anak di Madura ketika akan berangkat ke Sekolah atau keluar dari rumah untuk bepergian demi kepentingan tertentu, selalu sungkem kepada kedua orang tuanya. Bahkan, jika akan pergi jauh, juga sungkem atau berpamitan kepada guru yang telah mendidiknya.

Lebih ekstrim lagi, jauh hari sebelum bepergian, anak sebelum berangkat telah memberitahukan kepada kedua orang tuannya. Tujuannya, agar di doakan dan memperoleh ridha dari orang yang telah mengandungnya selam sembilan bulan.

Namun, kini semua itu sepertinya nyaris tiada tersisa. Anak bukan lagi bersalaman dan sungkem kepada kedua orang tau dan guru saat akan bepergian. Ia rupanya lebih suka melambaikan tangan dengan dibarengi kata-kata “da mama, dan da papa”.

Lebih dari itu, dengan penuh senyum bangga sambil mengangkat tangan kanannya dan dikecupkan pada bibirnya sebagai tanda “kiss by”. Bukan lagi mengucapkan ” Assalamualaikum”. Itulah kenyataan yang terjadi pada anak didik kita saat ini. Anak lebih meniru kebiasaan yang ada dalam iklan dan film di televisi.

Memang, kebiasaan tersebut bukanlah tindakan yang salah dari seorang anak. Sama sekali tidak keliru. Tapi, kebiasaan ini telah menghilangkan kebiasaan lama yang tentu saja lebih terhormat. Kebiasaan orang-orang terdahulu, secara lambat laut ditinggalkan dan lebih mengutamakan kebiasaan baru, yang belum tentu lebih baik. Mengapa…?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Mulai Terkuak: Penulis Soal UN “Jokowi” …

Khoeri Abdul Muid | | 18 April 2014 | 11:32

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 7 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 8 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 10 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: