Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

M. Syukur Salman

Seorang Guru Sekolah Dasar di Parepare, Sul-Sel. Telah menerbitkan 6 buah buku dengan genre berbeda.

Dukung Gemar Mengaji

OPINI | 05 January 2012 | 05:12 Dibaca: 198   Komentar: 1   0

Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji (Gemar Mengaji) yang dicanangkan oleh Kementerian Agama adalah sesuatu yang wajib mendapat dukungan pemerintah daerah dan masyarakat. Ini adalah program terobosan yang memunyai dampak positif luar biasa, apalagi dicanangkan oleh suatu kementerian yang tentu saja memunyai level yang sangat tinggi. Secara struktural, tentu hal ini merupakan sinyal yang kuat agar pemda tak ragu untuk menerapkannya di daerah masing-masing. Rentang waktu sekira satu sampai dua jam, 18.00 – 20.00 diharapkan TV jadi off. Pemerintah daerah harus aktif memberikan dukungannya melalui regulasi yang jelas sehingga ada sanksi bagi yang melanggar. Selain itu, orangtua tentu menjadi garda terdepan dalam menyukseskan program ini di rumah dan keluarga mereka masing-masing.

Program ini, murni untuk mengantisipasi semakin kencangnya arus pergeseran nilai yang dengan kasat mata silih berganti terjadi di negeri yang dulu dikenal religius ini. Regulasi sangat perlu dikeluarkan oleh pemerintah daerah, namun bukan berarti kembali memunculkan debat publik yang mengarah pada debat kusir (debat panjang lebar yang tak tentu tujuan) tentang baik tidaknya mengeluarkan regulasi tentang Gemar Mengaji tersebut, apalagi potensi di masyarakat telah banyak muncul, seperti TKA-TPA dan pengajian kampung yang masih tersisa. Meski tak ada satu kebijakan pun yang tanpa efek negatif, namun bukan masanya memperdebatkannya dengan mengandalkan logika dan kepiawaian berbicara, jika menyangkut moral dan etika anak bangsa.

Banyak pengalaman yang memperlihatkan beberapa dari “orang penting” negeri ini, menolak program perbaikan moral dengan berbagai alasan yang “masuk akal” dan sesuai “aturan” hanya untuk popularitas belaka dan sudah barang tentu melanggengkan kemaksiatan. Kita masih ingat betapa besar tantangan terhadap UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, sehingga yang berlaku saat ini hanya bagian-bagian yang kurang dapat diukur penindakannya, sehingga pornografi masih marak saja. Betapa tantangan kuat juga dialami Menkominfo dalam memproteksi situs-situs porno di internet. Sosialisasi pengajaran sex yang semakin vulgar pada generasi anak yang disertai berbagai alasan para ahli, membuat kita hanya dengan tenang menerimanya. Tidakkah terpikir oleh kita bahwa semua itu merupakan grand design dunia barat yang mengarahkan kita bangsa Indonesia juga berbuat seperti yang mereka lakukan yakni kebebasan tanpa batas. Mereka (dunia barat) terlanjur rusak moral dan etikanya sehingga menginginkan kita bangsa berbudaya ini, seperti mereka. Bagi umat Islam tentu sifat yang demikian sudah familiar sebagai sifat setan dan iblis. Setan dan iblis selalu berusaha mencari teman untuk bersama-sama mereka di negara pada akhir zaman.

Sudah waktunya eksekutif bersama legislatif untuk berbuat untuk daerah ini dengan mengeluarkan regulasi demi perbaikan moral, dengan mendukung Gemar Mengaji. Program ini tidak hanya harus disosialisaikan oleh Kementerian Agama, meskipun mereka memang sebagai institusi terdepan, tetapi semua pihak yang masih merasa memunyai hati nurani dan penghargaan kepada agama. Aktifitas sebagian besar masyarakat semakin hari akan disibukkan oleh urusan ekonomi, politik, dan lainnya yang tentu saja mengarah kepada ditinggalkannya urusan yang berkaitan dengan keTuhanan. Masyarakat modern adalah masyarakat yang memunyai manajemen waktu, termasuk penyediaan waktu untuk berbuat kebajikan. Luangkan waktu untuk khusus mendalami Kitabullah sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di dunia ini. Mematikan TV paling lama dua jam sehari harus menjadi kebiasaan yang mungkin satu dua hari sangat berpengaruh bagi sebagai masyarakat yang telah “terhipnotis” oleh box yang satu itu. Apalagi program TV saat ini di semua channel yang ada, sepertinya memang menempatkan acara-acara unggulannya termasuk acara anak, pada jam Maghrib.

Meski terkesan sederhana program Gemar Mengaji sangat potensial dapat mengubah moral etika anak bangsa menjadi lebih baik, sejalan dengan program pembinaan karakter bangsa oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Banyak dari kita yang berusia di atas 40 tahun masih merasakan betapa syahdu perasaan dimasa dulu masih giat-giat pengajian selepas Maghrib. Tidakkah memori kita masih mengenang waktu itu sebagai kenangan indah dan perlu untuk dihidupkan kembali. Anak-anak belum mengenal tawuran, balapan liar, minuman keras, dan sex bebas, karena mereka aktif bergelut dengan agama. Tentu yang paling kita harapkan sebagai makhluk ciptaan-Nya adalah bahwa rahmat dan hidayah-Nya tercurah pada kita semua, jika kita rajin membaca, mendengarkan, dan mengaplikasikan ayat-ayat-Nya melalui Gemar Mengaji tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelajaran Akan Filosofi Hidup dari Pendakian …

Erik Febrian | | 18 April 2014 | 10:18

Memahami Penolakan Mahasiswa ITB atas …

Zulfikar Akbar | | 18 April 2014 | 06:43

Kalau Sudah Gini, Baru Mau Koalisi; …

Ali Mustahib Elyas | | 18 April 2014 | 11:32

Mulai Terkuak: Penulis Soal UN “Jokowi” …

Khoeri Abdul Muid | | 18 April 2014 | 11:32

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 7 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 8 jam lalu

Senjakala Operator CDMA? …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Tips Dari Bule Untuk Dapat Pacar Bule …

Cdt888 | 10 jam lalu

Seorang Ibu Memaafkan Pembunuh Putranya! …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: