Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ti2qwinarti

Life is beautiful, isn't it? Menikmati hidup dengan terus bersyukur & tersenyum ^_^

Apel Merah atau Apel Hijau: Simbolisme 2 Kubu Pendidik (Guru) di Indonesia

OPINI | 06 January 2012 | 06:09 Dibaca: 234   Komentar: 1   0

Hari ini matahari malu-malu dipagut awan hitam, bilur air mulai menetes satu-satu disambut senyum bumi yang telah lama menanti dekapan hujan.
********
Diiringi nyanyian alam, kulihat  dua buah apel tergeletak di atas meja, merah dan hijau. Apel merah begitu menawan, bentuknya bundar sempurna, kulitnya segar berkilau dalam temaram senja ehm..tak heran bila dia khusus didatangkan dari negeri nun jauh disana, plus ada stiker “Best Quality Product” yang mengabsahkan betapa spesialnya si merah manis yang menggoda.

Sementara apel hijau, dengan bintik-bintik menghias kulit berbentuk agak lonjong, berasal dari ladang tetangga. Dari aromanya bisa kutebak dia baru dipetik…segar dan asam….sangat enak jika dibuat manisan atau pelengkap rujak kala hawa panas menyengat kulit….yummy!!
*********
“Selamat sore apel merah, engkau begitu rupawan…berbahagialah engkau yang telah dianugerahiNya berbagai kelebihan”
“Apakah aku nampak seperti itu hai manusia?” tanya si apel merah.
“Kamu bahkan nampak lebih istimewa!…asalmupun adalah negeri impian manusia”
“Di antara para pembangkang Tuhan?”
“Negeri kedamaian”
“Di antara para pengusung peperangan”
“Negeri kebebasan”
“Di antara kebobrokan moral”
************
“Dan bagaimana denganmu apel hijau? Warnamu adalah penggambaran surgaNya…bukankah asalmu dari ladang yang hijau royo-royo?”
“Di antara para pengagung kedigdayaan”
“Ladang yang subur”
“ Di antara para penyulut permusuhan”
“Ladang yang sejuk”
“Di antara ambigu iman”
***********
“Bukankah kalian adalah buah terpilih, hai apel hijau dan apel merah….yang terus bertahan di puncak pohon….terpatri kuat di antara ranting-ranting kehidupan. Kalian dipetik dengan kelembutan dan kesungguhan oleh tangan yang bertanggungjawab….yang telah meletakkanmu di keranjang….membawamu pulang…. dan disajikan dengan penuh kehormatan dan sampailah engkau di meja penuh rahmat ini?”

“Engkau bukanlah buah di antara ranting rapuh yang begitu mudah jatuh oleh terpaan angin nakal…lantas terinjak dan membusuk di perut bumi”

“Lantas siapa yang akan kau pilih hai cucu Adam?” si apel merah bertanya.

“Aku…..si merah yang menawarimu rasa manis seketika, tanpa kau bersusah payah mengolahku menjadi apa, cukup kau gigit dagingku… maka hilanglah dahaga dan laparmu…..atau engkau lebih menyukai si hijau asam segar yang memberimu kebebasan berkreasi dengannya?”

“Engkaulah penyebab Adam dan Hawa diusir dari surga?”

“Dengan ridho Tuhanlah kami menginspirasi Newton menemukan teori gravitasi yang ternama”

“Penyebab perang Troya?”

“Tapi kamilah simbol gadget termasyur di dunia manusia”

“Hai kau manusia…yang tadi begitu mudah mengelu-elukan kami…… tapi dalam sekejap malah menyalahkan kami atas hancurnya kaummu….buatlah keputusan sebelum kami layu dimakan usia”
***********
Hai manusia…jadi mana yang mesti kupilih…APEL MERAH atau APEL HIJAU?????
**********
Notes:
Apel merah adalah simbol rekan-rekan seniorku, para pahlawan tanpa tanda jasa, yang kini berhak menyandang gelar profesionalitas lewat selembar sertifikat@_@. Selembar sertifikat yang diikuti konsekuensi dan kecemburuan bahkan diantara kaummu sendiri.

Apel hijau ya tentu saja penulis & kroni2nya…fresh graduated tp asam…semoga kami ikhlas untuk dirujak, dijadikan manisan atau dijus dalam blender dunia pendidikan. Si apel hijau yang (baru) 5 tahun mencoba memahami dan terjun dalam dunia pendidikan di Indonesia …si apel hijau yang masih suka merantau dan berteman dengan nanas, pepaya, mentimun dalam pencarian jati dirinya…..si apel hijau yang merasa mulai berubah jadi kuning…moga2 idealismemu tidak dibengkokkan oleh lingkungan ataupun keinginan2 yang kau sebut sebagai kebutuhan………………….
*************

I really love green….so finally, I choose a green apple on the table!!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengupas Sisi Kemanusiaan Pasar Santa …

Olive Bendon | | 21 October 2014 | 05:56

Di Balik Pidato Jokowi: Stop Menuding Pihak …

Eddy Mesakh | | 21 October 2014 | 16:05

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Foto Gue Dicuri Lagi Bro, Gembok Foto Itu …

Kevinalegion | | 21 October 2014 | 07:41

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 6 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Ujung Galuh Bukan Surabaya?? …

Lintang Chandra | 7 jam lalu

Surat Terbuka untuk Bapak Presiden Joko …

Ading Sutisna | 7 jam lalu

Ketika Sungai Menjadi Tempat Pembuangan …

Hendra Mulyadi | 7 jam lalu

Berkurangnya Fungsi Pendidikan dalam Media …

Faizal Satrio | 7 jam lalu

Jangan Tantang Rambu Dilarang! …

Johanes Krisnomo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: