Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hamdiyatur Rohmah

I am a teacher, trainer, and author "Kelasku Laboratorium Kehidupan".

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru “PLPG”

OPINI | 06 January 2012 | 00:17 Dibaca: 772   Komentar: 0   0

PLPG UPAYA MENUJU PROFESIONALISME GURU

Sabtu 22 Oktober 2011, jadwal ujian ulang bagi peserta yang belum dinyatakan lulus baik UT (ujian Tulis), Ujian Praktek (UP), atau ujian keduanya. Saya hanya ingin bernostalgia sekaligus belajar mengkaji kebijakan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

Menjadi profesional dan diperhitungkan merupakan hal terbaik bagi seorang guru. PLPG adalah sebuah media yang diberikan pemerintah kepada para guru untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme saat membimbing siswa-siswinya. Pada bulan Juli 2011, saya berkesempatan menjadi salah satu peserta PLPG gelombang II. Membaca jadwal yang begitu padat, terasa cukup lelah sebelum menjalaninya. Namun, semangat belajar dan semangat profesinalisme memacu diri saya untuk mengikuti PLPG dengan baik dan benar. Meski saya tahu, seperti halnya siswa istimewa saya, mungkin saya akan mengalami kendala “jenuh” jika belajar hanya dengan metode duduk, diam, catat, hafal.

Pada hari pertama (yang saya ingat), kami diberi soal pretest untuk mengukur pengetahuan awal kami tentang beberapa mata pelajaran dan metode pembelajaran. Pretest tersebut terdiri dari 5 pertanyaan; ada soal matematika, soal sains (sistem pernafasan dan sistem peredaran darah), soal metode pembelajaran (PAIKEM), dan soal Pendidikan Kewarganegaraan. Saya merasa cukup mudah dalam menjawabnya. Sesudah pretest, jam kedua kami diberi materi Pendidikan Karakter disampaikan pak dosen dengan sangat bermakna. Pak Dosen yang sudah menyiapkan bahan di laptopnya terpaksa harus mengajar dengan metode diskusi langsung karena ada kendala teknis. Materi ini sangat menarik bagi saya, karena Pak Dosen dengan materninya tersebut mengingatkan semua peserta di ruangan itu, bahwa kami  adalah orang-orang yang  memiliki peluang untuk masuk syurga dengan mulus atau sebaliknya. Kami akan menjadi penghuni neraka karena apa yang kami ajarkan kepada murid-murid kami. Kajian Filsafat selalu menarik buat saya, apalagi yang berhubungan dengan Pendidikan karakter anak.

Pak Dosen menjelaskan: “Ketika seorang guru mengajarkan sebuah kebenaran, maka akan banyak murid-muridnya yang menjalankan pelajaran tersebut (minimal untuk dirinya) dan akan menyambungkan kebenaran itu kepada banyak orang. Sebaliknya ketika seorang guru menyampaikan sesuatu yang salah, maka sudah berapa siswa yang akan menyerap informasi dan menjalankan pelajaran itu, kemudian sudah berapa banyak orang yang juga dibagi informasi  yang “salah” tersebut. Si Guru tinggal menghitung berapa banyak dosa yang ia tanam ketika ia mengajar murid-muridnya. Itulah yang disampaikan Pak Dosen kepada kami para peserta, yang terdiri dari guru di sekolah Negeri dan sekolah swasta.

Kemudian, ada yang lebih menarik lagi ketika pak Dosen memberikan contoh sederhana tapi begitu mengena tentang bagaimana pendidikan karakter itu bisa tercermin dimana saja dan dalam banyak kondisi. Dan efeknya, terkadang tidak pernah kita pikirkan. Ketika di rumah misalkan, seorang anak menerima telpon yang mencari ayahnya. Dia menyampaikan kepada ayahnya tentang telepon tersebut, karena sedang mengerjakan suatu hal sang ayah menjawab “bilang saja ayah tidak ada”. Mungkin jawaban tersebut terasa biasa, namun secara tidak disadari hal tersebut sudah memberikan pelajaran “karakter” kepada si anak. Belum lagi ketika orangtua naik kendaraan bermotor bersama anaknya, tanpa memakai helm, menerobos lampu merah, dan melakukan beberapa pelanggaran di jalan raya. Hmmm, bukankah itu ajaran langsung tanpa teori??? Dan hal seperti inilah yang sangat mudah terekam oleh memori anak dan pada suatu kesempatan, si anak mungkin akan melakukan hal yang sama.

Materi ini sangat menarik, karena insyaAllah semua teori kebaikan sudah kita pelajari dan kita ketahui, namun untuk konsistensi pelaksanaan teori tersebut kita perlu selalu diingatkan dan mengingatkan diri sendiri. Apalagi kita seorang guru, guru adalah duta ilmu, duta karakter, duta amanah, dan duta kasih sayang. Nah, itu berarti profesionalisme guru yang tertinggi adalah ketika ia mampu dengan baik dan benar menjalankan tugasnya sebagai “duta” tersebut, membimbing siswa-siswinya dengan hati. Apa yang diajarkannya, bisa menjadi “cambuk” ketika si guru tidak menjalankan ajarannya dengan baik dan benar.

Materi Mata Pelajaran juga disampaikan para dosen yang ahli di bidangnya. Ada banyak hal yang mengagumkan yang disampaikan para Dosen. Meski ada pak Dosen yang cukup konvensional dengan cara pengajarannya. Setidaknya, itu adalah cermin yang bisa saya pakai untuk belajar menjadi lebih baik.

Pada hari kedua kami sudah mulai mendapatkan materi model-model pembelajaran inovatif, asesmen, dan media pembelajaran. Bertemu dengan banyak guru dari berbagai sekolah sangat menunjang pengalaman mengajar. Berbagi pengalaman dan metode pembelajaran sangat memungkinkan untuk kami menemukan pola baru dalam berinovasi dan menyiapkan media pembelajaran.

Materi yang tidak kalah menariknya dan menginspirasi para guru untuk lebih dekat melihat kondisi kelas adalah Penelitian Tindakan Kelas. Perencanaan pembelajaran para guru bisa menjadi sumber penelitian. Semakin banyak penelitian dilakukan, semakin banyak pula ilmu dan solusi yang ditemukan. Treatmen/tindakan yang diberikan guru terhadap suatu masalah yang terjadi di kelasnya adalah ilmu yang tak ternilai harganya. PLPG inipun menyediakan kesempatan untuk mengolah tindakan yang akan dilakukan seorang guru terhadap kasus yang dihadapi, menjadi lebih sistematis yang terencana.

Nah, yang menempati jadwal terpadat waktunya adalah ketika materi Pengembangan Perangkat Pembelajaran (PPP) seperti, pembuatan Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kisi soal, dan pedoman penilaian baik individu maupun kelompok. Ada banyak hal yang membuat saya pribadi terbantu dalam menunaikan tugas administrasi guru. Mengetahui bagaimana cara membuat Silabus dan RPP. Hal ini juga telah membuat daya inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran semakin tersistematisasi. Dan pada saat menghadapi siswa memang saya lebih yakin dan percaya diri untuk berkolaburasi ide, belajar, dan bermain bersama mereka. Meski terkadang perencanaan yang sudah dibuat kadang harus beralih di tengah proses, sesuai dengan kondisi siswa dan persoalan yang dihadapi hari ini.

Dengan siap silabus dan RPP, berarti media dan sumber belajar juga telah diperhitungkan. Apalagi model pembelajaran pasti sudah diinovasikan dengan berbagai bentuk kegiatan. Seperti prajurit yang siap perang, dengan percaya diri guru memasuki kelasnya dengan wajah berseri dan bahagia. Hal tersebut menjadi daya tarik secara psikologis bagi siswa-siswinya. Sebaliknya, kurangnya persiapan guru ketika hendak mengajar akan melahirkan suasana yang biasa, bahkan mungkin kurang apresiatif. Dan inilah kelas yang kurang menarik bagi siswa-siswi yang pada akhirnya juga biasa-biasa saja.

Di sisi lain, PLPG membuat saya belajar tentang “usaha keras”. Ada beberapa peristiwa yang sebenarnya sudah saya akses dari masa awal pelatihan sertifikasi di awal-awal tahun. Banyaknya peserta yang umurnya relatif tua, dengan kamampuan fisik dan kemampuan berpikir yang cukup terbatas. Mereka berupaya untuk berhasil dalam menjalani pelatihan, lulus dengan nilai yang baik dan akhirnya mampu menikmati sedikit tunjangan guna merencanakan kehidupan masa depan.

Ketika tugas pembuatan Silabus dan RPP diberikan untuk materi Peer Teaching, ada banyak yang merasa bingung. Mereka sampai rela lembur hingga pukul 02.00 dini hari untuk menyelesaikan tugas. Ada juga yang memanggil keluarga mereka untuk membantu mengerjakan tugas tersebut. Ada juga yang benar-benar hawatir tidak lulus, menangis dan cukup stress menghadapi kegiatan PLPG itu. Trenyuh melihat kondisi mereka, perjuangan mereka begitu luar biasa. Ada yang tidak bisa menggunakan komputer, tapi tetap membawa laptop karena salah satu syaratnya demikian. Akhirnya para mahasiswa membuka bisnis rental “musiman” untuk membantu mereka yang kesulitan mengggunakan komputer. Di sisi lain, ada juga yang cukup santai menjalani PLPG, copy paste data dari komputer terutama materi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), hingga sang dosen yang profesional dan jeli pasti mengembalikan data tersebut dan dibimbing lagi untuk memahami materi tersebut.

Banyak hal yang saya saksikan dan saya rasakan berada 9 hari bersama mereka. Saya hanya mau melihat dari sisi positif saja dengan upaya pemerintah ini. Meski tidak dapat dipungkiri ada banyak hal yang bisa dijadika bahan evaluasi. Tingkat kesulitan setiap individu berbeda, maka seharusnya sistem yang dijalankan seharusnya juga berbeda.

Ada banyak peserta yang nilai SUP (Skor Ujian Praktek), SP (Skor Partisipasi), STS (Skor Teman Sejawat), SHW (Skor Hasil Workshop), SAK (Skor Akhir Kelulusan) semuanya diatas rata-rata, namun harus mengulang Ujian Tulis (UT) karena nilai kurang. Saya jadi ingat masalah nilai Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa. Proses pelatihan dan usaha keras para peserta akan jatuh pada nilai UT dengan 4 soal deskriptif analisis yang memungkinkan setiap orang “urun rembug” dengan ide-ide pembelajaran mereka.

Bagaimanakah profesionalisme guru yang sebenarnya? Saya hanya ingin memotivasi diri saya dan para guru yang lain. Guru profesional adalah guru yang mampu menjadi inspirasi kebaikan bagi para anak didiknya. Melengkapi diri dengan semua perangkat prefesinalisme; rencana pembelajaran, referensi, asesment yang vali, dan lainnya. Karena profesi guru adalah amanah dan jalan yang dipilihkan Tuhan, maka tetaplah berusaha untuk menjalankan amanah dan menjalaninya dengan hati dengan sertifikat atau tanpa sertifikat dari pemerintah.

Semoga guru-guru profesional yang belum tersertifikasi akan segera mendapatkan pengakuan secara resmi dari pemerintah. Apalagi guru-guru yang pengabdiannya sudah puluhan tahun, para pahlawan tanpa tanda jasa. Bismillah ….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Terima Kasih Juga Untuk Ibu Ani Yudhoyono …

Gapey Sandy | | 20 October 2014 | 13:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Gajimu Bukan Segala-galanya …

Jazz Muhammad | | 20 October 2014 | 13:41

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



Subscribe and Follow Kompasiana: