Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sukiman

SUKIMAN MAHASISWA TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS MERCUBUANA JAKARTA

Sejarah Pengetahuan Bumi Bulat

OPINI | 09 January 2012 | 14:06 Dibaca: 4081   Komentar: 0   1

Sejarah Pengetahuan Bumi Bulat

Pada zaman dahulu tidak tau bahwa bumi itu bulat, karena mereka tidak sepandai pada zaman sekarang. Yang mereka tau hanya mempertahankan hidup dan bagaimana cara mereka hidup untuk tidak di ganggu oleh orang lain. Maka pada zaman dahulu siapa yang berjaya tau yamh kuasa, maka mereka menang dan menjadi penguasa. Pada zaman dahulu pemikir itu dimulai dari bangsa India kuno, Yunani kono, dan Eropa serta bangsa Arab. Mereka berlomba-lomba dan penasaran tentang bumi. Dan yang menariknya bangsa Cina menganggap bahwa bumi itu persegi dan langit adalah berbentuk bulat. Pada zaman Yunani kuno menyebutkan bahwa bumi itu bulat semenjak abad ke-enam sebelum masehi oleh Pitagoras. Akan tetapi pada zaman dahulu sebelum Pitagoras menyebutkan bahwa bumi itu datar. Dan dari zaman semakin berkembang maka pada zaman Aristoteles yaitu pada tahun 330 SM bahwa mereka sependapat dengan Pitagoras kalau bumi itu bulat dan juga memiliki banyak bukti yang empiris yaitu menunjukkan kebenarannya. Semakin lama pengetahuan bahwa bumi itu bulat semakin menyebar bahkan sampai ke kalangan intelektual Yunani kuno. Akan tetapi pada zaman dahulu juga banyak yang tidak setuju bahwa bumi itu bulat, karena semakin berkembang maka sebagaimana telah ditentukan oleh alat modern, bahwa bumi itu berbentuk bulat akan tetapi tidak bulat sempurna. Karena rotasi bumi pada porosnya yang membuat bahwa bahwa bagian tengah bumi sedikit lebih menggelembung dari kitub oleh karena itu bumi tidak bulat sempurna. Akan tetpi alat semakin canggih maka dengan kecanggihannya itu maka pengukuran dari satelit menunjukan bahwa bumi itu sedikit berbentuk seperti buah pir.

Walaupun pada zaman dahulu tidak secanggih dan modern tetapi hal itu tidak mempersulitnya, hal itu bias dilihat dengan pengamatan di Bumi hanya dapat melihat sedikit sekali potongan bulatan bumi dalam satu waktu, tidaklah mungkin mengetahui lewat pengamatan langsung kalau bumi ini cakram atau bola. Pitagoras mendasarkan keyakinannya pada pengamatan mengenai ketinggian bintang yang bervariasi di berbagai tempat di Bumi. Ia juga mendapat dukungan dari pengamatan bagaimana kapal lenyap di cakrawala saat ia pergi dari pelabuhan. Saat kapal datang ke pelabuhan, yang pertama terlihat adalah ujung atas layar kapal, kemudian layarnya dan akhirnya badan kapal perlahan terlihat. Aristoteles menambah bukti dari bagaimana bayangan Bumi terlihat di bulan saat gerhana matahari. Saat cahaya menyinari sebuah bola, ia menunjukkan bayangan yang sama. Para intelektual yunani lalu menghitung ukuran dan bentuk bumi. Mereka juga membuat sistem kisi terdiri dari lintang dan bujur sehingga hanya diperlukan dua koordinat untuk satu lokasi di bumi ini

Pada  zaman dahulu Filsafat Yunani juga menyimpulkan Bumi bulat karena menurut pendapat mereka, inilah bentuk yang paling sempurna. Hal itu juga di katakana oleh Erastothenes pada abad ke 3 SM juga memberikan bukti tambahan. Beliau saat itu bekerja di Mesir dan menemukan kalau sinar matahari memberikan bayangan yang berbeda di dua kota berbeda pada saat yang sama. Di kota Syene ia melihat sinar matahari tegak lurus pada jam X. Tapi di kota Iskandariah  ia melihat sinar matahari tidak tegak lurus, padahal jamnya sama. Bukan hanya jamnya yang sama, tapi tanggalnya juga sama, walaupun terpisah satu tahun lamanyaJ adi ada banyak cara mudah mengetahui bumi bulat bagi orang kuno: Menganggap kalau bulatnya bola adalah bentuk paling sempurna, Menganggap kalau bumi seperti bulan dan bulan mengalami fase-fase yang menunjukkan ia bulat, Pengamatan bedanya ketinggian bintang di berbagai lokasi, Pengamatan bedanya bayangan benda di berbagai lokasi, Pengamatan bayangan bumi saat gerhana matahari dan bulan, Pengamatan kapal yang datang dan pergi di cakrawala pelabuhan

Jadi kamu tidak perlu ke luar angkasa untuk memotret bumi seperti para astronot atau melakukan perjalanan mengitari bumi seperti Magellan. Dengan demikian, wajar kalau India kuno juga menemukan hal yang sama tak lama kemudian. Sebagai contoh, Rig Weda menulis tentang kemungkinan bumi berbentuk bulat. Teks ini kemungkinan besar dibuat pada abad ketiga SM. Sementara itu matematikawan India, Aryabhata pada 500 masehi membuat perhitungan keliling bumi sebesar 39,968 km.  Sama dengan yang ditemukan Erastothenes dan sains modern.  Begitu juga perhitungan Abu Rayhan al Biruni pada tahun 1000 Masehi. Jadi kita jangan kawatir tentang hal itu karena bukti dan kenytaan sudah diketahui. Apalagi pda zaman sekarang peralatannya semakin canggih dan moern sehingga semakin mudah para ilmuan ataupun masyarakat jadi lebih tau tentangbumi itu bulat tetapi tidak bulat seperti bola./

Referensi

  1. Aber, J. S. (2003). Alberuni calculated the Earth’s circumference at a small town of Pind Dadan Khan, District Jhelum, Punjab, Pakistan.
  2. Asimov, I.   How Did We Find Out The Earth Is Round.
  3. Cullen, C. “A Chinese Eratosthenes of the Flat Earth: A Study of a Fragment of Cosmology in Huai Nan tzu, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Vol. 39, No. 1 (1976), pp. 106-127 (107)
  4. Glick, Thomas F., Livesey, Steven John, Wallis, Faith (eds.): “Medieval Science, Technology, and Medicine: An Encyclopedia”, Routledge, New York 2005
  5. Martzloff, J.C. “Space and Time in Chinese Texts of Astronomy and of Mathematical Astronomy in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”, Chinese Science 11 (1993-94): 66-92 (69)
  6. Pingee, D. “History of Mathematical Astronomy in India”, Dictionary of Scientific Biography, Vol. 15 (1978), pp. 533?633 (554f.);
  7. Ragep, F. J. 2010. Astronomy. In Krämer, Gudrun (ed.) et al.: Encyclopaedia of Islam, THREE, Brill
  8. Rosenberg, M. 2010. Basic Earth Facts: 22 Essential Facts You Need to Know About The Planet Earth.
  9. Sagan, C. Cosmos: The Story of Cosmic Evolution, Science and Civilization (1980)
  10. Thurston, H.  Early Astronomy, (New York: Springer-Verlag),

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: