Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rossi Rahardjo

aku mencintaimu dengan caraku

Devide et Impera

OPINI | 13 January 2012 | 06:24 Dibaca: 18399   Komentar: 4   0

Apakah ini sebuah nasib atau kebodohan bangsa ini, bangsa Indonesia…? Bangsa yang disebut-sebut sebagai salah satu bangsa besar di dunia. Begitu mudahnya bangsa besar ini dipecah belah atau diadu domba. Apakah kita tidak pernah mengambil pelajaran dari sejarah, bahwa selama 350 tahun bangsa kita dijajah Belanda karena hal ini? Kita terpecah belah dan di pecah belah dengan politik yang bangsa Belanda menyebutnya devide et impera.

Devide et impera merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.

Di layar kaca televisi maupun media cetak, hampir setiap hari kita disuguhi berita-berita tentang perseteruan antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan, saling menuding, bahkan saling sikut dengan intrik-intrik politik yang mendekati kata “kejam”. Dan mirisnya, hal itu dilakukan oleh sesama anak bangsa, bangsa Indonesia. Inilah yang menjadi kelemahan kita sebagai bangsa yang mengaku berpendidikan tapi mampu diceraiberaikan keadaan. Bangsa yang mengaku berkembang dengan jumlah penduduk yang mayoritas miskin, dan tanpa jaminan kesehatan.

Sejarah mencatat, kedatangan armada Belanda kali pertama mendarat di Nusantara, tahun 1596, tepatnya di Pelabuhan Banten, dengan tujuan berdagang yang dipimpin Cornelis de Hautman. Namun pada saat itu Belanda gagal mendapatkan izin dagang. Belanda baru resmi mulai berdagang di Batavia tahun 1602, ditandai dengan berdirinya kantor pusat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda di Batavia.

Cerita VOC kemudian berkembang menjadi upaya penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Caranya, meneer-meneer Belanda menggandeng beberapa pribumi untuk menjadi karyawan mereka dan mengkhianati bangsanya sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba dengan raja lain yang pada akhirnya menimbulkan peperangan dan perpecahan bangsa ini.

Terdapat satu komunitas yang terus menerus berjuang untuk mempertahankan kedaulatannya, sementara di sisi lain berbaris komunitas yang sedang asyik menikmati rejeki hasil pengkhianatan. Lucunya, dengan enteng kita mengatakan semuanya akibat politik devide et impera. Selalu orang lain yang disalahkan dan bukan mengapa kita bisa diadu domba? Kata persatuan yang tergantung manis di kaki burung garuda yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika seakan terlupakan.

Kini devide et impera menjamah ranah olahraga Indonesia. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terpecah menjadi dua kubu. Polemik di tubuh PSSI menjadi santapan rutin beberapa hari ini, baik di media cetak maupun elektronika. Kubu PSSI yang dikomandani Djohar Arifin Husin terus mendapatkan perlawanan dari La Nyalla Mahmud Matalitti dan kawan-kawan yang notabene juga merupakan bagian dari PSSI. Ada kubu Liga Primer Indonesia (LPI) dan Liga Super Indonesia (LSI). Devide et impera….!!!

Bahkan politik pecah belah ini juga sudah mewabah di sejumlah klub sepakbola. Tengoklah bagaimana Persebaya Surabaya, PSMS Medan, Persija Jakarta terbelah menjadi dua kubu. Arema Malang lebih miris lagi, klub kebanggaan warga Malang berlogo kepala singa ini tercabik menjadi tiga kubu dan semua kubu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar.

Ketika negara lain sibuk membangung negaranya, kita malah sibuk bertikai, dan mirisnya dengan bangsa kita sendiri. Sangat mungkin dan pasti ada orang-orang tertentu yang ‘bermain’ dan memiliki kepentingan dalam usaha memecah belah PSSI. Kita tahu siapa mereka-mereka yang berada di belakang pertikaian ini. Mereka sengaja mengadu domba beberapa kelompok untuk meraih kepentingan dan keinginan mereka. Tahun 2014 tinggal beberapa saat lagi. Bisa jadi, politik pecah belah sengaja dilakukan oleh orang-orang tertentu untuk menggenggam tiket menuju gedung DPR atau bahkan kursi presiden yang akan ditinggalkan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sempat terbesit sebuah pemikiran, “Sampai kapan bangsa Indonesia bisa cerdas untuk tidak mudah dipecah belah. Apakah pengalaman dijajah dan diadu domba Belanda tidak cukup untuk dijadikan pelajaran…?” Mudah-mudahan kita segera sadar dan tidak terjebak dalam devide et impera gaya baru ini. *ROSSI RAHARDJO

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Lima Edisi Klasik 16 Besar Liga Champions …

Choirul Huda | | 17 December 2014 | 21:54


TRENDING ARTICLES

Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di …

Mawalu | 5 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 5 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 6 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 6 jam lalu

Hanya Butuh 22 Detik Produksi Sebuah Motor …

Ben Baharuddin Nur | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

7 Cara Ajaib! Memenangkan Lomba Vote di …

Giant Sugianto | 8 jam lalu

Aristan : Audit Dinas PU Sigi …

Geni Astika | 8 jam lalu

100 Hari Menuju Sakaratul Maut …

Ivone Dwiratna | 9 jam lalu

Dulu Soekarno Mengusir Penjajah, Sekarang …

Abdul Muis Syam | 9 jam lalu

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: