Artikel

Sari Oktafiana

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Iiving in the earth with reason, vision and missions...but I can't make every body happy.

It’s about Bridging and Nurturing the Youth


OPINI | 16 January 2012 | 14:08 Dibaca: 78   Komentar: 2   Nihil

1326697386479868522

Dalam tulisan kali ini saya ingin bercerita salah satu hikmah dan kebahagiaan yang saya rasakan sebagai seorang guru, pendidik yang setiap hari-jam demi jam bergumul di kelas dan sekolah. Saya jarang bepergian kemana-mana bila tidak acara khusus tentang sekolah, bila tidak ada acara outing, bila tidak acara ataupun event berupa workshop, seminar dan konferensi. Barulah setelah liburan kuhabiskan waktu-ku untuk belajar dan belajar meng-update ilmu lagi, dan keluar dari kotak-ku. Dengan tujuan merefresh dan mere-charge energy, ilmu sebagai guru untuk terus dibagikan ke anak didik. Bila sebuah cerita itu genuine, pastilah dengan antusias kita bercerita dan insyaallah anak didik yang mendengarkan juga akan antusias.

Kali ini bercerita tentang kisah suka menjadi seorang guru, dikelas..adalah habitat guru. Bersama murid belajar. Bukan hanya belajar tentang ilmu pengetahuan belaka tetapi belajar tentang kehidupan yang sebenar-benarnya.

Karena sejak jam 07.30 hingga sore di kelas, teman interaksi terbanyak adalah murid, salah satu hal yang kita pelajari sebagai guru adalah karakter, bakat yang dimiliki oleh siswa.

Tentang bakat, minat bisa terbentuk maupun tidak, dalam artian bakat bisa terkondisikan dan bakat bisa terbentuk secara alamiah. Tentang bakat, salah satu tugas guru adalah menemukan potensi terbaik siswa. Tugas-tugas dalam kegiatan pembelajaran harus didesain untuk menemukan bakat dan potensi siswa yang masih terpendam. Tugas fasilitasi akan penemuan bakat bisa ditemukan guru dengan proses alamiah..interaksi selama belajar-mengajar di sekolah baik di jam pelajaran di kelas dan di luar jam belajar di sekolah. Salah satu saran saya sebagai guru, yang bisa saya bagikan adalah merancang lesson plan yang berpusat pada siswa (student centre learning), menerapkan cooperative learning serta merancang pelaporan tugas dengan model open ended task.

Selain itu, program maupun event yang diadakan oleh sekolah termasuk salah satu cara untuk menemukan bakat dan potensi yang dimiliki oleh anak didik kita. Kegiatan olahraga, seni, perayaan berbagai macam event pesta kehidupan adalah media dan sarana pembelajaran bukan sekedar kognitif belaka tetapi lebih dari pada itu, pendidikan dan mendidik dalam artian yang sebenarnya.

Bagaimana dengan karakter? Salah satu karakter yang ingin saya bahas adalah leadership. Sekian waktu berada di kelas, di sekolah selama interaksi saya bisa merasakan dengan jelas dan melihat suatu potensi anak didik akan leadership. Apalagi saya pribadi, yang mengajar anak didik sejak mereka dini, membuat guru mampu melihat jiwa dan kemampuan leadership yang dimiliki oleh siswa.

Tidak semua siswa mampu dan berani menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin adalah kemampuan membuat sistem dan melakukan managemen pada sebuah komunitas. Kemampuan untuk memimpin orang dan dipercaya oleh banyak orang. Kemampuan menyuarakan suara, aspirasi, pendapat banyak orang untuk menjadikan kebijakan yang setidaknya bisa mewakili kepentingan hidup bersama.

Hal ini membuat saya teringat akan seorang murid, dimana saya mengajarnya dan mengenalnya dengan baik sejak dia menduduki kelas 9. Murid tersebut bernama Astrid, dimana hari ini adalah ulang tahunnya. Dia genap berusia 18 tahun, sebuah masa untuk menuju usia kedewasaan. Dimana dengan menulis ini adalah sebagai salah satu hadiah ulang tahun yang bisa saya berikan untuknya.

Astrid, terkenal dan yang saya kenal sebagai sosok yang kritis, keras dan berkarakter kuat. Dia sejak kelas 9, telah mampu mengkritisi akan proses pembelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Cerdas, rajin mengerjakan tugas, bertanggung jawab dan berani walaupun kadangkala agak keras kepala tetapi saya bisa melihat leadership pada sosok astrid. Dia teruji dan mau bekerja ketika terdapat urusan-urusan yang berkaitan dengan kelas dan teman-temannya. Persoalan musuh-teman-ada orang yang menerima-ada orang yang membenci-mengolok itu sudah menjadi resiko seorang pemimpin. Karena kadangkala seorang pemimpin itu tidak mungkin bisa menyenangkan banyak orang. Tetapi lebih mengedepankan kepentingan bersama diatas kepentingan-kepentingan individu.

Saya cukup bisa melihat kemampuan astrid, ketika memimpin musyawarah dengan teman-temannya. Dan sebagai gurunya yang sekaligus menjadi sahabatnya berbagi dalam mengambil keputusan-keputusan. Bahagia ketika melihat  Astrid mampu mengambil perannya dalam organisasi di sekolah yaitu OSIS dan dia sebagai wakil ketua OSIS dengan 2 murid saya yang lain yaitu Edward dan Sofian. Kedua anak, yaitu Edward dan Sofian juga anak-anak dimana sosok leadership itu mampu saya temukan pada pribadi mereka. Kemampuan meng-handle orang dan tugas yang bisa saya lihat pada diri Edward dimana saya mengajarnya sejak di kelas 8. Dan akhirnya setiap even-even sekolah yang berkaitan dengan koordinasi siswa saya serahkan pada Edward.

Okay..being teacher dan the life of school, it is about bridging and nurturing the youth..Mengajar ibarat usaha dan proses menemukan potensi “emas, mutiara” yang dimiliki oleh setiap siswa…Apapun kondisi anak, mereka tetap memiliki potensi terbaiknya dan marilah kita temukan, mempeliharanya, dan mempertumbuhkannya

Mari kita tanamkan hal baik dan nilai-nilai kehidupan yang universal pada mereka..dan bila pun menemukan sosok-sosok leadership pada anak-anak marilah kita rawat, fasilitasi dan pertumbuhkan potensi mereka.

Salam belajar dan berkarya!

Happy birthday Astrid!..raih dan wujudkan cita dan cintamu..

Salam dari yogya,

16 January 2012

Sari

Sumber gambar:

http://www.school-clipart.com


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: