Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agus Prasetyo

PPKn UMS. Kota Boyolali. Membumi dan Membumi...

Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Al-Huda Doglo Boyolali

OPINI | 18 January 2012 | 21:33 Dibaca: 1578   Komentar: 2   0

13268754221034257713

Pondok Pesantren merupakan suatu lingkungan yang menjadi pusat komunitas santri dalam menjalankan kehidupan sosial dengan bakti sosial kemasyarakatan, keagamaan dan keilmuan. Semua itu merupakan faktor pendorong utama sebagai dasar universal dalam mendidik sikap manusia Indonesia modern yang berlandaskan jiwa keimanan dan ketaqwaan. Pondok Pesantren Al Huda didirikan oleh Habib Ihsanudin, seorang ulama yang bertempat tinggal di Dusun Doglo Desa Candigatak Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah. Komplek Pondok Pesantren Al Huda terletak di Dusun Doglo Desa Candigatak Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah. Komplek Pondok Pesantren Al Huda terletak 950 meter dari jalan raya besar (Jalur Solo-Semarang). Posisi demikian memang dirasa kurang strategis, namun untuk menuju ke area komplek bisa memanfaatkan jasa ojek ataupun dengan berjalan kaki bagi pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Tempat tinggal Kiai Habib Ihsanudin menjadi satu komplek dengan penginapan santri putra dan putri. Kiai Habib Ihsanudin tinggal bersama keluarga di tempat tersebut. Komplek Pondok Pesantren Al Huda terdiri dari beberapa bagian pokok. Bagian pokok itu adalah tempat tinggal pengasuh pondok pesantren, tempat menginap santri, tempat beraktivitas santri dalam belajar ilmu agama dan tempat santri belajar ilmu umum (Taman Kanak-kanak, Pendidikan Anak Usia Dini, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiah, Sekolah Menengah Kejuruan, Madrasah Aliyah dan Taman Pendidikan Al Qur’an). Posisi Pondok Pesantren Al Huda memang terkesan jauh dari jalur strategis (jalan raya Solo-Semarang). Lokasi yang jauh dari jalur strategis tersebut ternyata tidak mempengaruhi eksistensi pondok pesantren. Pondok Pesantren Al Huda sudah dikenal, setidaknya se-Kabupaten Boyolali. Papan nama yang dipasang di pinggir jalan besar (Solo-Semarang) juga membuat orang-orang yang belum mengetahui keberadaan pondok pesantren menjadi terbantu.

Kiai Habib Ihsanudin sebagai pengasuh Ponpes Al Huda dilahirkan di sebuah dukuh terpencil lereng Gunung Merapi pada tahun 1943. Dukuh Doglo Desa Candigatak Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali adalah tanah kelahiran Kiai Habib Ihsanudin. Kiai Habib Ihsanudin adalah putera dari seorang ayah bernama Wirosuharjo Dipo atau yang lebih dikenal dengan nama Ihsanudin (1901-1980) dan ibu Siti Aisyah (1915-1990) dari Karang Gondang, Boyolali. Habib Ihsanudin memiliki saudara kandung, yaitu Moh. Dimhari, Mus’idah, Fatimah dan Badriyah. Kiai Habib Ihsanudin dilahirkan dalam masa-masa sulit era pendudukan Jepang. Habib kecil mengalami konsentrasi pendidikan yang ketat dari sang ayah. Penanaman nilai hidup sederhana diterapkan dari sang ayah yang seorang lurah pada masa itu. Kepemimpinan sang ayah membawa konsekuensi yang tidak ringan bagi keluarga, terutama persoalan ekonomi. Sumber-sumber ekonomi sebagian besar digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial dan pembangunan desa, tetapi tidak digunakan untuk keluarga ataupun anak-anaknya. Keinginan sang ayah yang keras agar putranya berhasil menjadi orang dan meneruskan cita-cita perjuangan, menjadikan Habib kecil berjuang untuk menjalani kehidupan penuh gemblengan.

Habib ketika kecil sudah harus mendapatkan tugas menuntut ilmu, baik pendidikan formal ataupun pendidikan agama di pondok pesantren. Seorang ulama besar bernama Mohammad Siraj dari Kampung Panularan Solo yang mengisi sebagian besar kehidupan Habib di masa kecil dengan pelajaran ilmu agama. Karir pendidikan formal Habib Ihsanudin dimulai dari Sekolah Rakyat I (SR I) di Desa Candigatak, namun hanya dilalui hingga kelas 3. Desakan Mohammad Siraj ketika itu untuk memondokan Habib, membuat Habib harus berpindah sekolah ke Boyolali sembari menjalani pendidikan di pondok pesantren milik Kiai Masyud hingga tamat. Perjalanan Habib dalam menuntut ilmu harus dilalui dengan penuh perjuangan. Berbekal ijasah Sekolah Rakyat I, Habib melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah di Solo. Bersamaan dengan sekolah formal tersebut, Habib berguru dengan Kyai Mohammad Siraj kurang lebih selama 2 tahun. Kyai Siraj kemudian memindahkan Habib ke Pondok Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan Solo pimpinan Kiai M. Umar untuk memperdalam ilmu Al Quran.

Tamat dari Madrasah Tsanawiyah, Habib meneruskan pendidikan ke Jawa Timur. Pondok pesantren yang dituju ketika itu adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang dan Al Islah Kediri. Habib juga bersekolah di Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri yang berada di Kauman sebelah barat alun-alun Kediri. Usaha yang keras dan perjuangan hidup yang penuh pengorbanan ternyata tidak sia-sia. Selepas masa pendidikan berhasil dilalui, Habib Ihsanudin dipaksa oleh keadaan yang menuntutnya segera menyebarluaskan ilmu yang telah diserap. Tuntutan itu tidak bisa dielakan oleh Habib Ihsanudin.

Keadaan sosial dan keagamaan yang memprihatinkan hati, mengobarkan semangat dakwah yang luar biasa. Berawal dari kegigihan Habib Ihsanudin untuk menimba ilmu, akhirnya Habib pulang ke kampung halaman setelah 11 tahun (1952-1963) menjalani pendidikan di luar kampung halaman. Banyak sanak keluarga dan kawan-kawan Habib yang menyambut kedatangan dan berkumpul menantikan kepastian Habib untuk mengabdi di kampung halaman. Dakwah yang dilakukan Habib Ihsanudin di tengah-tengah masyarakat awam ketika itu awalnya hanya diminati beberapa orang saja. Lambat laun akhirnya dapat menyebar luas. Hal itu tidak terlepas dari kreatifitas dan pendekatan kultural dalam melakukan dakwah. Ada beberapa media dan cara yang digunakan Habib Ihsanudin untuk menyebarluaskan nilai-nilai Keislaman kepada masyarakat luas. Media dan cara yang dilakukan diantaranya melalui seni, olahraga dan pendekatan dialogis.

Kepulangan Habib sebenarnya hanya untuk melepas rindu, namun harus berubah karena desakan dari keluarga dan kawan-kawan. Saat itu Habib Ihsanudin diminta untuk menularkan ilmunya dengan memberikan pengajian kepada anak-anak di kampung. Pengajian yang diadakan oleh Habib Ihsanudin ketika itu mendapatkan simpati dari masyarakat sekitar. Banyak putra-putri yang berasal dari dalam ataupun luar desa Doglo mengikuti pengajian yang dilakukan di Masjid Doglo tersebut. Desa Doglo ketika itu belum memiliki tradisi pendidikan ala pondok pesantren. Aktivitas pengajian yang dilakukan Habib Ihsanudin sangat mengundang motivasi dan menarik minat warga. Hari demi hari jumlah jamaah yang mengikuti pengajian semakin banyak dan melebar keberbagai kalangan. Mengingat kebutuhan pengajian yang semakin luas, Habib juga meluangkan waktunya untuk melakukan pengajian keliling ke penjuru Kabupaten Boyolali.

Melihat perkembangan jumlah peserta yang mengikuti pengajian semakin bertambah, atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat termasuk Ihsanudin (ayah Habib) berusaha merealisasikan bangunan pendukung seperti tempat memondok. Ternyata respon beberapa tokoh desa Doglo juga cukup baik, terbukti dari partisipasinya dalam memberikan atau mewakafkan tanah untuk tujuan tersebut. Ihsanudin (ayah Habib) mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun masjid. Tetangga Habib juga berpartisipasi dalam memberikan wakaf. Samsuri mewakafkan tanahnya untuk pondokan putri. Bangunan madrasah telah berdiri di atas tanah wakaf pemberian Ahmad Juki. Mohammad Hadi mewakafkan tanahnya untuk membangun pondokan putra. Peran masyarakat secara lebih luas adalah dengan memberikan tenaganya untuk bergotong royong.

Seiring berjalannya waktu, Habib Ihsanudin menjadi tokoh yang tidak bisa dilepaskan begitu saja sebagai salah seorang pilar kekuatan ulama di Boyolali. Habib sebagai kader muda saat itu telah mendapat kepercayaan dari masyarakat dengan memberikan kesempatan kepada Habib Ihsanudin untuk mengemban tugas sebagai wakil rakyat pada tahun 1971. Kepercayaan mengemban tugas sebagai wakil rakyat tersebut berjalan hingga tahun 1992. Hingga saat ini Habib Ihsanudin masih aktif sebagai sosok ulama dan menjadi panutan bagi sebagian besar tokoh masyarakat di kota Boyolali.

Pondok Pesantren Al Huda diresmikan oleh Kiai Toha Muid pada tanggal 20 Agustus 1969 bertepatan dengan tahun ke enam pengajian yang dilaksanakan oleh Habib Ihsanudin. Toha Muid adalah seorang ulama yang menjadi guru Habib Ihsanudin saat di Jawa Timur. Nama Al Huda sendiri adalah pemberian Toha Muid. Perkembangan selanjutnya adalah mengusahakan agar pondok pesantren ini bisa eksis secara mandiri tanpa bantuan pihak luar. Eksistensi Pondok Pesantren Al Huda hingga saat ini masih tetap bertahan. Ada semacam pembagian tugas di antara Kiai Habib Ihsanudin dengan sang istri. Tugas-tugas yang berkaitan dengan pengelolaan pondok ditangani oleh ibu Zaenab Habib, sementara tugas-tugas pengembangan dakwah dan hal-hal yang bersifat keagamaan diemban oleh Kiai Habib Ihsanudin. Dapat dikatakan bahwa Zaenab Habib juga memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan dan eksistensi Pondok Pesantren Al Huda hingga saat ini.

Kiai Habib Ihsanudin adalah sosok kepala keluarga yang sangat menjadi panutan. Tidak tanggung-tanggung, penghargaan sebagai juara 1 keluarga teladan se-Indonesia pernah didapat keluarga Kiai Habib Ihsanudin. Kiai Habib memiliki seorang istri, yakni Zaenab Habib. Ibu Zaenab dikenal sebagai sosok yang sangat berperan dalam perkembangan Pondok Pesantren Al Huda. Berbekal ilmu yang didapat dari bangku kuliah ketika menimba ilmu di Fakultas Hukum Islam UNNU (1971), Zaenab mengelola Pondok Pesantren Al Huda. Pernikahan Habib Ihsanudin dengan Zaenab dikaruniai enam orang anak, yakni Hilma A’yunina (1972), Zulfa Nahdiana (1974), Annina Kumala Dewi (1974), Atho’illah Habib (1979), Aunullah A’la Habib (1982) dan Lukluk Tsurayya (1984).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | 2 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 4 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 12 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: