Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hartono Tasir Irwanto

Rasionalitas membawa pemikiran anda melangit. Moralitas membawa tindakan anda membumi.

7 Cara Membuka dan Menutup Pidato

OPINI | 19 January 2012 | 14:18 Dibaca: 26803   Komentar: 2   2

Pidato yang Mengesankan (2)

Tanya saja pada ahli pidato manapun. Mereka akan sepakat menjawab bahwa “ sesuatu yang akan langsung merebut perhatian adalah pembukaan yang menarik “. Sejak zaman aristoteles, buku-buku mengenai pidato menjelaskan mengenai pembukaan, isi dan kesimpulan pidato. Namun, belakangan ini pembukaan pidato mulai terabaikan. Ujung-ujungnya, membuat penonton menyimpulkan bahkan meninggalkan pidato lebih awal. Tak berlebihan, jika berkata bahwa :

(2). Pembukaan Pidato adalah Kuncinya

Mayoritas orang yang tidak ahli dan enggan berlatih, memulai pidatonya dengan cara yang buruk. Mereka mencoba melucu. Mereka seolah-olah dirasuki arwah tukul kalau bukan sule. Itu bukan Anda. Sungguh, Anda memiliki khas dan identitas tersendiri. Lelucon sangat sulit dibuat. Apalagi dalam forum seilmiah pidato. Itulah mengapa para comics adalah orang-orang yang cerdas yang dapat membawakan stand up comedy dengan menarik. Melawak monolog, tanpa ada lawan main sebagai obyek lelucon.

Kesalahan terbesar orator pemula adalah mengawali pidatonya dengan meminta maaf. “ maaf saya bukan ahli pidato “. “Saya tidak siap untuk berpidato”. “Saya tidak bisa berkata apa-apa”. Lagipula, kalau Anda tidak siap, sebagian hadirin akan mengetahui tanpa Anda beri tahu. Sama saja Anda menghina hadirin. Menganggap hadirin tidak penting, hingga tak perlu bersiap-siap dengan persiapan yang terukur. Apa yang harus dilakukan ?

1. Mulailah dengan sebuah kisah. Siapa yang tidak tertarik dengan sebuah kisah. Orang-orang primitif mengelilingi api unggun untuk mendengar kisah. Orang-orang kota datang ke gedung untuk menonton kisah teater. Anak-anak suka didongenkan kisah-kisah sebelum tidur. Kitab-kitab suci seperti injil dan Al-Qur’an, memuat kisah-kisah nyata agar dapat dipetik hikmahnya. Kisahkan awal pidato Anda dengan kata-kata yang menarik seperti kisah-kisah dalam novel.

2. Awali dengan pendapat bersama. Buatlah orang-orang setuju sejak awal. Jaga agar mereka tetap mengiyakan. Apa ini salah ? Tidak juga. Selama pidato Anda rasional, kenapa tidak ? Pendengar bukan menghadiri pidato Anda hanya untuk berdebat kusir dengan Anda.

3. Bangkitkan rasa ingin tahu pendengar Anda. Manusia mana yang tidak ingin pengetahuan baru. Hewan pun mempunyai koriusitas atau rasa ingin tahu yang tinggi. Ajukan pertanyaan. Bangun kerjasama yang apik dengan pendengar. Buatlah pendengar Anda bertanya-tanya mengenai siapa, apa, mengapa, bagaimana dan silahkan Anda lanjutkan sendiri.

4. Kata-kata orang terkenal terbukti selalu menarik perhatian. Kenapa tidak mengawali pidato dengan kutipan perkataan orang terkenal. Berhentilah sejenak setelah mengutip kata, lalu sebutkan nama orang terkenal tersebut. Itu akan membuat suasana menjadi lebih mengesankan.

5. Gunakan alat peraga. Itu akan membuat perhatian hadirin lebih terpusat, dan mereka juga bisa berimajinasi sendiri. Untuk hal ini, saya kira Anda terlalu cerdas untuk saya jelaskan lagi.

6. Kejutkan pendengar Anda. Berikan fakta yang mengejutkan hingga mereka berkata : “ oh iya yah “, berdecak kagum : “ Wah !” atau membuat mereka tercengang : “ Aaapaaaa ???

7. Kita pasti langsung berbalik saat mendengar orang di sebelah kita membicarakan mengenai nama, sesuatu yang Kita suka atau hal-hal yang berhubungan dengan Kita. Awali pidato dengan topik yang sangat diinginkan pendengar Anda. Bagaimana cara mengetahui topik apa yang mereka inginkan ? Itulah gunanya persiapan. Itulah langkah-langkah dalam membuka pidato. Lalu bagaimana menutup pidato ?

(3). Menutup Pidato dengan Kesan yang Mendalam

Penutupan pidato adalah titik paling strategis dalam sebuah pidato. Apa yang terakhir Anda katakan akan terngiang di telinga pendengar. Bahkan, jika penutupan Anda benar-benar berkesan, itu akan berbekas selamanya di ingatan pendengar. Pasti, Anda tidak ingin pidato Anda seperti angin lalu, pergi begitu saja. Tanpa kesan, tanpa pesan.

Harus diakui, banyak kesalahan-kesalahan dalam menutup pidato. Misalnya dengan berkata “ hanya ini yang bisa saya sampaikan “. Pendengar tentu tahu apa yang telah Anda sampaikan. Kalau sudah selesai, tutup dengan baik dan turunlah duduk. Tak perlu Anda berkata, “hanya ini, hanya itu”. Lain lagi dengan orator yang tidak tahu harus menutup di titik mana. Ia berputar-putar dengan kalimat itu-itu saja. Pada akhirnya, ia terlihat konyol dan berharap terjadi gempa hingga membuat hadirin berpencar, agar ia terselamatkan dari sulitnya menutup pidato. Sebaiknya Anda melakukan ini :

1. Contohi orator-orator sukses seperti Martin Luther King, Franklin Roosevelt atau Abraham Linclon. Mereka mempersiapkan, menulis dan menghafalkan kata-kata yang tepat untuk menutup pidatonya. Mereka melatihnya berulang kali hingga terlihat benar-benar memakau. Jika diri sendiri saja belum terpukau, bagaimana bisa orang lain terpukau ?

2.  Seperti pada pembuka pidato, Anda juga bisa mengutip perkataan orang-orang terkenal pada penutup pidato Anda. Atau Anda juga bisa mengutip puisi sarat makna, pantun, humor, pepatah dan semacamnya.

3. Sesuaikan penutupan pidato Anda dengan situasi dan kondisi forum. Sangat bijaksana, bila Anda menyiapkan 2-3 penutupan. Jika yang satu kurang cocok, yang lain mungkin cocok.

4. Ringkaslah pidato Anda sebagai penutup yang konkret. Ulangi kembali ide-ide penting dengan kata-kata yang berbeda. Jadikan penutup pidato Anda dapat terpahami dengan baik meski oleh hadirin yang terlambat datang.

5. Pujian singkat dan tulus. Puji peningkatan sekecil apapun terhadap apa yang telah dilakukan oleh pendengar Anda. Ingat ! puji secara tulus dari hati. Bukan pujian palsu seperti uang. Siapa pula yang ingin dibayar dengan uang palsu ?

6. Berhenti di klimaks. Ini memang sulit. Tapi jika dilakukan dengan persiapan yang matang, akan menghasilkan penutupan pidato yang sangat mengesankan. Pendengar akan berteriak, “ tolong lanjutkan pidato Anda “. Mereka juga menanti-nanti kapan Anda akan kembali berpidato. Mengapa ? Karena tingkat kejemuan akan meningkat setelah melewati klimaks . Anda harus berhenti, sebelum pendengar menginginkan Anda berhenti.

7. Terakhir, bersiaplah menjawab pertanyaan dari pendengar Anda. Caranya ? Dengan menguasai topik Anda sepuluh kali lipat dari yang Anda tuangkan di pidato. Saring pertanyaan secukupnya dengan menyesuaikan dengan ketersediaan waktu. Jika dimungkinkan, mintalah pendengar Anda untuk menuliskan pertanyaanya pada kertas. Ini dimaksudkan agar Anda dapat mengumpul dan memilah-milih pertanyaan terbaik menurut Anda. Jika tidak, Anda yang menulis pertanyaan pendengar Anda, tapi batasi pertanyaan secukupnya.

Bersambung…

Tags: freez pidato

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 7 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 9 jam lalu

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspadai Penipuan di Sekeliling Anda …

Syahdan Adhyasta | 8 jam lalu

Janji Kelingking Masa Lalu …

Fitri Manalu | 8 jam lalu

Ibu Negara …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Kindi: Fotografer Cilik …

Dewilailypurnamasar... | 10 jam lalu

Kuliner Bebek Mercon di Warung Komando Eko …

Sitti Rabiah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: