Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Awaluddin Madjid

yang mencoba terus untuk menulis ..

Ruang

OPINI | 21 January 2012 | 14:49 Dibaca: 296   Komentar: 2   0

Sebuah kata yang sangat sederhana, “RUANG”, namun defenisinya agak sulit untuk dijadikan rujukan baik oleh filosof, seniman dan para pemikir. Penyederhanaannya hanya bisa dilakukan dengan sebuah batasan yang berupa “BATAS ANTARA PILAR, SATU DENGAN YANG LAINNYA” ,yang secara implementif bisa dikatakan sebagai “TEMPAT” . Sebagai tempat, maka ruang  yang ada bisa dijadikan  tempat untuk rehat, berkumpulnya manusia dan atau mahluk yang lainnya, seperti Hyde Park di London, yang biasa dijadikan tempat untuk menumpahkan segala uneg uneg, yang hampir bisa dikatan sebagai ruang publik. Dan kapan saja bisa dilakukan, pengertian ini seperti apa yang ditulis oleh Jan Gehl,dimana ia membagi menjadi tiga bagian yaitu tempat bertemu, tempat berdagang dan tempat berlalu lintas. Ruang, sebagai wadah dalam kehidupan manusia bisa diartikan sebagai kata benda ketika ia berhubungan dengan lokasi, seperti Hyde Park, Monas, Senayan dan atau tempat yang lainnya. Ruang, dalam pengertian sifat bisa dijadikan apa yang ada dalam diri manusia, maka ada penamaan untuk ruang hati, ruang pikir, ruang tindakan dan ruang aplikasi dari apa yang ada dalam ruang hati, pikir dan tindakan.

KOLABORASI RUANG

Ruang, sebagai tempat dalam pengertian yang berbeda bisa dikolaborasikan untuk kepentingan manusia itu sendiri.Intensitas masalah yang ada dalam setiap pemerintahan,masyarakat bahkan dalam skala yang kecil yaitu keluarga   sering bisa terselesaikan dengan apa yang namanya ” SHARING ( BERBAGI)”, bahkan dalam skala yang paling kecil,keluarga,  acara berbagi antar pihak yang ada dalam keluarga antara Suami ( ayah), Isteri(Ibu) dan anak anaknya merupakan acara yang dapat dijadikan sebagai ‘PENYELESAI MASALAH”, alasan yang paling mendasar kenapa ruang publik itu  dapat dijadikan rujukan untuk menyelesaikan masalah, karena para pihak yang terlibat di dalamnya mau mendengar, mengerti, memahami dan  serta  mempunyai kemauan untukn menyelsaikan masalah yang timbul dari teman bicaranya. Tanpa melihat kedudukan para pihak, dimana seorang ibu, mendengarkan apa yang dibicarakan oleh suami dan anak anaknya. Ayah, mau mendengarkan pendapat isteri dan anak anaknya, anak anak mau mendengarkan pendapat ibu dan ayahnya. Ruang berbagi yang ada dalam keluarga sebagai penyelesai masalah karena para pihak mau mendengar dan menyelesaikan masalah yang timbul. Ruang sebagai tempat dalam pengertian tempat secara pisik dan psikis, nyatanya bisa dikolaborasikan untuk menyelesaikan masalah yang ada.

KEPENTINGAN “ANTAR KITA”

Kita, adalah bahasa yang menunjukkan keterikatan dan keterkaitan antara para pihak yang berinteraksi didalamnya, sederhana namun mempunyai DAYA PUNGKAS MASALAH YANG TERJADI ANTARA KITA, BERDASARKAN PADA KEPENTINGAN BERSAMA YANG DILAKUKAN SECARA PROFESIONAL DAN PROPORSIONAL, DIMANA MASING MASING PIHAK MEMPUNYAI TUGAS, KEWAJIBAN, KEWENANGAN DAN HAK YANG MELEKAT DALAM DIRI PARA “KITA” , SEHINGGA SEMUA MASALAH”KITA” DAPAT TERSELESAIKAN DAN DISELESAIKAN. Bahasa ini yang jarang kita temukan, baik pada tingkat nasional,propinsi, kabupaten atau kotamadya. Walaupun ada beberapa wilayah yang sudah menjalankan fungsinya, namun dapat dihitung oleh jari. Dalam pengertian ruang yang skalanya nasional yaitu INDONESIA ,   sebagai  negara harusnya mempunyai ‘RUANG PUBLIK” yang dapat menyelesaikan masalah masalah yang ada , seperti banjir, sampah, transportasi, penggangguran, korupsi, dan begitu banyak lagi masalah.Ini adalah peluang untuk menyelesaikan masalah masalah, sepanjang ada kemauan untuk menciptakan “RUANG PUBLIK”, dimana ruang tersebut sebagai “SHARING TOGETHER”, tanpa melihat siapa yang ada, namun lebih ditujukan pada ” APA YANG HARUS DISELESAIKAN” , dan untuk mencapai tujuan bersama, maka bahasa “KITA ” harus mampu sebagai energi yang melahirkan sinergi untuk menyelesaikan masalah masalah yang ada. Dengan bahasa kita, yang merupakan azas untuk menyelesaikan ” KEPENTINGAN BERSAMA ANTARA PEMERINTAH DAN RAKYAT”  bisa dilakukan sekarang, saat ini juga tanpa menunda lagi, DAN ITU BISA KETIKA KITA MAU ME;LAKUKANNYA.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | 7 jam lalu

Nangkring “Tokoh Bicara”: Bupati …

Kompasiana | 8 jam lalu

13 Gejala Kehambaran Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 9 jam lalu

Kunci-kunci Penting Meraih Kebahagiaan …

Ngainun Naim | 9 jam lalu

Kopdar dengan Kompasianer Ini di Magdeburg …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: