Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rakhyan Risnu Sasongko

Ilmu itu bukan sekedar dibaca, ditulis dan dihafal saja. Ilmu itu perlu penghayatan, perenungan, dan selengkapnya

Makna Pendidikan

OPINI | 24 January 2012 | 18:23 Dibaca: 2486   Komentar: 1   2

1327382540270715645Sedikit tergelitik ketika saya ditanya, tentang susahnya mencari nilai. Bukan satu dua kali ini saja, beberapa kali, bahkan ketika saya menjadi mahasiswa baru. Kakak-kakak tingkat yang selayaknya memberikan motivasi dan spirit, justru mereka malah memberikan gambaran  menakutkan dari jurusan yang saya masuki. Bagi saya, itu sangat menggelitik.

Ketika saya menuliskan catatn ini, jadi teringat tokoh Rancho atau Wangdu nama aslinya dalam film “3 idiots”. Dia berhasil membebaskan dirinya dari tekanan universitas yang sangat menekankan pada hasil dalam bentuk simbol nilai, peringkat, dan yang sangat inspiratif adalah tentang dua metode belajar dari Rancho dan Chatur. Chatur yang menggunakan metode menghafal, dan Rancho yang berhasil menggunakan metodenya untuk memahami dan mencintai yang dia pelajari. Sampai tertawa pula ketia dia mengatakan, “Sekolah tidak membayar, tapi perlu seragam.” Dia berhasil menunjukkan bahwa kegigihan dan kecintaannya pada ilmu “mesin” telah membawanya pada sebah kesempurnaan.

Banyak lagi kisah menarik lainnya, misalnya saja dalam film “I’m Not Stupid Too”. Setiap manusia memiliki potensinya masing-masing, dan metode pendidikan tidak seharusnya dilakukan dengan cara yang keras, memberikan tugas yang banyak dan waktu yang sangat terbatas, sehingga tdak memberikan ruang berkarya bagi peserta didiknya. Misalnya sebuah kampus yang menekankan mahasiswanya untuk segera lulus, namun tidak pernah diajari bagaimana cara bersikap pada yang lebih tua, pendidik yang tak diajarkan bagaimana caranya untuk memahami peserta didiknya, atau mengucapkan maaf ketika salah, terimakasih saat dibantu atau telah melakukan sesuatu. Kampus atau institusi pendidikan hanya menuntut kecerdasan kognitif, piskomotor dan afektif hanya sebuah simbolis. Misalnya saja nih, pada hari tertentu menggunakan batik dan di hari yang lain menggunakan pakaian muslim/koko. Dalam hal lainnya, ketika sedang ramai-ramainya membicarakan tentang karakter, institusi pendidikan ramai-ramai menerapkan pendidikan karakter ke dalam sebuah mata pelajaran, bahkan sampai dibuat mata kuliah khusus. Saya rasa ini sangatlah simbolis dan tidak esensial. Hal-hal sepele yang telah disampaikan di atas, seperti minta maaf, ucapan terimakasih, selamat, mengucapkan salam, berdoa ketika akan memulai dan mengakhiri belajar, membuang sampah pada tempatnya, atau tersenyum, ini hal yang sepele tapi esensial. Pendidik dan peserta didik diajarkan untuk dapat menghormati sesamanya dan kepada yang lebih tua atau muda.

Film lain yang juga menginspirasi adalah “Front of the Class”. Seorang kepala sekolah yang sangat bijaksana, berhasil membangkitkan kembali semangat belajar Brad Cohen yang menderita penyakit Tourette syndrome. Dia tersisihkan di sekolahnya karena seorang guru yang tidak bisa memahami dia, kepala sekolah yang tak bisa melindunginya, hingga akhirnya ia tiba di sebuah sekolah yang merubah dirinya. Seorang kepala sekolah yang sangat memahaminya. Dalam percakapan itu, kepala sekolah itu menanyakan tentang “Pendapatmu sekolah itu buat apa?” pada Brad. Brad tidak langsung menjawab, dia justru meminta maaf karena penyakitnya itu yang telah menggangu di kelas. Lalu kepala sekolah itu mengatakan, “Untuk mendidik, bukan?” Ya sekolah itu tidak hanya sebagai tempat untuk mencari pengetahuan, tapi selain itu sebagai tranfer nilai. Dia menunjukkan kepada semuanya, bahwa Brad layak dan harus diperlakukan sama layaknya orang-orang normal lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, “Sudahkan sekolah atau tempat belajar kita mampu menerapkan fungsinya sebagai lembaga pendidikan yang tak hanya tempat menuntut ilmu, tapi sebagai transfer nilai?” Jangan-jangan selama ini nilai-nilai yang ada di sekolah atau kampus kita sebatas nilai-nilai simbolis semata. Sehingga wajar ketika banyak peserta didik yang mengambil jalan pintas untuk mencontek, melakukan segala macam cara untuk mendapatkan nilai bagus tanpa peduli cara yang dilakukannya benar atau salah.

Perlu adanya evaluasi mendasar tentang tujuan pendidikan sebenarnya. Agar tak sebatas simbol dan meninggalkan hal yang lebih esensial dari pendidikan. Sesuatu yang negatif yang dilakukan terus menerus, akan menjadi sebuah kebiasaan dan berlanjut, kebiasaan itu akan dianggap benar. Sehingga memang tidak akan mudah untuk memperbaikinya, akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Maka, memerlukan kerja sama semua pihak dalam proses pembenahan tentang arti esensial dari sebuah pendidikan.

Dimuat juga dalam http://www.rakhyanalfatih.co.cc/2012/01/tentang-arti-sebuah-pendidikan.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 10 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 10 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: