Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Kaldera Fantasi

Pecinta dunia fiksi fantasi. Komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir pula di www.facebook.com/groups/kalfa selengkapnya

Komik Edukasi (1)

OPINI | 27 January 2012 | 23:43 Dibaca: 339   Komentar: 2   0

Apa yang tergambar di benak orang Indonesia ketika mendengar kata “komik”? Hiburan, anak-anak, akan menjadi frase yang umumnya keluar dari pertanyaan di atas. Pada hakikat dan kenyataannya komik dapat berimplikasi luas. Komik tidak hanya terkungkung dengan definisi hiburan dan anak-anak. Komik dapat juga menjadi medium transmisi nilai. Sebagai medium transmisi nilai, maka komik dapat menjadi alat edukasi yang ampuh dan tepat guna.

Dahulu masyarakat Indonesia akrab dengan produk budaya bernama wayang. Wayang selain sebagai hiburan, kebudayaan, juga menjadi medium pendidikan. Hal tersebut tercermin misalnya dari Soekarno yang gemar terhadap wayang dan mengidentifikasikan dirinya sebagai sosok Bima. Bima, tokoh wayang yang dikagumi Soekarno, berperan sebagai pejuang sejati membela Pandawa. Bima dilukiskan pejuang suci, pemberani, tidak kenal kompromi dengan lawan-lawannya, tetapi selalu siap bermufakat dengan mereka yang segolongan dengannya. Dalam diri Bima tercermin watak pejuang militan (crusader) dan tokoh sinkristis. Dalam diri tokoh Pandawa ini Soekarno mengidentifikasi ketokohan dirinya (Ahmad Suhelmi, Soekarno Versus Natsir: hlm.10). Nilai-nilai wayang untuk kemudian hidup dan menjadi sosialisasi politik awal bagi Soekarno yang turut mewarnai nuansa besar dari sang putra fajar yakni esensi ksatria, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan.

Bagaimana dengan kini? Harus diakui wayang yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya kepunyaan Indonesia telah menjadi sesuatu yang tidak terlampau akrab dengan kehidupan anak negeri ini. Tentu ada banyak alasan yang dapat dilantangkan mengenai fakta tersebut. Ada medium televisi, internet, komik, yang menjadi bagian dari sosialisasi awal dari masyarakat Indonesia di era sekarang ini. Bagaimana dengan sosialisasi politik awal yang Anda alami? Sarana apa yang paling mempengaruhi corak cetak dasar dari diri Anda?

Saya sendiri memiliki pengalaman masa kecil dengan komik sebagai sarana edukasi. Ketika dulu, bapak saya selalu memberikan majalah Aku Anak Saleh. Dikarenakan peruntukannya untuk anak-anak, maka majalah tersebut bersifat edutainment. Ada warna dimana-mana, ada keceriaan dari setiap lembar halaman majalah tersebut. Tentu saja ada muatan nilai dan sisi-sisi ideologis yang ditransmisi oleh majalah Aku Anak Saleh. Ada icon Koko dan Cici yang secara tampilan menarik dan berkisah tentang nilai moral yang berbasiskan ajaran Islam. Ada juga rubrik mewarnai huruf hijaiyah yang membuat saya mengenal lebih dekat dengan huruf yang menjadi teks dalam Al Qur’an. Majalah Aku Anak Saleh dengan substansi komiknya telah membawa misi pendidikan yang membentuk batu dasar fundamental bagi pengembangan karakter ke depannya.

Lalu ketika duduk di bangku kuliah, saya mendapati kakak saya membeli komik Che Guevara. Che Guevara bagi beberapa kalangan merupakan tokoh inspiratif yang mewarnai jagat pemikiran dan konsep, terutama di lingkup kampus. Komik Che Guevara tersebut berkisah tentang perjalanan perjuangan Che Guevara secara singkat. Bagi orang yang awam terhadap sosok Che Guevara maka komik tersebut memberikan informasi lumayan untuk menjelalahi alur hidup si tokoh kiri ini.

Gambar memang tak dapat dilepaskan dari politik dan ideologi pula. Gambar dapat menjadi corong edukasi dan komunikasi dari ide demi ide. Kita memiliki referensi ketika era Demokrasi Terpimpin dimana politik propaganda dari pemerintah ialah dengan menghidupkan gambar petani, buruh dimana-mana. Begitu pula dengan para penguasa yang memerintah dengan tangan besi maka gambar dari dirinya akan eksis dimana-mana. Penguasa seakan omni present dalam segala kesempatan dan senantiasa mengawasi mereka yang berani menjadi anomali.

Mengapa bahasa gambar efektif sebagai media komunikasi dan propaganda? Secara keilmuan hal tersebut dapat dijelaskan karena gambar mampu mengkombinasikan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri sendiri berintikan pada logika, matematika, linearity, bahasa, sequence, analisis. Sedangkan otak kanan berintikan pada rhythm, kreativitas, imajinasi, dimensi, warna, holism. Hebatnya dari gambar, termasuk komik ialah mampu mengakses keunggulan di otak kanan dan kiri sehingga berbuah pada pemahaman yang lebih cepat dan mendalam. Prinsip dari memori sendiri menurut Adam Khoo dalam bukunya I Am Gifted So Are You terdiri dari visualisasi, asosiasi, absurditas dan humor, emosi, sinestesia, warna, permaknaan, musik.

Kemajuan dunia pendidikan telah membawa pada sejumlah penemuan. Salah satu penemuan yang cukup revolusioner ialah dengan adanya penggunaan mind mapping. Mind mapping sendiri merupakan upaya untuk mengaktivasi kerja otak kiri dan otak kanan dalam belajar. Maka gambar akan menyertai catatan dalam mind mapping. Dengan menggunakan mind mapping, maka catatan pelajaran akan lebih berwarna, singkat, dan lebih memorable. Hasilnya ialah daya serap terhadap materi pembelajaran yang lebih baik, kemampuan untuk melihat materi pelajaran secara makro.

Komik dan pendidikan dengan demikian sudah semestinya berada dalam paralelisme dan tidak perlu dipertentangkan. Pada sejumlah pandangan orang tua yang kolot memang masih terdapat yang memandang komik sebagai kesia-siaan, cuma untuk hiburan, hanya untuk anak-anak. Komik mengalami peyorasi, terdegradasi maknanya di mata sejumlah orang yang masih kolot tersebut. Pada realitasnya komik merupakan medium yang efektif sebagai sarana edukasi. Transmisi nilai dapat dengan cepat diserap dan bertahan di memori anak didik. Komik dapat menjadi opsi dalam pengembangan dunia pendidikan.

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 8 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Memenuhi Janjinya Memberantas Mafia …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Milad Himakom UNIFA yang ke-4: Himakom Dulu, …

Komunikasi Universi... | 7 jam lalu

Setelah Kelas Ibu Hamil, Ada Kelas Balita …

Imma Firman | 7 jam lalu

Positif Mengkritik Santun Memberi Saran …

Ferra Shirly | 8 jam lalu

Robohnya Kampus Kami …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: