Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Andrei Sinaga

saya wiraswasta bekerja di Indo Timber Nusantara

3 Orang Saksi Pembunuhan Raafi, Ternyata Pelaku Kekerasan di SMA Pangudi Luhur Brawijaya Jakarta

REP | 30 January 2012 | 20:40 Dibaca: 525   Komentar: 0   0

Sy copas dari JARDIKNAS http://jarak-jarak.blogspot.com/2012/01/jardiknas-anarki-kekerasan-di-sma.html.

Surat Terbuka Kepada:
Yth Br. Giwal Santoso FIC- Kepala Sekolah SMA Pangudi Luhur Brawijaya Jakarta
cc: Yth Mgr. Ignatius Soeharyo - Uskup Agung KAJ

Dengan hormat,

Perkenankan kami sebagai orang tua murid dari kelas XII dan XI ingin menanyakan kepada segenap guru dan alumni SMA Pangudi Luhur serta khususnya Team Advokasi Brawijaya IV yang sedang menangani kasus pembunuhan alm. Raafi mengenai kondisi di SMA Pangudi Luhur yang kini sungguh memprihatinkan.

Dari penuturan anak-anak kami bahwa kondisi di sekolah saat ini benar-benar sudah menuju ke arah anarki (chaos), bagaimana tidak dikatakan anarki jika sekarang guru sudah tidak dianggap lagi keberadaannya. Para guru sudah kehilangan kewibawaannya. Apalagi kepala sekolah saat ini sedang berada di luar negeri

Berikut kronologisnya:

Pada hari Kamis tgl 17 Januari 2012 yang lalu, terjadi keributan di sekolah karena para siswa kelas XII tidak menyetujui atas dikeluarkannya oknum pelaku kekerasan (Thomas Saputra/siswa Katolik kelas XII) yang kebetulan merupakan saksi pembunuhan kasus Raafi. Mereka berteriak-teriak dari tengah lapangan sambil bertakbir yang dikomandoi oleh Aditya Rahman yang juga merupakan saksi pembunuhan Raafi. Lalu secara serempak para oknum kelas XII menyerbu masuk ke beberapa ruang kelas XI dan memukuli setiap siswa kelas XI satu persatu di hadapan guru yang sedang mengajar. Mereka semuanya disuruh untuk memejamkan matanya. Guru sudah berusaha menegur tapi para oknum ini tidak mempedulikannya. Mereka hanya mengatakan “Bodo amat.. ****tot loe” terhadap guru tersebut. Lalu di saat istirahat beberapa siswa kelas XI yang sedang membeli makanan di kantin sekolah, dilempari dengan bongkahan es seukuran batu bata sambil dicaci maki oleh seniornya.

Perlu diketahui bahwa oknum yang sudah dikeluarkan oleh sekolah ini telah melakukan pemukulan dan penendangan terhadap salah siswa kelas XI selama beberapa hari berturut-turut di “ruang eksekusi” (WC atas) sehingga mengakibatkan korban mengalami patah beberapa tulang rusuk dan luka-luka di sekujur tubuhnya. Si korban menurut cerita anak kami hingga hari ini tidak berani masuk sekolah karena terus diteror melalui ponselnya oleh para seniornya.

Jumat, 18 Januari para siswa kelas XI menuntut ingin segera “dibebaskan” dan tidak mau tunduk lagi kepada seniornya, mereka mengatakan ingin segera menghapus budaya kekerasan yang tidak bermanfaat ini dan ingin mengembalikan kejayaan PL seperti di era 70-80an. Kami sebagai orang tua sangat mendukung ini, dan semoga mereka berani mengatakan “TIDAK” terhadap budaya kekerasan.

Sebagai orang tua kami merasa sangat prihatin mendengar peristiwa ini, dimana kami sudah membayar mahal untuk uang sekolah, tapi pihak manajemen sekolah membiarkan peristiwa ini terjadi di depan mata mereka tanpa melakukan tindakan tegas sedikitpun terhadap oknum-oknum siswa kelas XII. Kami menyekolahkan anak kami di Pangudi Luhur itu untuk dididik secara benar, kami menitipkan keselamatan anak kami di tangan para pendidik. Bukankah sekolah Katolik terkenal karena kedisipilinannya yang tinggi, tapi apa yang terjadi di SMA PL ibaratnya berlaku hukum rimba. Mengapa pihak sekolah tidak mengeluarkan oknum tersebut yang masih bersekolah di SMA PL yang jelas-jelas telah beberapa kali melakukan kekerasan, apakah pihak sekolah merasa enggan bertindak tegas karena orangtua si oknum adalah anggota POMG? Kami juga mendengar bahwa ada anggota CheersPL dari kelas X yang menjadi korban pemukulan oleh Gamal Ramadhana (kelas XII), dan karena si korban tidak tahan dengan kondisi tersebut akhirnya pindah ke sekolah lain awal tahun ini. Bukankah si Gamal ini sudah sering melakukan kekerasan di sekolah? Juga si Aditya Rahman (yg jadi komandan lapangan) beberapa bulan yang lalu melakukan pemukulan dan menendang seorang anak yang sedang duduk bersila di lantai hingga terjengkang dan tersungkur. Ia pun sudah mengakui perbuatannya di hadapan kami sewaktu rapat dengan para orang tua dan beberapa alumni advokad alm. Raafi dan menyesal tidak akan berbuat onar lagi, tapi lihat sekarang ia malah menjadi komandan untuk menyerbu masuk ke kelas XI.
Sampai kapan sekolah mau bertindak sebelum jatuh korban lebih banyak lagi?

Kepada para advokad yang sedang menangani kasus Raafi, mengapa anda masih membela para pelaku kekerasan di sekolah tersebut? Apa kata masyarakat dan media nanti jika mengetahui bahwa para siswa yang anda bela adalah merupakan anak “yang bermasalah” di sekolah.
Bagi para orang tua yang berniat untuk menyekolahkan anaknya di SMA PL tahun ajaran 2012/2013 nanti, berpikirlah seribu kali dahulu, atau akan menyesal kelak seperti kami yang sudah mengalaminya.

dari  “Seorang ibu siswa SMU Pangudi Luhur”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Apakah yang Lebih Baik daripada …

Ade Hermawan | | 23 December 2014 | 06:03

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 9 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 11 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 12 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 14 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: