Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Achmad Siddik

Perawat Komunitas Pohon Inspirasi yang cinta pada Yang Mencipta Pohon. Ingin menghembus sejuknya inspirasi, merentang selengkapnya

Publikasi di Jurnal Ilmiah untuk Mahasiswa S1, Haruskah?

OPINI | 02 February 2012 | 10:02 Dibaca: 754   Komentar: 4   0

13281769031840944320

Sumber : Dirjen Dikti Kemendikbud

Tadi malam bertubi-tubi saya mendapat email dari teman-teman dari mailing list  akademisi tentang keharusan menerbitkan publikasi ilmiah. Tak lama berselang teman-teman mahasiswa di kampus juga mulai memposting surat tentang keharusan menerbitkan makalah di jurnal ilmiah semua jenjang pendidikan sebagai salah satu syarat kelulusan.

Surat bernomor 152/E/T/2012 tanggal 27 Januari 2012 dari Diroktorat Jeneral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Publikasi Karya Ilmiah (lihat gambar).  Publikasi untuk program S1/S2/S3 yang merupakan salah satu syarat kelulusan, yang berlaku terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 dimana :

  1. Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah
  2. Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti
  3. Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.

Banyak teman-teman yang merespon positif surat tersebut. Mereka menganggap ini sebuah tantangan untuk meningkatkan kualitas lulusan dan budaya akademik yang lebih baik. Namun banyak juga yang menganggap surat ini tidak melihat faktadi lapangan, betapa sulitnya menerbitkan hasil penelitian di jurnal ilmiah di Indonesia.

Untuk mahasiswa Pascasarjana, menerbitkan makalah di jurnal ilmiah memang tidak terlalu memberatkan apalagi risetnya berasal dari dana penelitian hibah. Dana hibah penelitian memang mensyaratkan hasil penelitian yang didanai harus terbit di jurnal ilmiah baik terakreditasi maupun tidak, skala nasional atau Internasional.

Meski tak memberatkan faktanya proses terbitnya makalah di jurnal ilmiah buruh waktu yang tidak singkat dan akan. Menunggu acceptante letter (surat bahwa tulisan layak terbitl) saja sangat menjemukan bagi banyak mahasiswa, belum lagi menunggu proses pencetakan. Masalah lain adalah sedikitnya jurnal terakreditasi yang masih eksis sehingga menyebabkan antrian dan persaingan yang sangat ketat karya ilmiah yang masuk untuk layak diterbitkan.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa jenjang S1. Masalah akan mulai bermunculan disini. Masa studi mahasiwa S1 yang lebih singkat tentu akan membutuhkan usaha yang sangat besar untuk mengolah lagi karya ilmiah (skripsi atau laporan kerja profesi) menjadi tulisan yang layak terbit di jurnal ilmiah. Ini butuh pendampingan intensif dari dosen pembimbing agar bisa meloloskan karya ilmiah bimbingannya ke jurnal ilmiah. Bila tidak didukung ketersediaan jurnal yang menampung karya ilmiah dan dosen pembimbing yang tidak serius mendampingi mahasiswanya, bukan tidak mungkin akan muncul manipulasi dalam penerbitan.

Masih banyak hambatan yang menghadang untuk mewujudkan niat baik Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia lulusan perguruan tinggi.  Budaya ilmiah yang kuat apakah melulu dilihat dari indikator penerbitan karya ilmiah di jurnal ilmiah? Apakah memang Malaysia bisa majudari Indonesia semata-mata dari jumlah publikasi ilmiahnya yang lebih banyak? Jawaban yang tidak pendek dan pastinya banyak perdebatan yang akan muncul.

Buat Mahasiswa, Selamat berjuang!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 12 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 13 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 13 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 7 jam lalu

Hobi Membaca Mengantarku ke Tanah Suci …

Agung Han | 7 jam lalu

Rumah Transisi, Tim Perumus Atau Tim …

Thamrin Dahlan | 7 jam lalu

Perubahan Adalah Sebuah Keharusan Puskesmas …

Ramluddin Ram | 7 jam lalu

Sebuah Teks Refleksi Atas Sebuah Teks …

Adica Wirawan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: