Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Sekar Mayang

peracik fiksi dan pelahap aksara... http://rangkaiankatasekar.blogspot.com/

Belajar Bisa dari Mana Saja dan dari Siapa Saja

OPINI | 04 February 2012 | 01:50 Dibaca: 347   Komentar: 18   5

1328273195128341963

Oleh : Sekar Mayang

Di suatu sore yang kebetulan sedang mendung, saya sedang bercengkerama dengan beberapa orang tetangga. Dan kebetulan pula kami bertiga satu profesi sebagai ibu rumah tangga, jadilah isi obrolan itu bermacam – macam layaknya gado – gado. Mulai dari soal anak, soal masakan, gossip artis terbaru, sampai yang agak serius adalah masalah kesehatan.

Ketika tema obrolan sampai ke soal kesehatan, saya menyinggung soal resiko kematian perokok pasif yang berlipat ganda dibandingkan perokok aktif. Salah seorang tetangga bertanya kepada saya, apa perbedaan antara perokok pasif dan perokok aktif. Lalu seorang yang lain menjelaskan soal perbedaan itu. Saya hanya menambahkan sedikit saja dari penjelasan yang sudah dijabarkan.

Kemudian obrolan berlanjut ke topik – topik lain. Si penanya yang tadi pun berulang kali menanyakan beberapa hal yang nampaknya ia belum paham. Dan saya pun berusaha semampunya untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan yang ia ajukan. Mungkin saya jadi terkesan seperti orang yang sok tahu karena bisa menjawab hampir seluruh rentetan pertanyaan itu. Dan nampaknya tetangga saya itu pun penasaran, bagaimana saya bisa mengetahui begitu banyak hal.

Saya senyum – senyum sendiri mendengar pertanyaan yang sekaligus pula saya anggap sebagai pujian itu. Saya bisa menjawab hampir semua pertanyaannya karena memang semua yang ia tanyakan merupakan pengetahuan umum, yang saya pikir, seharusnya ia pun sudah mengetahuinya. Tapi demi memuaskan rasa penasarannya, ya saya jawab saja dengan singkat, “Belajar itu bisa dari mana saja dan dari siapa saja, Mbak. Tidak harus dari buku dan bangku sekolah. Lingkungan sekitar kita juga bisa mengajarkan banyak hal yang belum kita tahu.”

***

Tentu banyak yang sudah mendengar kalimat yang menjadi judul tulisan ini, Belajar Bisa Dari Mana Saja dan Dari Siapa Saja. Itu memang benar. Paling tidak, kalimat itu saya akui setelah saya membaca buku Improve Your Learning Intelligence racikan bapak Ikbal Maulana.

Berikut adalah beberapa penggambaran makna dari kalimat yang menjadi judul tulisan ini.

Seorang pimpinan di sebuah perusahaan tidak perlu malu belajar kepada karyawannya soal pemasaran produk. Toh, pekerja lapangan seperti sales keliling, lebih mengetahui bagaimana tipikal calon konsumen. Dari pengetahuan yang dimiliki oleh sales keliling itu, akhirnya si pimpinan perusahaan bisa meramu trik supaya bisa memikat calon konsumen tersebut.

Seseorang yang tinggal di Denpasar, tidak perlu jauh – jauh pergi ke Jogja untuk sekedar menikmati lezatnya penganan gudeg. Ia bisa belajar dari buku resep. Dan kalaupun ia tidak sanggup membeli buku resep – karena harga buku resep biasanya mahal – ia bisa mencari resep gudeg itu dari internet. Atau dia bisa bertanya kepada orang lain yang paham cara pembuatan gudeg, sehingga ia bisa memasaknya sendiri.

Saya sendiri ingin menjadi seorang penulis, dan masih berusaha keras untuk menjadi seorang penulis yang baik. Jujur saja, pengetahuan saya soal kepenulisan hanya saya dapat dari pelajaran Bahasa Indonesia sewaktu sekolah. Tapi saya tidak patah arang. Saya beranikan diri membuat akun di blog keroyokan ini dan mulai menulis. Konsentrasi tulisan saya memang berjenis fiksi, tapi saya tidak menutup diri untuk belajar banyak hal baru dari rekan – rekan di Kompasiana. Saya pun banyak bertanya kepada mereka tentang segala hal yang belum saya ketahui, termasuk bagaimana cara menulis artikel yang baik.

Nah, dari contoh-contoh di atas, bisa terpetakan dua hal yang terpenting dalam aktivitas belajar.

Hal terpenting pertama adalah niat. Sebesar apa keinginan seseorang untuk mempelajari suatu hal. Nantinya itu yang akan mempengaruhi seberapa banyak ilmu yang dapat kita serap. Semakin tinggi niat seseorang untuk belajar, semakin banyak juga ilmu yang bisa ia serap.

Kedua, jangan sungkan untuk bertanya kepada siapa saja. Tidak peduli orang yang kita tanya itu lebih rendah jabatannya dibanding diri kita, jika kita memang memerlukan pengetahuannya, maka kita harus bertanya. Ada perbedaan mendasar yang akan kita rasakan ketika kita mempelajari suatu hal dari buku, dibandingkan dengan mempelajari secara langsung (melalui proses tanya jawab) dari orang yang sudah berpengalaman. Buku memang bisa memberikan pengetahuan, tapi tidak bisa sedetil manusia ketika menceritakan pengalamannya melakukan suatu pekerjaan.

Selanjutnya, kita tidak boleh malas untuk memperbarui (update) pengetahuan yang sudah kita dapat. Karena pengetahuan (knowledge) berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Pengetahuan yang kita dapat di tahun 2011, belum tentu masih berguna di tahun 2012 ini. Jangan sampai kita tertinggal jauh hanya karena kita malas meng-update ilmu yang pernah kita dapat. Tentunya kita tidak ingin dicap sebagai orang yang ketinggalan jaman, kan?!

Jadi, sudah siapkah Anda untuk menimba ilmu lebih banyak lagi? Saya yakin, Anda selalu siap.

Salam :)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 13 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 17 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 21 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 31 July 2014 09:31

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 31 July 2014 09:01

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: