Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Qinimain Zain

Scientist & Strategist (QPlus Management Strategies - Consultant)

Masalah (Belajar Mengajar) Indonesia

OPINI | 04 February 2012 | 08:07 Dibaca: 1102   Komentar: 23   3

MASALAH (Belajar Mengajar) Indonesia (5/25)

LALU, apa sih penyebab susah (masalah belajar mengajar ilmu pengetahuan) Indonesia?

KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur (Henry Margenau).

Kesanggupan adalah kualitas nilai relatif dari alat (sarana) dikalikan ilmu pengetahuan dan dikalikan dengan motivasi (QZ, 2000). Tiga unsur esensial yang saling berkaitan. Salah satu tidak atau kurang baik akan membuat buruk keseluruhan, termasuk dalam proses belajar mengajar baik formal dan non formal. Kali ini, membahas unsur ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan (science) adalah segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (The Liang Gie, 2001). Artinya, untuk belajar (sebagai murid belajar sendiri atau diajar) dan mengajar (sebagai guru), serta meneliti dan mengelola masalah apa pun, harus berpegang prinsip dasar ilmu pengetahuan (teratur) itu. Jika tidak, hasil yang didapat dan diberikan sebatas gambaran (deskripsi) kabur atau gejala (fenomena) kacau.

Inilah akar masalah dan pemecahan dalam belajar dan mengajar. Bila definisi ilmu pengetahuan adalah segenap pengetahuan yang teratur. Lalu, apa syarat keteraturannya? Belum ada yang mampu menjawab (sebelum tahun 2000, QZ). (Lihat, buku filsafat ilmu atau buku pelajaran ilmu alamiah dasar, ilmu budaya dasar dan ilmu sosial dasar yang menjadi mata kuliah wajib MBB jurusan apa pun tak memuaskan. Tidak teratur (tetap)). Akibatnya, tidak heran (buku-buku bahan belajar dan mengajar) hal lain juga tidak teratur (hanya berupa beragam deskripsi), seperti pada buku biologi, sastra, administrasi dan lain-lain. (Artinya, karena (ilmu) pengetahuan bahan belajar mengajar tidak jelas teratur (tetap) sehingga siapa pun susah belajar dan mengajar apa pun). (Untuk menguji kebenaran kekacauan atau keteraturan (ilmu) pengetahuan dapat menanyakan kepada siswa, mahasiswa, guru, dosen, peneliti dan profesi lain: Apa pengertian dari ilmu pengetahuan? Lalu lanjutkan: Apa saja syarat keteraturannya? (Kalau tidak bisa menjawab, artinya selama ini hanya menduga-duga. Dan, dugaan (sering) belum tentu benar))

Namun tanggungjawab utama masalah kesusahan belajar mengajar ini bukan pada murid atau guru, melainkan pada peneliti. (Bisa saja seseorang yang pekerjaannya belajar dan mengajar, suatu waktu bertindak sebagai peneliti. Seperti juga, profesi peneliti suatu waktu bertindak mengajar atau belajar. Tetapi, pekerjaan belajar dan mengajar berbeda dengan meneliti). Intinya, masalah kesusahan belajar mengajar ilmu pengetahuan yaitu syarat keteraturan ilmu pengetahuan harus dipecahkan dahulu. Ini masalah dasar dan besar. Karena bila tidak, murid atau guru dalam proses belajar mengajar akan mendapat pelajaran atau mengajarkan banyak lagi kesusahan besar. Kesusahan berantai.

JADI, jelas masalah susah (belajar mengajar ilmu pengetahuan) Indonesia? Dan, tinggal tetap berbahan pelajaran kacau atau ingin berbahan pelajaran teratur saja!

MULAI dengan kesalahan satu inci, menjadi berakhir dengan kesalahan melenceng seribu mil (Pepatah Cina)

BAGAIMANA Strategi Anda?

*) Contoh. Ciri mahluk hidup adalah melakukan gerak aktif, melakukan metabolisme, berkembang biak, tumbuh, dan tanggap terhadap rangsangan (Biologi – Deskripsi (kacau)). Ciri mahluk hidup adalah melakukan metabolisme, tumbuh, melakukan gerak aktif, tanggap terhadap rangsangan dan berkembang biak (Biologi – (Dengan prinsip syarat keteraturan) Ilmu pengetahuan). Perhatikan urutan fungsi, kaitan antar fungsi dan paduan fungsi keseluruhan (Qinimain Zain, 2000)

**) Contoh untuk (Ilmu) Pengetahuan Sosial (Administrasi – Deskripsi (kacau) dan dengan bandingan prinsip syarat keteraturan ilmu pengetahuan), lihat (baca):  http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/01/24/masalah-pemerintahan-indonesia/    Perhatikan urutan fungsi, kaitan antar fungsi dan paduan fungsi keseluruhan Good Governance.

Catatan: Tulisan ini rangkaian dengan tulisan sebelum dan sesudahnya: Masalah (Penyakit - Pendidikan - Pemerintahan - Kualitas Manusia - Belajar Mengajar - Persatuan Perbedaan - Rasional Manusia - Pertengkaran Ilmu Pengetahuan - Krisis Paradigma Pendidikan – IPA Meremehkan IPS – Susah Mengelola Negara) Indonesia.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 9 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 10 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kursi-kursi Senayan… …

Florensius Marsudi | 8 jam lalu

Naik Transjakarta Rp 40 Ribu …

Aba Mardjani | 8 jam lalu

Memotivasi Mahasiswa untuk Belajar Lewat …

Giri Lumakto | 9 jam lalu

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | 9 jam lalu

Patah …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: