
Gemar catur namun tak pernah juara. Disalurkan dengan mengoleksi papan/bidak catur dan menulis artikel catur. Hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis virtual di halaman "Nulis bareng Pepih" di Facebook, mempraktikkan Citizen Journalism tentang peristiwa remeh-temeh. Juga membuat projek Hybrid Journalism, dimana jurnalisme warga menjadi berita mainstream lewat keterlibatan jurnalis/editor. Bermimpi melahirkan para jurnslis/penulis kreatif anak negeri yang andal di masa mendatang sebagai sebuah obsesi.
Dibaca: 191
Komentar: 19
5 dari 5 Kompasianer menilai bermanfaat
Ilustrasi
Beberapa waktu lalu saya menjelaskan mengenai bagaimana membuka tulisan dengan dialog atau percakapan. Ini dalam konteks penulisan kreatif, khususnya menulis fiksi. Sebagai penulis, khususnya penulis fiksi, barangkali Anda sudah paham betul bagaimana memulai menulis, bagian yang tersulit dalam menulis, sehingga tidak ada hambatan dalam memulai menulis.
Selalu saya tekankan, jangan buang-buang waktu untuk memulai menulis. Jangan macet (stuck) sebelum menulis. Ibarat berkendaraan ke luar kota, tetapi menghidupkan mesin kendaraan saja sulit. Belum lagi saat hendak ke jalan raya, kemacetan lalu-lintas di depan menghadang. Bagi saya, selalu ada jalan untuk memecah hambatan itu, dalam hal ini memulai menulis. Salah satunya dengan setting waktu.
Setting waktu paling umum dan paling sering dijumpai dalam cerita-cerita fiksi, dari cerita anak-anak sampai novel berat. Coba simak contoh berikut ini:
Dengan mengetahui setting waktu sebagai pembuka tulisan, juga percakapan atau dialog yang sudah saya jelaskan sebelumnya, Anda tak perlu berlama-lama merenung menorehkan kata atau kalimat pertama tulisan. Gunakan saja setting waktu ini. Perkara saat membaca dan menulis ulang akan diganti, itu urusan lain. Yang penting jangan macet sebelum memulai menulis!
Salam pertemanan….