Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agung Wibowo

Masih belajar menulis, mencurahkan isi pikiran, buat perkembangan diri sendiri, jika bermanfaat bagi orang lain, selengkapnya

Budaya Instan : Budaya Masyarakat Indonesia?

OPINI | 05 February 2012 | 16:55 Dibaca: 706   Komentar: 10   4

Kebanyakan orang lebih senang diberi Ikan, yang langsung bisa diolah menjadi makanan, daripada diberi pancing, karena mereka harus berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan ikan untuk dimakan.Bukankah lebih enak jika tanpa melakukan usaha yang keras kita bisa mendapatkan sesuatu?. Saya menyebutnya budaya instan.

Dari waktu ke waktu budaya instan terus menerus hadir, dan meracuni kehidupan masyarakat Indonesia, dari mulai iklan di televisi, acara reality show ditelevisi dan berbagai acara lainnya. Dan ternyata peminatnya juga lumayan banyak. Kadang acara seperti itu mendapatkan rating iklan yang cukup tinggi

Kalimat diatas, mungkin adalah sifat dan sikap masyarakat kita, lebih senang sesuatu yang instan daripada bersusah payah terlebih dahulu. Bahkan pemerintah kita pun sama, lebih memilih menjalankan kebijakan yang instan dari pada kebijakan yang lebih mengakar. Ambil contohnya adalah pemberian BLT kepada rakyat miskin, dari namanya saja sudah menunjukkan ke instan nya.

Dan karena kita terbiasa mendapatkan sesuatu yang instan, semakin lama, kita akan terjebak, dan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa saja. Bukannya sadar, tapi malah menjadi ketagihan. Maka kita hanya akan menjadi bangsa pemalas, bangsa yang terus menerus mengharapkan bantuan dari negara lain.

Bisa jadi itulah yang memang diharapkan oleh bangsa lain, supaya kita hanya menjadi ekor, bukan kepala. Supaya kepentingan mereka di indonesia aman dan tidak digugat oleh kita.

Cukup di beri Ikan, bukan pancing. Lama2 akan ketagihan dan mudah dipermainkan oleh Bangsa lain. Mari bersama menjauhkan diri dari budaya instan. Karena semua hal ada prosesnya, mari jalani dengan benar untuk hasil akhir yang maksimal.

Cikarang/4 Februari 2012/21.50

Mari tinggalkan budaya instan,

Tags: instan budaya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Asian African Carnival dan Historical Walk …

Efii Fitriyyah | | 26 April 2015 | 00:56

Konten Marketing dalam Ngeblog …

Etta Adil | | 26 April 2015 | 01:36

[JNE BALI] Kompasiana Blogshop & …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:11

Catatan Perjalanan: Kunjungan Ke Pabrik Aqua …

Andre Jayaprana | | 25 April 2015 | 23:03

Blog Competition “Keriaan KAA …

Kompasiana | | 22 April 2015 | 16:49


TRENDING ARTICLES

Biar Miskin Tapi Terhormat …

Ifani | 12 jam lalu

Kenapa Harus Marah? …

Daniel H.t. | 16 jam lalu

Tren Musik Kita, Sekarang Dangdut jadi Raja …

Uzi Ne 45 | 18 jam lalu

Siti Juhro Meramal: Jokowi Tak Akan Lama …

Imam Kodri | 19 jam lalu

Apa yang Salah Megawati di KAA 60? …

Syaripudin Zuhri | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: