Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agung Wibowo

Masih belajar menulis, mencurahkan isi pikiran, buat perkembangan diri sendiri, jika bermanfaat bagi orang lain, selengkapnya

Budaya Instan : Budaya Masyarakat Indonesia?

OPINI | 05 February 2012 | 16:55 Dibaca: 672   Komentar: 10   4

Kebanyakan orang lebih senang diberi Ikan, yang langsung bisa diolah menjadi makanan, daripada diberi pancing, karena mereka harus berusaha terlebih dahulu sebelum mendapatkan ikan untuk dimakan.Bukankah lebih enak jika tanpa melakukan usaha yang keras kita bisa mendapatkan sesuatu?. Saya menyebutnya budaya instan.

Dari waktu ke waktu budaya instan terus menerus hadir, dan meracuni kehidupan masyarakat Indonesia, dari mulai iklan di televisi, acara reality show ditelevisi dan berbagai acara lainnya. Dan ternyata peminatnya juga lumayan banyak. Kadang acara seperti itu mendapatkan rating iklan yang cukup tinggi

Kalimat diatas, mungkin adalah sifat dan sikap masyarakat kita, lebih senang sesuatu yang instan daripada bersusah payah terlebih dahulu. Bahkan pemerintah kita pun sama, lebih memilih menjalankan kebijakan yang instan dari pada kebijakan yang lebih mengakar. Ambil contohnya adalah pemberian BLT kepada rakyat miskin, dari namanya saja sudah menunjukkan ke instan nya.

Dan karena kita terbiasa mendapatkan sesuatu yang instan, semakin lama, kita akan terjebak, dan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa saja. Bukannya sadar, tapi malah menjadi ketagihan. Maka kita hanya akan menjadi bangsa pemalas, bangsa yang terus menerus mengharapkan bantuan dari negara lain.

Bisa jadi itulah yang memang diharapkan oleh bangsa lain, supaya kita hanya menjadi ekor, bukan kepala. Supaya kepentingan mereka di indonesia aman dan tidak digugat oleh kita.

Cukup di beri Ikan, bukan pancing. Lama2 akan ketagihan dan mudah dipermainkan oleh Bangsa lain. Mari bersama menjauhkan diri dari budaya instan. Karena semua hal ada prosesnya, mari jalani dengan benar untuk hasil akhir yang maksimal.

Cikarang/4 Februari 2012/21.50

Mari tinggalkan budaya instan,

Tags: instan budaya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Kompasiana-Bank Indonesia Blog Competition …

Kompasiana | | 27 June 2014 | 16:59

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 6 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 7 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 7 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 8 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: