Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bahasa Kita

Kami cinta bahasa Kami ingin menulis bersama Kami ingin belajar bersama Kami ingin berbagi

Berpikir Kritis: Membaca Kritis - Menulis Kritis

OPINI | 06 February 2012 | 22:45 Dibaca: 597   Komentar: 4   3

Di dunia akademis, tugas membuat paper, makalah ataupun essay sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mahasiswa. Banyak sekali dosen yang memberi tugas serupa bahkan dengan deadline yang hampir bersamaan. Bagi mahasiswa yang malas atau bahasa kerennya, tidak memiliki time management yang baik, tentu saja akan kewalahan dengan tugas yang seabrek ini. Fenomena copy paste dan plagiat pun tak terekalan lagi bertebaran diberbagai sudut kampus. Dari mulai alasan waktu yang mepet, mentok gak ada ide, perintah dosen yang tidak jelas, atau pikirin pikiran nakal seperti “ah…dosennya pun tidak akan tahu atau bahkan tidak akan sempat memeriksa tugas”. Sementara, dari sisi Dosen, beberapa kali saya melihat status FB dosen yang misuh-misuh karena memeregoki mahasiswanya yang copy paste tugas dari salah satu website atau bahkan mengumpulkan tugas yang isinya sama persis dengan milik temannya.

Anyway, kembali ke alasan mengapa mahasiswa senang copy paste tugas, salah satunya karena mereka tidak punya ide apa yang harus ditulis. Saya jadi teringat salah satu tulisan di harian JP minggu lalu yang ditulis oleh Pak Alwasilah. Beliau menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara membaca dan menulis. Pengalaman membaca yang dimiliki seseorang dapat menentukan kekuatan orang tersebut dalam menulis. Ilmu pengetahuan biasanya didapat dari hasil membaca, sementara menulis dapat digunakan sebagai media untuk mengekspresikan ilmu pengetahuan kita dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, sebaiknya kita membiasakan menuangkan kembali apa yang pernah kita baca dalam bentuk tulisan. Tulisan ini dapat berupa refleksi, respon, pendapat, atau apapun yang mewakili ekspresi diri.

Sementara yang terjadi di dunia pendidikan kita, kita terbiasa menjadi pembaca pasif. Kebiasaan membaca dan menghafal dengan harapan kita dapat memahami apa yang kita baca. Proses menuliskan pemahaman atas apa yang telah dibaca biasanya tertunda beberapa lama - pada waktu membuat tugas atau ujian. Akibatnya pemahaman atas hasil bacaan pun menguap lenyap tanpa bekas.

Selain menjadi pembaca pasif, kita pun jarang sekali berdialog dengan apa yang kita baca. Membaca hanya menjadi kegiatan menggerakan mata dari kiri ke kanan atau sidikit bergumam, lagi lagi dengan harapan untuk memahami bacaan tersebut. Padahal jika kita mencoba berdialog dengan mempertanyakan isi bacaan, merespon, menunjukan keraguan atau menunjukan rasa setuju atas pernyataan-pernyataan yang kita baca, kita tengah belajar menjadi pembaca yang kritis. Menceritakan isi dari apa yang sedang kita baca kepada teman pun merupakan hal yang ampuh untuk menguji pemahaman kita terhadap isi bacaan serta mengasah kemampuan berpikir kritis.

Jika kita sudah terbiasa menjadi pembaca aktif dan berdialog dengan apa yang kita baca, kita akan mengasah kemampuan berpikir kritis dan pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan menulis kritis juga. So, jika kita banyak membaca, menjadi pembaca aktif dan berdialog dengan teks bacaan, maka kita akan dapat meningkatkan kemampuan menulis. And say good bye to copy paste and plagiarism

FD06022012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: