Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Abanggeutanyo

Pengamat : Mengamati dan Diamati

Gaji PNS Gorontalo Untuk Siapa?

REP | 09 February 2012 | 17:49 Dibaca: 424   Komentar: 39   1

1328762751833809590

Kantor Pemprov Gorontalo. Sumber gambar : http://farm3.static.flickr.com

Pemerintahan Provinsi Gorontalo akan melakukan pembayaran gaji PNS dalam ruang lingkup pemprov Gorontalo terhitung mulai pembayaran gaji di bulan Maret. Pembayaran gaji PNS yang sudah beristri ke rekening istri PNS ini adalah sebuah terobosan baru. Rasa-rasanya belum ada terobosan seperti yang dilakukan oleh Gubernur Gorontalo sebelumnya, Fadel Mohammad.

Bagi Rusli Habibie sendiri telah melakukan hal yang sama sebelumnya tatkala  menjabat sebagai Bupati Gorontalo Utara sebelum menjabat Gubernur Gorontalo pada 16 Januari 2012 lalu. Mungkin terinspirasi oleh tingkat kesejahteraan di Kabupaten Gorontalo Utara sebelumnya maka langkah tersebut dilakukan untuk tingkat provinsi pada saat ini.

Terobosan pemprov Gorontalo ini pantas diacungkan jempol (ke atas) karena unik dan menarik. Meskipun tetap terjadi pro dan kontra (internal) gagasan tersebut memang menarik, unik karena belum pernah terjadi di pemprov manapun di seluruh Indonesia, bahkan juga -mungkin- di luar negeri (mohon masukan jika ada hal yang sama di luar negeri).

Menarik karena dampak yang diharapkan dari implementasi program ini adalah agar gaji PNS yang memiliki istri dapat mencapai sasarannya untuk menafkahi istri dan anak-anak.

“Kalau gaji masuk rekening istri, itu sudah tepat sasaran karena menafkahi istri dan anak. Jangan sampai gaji habis digunakan untuk hal lain yang tidak bermanfaat,” kata Rusli Habibie adik mantan Wapres BJ Habibie kepada pers seperti yang dikutip pada : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/02/08/296761/290/101/Gaji-PNS-akan-Dimasukkan-ke-Rekening-Istri

Atas dasar tujuan pelaksanaan transfer gaji ke rekening istri tersebut di atas, ada beberapa hal yang menarik bagi kita untuk dijadikan benang merah, yaitu :

  1. Apakah sudah begitu parahkah moral sebagian besar PNS yang sudah beristeri sehingga gajinya jarang atau mungkin tak pernah diberikan untuk keluarga (anak dan istri?).
  2. Bagaimana dengan PNS yang belum kawin, PNS yang tidak punya istri atau PNS wanita yang suaminya bukan seorang PNS? Apakah mereka-mereka ini telah memperlihatkan harapan yang disampaikan oleh Gubernur tentang tujuan pemberian gaji kepada Istri.
  3. Apakah selama ini terlalu banyak PNS (laki-laki) yang menggunakan gajinya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, misalnya sogok menyogok, suap meyuap dan mungkin untuk berhepi-hepi karena terlalu mudah memperoleh uang dari pelyanan terhadap masyarakat?
  4. Bagaimana dengan istri PNS yang belum punya rekening karena tinggal nun jauh di pedalaman desa yang jauh dari lokasi Bank, apakah setiap bulan harus ke lokasi Bank pencair gaji PNS?
  5. Fenomena PNS muda kaya raya yang telah merebak dan menjadi pusat perhatian masyarakat dengan terungkapnya kasus-kasus korupsi oleh PNS “kawula muda”  apakah  pertanda gaji PNS “boleh” pada keluarga, “pemasukan”  tetap dikantongi (foya-foya) saja?

Rencana pemprov Gorontalo tersebut telah mendapat persetujuan dari Kemendagri, oleh karenanya pemprov telah siap sedia menjalan rencana di provinsi baru (ke-32) yang memiliki luas wilayah 12.215,44 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.050.000 jiwa (berdasarkan Sensus Penduduk 2010 -red).

Sekali lagi kita tentu melihat tujuan yang dicanangkan Gubernur Rusli Habibie adalah tujuan yang mulia, hanya saja kita jadi terpencing dan tergelitik jadinya seolah-olah PNS kita -terutama para kawula muda- yang sudah berlagak jadi penguasa dengan atribut PNS yang dibanggakannya hanya berorientasi pada gengsi semata, sehingga fungis PNS sebagai aparatur negara dan pelayan mayarakat malah jadi sirna dan (malah) berubah menjadi “Minta Dilayani.”

Setujukah anda dengan langkah unik dan menarik Gubernur Gorontalo? Jika mau sempurnakan silahkan saja, misalnya Gaji PNS (wanita) harus transfer ke suami, misalnya.. Kenapa tidak, bukankah selama ini ada PNS wanita yang terlibat perselingkuhan dan tidak membiayai anak-anak dan suaminya? Supaya sempurna, bukankah hal ini lebih baik diadopsi saja biar sekalian sempurna?

Mari kita dukung hal-hal yang positif dan membuat kesejahteraan lebih baik di segala bidang…

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 2 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 4 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 9 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: