Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ikaa Yogyakarta

IKAAY adalah sebuat perkumpulan individu yang dirintis oleh alumni al-in'am yang kuliah di yogyakarta

Peran Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah dalam Pendidikan Islam

OPINI | 09 February 2012 | 18:29 Dibaca: 1631   Komentar: 0   0

(Kajian Sosiologis Dalam Melahirkan Insan Shaleh)

Sampai detik ini, pendidikan masih dipuja dan diyakini sebagai perantara terbaik dalam membentuk generasi ideal masa depan sekaligus instrumen guna menyelamatkan gerak maju sebuah bangsa. “Keyakinan” ini tetap ada tentu dengan lebih dulu mengenyampingkan fakta di lapangan, bahwa produk pendidikan ternyata tidak dapat dijamin berperilaku terpuji. Bahkan hari ini, lembaga pendidikan telah menjadi “peserta baru” sebagai tempat korupsi. Pengenyampingan ini penting agar kita tidak psimis untuk ikut serta dalam mempercantik wajah pendidikan negeri ini.

Beragam sekali definisi Pendidikan dari para pakar. UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional pun mempunyai versi sendiri. UU yang dibuat tahun 2003 ini mendefinisikan Pendidikan sebagai “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (Bab I, Pasal 1).[1]

Untuk mengetahui tujuan Pendidikan Nasional, menarik kesimpulan Sembodo Ardi Widodo pada beberapa definisi Pendidikan, yaitu mewujudkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokrasi serta bertanggungjawab.[2]

Namun demikian, hakikat pendidikan tak lain adalah pemanusiaan manusia itu sendiri. Sebab sering sekali, dalam tindak-tanduk kita, dengan sadar atau tidak, kita telah kehilangan unsur terpenting dari kita itu, kemanusiaan. Contoh yang paling sederhana adalah saat kita dengan sadar membiarkan kesewenang-wenangan terjadi. Mirisnya lagi, kita merasa benar karena kita bukan pelakunya. Jadi, pendidikan sejatinya menemukan, membentuk, dan mengembangkan kemanusiaan manusia, sebagai pelaku maupun user pendidikan.

Doni Koesoema bahkan mempertajam hakikat pendidikan ini. Baginya, hakikat pendidikan adalah proses penyempurnaan diri manusia terus menerus yang berlangsung dari generasi yang satu ke generasi yang lain.[3] Pandangan Doni ternyata didasarkan pada ungkapan Immanuel Kant (1724-1804), yaitu bahwa “Manusia hanya dapat menjadi sungguh-sungguh manusia melalui pendidikan dan pembentukan diri yang berkelanjutan. Manusia hanya dapat dididik oleh manusia lain yang juga telah dididik oleh manusia yang lain.”[4]

Pandangan Immanuel Kant sama dengan tujuan pendidikan Islam, yakni melahirkan pribadi manusi yang sempurna, beragama, kreatif, produktif dan peka terhadap situasi lingkungannya. Akan tetapi realitas Pendidikan Islam saat ini bisa dibilang telah mengalami masa intellectual deadlock. Diantara indikasinya adalah; pertama, minimnya upaya pembaharuan, dan kalau toh ada kalah cepat dengan perubahan sosial, politik dan kemajuan iptek. Kedua, praktek pendidikan Islam sejauh ini masih memelihara warisan yang lama dan tidak banyak melakukan pemikiran kreatif, inovatif dan kritis terhadap isu-isu aktual. Ketiga, model pembelajaran pendidikan Islam terlalu menekankan pada pendekatan intelektualisme-verbalistik dan menegasikan pentingnya interaksi edukatif dan komunikasi humanistik antara guru-murid. Keempat, orientasi pendidikan Islam menitikberatkan pada pembentukan .abd atau hamba Allah dan tidak seimbang dengan pencapaian karakter manusia muslim sebagai khalifah fi al-ardl.[5]

Padahal, di sisi lain pendidikan Islam mengemban tugas penting, yakni bagaimana mengembangkan kualitas sumber daya manusia (sumber daya lahir batin) agar umat Islam dapat berperan aktif dan tetap survive di era globalisasi. Dalam konteks ini Indonesia sering mendapat kritik, karena dianggap masih tertinggal dalam melakukan pengembangan kualitas manusianya, baik secara produksi dan kepekaan sosial. Padahal dari segi kuantitas Indonesia memiliki sumber daya manusia melimpah yang mayoritas beragama Islam.

Pendidikan Islam telah merubah haluan, yang semula hendak melahirkan individu yang mulia lahir batin, ternya direduksi hanya sebagai hamba Allah semata. Dalam membentuk pribadi yang sempurna tentu harus ada faktor pendukung yang ikut serta dalam mempengaruhi anak (anak didik) menjadi pribadi shaleh, yaitu pribadi yang melakukan hubungan dengan yang transinden, sosial dan lingkungan. Maka faktor pendudukung yang tepat adalah keluarga, masyarakat dan sekolah.

Manusia sepanjang hidupnya sebagian besar akan menerima pengaruh dari tiga lingkungan pendidikan yang utama tersebut, keluarga, sekolah, dan masyarakat dan ketiganya biasa disebut dengan tripusat pendidikan.

Istilah tripusat pendidikan diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Yang dimaksud dengan tripusat pendidikan adalah setiap pribadi manusia akan selalu berada danmengami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan, yakni: keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiga lembaga ini secara bertahapdan terpadu mengmban tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya. Kemudian, tripusat pendidikan ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, masyarakat dan sekolah.[6] Ketiga lembaga pendidikan tersebut hendaknya menjadi tangan panjang untuk membantu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal, yaitu manusia yang berbudaya, beradap dan beragama.

Pada masyarakat yang masih sederhana, keluarga mempunyai dua fungsi; fungsi konsumsi dan fungsi produksi. Kedua fungsi ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi anak. Kehidupan masa depan anak pada masyarakat tradisional tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang tuannya. Pada masyarakat semacam ini, orang tua yang mengajar pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup. Orang tua pula yang melatih dan memberi petunjuk tentang berbagai aspek kehidupan, baik agama, sosial dan lingkungan. Sampai anak menjadi dewasa dan berdiri sendiri.

Tulisan ini bermaksud untuk menganilisis peran keluarga, masyarakat, dan sekolah didalam pendidikan Islam untuk ikut serta menciptakan individu-individu yang bergama, bermoral dengan masyarakatnya serta lingkungan alam sekitar. Di dalam tulisan ini kami mengkaji peran ketiganya dari kacamata sosiologis.


BAB II PEMBAHASAN

A. KELUARGA

1. Pengertian Keluarga

Secara historis, keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Dengan kata lain keluarga merupakan bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada di dalamnya, yang secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka kearah pendewasaan. Keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal multifungsional, yaitu fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi.

Dengan demikian keluarga memiliki system jaringan interaksi yang lebih bersifat hubungan interpersonal dimana masing-masing anggota dalam keluarga dimungkinkan mempunyai intensitas hubungan satu sama lain, antara ayah dan ibu, ayah dan anak, maupun antara anak dengan anak.[7] Di dalam keluarga seorang anak belajar bersosialisasi dan berinteraksi agar ketika dewasa mampu melakukan hubungan yang baik dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Keluarga merupakan miniaur terkecil dari masyarakat yang bertanggung jawab mendidik individu anak agar menjadi masyarakat yang bermoral.

Dalam pandangan lain dijelaskan, keluarga adalah kelembagaan masyarakat yang memegang peran kunci dalam proses pendidikan.[8] Menurut pandangan ini, anggota keluarga berperan penting dalam proses pembentukan dan pengembangan pribadi anak. Hal ini bertujuan agar anak dimasa dewasanya nanti mampu menjadi anggota masyarakat yang baik dan memiliki jiwa kepribadian bertanggung jawab.

Keluarga adalah wadah yang sangat penting di antara individu dan group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama di mana anak-anak menjadi anggotanya.[9] Disinilah anak menempa dirinya menuju proses kedewaasan. Padal masa ini anak akan banyak melakukan imitasi dari apa yang dilakukan oleh orang tu sebagai bekal dimasa dewasanya nanti. Dengan demikian keluarga harus memberikan contoh yang baik dengan menjadi orang tua yang ideal. Orang tua ideal disini lebih menekankan pada kepentinngan bersikap, seperti logis, etis dan estetis.

Orang tua yang bersikap logis harus menampakkan mana perbuatan yang benar dan salah atau baik, buruk. Sikap ini ditampilkan oleh orang tua agar seorang anak mampu membedakan tingkahlaku mereka dalam melakukan hubungan sosial, baik dengan teman-temannya yang seumuran atau dikala dewasa nanti. Selain itu, bersikap etis sangat penting dalam menjelaskan dasar dari setiap perbuatan. Dengan kata lain, orang tua harus bersikap yang didasarkan pada patokan tertentu, sehingga tidak asal didalam bertindak dan member arahan. Orang tua harus menciptakan suasana menyenangkan bagi seorang anak. Memberi ruang yang kondusif bagi anak untuk melakukan aktifitas, seperti bermain, belajar, berkreasi dan sebagainya, atau bersikap estetis.[10]

2. Ciri-Ciri Keluarga

Pada dasarnya keluarga merupakan kelompok manusia yang dihasilkan dari hubungan seks antara seorang laki-laki dengan wanita yang sudah melakukan akad pernikahan. Hal ini bertujuan untuk menyelenggarakan keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Kehidupan keluarga memiliki ciri-ciri berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Akan tetapi ada ciri-ciri secara makro yang ada didalam kehidupan keluarga. Ciri-ciri tersebut tergolong pada dua ciri, yaitu umum dan khusus.

a. Ciri-Ciri Umum

Ciri-ciri umum keluarga antara lain seperti yang dikemukakan oleh Mac Iverdan Page : [11]

1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan

2. Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara.

3. Suatu sistem tata nama termasuk bentuk perhitungan garis keturunan.

4. Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak.

5. Merupakan tempat tinggal bersama , rumah atau rumah tangga yang walau bagaimanapun, tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok keluarga.

b. Ciri-Ciri Khusus

Didalam organisasi besar atau kecil yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, tidak ada yang lebih penting dari keluarga dalam identitas pengertian sosiologisnya. Hal ini berpengaruh terhadap seluruh kehidupan masyarakat dalam hal-hal yang takterhingga jumlahnya, dan perubahan-perubahannya, juga sepertiyang nyata kita lhiat terdapat di seluruh struktur sosial. Hal ini merupakan kemampuan variasi yang tidak habis-habisnya dan juga memperlihatkan kesinambungan yang luar biasa dan keuletannya dalam melalui perbuahan demi perbuha. Organisasi keluarga ini dalam beberapa hal tidaklah sama degnan asosiasi lainnya, disamping memiliki ciri-ciri khusus sebagai suatu organisasi lazimnya, keluarga juga memiliki ciri-ciri khusus sebagari berikut:

1. Kebersamaan.

2. Dasar-dasar Emosional.

3. Pengaruh Perkembangan.

4. Ukuran yang terbatas.

5. Posisi inti dalam struktur sosial.

6. Tanggung jawab para anggota.

7. Aturan kemasyarakatan.

8. Sifat kekekalan dan kesementaraannya.

Selain ciri-ciri di atas, Burgess dan Locke juga mengemukakan karakteristik keluaga. Menurut mereka terdapat 4 karakteristik yang terdapat pada semua keluarga yang berfungsi untuk membedakan keluarga dari kelompok-kelompok sosial lainnya:

1. Keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah atau adopsi.

2. Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama dibawah satu atap dan merupakan susunan satu rumah tangga.

3. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinterkasi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi si suami dan istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan perempuan.

4. Keluarga adalah pemelihara suatu kebudayaan bersama, yang diperoleh pada hakikatnya dari kebudayaan umum, tetapi dalam suatu masyarakat yang kompleks masing-masing keluarga mempunyai ciri-ciri yang berlainan dengan keluarga lainnya. Berbedanya kebudayaan dari setiap keluarga timbul melalui komunikasi anggota-anggota keluarga yang merupakan gabungan dari pola-pola tingkah laku individu.

3. Fungi Keluarga

Keluarga dibentuk memlalui pernikah mempunyai beberapa fungsi sekaligus fungsi tersebut menjadi tanggung jawab keluarga. Banyak fakta menjunjukkan keberhasilan keluarga didlam mendidikan anak-anaknya disebabkan oleh dilakukannya apa yang menjadi fungsi dari hubungan suami istri tersebut dalam rumah tangga. Menurut Oqburn, fungsi keluarga adalah kasih sayang, ekonomi, pendidikan, perlindungan, rekreasi, status keluarga, dan agama.[12]

Anak sebagai hasil dari darah daging antra suami dan istri mempunyai hak yang harus dipenuhi. Mereka harus mampu mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dan tidak mencoba untuk mencelakainya, memberikan kebutuhan sehari-hari dan memberikan pendidikan sejak kecil hingga dewasa. Selain itu, anggota keluarga harus mengajari agama terhadap anak sebagai cikal bakal berkomonikasi dengan Tuhannya.

Bierstatt mengemukakan fungsi keluarga sebagaimana yang dikutip oleh Ahmadi (1982) adalah menggantikan keluarga, mengatur, dan mengurusi impuls-impuls seksuil, bersifat membantu, menggerakkan, nilai-nilai kebudayaan, dan menunjukkan status.[13]

Fungsi-fungsi keluarga ini membuat interaksi antar anggota keluarga eksis sepanjang waktu. Waktu terus berjalan dengan membawa konsekuensi perkembangan dan kemajuan. Keluarga dan masyarakat tidak lepas dari pengaruh-pengaruh tersebut, sehingga perubahan apa yang terjadi di masyaraka, berpengaruh pula di keluarga.

4. Keluarga dan Masyarakat

Salah satu definisi dari masyarakat pada awalnya adalah “a union of families”. Atau masyarakat merupakan gabungan atau kumpulan dari keluarga-keluarga. Awal dari masyarakat berasal dari hubungan antar individu, kemudian kelompok yang lebih besar lagi menjadi satu kelompok besar orang-orang yang disebut dengan masyarkat.

Jadi, keluarga dapat dikatakan inti dari masyarakat, dimana setiap keluarga dapat menganggap dirinya adalah sentral dari seluruh masyarakat. Karena keluarga ini pada hakikatnya mempunyai hubungan yang menjurus kesegala arah dalam masyarakat yang disebut tetangga untuk yang terdekat, kampung, daerah, Negara dan seterusnya dunia.[14]

Sebagai sentral dan sekaligus anggota masyarakat, keluarga mempunyai interelasi dengan masyarakkat luar. Sehingga setiap individu dalam suatu keluarga berusaha untuk membawa citra keluarga didalam masyarakat. Hubungan antar keluarga yang baik berarti merupakan hubungan masyarakat yang baik pula. Dan keluarga sebagai suatu unit, yang mana setiap anggotanya dapat mewakili keluarga tersebut dalam kehidupan sosial.

Dalam kehidupan sosial, keluarga tidak terlepas dari kondisi-kondisi yang ada dalam masyarakatt tersebut, baik norma-norma maupun nilai-nilai yang berlaku. Karena pada dasarnaya norma dan nilai yang ada dalam masyarakat akan berpengaruh terhadap tindakan-tindakan yang akan dijalankan oleh keluarga dan bersifat mengikat, sehingga keluarga harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku.

B. MASYARAKAT

1. Pengertian Masyarakat

Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dansebagainya manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan dalam suatu masyarakat.

Masyarakat bukanlah hanya sekedar suatu penjumlahan individu semata, melainkan suatu sistem yang dibentuk dari hubungan antar mereka, sehingga menampilkan suatu realita tertentu yang mempunyai ciri-cirinya sendiri. Masyarakat merupakan gejala (fenomena) sosial yang ada dalam kehidupan ini diseluruh dunia. Oleh karena itu masyarakat oleh sosiologi dijadikan sebagai objek kajian atau suatu hal yang dipelajari terus-menerus. Karena sifat dari masyarakat itu sangat kompleks, banyak para akhli yang menjelaskan masyarakat dari sudut pandang yang berbeda-beda.

Menurut Mac Iver dan Page, masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial, dan selalu berubah. Koentjaraningrat mendefinisikan masyarakat adalah kesatuan hidup mahluk-mahluk menusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu. Definisi mengenai masyarakat secara khusus dapat kita rumuskan sebagai berikut: Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Ada beberapa ciri khas kehidupan masyarakat kolektif, yaitu: (1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam sub-kesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup; (2) ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif sebagai akibat dari pembagian kerja; (3) kerjasama antar-individu yang disebabkan karena sifat ketergantungan; (4) komunikasi antar individu yang diperlukan guna melaksanakan kerjasama; (5) diskriminasi yang diadakan antara individu-individu warga kolektif dan individu-individu dari luar.[15]

2. Unsur-Unsur Masyarakat

Unsur-unsur dari masyarakat itu ada enam (6), yaitu: masyarakat, komunitas, kategori sosial, golongan sosial, kelompok, dan perkumpulan.[16] Menurut Soerjono Soekamto yang diktip oleh Gunawan, ada 4 (empat) unsur yang terdapat dalam masyarakat, yaitu: (1) adanya manusia yang hidup bersama, (dua atau lebih); (2) mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama, yang menimbulkan sistem komunikasi dan tata cara pergaulan lainnya; (3) memiliki kesadaran sebagai satu kesatuan; dan (4) merupakan sistem kehidupan bersama yang menimbulkan kebudayaan.[17]

3. Kehidupan Kolektif dalam Masyarakat

Menurut Mac Iver dan Page, Komunitas (community) adalah suatu daerah/wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh adanya suatu derajat hubungan sosial tertentu. Dari komunitas adalah adanya lokasi (unsur tempat) dan perasaan sekomunitas.[18] Komunitas dapat didefinisikan sebagai suatu kestuan hidup manusia, yang menempati suatu wilayah yang nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat, serta yang terikat oleh suatu identitas komunitas.

Kehidupan Kolektif Dalam Alam Binatang. Tidak hanya makhluk manusia saja, melainkan juga banyak jenis makhluk lain hidup bersama individu-individu sejenisnya dalam gabungan. Ada beberapa ciri khas kehidupan kolektif, yaitu: (1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam sub-kesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup; (2) ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif sebagai akibat dari pembagian kerja; (3) kerjasama antar-individu yang disebabkan karena sifat ketergantungan; (4) komunikasi antar individu yang diperlukan guna melaksanakan kerjasama; (5) diskriminasi yang diadakan antara individu-individu warga kolektif dan individu-individu dari luar.[19]

Mengenai azaz-azaz pergaulan antara makhluk dalam kehidupan alamiah itu, beberapa ahli filasafat seperti H.Spencer pernah menyatakan bahwa azaz egoisme atau azaz ”mendahulukan kepentingan diri sendiri diatas kepentingan yang lain,” mutlak perlu bagi jenis-jenis makhluk untuk dapat betahan dalam alam yang kejam. Sebaliknya, ada beberapa ahli filasafat lain yang menunjukan bahwa lawan azaz egoisme, yaitu azaz altruisme, atau azaz ”hidup berbakti untuk kepntingan yang lain,” juga dapat membuat jenis makhluk itu menjadi sedemikian kuatnya sehingga dapat bertahan dalam proses seleksi alam yang kejam.

Kehidupan Kolektif Makhluk Manusia. Manusia adalah jenis makhluk yang juga hidup dalam kolektif, maka pengetahuan mengenai azaz-azaz hidup kolektif yang sebanarnya telah dapat kita pelajari pada kehidupan kolektif alam binatang diatas, juga penting untuk mencapai pengertian mengenai kehidupan kolektif makhluk manusia.

Walaupun demikian masih ada suatu perbedaan azasi yang sangat dasar antara kehidupan kolektif binatang dan kehidupan kolektif manusia, yaitu bahwa sistem pembagian kerja, aktivitas kerjasama, serta berkomunikasi dalam kehidupan kolektif binatang bersifat naluri, yaitu merupakan suatu kemampuan yang telah terencana oleh alam dan terkandung dalam gen jenis binatang yang bersangkutan, sedangkan pada manusia bukan bersifat naluri. Hal ini disebabkan karena lepas dari pengaruh ciri-ciri ras, baik Kaukasoid, Mongolid, Negroid atau lainnya, organisma manusia mengevolusi suatu otak yang khas. Otak mnusia telah mengembangkan suatu kemampuan yang biasanya disebut ”akal”. Akal manusia mampu untuk membayangkan dirinya serta peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi terhadap dirinya, sehingga dengan demikian manusia dapat mengadakan pilihan serta seleksi terhadap berbagai alternatif dalam tingkah lakunya untuk mencapai evektivitas yang optimal dalam mempertahankan hidupnya terhadap kekejaman alam sekelilingnya.

C. SEKOLAH

1. Pengertian Sekolah

Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa (atau “murid”) di bawah pengawasan guru. Ada juga sekolah non-pemerintah, yang disebut sekolah swasta. Sekolah swasta mungkin untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka; keagamaan, seperti sekolah Islam, sekolah Kristen, hawzas, yeshivas dan lain-lain, atau sekolah yang memiliki standar pendidikan yang lebih tinggi atau berusaha untuk mengembangkan prestasi pribadi lainnya. Sekolah untuk orang dewasa meliputi lembaga-lembaga pelatihan perusahaan dan pendidikan dan pelatihan militer.[20]

Dalam kehidupan primitif, anak mempelajari segala sesuatu dari kedua orang tuanya dan masyarakatnya dengan metode tidak menentu dan tidak terarah. Kadangkalah dengan jalan ikut-ikutan (taqlid), dengan jalan perenungan dan peniruan (imitasi) yang lebih terarah.

Sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Karena kamajuan zaman, maka keluarga tidak mungkin lagi memenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi anak terhadap iptek. Semakin maju suatu masyarakat, semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat itu.

Sekolah merupakan tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan pembinaan kepribadian. Di sekolah seorang anak mencoba untuk melakukan dialog dengan guru, berinteraksi dengan sahabat-sahabatnya dan melakukan proses menghargai dan mentaati aturan.

2. Fungsi Sekolah

Tak selalu jelas diketahui apa alsan yang sebenarnya mengapa orang tua mengizinkan anaknya pergi ke sekolah. Mungkin alasannya bermaca-macam dan berbeda-beda secar individual, namun diduga ada kesamaannhya diseluruh dunia, menurut pandangan masing-masing apa yang diharapkan dari sekolah. Namun terlepas dari semua itu lembaga pendidikan sekolah mempunyai fungsi sebagai beriku:

a. Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan.

b. Sekolah memberikan keterampilang dasar.

c. Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib.

d. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan.

e. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.

f. Sekolah mentransmisi kebudayaan.

g. Sekolah membentuk manusia sosial.

h. Sekolah merupakan alat mentransformasikan kebudayaan.

3. Kebudayaan Sekolah

Sistem pendidikan yang dikembangkan di sekolah menganut pola kelakuan tertentu sesuai dengan situasi dan harapan masyarakat sekitar. Sekolah sebagai wadah yang bertujuan mencetak anggota masyarakat beradad, berbudaya dan beragama mengharuskan sekolah untuk membuat kurikulum yang mampu merespon kebutuhan masyarakat serta yang dapat melahirkan sikap siswa didalam mempertahankan ada budaya yang baik serta mencoba untuk mengembangkannya.

Kebudayaan sekolah adalah semua kehidupan di sekolah serta norma-norma yang berlaku di dalamnya.[21] Kebudauyan sekolah merupakan bagian kecil dari kebudayaan di masyarakat, akan tetapi ada perbedaan yang khas diantara keduanya. Kebudayaan di sekolah lebih menekankan kepada proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar. Selain norma-norma yang diperlakukan di sekolah, ada kebuadayaan lain seperti kenaikan kelas, upacara-upacara, dan upacar bendera.

Kenaikan kelas merupakan kebudayaan sekolah yang sengaja dibentuk oleh oknum sekolah dengan tujuan evaluasi dari proses belajar mengajar selama satu tahun. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan sikap pertanggung jawaban siswa kepada dirinya sendiri dan keluarga setelah melihat hasil raport.

4. Hubungan Guru-Murid Di Sekolah

Hubungan guru dan murid mempunyai sifat yang relatif stabil.

a. Ciri has dari hubungan ini terdapat status yang tak sama antara guru dan murid.

b. Dalam hubungan guru-murid biasanya hanya murid diharapkan mengalami perubahan kelakuan sebagai hasil belajar.

c. Aspek terahir bertalian dengan aspek kedua, yakni bahwa perubahan kelakukan yang diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih spesifik.[22]

D. Peran Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah Dalam Pendidikan Islam

1. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan tentu saja memiliki tujuan utama (akhir). Dan, tujuan utama atau akhir (ultimate aim) pendidikan dalam Islam menurut Hasan Langgulung adalah pembentukan pribadi khalifah bagi anak didik yang memiliki fitrah, roh dan jasmani, kemauan yang bebas, dan akal.[23] Pembentukan pribadi atau karakter sebagai khalifah tentu menuntut kematangan individu untuk memenuhi tujuan utama tersebut. Khalifah disini adalah pemimpin yang beriman kepada Allah, Merespon kebutuhan umat, adil kreatif dan produktif. Inilah yang disebut dengan insan shaleh, manusia yang mempu menfungsikan akal dan hati nuraninya.

Selain tujuan diatas Hasan langulung berdasarkan pada dua ayat al-Qur’an yakni:

Hari ini Aku sempurnakan agamamu dan Aku lengkapkan nikmatKu padamu dan Aku rela Islam itu sebagai agamamu.”[24]

“.Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia sebab kamu memerintahkan yang ma.ruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah.”[25]

Berpijak pada dua ayat tersebut, kemudian Hasan Langgulung menyimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam—selain tujuan utama (akhir) pendidikan Islam yang ingin membentuk pribadi khalifah—diringkas dalam dua tujuan pokok; pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah dan agama Nya, dan pembentukan masyarakat yang shaleh yang mengikuti petunjuk agama Islam dalam segala urusan[26].

a. Pembentukan Insan Shaleh

Yang dimaksud dengan insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan, dengan kata lain pengembangan manusia yang menyembah dan bertaqwa kepada Allah sebagaimana dalam firmanNya: “..Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepadaKu..”[27], manusia yang penuh keimanan dan taqwa, berhubungan dengan Allah memelihara dan menghadap kepadaNya dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segala tingkah laku yang dilakukannya, segala pikiran yang tergores di hatinya dan segala perasaan yang berdetak di jantungnya.

Yang harus diperhatikan di sini ialah bahwa makna menyembah sebagaimana ayat di atas tidak dimaksudkan shalat sebagai upacara ibadah yang kita pahami. Menyembah dalam pengertian luas adalah mengembangkan sifat Tuhan yang diberikan kepada manusia.[28] Inilah manusia yang mengikuti jejak langkah Rasul saw. dalam pikiran dan perbuatannya.

Di antara akhlak insan yang shaleh dalam Islam adalah harga diri, prikemanusiaan, kesucian, kasih sayang, kecintaan, kekuatan jasmani dan rohani, menguasai diri, dinamis, dan tanggung jawab. Ia memerintahkan yang ma.ruf dan melarang yang mungkar. Ia juga bersifat benar, jujur, ikhlas, memiliki rasa keindahan dan memiliki rasa keseimbangan pada kepribadiannya; jasad, akal, dan roh semuanya tumbuh dan pertumbuhannya terpadu, juga memakmurkan dunia dan mengeluarkan hasilnya.[29]

b. Pembentukan Masyarakat Shaleh

Masyarakat shaleh adalah masyarakat yang percaya bahwa ia mempunyai risalah (message) untuk umat manusia, yaitu risalah keadilan, kebenaran, dan kebaikan, suatu risalah yang akan kekal selamanya, tidak terpengaruh faktor waktu dan tempat. Untuk memperoleh masyarakat shaleh tentu saja dimulai dari insan pribadi dan keluarga yang shaleh. Dalam hal ini umat Islam hendaknya berusaha sekuat tenaga memikul tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya kapan dan dimana saja. Tugas pendidikan Islam adalah menolong masyarakat mencapai maksud tersebut. Selanjutnya, Hasan Langgulung mengklasifikasikan tugas pendidikan Islam pada masyarakat berdasarkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh dunia Islam adalah pada hal-hal berikut:

1) Menolong masyarakat membangun hubungan-hubungan sosial yang serasi, setia kawan, kerja sama, interdependen, dan seimbang sesuai dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara..” [30]

2) Mengukuhkan hubungan di kalangan kaum muslim dan menguatkan kesetiakawanannya melalui penyatuan pemikiran, sikap, dan nilai-nilai. Ini semua bertujuan menciptakan kesatuan Islam.

3) Mengukuhkan identitas budaya Islam. Ini dapat dicapai dengan pembentukan kelompok-kelompok terpelajar, para pemikir dan kaum ilmuan yang: a) Bersemangat Islam, sadar dan melaksanakan ajarannya, prihatin dengan peninggalan peradaban Islam, disamping bangga dan bersedia membelanya sehingga karya-karyanya mempunyai corak Islam sejati. b) Menguasai sains dan teknologi modern dan bersifat terbuka terhadap budaya lain. c) Bersifat produktif, terutama dalam hal mengarang, membuat karya inovatif, dapat menyelaraskan potensi-potensi yang ada, dan membimbing orang lain. d) Bebas dari ketergantungan kepada orang atau budaya lain, dan tidak memiliki sifat taklid buta.[31]

2. Peran Keluarga dalam Pendidikan Islam

Perintah untuk mendidik seorang anak agar selamat dari siksaan neraka pertamakali dibebankan kepada keluarga oleh Islam. Hal ini tampak dari firman Allah yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..[32] ayat ini mewajibkan kepada bangunan rumah tangga untuk mengajarkan suatu kebajikan bagi seorang anak.

Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah unit yang penting sekali dalam masyarakat, Oleh karena itu para sosiolog yakin, segala macam kebobrokan masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi keluarga.

Bagi seorang anak keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertunbuhan dan perkembangnnya. Menurut resolusi Majelis Umum PBB, fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta, memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera”.

Keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan fungsi departemen kesehatan , pendidikan adan kesejahteraan. Jika keluarga gagal untuk megajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan menguasai kemampuan- kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagoi institusi lain untuk memperbaiki kegagalannya. Karena kagagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang berkarakter buruk atau tidak berkarakter.

Oleh karena itu setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.Dalam pendidikan Islam agar anak menjadi pribadi yang shaleh, taat beragama perintah pertama Rasulullah adalah menyayangi sang anak, menampakkan wajah segirang kepada anak-anaknya. Sebagainya sabda Rasul, yang artinya “Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya aku menyayangi keduanya” (HR. Bukhari).

Hadits ini disabdakan oleh Rasulullah ketika beliau memangku usamah bin zaid lalu menudukkannya di atas paha beliau dan menudukkan hasan dipaha lainnya.[33] Menyayangi seorang anak berarti memenuhi semua kebutuhannya baik fisik maupun psikis (kebutuhan jiwa). Orang tua harus mampu mengenali kebutuhan kasih sayang seorang anak dan kebutuhan jiwa mereka baik pada masa kanak-kana atau remaja untuk dapat memberikan bimbingan sebagai bekal masa dewasanya.[34]

Selain diatas, diantara kewajiban kedua orang tua sebagai pendidikan di rumah tangga adalah:

a. Membiasakan anak supaya mengingat keagungan dan nikmat Allah swt serta menunjukkan dalil-dalil agama.

b. Menampakkan keteguhan sikap di hadapan anak dalam menghadapi berbagai bencana.

c. Di dalam keluarga harus terjalin interaksi yang Islami, kondusif, suami-istri tidak tengkar.

d. Menerapkan budaya yang Islami, seperti membaca al-qur’an, shalat berjamat dan sebagainya.

Ayah, ibu dan anggota keluarga adalah demikian penting dalam proses pembentukan dan pengembangan pribadi. Keluarga wajib berbuat sebagai ajang yang diperlukan sekolah dalam hal melanjutkan pemantapan sosialisasi kognitif. Demikian juga keluarga dapat berperan sebagai sarana pengembangan kawasan afektif dan psikomotor. Dalam keluarga diharapkan berlangsungnya pendidikan yang berfungsi pembentukan kepribadian sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk keagamaan.[35]

Agar seorang keluarga lebih efektif didalam mendidik kepribadian seorang anak, maka melakukan proses nuclear family[36] ciri-ciri dari proses nuclear family adalah: 1. Berbentuk kelompok kecil (keluarga yang hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya). 2. Hubungan antar anggota keluarga sangat intim. 3 Bersifat face to face. 4 ada ikatan sosial dan emosional, sehingga masing-masing anggota memperlakukan anggota yang lain seperti tujuan, dan bukannya alat untuk mencapai tujuan. 5. Bersifat tetap. 6. Hubungan antara yang tuda dan yang muda tersusun dalam hirarkhi status tertentu. Keluarga yang demikian merupakan sistem jaringan interaksi antar pribadi, tempat menciptakan persahabatan, lahirnya rasa kecintaan, antaro anggota keluarg, terciptanya rasa aman, dan hubungan antar pribadi bersifat kontinu.

3. Peran Masyarakat dalam Pendidikan Islam

Masyarakat sebagai kontrol sosial harus mampu memberikan contoh dan pegangan bagi anak muda yang lemah dalam pengetahuan agama, sosial dan sebagainya. Dan seandainya melihat orang lain melakukan kemungkaran maka hendaknya ia menegurnya.

Didalam pendidikan, masyarakat harus ikut serta dalam mencerdaskan generasi selanjutnya, baik melalui pendidikan di mushalla, penyelenggaraan ceramah atau membangun lembaga sekolah masyarakat. Sekolah masyarakat bisa didirikan berangkat dari asumsi bahwa masyarakat sebagai dasar dari pendidikan dan masyarakat sebagai pendidik (educative agent). Sifat sekolah masyarakat adalah; 1. Mengajarkan anak-anak untuk dapat mengembangkan dan menggunakan sumeber-sumber dari keadaan setempat. 2. Sekolah ini melayani keseluruhan masyarakat, tidak hanya anak-anak. Sehingga nantinya sesuatu yang tidak ada di sekolah formal masyarakat mampu menjelaskannya.

Pendidikan haruslah membuka jiwa manusia terhadap alam jagat dan Penciptanya, terhadap kehidupan dan benda hidup, dan terhadap bangsa-bangsa dan kebudayaan-kebudayaan yang lain. Islam tidak mengenal fanatisme, perbedaan kulit atau sosial, sebab di dalam Islam tidak ada rasialisme, tidak ada perbedaan antara manusia kecuali karena taqwa dan iman. Firman Allah swt:

Wahai manusia, Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.[37]

Jadi pendidikan Islam adalah pendidikan kemanusiaan yang berdiri di atas persaudaraan seiman (tidak ada beda antara orang Arab atau orang ‘Ajam kecuali karena taqwa). Pendidikan Islam adalah pendidikan universal yang diperuntukkan kepada umat manusia seluruhnya.[38]

Pendidikan Islam menginginkan adanya egalitereanisme baik dalam penyelenggaraannya, proses pembelajaran ataupun didalam menerima peserta didik. Didalam pendidkan Islam semua peserta didik sama kedudukannya kecuali taqwa disisi Allah. Masyarakat sebagai kelompok sosial harus mampu menjadi kontrol penyelenggaraan pendidikan di lembagai sekolah. Pendidikan menjadi entitas yang seakan tidak berdiri sendiri. Ia senantiasa berkelindan dan berdialektika dengan dengan konteks sosial masyarakat dan negara. Standart keberhasilan juga tidak akan pernah lepas dari kontribusi kongkrit pendidikan terhadap proyek kebudayaan dan perhelatan akbar sebuah peradaban.

Tidak heran apabila Ahmad Tafsir mengatakan bahwa sekolah adalah miniatur masyarakat atau masyarakat dalam bentuk mini. Jika orang ingin meneropong masyarakat teroponglah sekolahnya. Bila sekolah penuh disiplin, maka masyarakatnya tak jauh beda, dan jika sekolah penuh dengan penipuan, maka penipuan itu juga terjadi dalam masyarakat[39]. Lembaga pendidikan dalam kontek ini seakan menjadi cermin dari sebuah kehidupan masyarakat. Ketika sekolah sudah acuh dengan orang miskin, kaum difabel, maka dapat disimpulkan masyaraktnyapun lebih parah.

Akan tetapi pendidikan Islam menginginkan masyarakat menjadi kontrol terhap penyelenggaraan pendidikan, apakah yang dipraktikkan di sekolah masih sesuai dengan ajarang Islam, jiwa kemanusiaan, dan konsep Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur.

Pendidikan Islam memandang bahwa masyarakat muslim itu satu ikatan dan satu kehidupan. Ini didasarkan pada hadis Rasulullah yang artinya:

engkau melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan menyayanginya seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya terserang penyakit maka seluruh tubuh akan tidak dapat tidun dan merasa deman[40]

Hadits ini mengabarkan kepada sesama umat muslim untuk saling membantu. Implikasi edukatifnya mewajibkan masyarakan untuk membantu saudara seagama yang miskin agar bisa mengenyam pendidikan juga. Bukan sebaliknya, malah melecehka mereka dan memandang mereka sebelah mata.

Disamping sabda Rasul, Allah berfirman di dalam al-qur’an:

“… dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”[41]

Berdasarkan ayat di atas, pendidikan Islam hendak mengenyampingkan rasa egois dan acuh terhadap kaum lemah. Pendidikan bukan hanya milik mereka yang kaya, yang ber IQ tinggi melainkan juga milik segenap manusia. Konsep pendidiakan Islam selanjutanya adalah tolong menologn antara sesama manusia. Mereka yang terpuruk pendidikan lantaran persoalan ekonomi harus diangkis bareng-bareng oleh masyarakat yang lebih mampu. Sesuai dengan ayat di atas pendidikan Islam hanya mengajarkan kebaikan kepada semua manusia tanpa memandang status sosial.

Konsep keterbukaan dan humanisasi dalam pendidikan Islam senada dengan nafas sosiologi profetik. Sosiologi profetik senapas dengan kecenderungan ilmu sosial kritis yang memberi pemihakan pada transformasi sosial dan pemberdayaan masyarakat. Transformasi dan humanisme teosentrisme yang mengangkat kembali martabat manusia. Dengan cara ini, manusia memusatkan perhatian pada Tuhan, tetapi tujuannya untuk kepentingan manusia.[42] Humanisasi diperlukan karena masyaraka sedang berada dalam tiga keadaan akut, yaitu dehumanisasi (obyektivasi teknologis, ekonomis, budaya, dan negara), agresivitas (agresivitas kolektif dan kriminalitas), dan loneliness (privatisasi, individualisasi).[43]

Kebiasaan hidup sendiri, kapitalisme pendidikan, kriminalitas sudah menjangkit lembaga pendidikan. Banyak lembaga pendidikan yang membuka jurasan baru dan menaikkan biaya pendidikan hanya menuruti kepentingan pasar dan ekonomi. Pendidikan Islam sangat membenci praktik seperti itu, masyarakat diharapkan mampu menjadi kontrol yang kuat terhadap lembaga pendidikan. Dalam proses penyadaran para praktisi pendidikan, masyarakat dapat membuka ruang dialekatika dengan mereka. Selain itu, jika terbuka oknum pendidikan sudah melupakan ajaran Islan, kemanusiaan maka harus disangsi secara moral sebagai cambukan agar tidak diulangi dan teruskan.

4. Peran Sekolah Dalam Pendidikan Islam

Hasan Langgulung memandang bahwa pendidikan dewasa ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Untuk itu, ia menawarkan bahwa tindakan yang perlu diambil ialah dengan memformat kurikulum pendidikan Islam dengan format yang lebih integralistik dan bersifat universal. Hasan Langgulung menjabarkan beberapa aspek yang termasuk dalam dasar-dasar pokok pendidikan Islam, yaitu:

a. Keutuhan (syumuliyah)

Pendidikan Islam haruslah bersifat utuh, artinya memperhatikan segala aspek manusia: badan, jiwa, akal dan rohnya. Pendidikan dalam rangka pengembangan SDM, ditemukan al-Qur.an, menghadapi peserta didiknya dengan seluruh totalitas unsur-unsurnya. Al-Qur.an tidak memisahkan unsur jasmani dan rohani tetapi merangkaikan pembinaan jiwa dan pembinaan akal, sekaligus tidak mengabaikan jasmaninya. Karena itu, seringkali ditemukan uraian-uraiannya disajikan dengan argumentasi logika, disertai sentuhan-sentuhan kepada kalbu. Hal ini merupakan salah satu prinsip utama dalam pengembangan kualitas.

Diharapkan dengan melaksanakan prinsip ini, bukan hanya kesucian jiwa yang diperoleh, tetapi juga pengetahuan yang merangsang kepada daya cipta, karena daya ini dapat lahir dari penyajian materi secara rasional, serta rangsangan pertanyaan-pertanyaan melalui diskusi timbal balik.[44]

b. Kesinambungan / Keseimbangan

Pendidikan Islam haruslah bersifat kesinambungan dan tidak terpisah-pisah dengan memperhatikan aspek-aspek berikut: 1) Sistem pendidikan itu perlu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat persekolahan dan setiap suasana. Dalam Islam tidak boleh ada halangan dari segi umur, pekerjaan, kedudukan, dan lain-lain. 2) Sistem pendidikan Islam itu selalu memperbaharui diri atau dinamis dengan perubahan yang terjadi. Sayyidina Ali r.a. pernah memberikan nasehat: .Ajarkan anak-anakmu ilmu lain dari yang kamu pelajari, sebab mereka diciptakan bagi zaman bukan zamanmu..

c. Keaslian

Pendidikan Islam haruslah orisinil berdasarkan ajaran Islam seperti yang disimpulkan berikut ini: 1) Pendidikan Islam harus mengambil komponen-komponen, tujuan-tujuan, materi dan metode dalam kurikulumnya dari peninggalan Islam sendiri sebelum ia menyempurnakannya dengan unsur-unsur dari peradaban lain. 2) Haruslah memberi prioritas kepada pendidikan kerohanian yang diajarkan oleh Islam. 3) Pendidikan kerohanian Islam sejati menghendaki agar kita menguasai bahasa Arab, yaitu bahasa al-Qur.an dan Sunnah. 4) Keaslian ini menghendaki juga pengajaran sains dan seni modern dalam suasana perkembangan dimana yang menjadi pedoman adalah aqidah Islam.

d. Bersifat Ilmiah

Pendidikan Islam haruslah memandang sains dan teknologi sebagai komponen terpenting dari peradaban modern, dan mempelajari sains dan teknologi itu merupakan suatu keniscayaan yang mendesak bagi dunia Islam jika tidak mau ketinggalan .kereta api.. Selanjutnya memberi perhatian khusus ke berbagai sains dan teknik modern dalam kurikulum dan berbagai aktivitas pendidikan, hanya ia harus sejalan dengan semangat Islam.

e. Bersifat Praktikal

Kurikulum pendidikan Islam tidak hanya bisa bicara secara teoritis saja, namun ia harus bisa dipraktekkan. Karena ilmu tak akan berhasil jika tidak dipraktekkan atau realita. Pendidikan Islam hendaknya memperhitungkan bahwa kerja itu adalah komponen terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Kerja itu dianggap ibadah. Jadi pendidikan Islam itu membentuk manusia yang beriman kepada ajaran Islam, melaksanakan dan membelanya, dan agar ia membentuk pekerja produktif dalam bidang ekonomi dan individu yang aktif di masyarakat


BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Disamping peningkatan kontribusi dalam perannya masing masing, Keluarga, sekolah, dan masyarakat terhadap perkembangan peserta didik, diprasyaratkan pula keserasian kontribusi ini, serta kerjasama yang erat dan harmonis antar ketiga pusat pendidikan anak tersebut. Berbagai upaya harus dilakukan, program pendidikan dari setiap unsur sumber pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat diharapkan dapat saling mendukung dan memperkuat antara satu dengan yang lainnya.

Misalnya, dilingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal (perbaikan gizi, permainan edukatif, penanaman ahlak baik dan sebagainya) yang menjadi landasan pengembangan selanjutnya di sekola dan masyarakat. Dilingkungan sekolah diupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan sekolah dengan orang tua siswa ( seperti membuat organisasi orang tua dan guru). Selanjutnya sekolah juga mengupayakan agar programnya berkaitan erat dengan masyarakat sekitar. (Contoh, nara sumber dari masyarakat).

Dengan masing masing peran yang dilakukan dengan baik oleh keluarga, sekolah maupun masyarakat dalam pendidikan, yang saling memperkuat dan saling melengkapi antara ketiga pusat itu, akan memberi peluang besar mewujudkan sumber daya manusia terdidik yang bermutu dan insan shaleh.


DAFTAR PUSTAKA

Assegaf, Abd. Rachman. 2004, Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi., dalam Imam Machali dan Musthofa (Ed.), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Ahmadi,Abu, 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmadi, Abu, Sosiologi Pendidikan, 1982, Surabaya: PT Bina Ilmu.

an-Nawawi, Adurrahman, 1989, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam: Dalam Keluarga, Di Sekolah dan Di Masyarakat, Bandung: cv. Dipenogoro.

Bukhari, Shahih, Vol.IV, p. 37, al-Mathba’ah al-Ustsmaniyah, Mesir, 1351 H. Usaha Nasional.

Barnadib, Imam, 1983, Pemikiran Tentang Pendidikan Baru, Yogyakarta: Penerbit Andi Offiset.

Fahri, Musthafa, 1977, Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, sekolah, dan Masyarakat, Jakarta: Bulan Bintang.

Gunawan, H., 2010, Sosiologi Pendidikan: Suatu Kajian Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan, Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Koesoema A, Doni, 2007, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta: Grasindo.

Khairuddin, 1985, Sosiologi Keluarga, Yogyakarta: Nur Cahaya.

Khairuddin, 1985, Sosiologi Keluarga, Yogyakarta: Nur Cahaya.

Koentjaraningrat, 1980, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru.

Kuntowijoyo, 2001, Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transsindental, Bandung: Mizan.

Langgulung, Hasan, 1995, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma.arif.

Langgulung, Hasan, 2003, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru.

Langgulung, Hasan, 1991, Kreativitas dan Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Nasution, S., 2009. Sosiologi Pendidikan,Jakarta: Bumi Aksara.

Soekanro, Soerjono, 1992, Sosiologi Keluarga: Tantangan Ikhwal Keluarga Remaja dan Anak, Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

Supriyanto, Moh. Padil Triyo, 2007, Sosiologi Pendidikan,Malang: UIN Malang Pers.

Salim, Agus Dkk, 2007, Indonesia Belajarlah Yogyakarta, Tiara Wacana.

Tafsir, Ahmad, 1992, Filsafat pendidikan, Bandung, Rosda Karya.

Tim Dosen IKIP Malang, 2003, Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan, (Surabaya, Kuntowijoyom, 1991, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan.

Tim Peneliti, 2009, Potret Ujian Nasional di Indonesia: Antara Harapan dan Realita, Yogyakarta: Program DPP Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.

Selain buku

Shihab, M. Quraish, 1994, Prinsip-prinsip Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Pandangan Islam., Majalah Triwulan Mimbar Ilmiah, Universitas Islam Djakarta, Tahun IV No. 13, Januari

Diktat Kuliah 2010, Filsafat Pendidikan Islam, yang diampuh oleh H. Maragustam Siregar, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah


[2] Pengantar editor pada Tim Peneliti, Potret Ujian Nasional di Indonesia: Antara Harapan dan Realita, (Yogyakarta: Program DPP Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hal. vii.

[3] Temukan dalam Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (Jakarta: Grasindo, 2007), hal. 312.

[4] Immanuel Kant, L’arte Di Educare, 2001. Disunting dari Ibid., hal. 312.

[5] Abd. Rachman Assegaf, .Membangun Format Pendidikan Islam di Era Globalisasi., dalam Imam Machali dan Musthofa (Ed.), Pendidikan Islam dan Tantangan Globalisasi, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2004), Cet. I, hl. 8-9

[6] Dikutip dari Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Pendidikan, (Surabaya, Usaha Nasional, 2003), 13

[7] Khairuddin, Sosiologi Keluarga, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1985), hal. 10

[8] Diktat Kuliah Filsafat Pendidikan Islam, yang diampuh oleh H. Maragustam Siregar, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2010, hal. 154

[9] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) , Cet, Kedua, hal. 108

[10] Lebih jelasnya mengenai orang tua ideal lihat, Soerjono Soekanro, Sosiologi Keluarga: Tantangan Ikhwal Keluarga Remaja dan Anak, (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 1992), Cet, kedua, hl. 6-7.

[11] Dikutip dari Soerjono Soekanro, Ibid,hl. 12-18

[12] Dikutip dari Moh. Padil Triyo Supriyanto, Sosiologi Pendidikan,(Malang: UIN Malang Pers, 2007), hl. 117

[13] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982), hl. 104. Lihat jugaKhairuddin, Sosiologi Keluarga, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1985) yang memetakan secara lebih rinci tentang fungsi-fungsi pokok keluarga, perubahan fungsi keluarga, aspek-aspek perubahan dari fungsi-fungsi keluarga, dan perubahan pada fungsi-fungsi sentral keluarga.

[14] Khairuddunin, op,cit. hal. 34

[15] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Aksara Baru, 1980), hl 149-152

[16] Llihat Konentjaraningrat, op.cit, hl. 157-176

[17] H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan: Suatu Kajian Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan,(Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2010), cet, kedua, hl. 4

[18] H. Gunawan, op.cit, hl. 5

[19] Konentjaraningrat, op.cit, hl. 149-152

[20] Diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah, jam, 08:00 tanggal 15 Mei 2011

[21] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet, keempat, hl. 64

[22] Selengkapnya bisa dilihat dalam S. Nasution, op.cit. hl. 78-79

[23] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma.arif, 1995), hl. 67

[24] QS. Al-Maidah: 4

[25] QS. Ali-Imran: 110

[26]Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2003), Cet. III (Edisi Revisi), hl. 16

[27] QS. Adz-Dzariat: 56

[28] Hasan Langgulung, Kreativitas dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1991), Cet. 1, hl. 296-297

[29] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad 21, Op.Cit., hl. 169-170

[30] Q.S. At- Taubah: 10

[31] Selengkapnya lihat Hasan Langulung Ibid, hl. 172-175

[32]Q.S. Al-Tahrim, 6

[33] Adurrahman an-Nawawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam: Dalam Keluarga, Di Sekolah dan Di Masyarakat,(Bandung: cv. Dipenogoro, 1989) cet. Pertama, hl. 201

[34] Mengenai Kebutuhan Jiwa selengkapnya lihat Musthafa. Fahri, Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Bulan Bintang), jilid I. hl, 54-66

[35] Imam Barnadib, Pemikiran Tentang Pendidikan Baru, (Yogyakarta: Penerbit Andi Offiset, 1983), hl. 129-0130

[36] Proses bimbingan individu ke dalam dunia sosial disebut sosialisasi. Sosialisasi dilakukan dengan mendidik individu tentang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agai ia menjadi anggota masyarkat yang baik. Sosialisasi dianggap sama dengan pendidikan. Oleh karena itu, sosialisasi adalah soal belajar. Dalam proses sosialisasi, individu belajar tingkah laku, kebiasaan, serta pola-polakebudayaan lainnyaseperti keterampilan sosial yang mencakup berbahasa, berpakaian, bergaul, cara makan,dan sebagainya. Secara sadar, apa yang dipelajari oleh orang tua, saudara-saudara, anggota keluarga lainnya, dan di skolah yang diajarkan oleh guru merupakan proses sosialisasi. Dengan tidak sadar, ia belajar dengan mendapatkan informasi secara insidental dengan berbagai situasi, seperti sambil mengamati orang lai, membaca buku, menonton tv, mendengar percakapan orang lai, dan sebagainya. Seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam interkasi individu dengan lingkungannya. S. Nasution, Sosiologi Pendidika, (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hl. 126

[37] QS. Al-Hujurat: 13

[38] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam dalam Abad ke 21, Op.Cit., hl. 176-179

[39] Ahmad Tafsir, Filsafat pendidikan, (Bandung, Rosda Karya, 1992), Lihat juga Agus salim Dkk, Indonesia Belajarlah (Yogyakarta, Tiara Wacana; 2007 ) memetakan secara lebih tegas ihwal peran pendidikan sebagai penguatan basis negara, pendidikan sebagai penguatan basis masyarakat, pendidikan sebagai penguatan basis agama, pendidikan sebagai penguatan basis ekonomi dan budaya.

[40] Shahih Bukharim Vol.IV, p. 37, al-Mathba’ah al-Ustsmaniyah, Mesir, 1351 H.

[41] Q.S al-Maidah: 2

[42] Tentang humanisme teosentris, baca Kuntowijoyom, Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi, (Bandugn: Mizan, 1991), hl. 228-230

[43] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transsindental, (Bandung: Mizan, 2001), hl. 366-369

[44] M. Quraish Shihab, .Prinsip-prinsip Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Pandangan Islam., dalam Majalah Triwulan Mimbar Ilmiah, Universitas Islam Djakarta, Tahun IV No. 13, Januari 1994, h. 5

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 7 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 13 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Cacat Kusta Turun ke Jalan …

Dyah Indira | 11 jam lalu

Sayin’ “I Love to Die” …

Rahmi Selviani | 11 jam lalu

SBY Mulai Iri Kepada Presiden Jokowi? …

Andrias Bukaleng Le... | 11 jam lalu

Ratapan Bunga Ilalang …

Doni Bastian | 12 jam lalu

Mulut, Mata, Telinga dan Manusia …

Muhamad Rifki Maula... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: