Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Harpat Ade Yandi

Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami.

Eksploitasi Pendidikan

OPINI | 11 February 2012 | 11:56 Dibaca: 121   Komentar: 0   0

Zaman yang kita tapak sekarang ini adalah era-nya modernisme, bahkan sebentar lagi kita akan menuju ke era Post-modernisme dengan segala bentuk kemajuannya. Globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perekembangan teknologi, komunikasi seakan tidak ada batasan, segalanya seakan serba mungkin dan serba rasional. Dengan ilmu pengetahuan segalanya seakan serba mudah untuk dicapai. Modernisme dengan semangat, sikap, pandangan, yang mengutamakan syarat keilmuan, estetika dan efisiensi menyebabkan Pola pikir yang rasional seolah-olah sudah menjadi tuntutan zaman, yang tidak mengindahkan peraturan itu secara tidak sadar akan terlindas oleh zaman tanpa melihat dimana dia berada.

Tapi, bagaimanakah membentuk suatau pola pikir yang rasional? Semua itu memerlukan kinerja yang maha dahsyat untuk menjawabnya, karena merubah pola pikir bukan lah hal segampang membalikan telapak tangan, semua memerlukan kerja keras, dari mulai fisik sampai memeras otak untuk memecahkan semua permasalahan ini.

Pendidikan adalah salah satu factor yang paling urgen dalam membentuk pola pikir yang rasional, karena lewat pendidikan kita mendapatkan ilmu pengetahuan, dan dari ilmu pengetahuan kita mempunyai wawasan tentang berbagai hal yang secara tidak langsung mengubah pola pikir yang tadinya nrimo menjadi pola pikir yang selalu mempertimbangkan segala suatu permasalahan, dan pada akhirnya akan menerima segala sesuatu yang dipandang benar dan masuk akal ( Rasional ). Apabila sudah terbentuk pola pikir seperti itu, akan semakin sempit peluang manusia untuk saling meng eksploitasi sesamanya dan akan terciptalah masyarakat Madani yang saling mengharagai hak-hak sesamanya.

Tetapi kenapa di Negara kita pendidikan malah di eksploitasi? Mahalnya biaya pendidikan salah satu contohnya, padahal dari ilmu pengetahuan lah segala sesuatu bermula. Dengan mahalnya biaya pendidikan menyebabakan ilmu pengetahuan hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang saja, dan bagi orang yang tidak bisa mengenyam indahnya pendidikan hanya menjadi korban dari megahnya modernisasi, tanpa ikut merasakan nikmatnya hasil dari modernisasi tersebut. Dan yang paling bahaya dari tidak meratanya pendidikan adalah terbuka lebarnya kesempatan meng-eksploitasi oleh yang “kuat” terhadap yang “lemah”.*Harpat A Yandi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cermin Hitam di Taman Nasional Sebangau …

Pratiwi Cristin Har... | | 23 October 2014 | 12:06

Pintarnya Mahasiswa Beralasan …

Giri Lumakto | | 23 October 2014 | 13:57

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Lee Chong Wei Positif Doping, Pelajaran …

Arnold Adoe | | 23 October 2014 | 18:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kaesang: Anak Presiden Juga Blogger …

Listhia H Rahman | 9 jam lalu

Seekor Babi Mati Bunuh Diri, Karena Setia …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Si Teteh Akhirnya Menjadi Kompasianer …

Tubagus Encep | 10 jam lalu

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Selusur Goa, Mengingat Kembali Stalaktit dan …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 9 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua Kakak …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Jalasveva Jayamahe, Mengembalikan Kejayaan …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Buah Strawberry untuk Kesehatan Jantung …

Puri Areta | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: