Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Neny Silvana

Unik, ekspresif, menarik.

Kisah Lucu dan Pentingnya Bisa Mengendarai Mobil dan Motor Bagi IRT

OPINI | 13 February 2012 | 08:16 Dibaca: 3585   Komentar: 47   5

13291357031960317806

“Ma, aku pengen belajar mobil. Ayoo dong ma, aku pengen pas SMA nanti ke sekolah bawa mobil!” rayu Chacha padaku.

“Kak, kamu kan baru 14 tahun. Waduh, ditangkep polisi nanti, anak kecil nyetir mobil di jalan raya.” larangku dengan khawatir.

“Wah, mama mah nggak gaul. Banyak lagi ma, temen-temenku yang ke sekolah dan jalan-jalan pakai mobil meskipun nggak punya SIM.”

“Iya, nanti pasti mama ajarin. Tapi nggak sekarang, kalau kakak sudah gedean dan bisa buat SIM.”

“****

Itulah percakapan singkatku dengan Chacha ketika menjemputnya pulang sekolah. Chacha minta diajarin menyetir mobil hanya sebagai gaya. Supaya dianggap anak gaul dan tak kalah dengan teman-temannya. Hadeuhhh,  ABG sekarang!

Tapi bukan itu yang ingin aku bahas. Aku ingin bercerita tentang pentingnya bagi ibu rumahtangga sekarang ini untuk bisa mengendarai kendaraan beroda. Baik itu sepeda, motor, ataupun mobil. Bukan seperti layaknya ABG yang untuk gaya-gayaan tapi lebih sebagai penunjang mobilitas kita sehari-hari agar tidak tergantung kepada suami dan lebih mandiri.

Sejujurnya awalnya aku sangat penakut sekali. Aku bahkan tidak berani naik sepeda. Naik sepedapun jalannya seperti ular yang berbelok-belok. Tapi ada satu pengalaman yang membuat aku bertekat untuk dapat mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat.

Puluhan tahun yang lalu, ketika aku baru beberapa minggu dari melahirkan, suamiku sakit dan di rawat di rumah sakit selama dua minggu. Aku yang awalnya jika pergi kemana-mana selalu dianter suami, tentuya kelimpungan setengah mati. Belum lagi yang rumahku jauh masuk ke dalam komplek. Tidak ada angkot ataupun becak. Duh, pengen nangis rasanya. Masa setiap aku mau besuk suami dan pergi-pergi harus telpon kakakku untuk nganterin ke sana. Sementara aku dalam sehari harus bolak-balik yang menengok suami dan juga menyusui anakku yang masih bayi mungil.

Bayangin, ada mobil dan motor tapi nggak bisa mengendarainya. Sedihnya, ngerasa banget ketergantungan sama orang lain. Ngerasa banget nggak bisa bergerak gesit dan tak bisa melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain.

Akhirnya aku belajar menyetir mobil.  Ternyata menyetir mobil tak semudah yang aku bayangkan. Beberapa kali aku memberikan baret pada mobil sedanku, menabrak trotoar, dan pernah juga hampir menabrak tukang becak. (Hehehe, sumpah yang ini nggak lucu banget, karena si abang becak sampe jatuh ke dalam got)

Gara-gara hampir menabrak tukang becak itulah akhirnya suamiku melarangku menyetir mobil lagi. Takut jika aku sampai menabrak orang bisa berakibat fatal secara hukum. Aku yang sedikit trauma menyanggupi saran suamiku. Hanya menyetir mobil jika di bawah pengawasannya.

Sampai beberapa tahun kemudian, suamiku di mutasi ke Jakarta dan kami pindah rumah di sana. Suamiku tentunya sibuk bekerja dan tak dapat mengantar jemputku lagi. Apalagi mengatar jemput anak sekolah dan les. Suamiku lalu menyarankan aku untuk belajar menyetir mobil dan motor kembali. Agar aku dapat menghandle anak-anak dan seluruh kegiatan eksternal harian di rumah.

Lagi-lagi aku kursus stir mobil. Dan belajar berani bermacet-macetan di Jakarta yang super padat. Pernah juga terjebak di tengah rel kereta api, terkurung dalam plang. Mobilku tak bisa bergerak dikarenakan depan belakang macet. Ya ampun, takut banget saat itu. Saking traumanya, aku sampe nggak berani bawa mobil selama dua bulan. Selain itu, aku juga paling takut yang namanya parkir mundur di tempat yang sempit. Bisa stress dan keringetan dingin. Setiap pergi ke mall yang selalu cuma aku pikirin, parkirnya susah nggak ya? Harus naik-naik ke atas nggak? Wakakakak, meskipun sudah bertahun-tahun belajar mobil, tetep saja aku bodoh. Hanya nyali pembrani yang membuat aku  tak pernah patah semangat untuk belajar mobil dan motor. Dan aku rasa, pengalaman ini juga yang dirasakan oleh para ibu-ibu lainnya.

Pengalaman yang juga sangat bermanfaat dalam mengendarai mobil atau motor adalah ketika aku berpisah (sementara) dengan suamiku selama 4 tahun. Suamiku dinas di Jakarta dan aku beserta anak-anak menetap di Bandung. Wah, kerasa sekali bergunanya. Terutama di waktu-waktu darurat ketika anak -anak sakit, mengantar jemput anak ketika hujan, jalan-jalan, dan ketika berbelanja bulanan haha…

13291367501445785924

Saat ini, hampir semua asisten rumahtangga yang bekerja padaku pun aku ajari mengendarai motor. Selain agar mereka mempunyai keahlian, aku juga dapat dengan mudah menyuruh mereka mengantar jemput anak-anakku les. Pernah loh ada pengalaman ketika aku mengajari si mbak motor, ketika belokan ternyata ada mobil yang lewat. Si mbakku kanget dan malah ngegas, ya ampun aku dan si mbak jatuh, masuk ke dalam semak-semak dan motornya masuk ke dalam selokan. Tubuhku luka-luka dan malunya minta ampunnnnn!

Tapi kini aku menyadari, mengalahkan rasa takutku sangat sebanding dengan manfaat yang bisa aku peroleh dengan dapat mengendarai kendaraan beroda. Aku tak perlu merayu atau memohon pada suamiku untuk di antar ke sana-ke mari. Aku juga tak perlu  khawatir berpergian sendiri, berpergian ketika hujan, dan dapat mengatasi masalah tanpa tergantung lagi pada orang lain.

Inilah cerita lucuku ketika belajar motor dan mobil. Bagaimana cerita teman-teman? Pasti nggak kalah serunya dengan ceritaku!

===================================

gambar : dari google

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: