Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ria Ardini

seorang gadis sederhana yang berusaha membanggakan keluarga. http://ardhinie.blogspot.com

Konsep Diri: Who am I???

OPINI | 14 February 2012 | 09:21 Dibaca: 156   Komentar: 0   0

Who are you?

Apa yang akan kita katakan ketika ada seseorang yang mempertanyakan siapa kita? Identifikasi pertama yang akan kita sebutkan pasti adalah nama, misalnya; my name is Ria. Kemudian, selanjutnya kita akan menyebutkan apa yang menjadi ciri kita dalam masyarakat, misalnya; I am a college student at Mercu Buana University, atau; I am an accounting staff at one of logistic company.
Seseorang yang baru berkenalan dengan kita mungkin akan cukup puas mendengar jawaban-jawaban tersebut atas pertanyaannya tentang siapa kita, meskipun kemudian ia akan melanjutkan pertanyaan tentang tempat tinggal, nomorhandphone, atau lainnya. Namun jika diri kita sendiri yang bertanya, apakah cukup hanya itu? Think it!
Who am I?
Sesekali kita akan berpikir mengenai siapa diri kita, dengan spesifikasi pertanyaan, misalnya; apakah saya orang pintar? Apakah saya baik? Apakah saya menarik? atau, apakah orang menyukai saya?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bukan hanya proses berpikir yang kita lakukan, namun juga merasa; siapa dan bagaimana kita sebenarnya. Kita akan mempersepsi, menilai, dan merasakan diri kita sendiri. Semua hal yang kita pikirkan dan rasakan mengenai diri kita tersebut – yang akhirnya kita percayai dan yakini, baik gambaran penampilan fisik, harga diri, ideal diri, peran dan identitas adalah konsep diri kita.
Di sini saya tidak akan membahas siapa diri saya atau siapa diri Anda, namun saya akan berbagi sedikit ilmu pengetahuan dan opini-opini saya mengenai konsep diri. Pembahasan ini pasti berkaitan dengan ilmu komunikasi, karena saya adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi dan karena  konsep diri berkembang melalui proses interaksi dengan orang lain – yang tentunya melalui proses komunikasi (George Herberd Mead).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
- Orang lain (significant other)
Mungkin Anda akan berpikir, mengapa orang lain berada pada urutan nomor satu sebagai faktor pengaruh konsep diri? Cobalah tetap fokus berpikir, benarkah? Bagaimana mungkin?
Ketika seseorang lahir, ia belum mempunyai konsep diri. Ia tidak bernama. Tidak tahu apakah ia cantik/tampan atau sebaliknya. Apalagi mengenai orang-orang sekitarnya, ia tidak tahu. Namun, semakin ia tumbuh dan berkembang, ia akan mulai diajarkan siapa namanya – yang merupakan hasil pemberian, siapa orang yang memberi ia makanan, menemaninya tidur, menggendong, mengajak bermain, dan sebagainya. Semua itu adalah hasil pembelajarannya dari orang lain, sehingga ia dapat membedakan dirinya sendiri.
Selain itu, kita cenderung ingin menjadi pribadi yang disenangi orang lain, sehingga sadar ataupun tidak kita  berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan. Kita tidak ingin membuatnya kecewa, sehingga kita mengikuti apa yang ia mau terhadap diri kita. Meskipun tidak selalu demikian, namun kita pasti pernah melakukan hal tersebut, misalnya untuk menarik perhatian orang lain. Ini pun merupakan contoh mengapa orang lain sangat mempengaruhi konsep diri kita.
Sebagaimana proses komunikasi, proses konseptualisasi-diri ini berlangsung sepanjang hayat kita (Dedy Mulyana: 2000). Jadi, selama kita masih berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, maka konsep diri kita pun akan mengalami perkembangan bahkan perubahan.
Misalnya dahulu ketika masih kecil, orang tua kita sering bercerita tentang dokter, mengatakan bahwa kita suatu saat nanti akan menjadi dokter, maka kita pun akan bercita-cita menjadi seorang dokter. Namun, ketika kita beranjak dewasa – mulai banyak berkomunikasi dengan orang lain, mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, maka boleh jadi cita-cita kita tersebut akan berubah. Inilah salah satu contoh konkret yang mungkin, bahkan pasti Anda semua pernah mengalami.
Namun, mungkin Anda saat ini mulai sadar, tidak semua orang berpengaruh dalam hidup kita. Ya benar, karena itu orang lain di sini di sebut sebagai significant other, orang yang penting. Yang paling utama biasanya adalah keluarga, karena mereka lah orang-orang terdekat pertama kita. Dan semakin kita dewasa, bertambahlah significant other tersebut, seperti sahabat, idola, guru/dosen, kekasih, dan sebagainya.
- Kelompok Rujukan (Reference Group)
Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan pada artikel Komunikasi Kelompok, kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur untuk menilai diri sendiri atau membentuk sikap. Seseorang yang menjadi anggota kelompok tertentu akan memainkan perannya sesuai ciri-ciri kelompok tersebut. Misalnya jika Anda adalah anggota aktif dari organisasi Pramuka, maka Anda harus mengikuti norma-norma yang berlaku dan Anda akan memainkan peran Anda sebagai apa dalam organisasi tersebut. Hal ini akan menanamkan sikap tertentu yang mencirikan diri Anda dengan kelompok/organisasi yang Anda ikuti tersebut dan akhirnya akan menjadi konsep diri Anda pada saat itu.
- Persepsi Diri Sendiri (Self Perception)
Inilah yang merupakan bagian terpenting pada konsep diri, yaitu ketika kita sudah mempercayai dan meyakini seperti apa diri kita melalu proses persepsi yang kita lakukan – yang tentunya dipengaruhi oleh orang lain dan kelompok rujukan, meski sekecil apapun.
Ketika kita berpikir bahwa kita jelek, maka kita akan tidak percaya diri berhadapan dengan orang lain secara face to face. Jika kita berpikir bahwa kita adalah anak nakal, maka kita akan melakukan hal-hal nakal. Inilah yang sangat bahaya, yaitu jika persepsi diri sendiri yang tertanam adalah hal-hal negatif.
Maka, setelah Anda dan saya sudah lebih memahami mengenai konsep diri dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, marilah kita setting semua itu agar lebih baik.
Ucapkan Hal yang Baik
Kita bukan hanya dapat dipengaruhi, tetapi juga dapat mempengaruhi. Kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain, terutama menyangkut apa dan bagaimana diri orang tersebut, akan memberikan efek tertentu yang menyentuh konsep dirinya.
Sudah seharusnya kita menyadari hal ini, terutama para orang tua dan pendidik-pendidik lainnya. Banyak orang tua yang tidak benar-benar menyadari bagaimana pengaruh kata-kata yang ia ucapkan terhadap anak-anaknya. Padahal, di luar ilmu komunikasi, kita semua pasti pernah mendengar ungkapan “kata-kata adalah do’a”. Ya begitulah. Karena, seseorang yang sering dikatakan sebagai anak pintar, maka berkemungkinan besar akan berusaha menunjukkan bahwa ia memang pintar, sehingga terkonseplah dalam dirinya bahwa ia memang pintar.
Oleh karena itu, hati-hatilah dalam berkata. Karena kata-kata memanglah tidak bermakna, namun saat kita memberikan makna pada kata-kata tertentu, maka kata-kata itu bagaikan kekuatan yang mungkin dapat membangun atau bahkan menghancurkan.
Berpikir Positif
Pemikiran dan konsep diri yang positif dapat membuat hidup kita lebih sehat karena tidak akan mudah stress. Meskipun tidak ada satu orang pun yang sudah pasti selalu berpikir positif, namun yang terpenting adalah kemauan dan usaha kita untuk mencapai hal tersebut.
Dengan menyadari bahwa orang lain sangat mempengaruhi diri kita, maka ada baiknya kita berusaha untuk memperkecil pengaruh-pengaruh yang bersifat negatif. Dari awal kita sudah harus cermat memilih teman dan kelompok. Selain itu, yang terpenting adalah penanaman pikiran positif dalam diri kita, dengan tetap terbuka untuk menerima saran dan kritik yang membangun kemajuan diri kita. Sehingga jika ada yang mempengaruhi kita ke arah positif, kita dapat berubah lebih baik. Juga  jika kita dipengaruhi hal negatif, misalnya dianggap sebagai orang yang tidak tegas, lemah, tidak kompeten, kita justru dapat menjadikan hal tersebut sebagai pacuan untuk lebih baik.
Kemudian, jangan sampai keinginan kita untuk menarik perhatian orang lain yang membuat kita harus bersikap dan berperilaku sesuai yang ia inginkan membuat kita menjadi lebih buruk. Jadilah orang yang percaya diri dan tidak mudah digoyahkan pendiriannya oleh orang lain. Yang yakin akan kemampuan dan usahanya. Yang bersikap jujur terhadap diri sendiri dan peka terhadap orang lain. Be positif!
Semoga bermanfaat. Salam semangat slalu…

Referensi (Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar : Deddy Mulyana, Psikologi Komunikasi: Jalaluddin Rahmat, dll)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: